Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
Only Human


__ADS_3

Luther menyerang ayahnya dari arah belakang. Darah hitam Valek muncrat, sementara Patricia dan Malcolm yang telah mendapatkan informasi darurat yang di kirim Luther melalui mantra pengendali pikiran ikut menyerang ayah mereka dari atas. Patricia dan Malcolm melompat turun sambil terus melakukan penyerangan bergantian.


Hujan deras mengguyur tubuh Valek yang ringkih bagai ranting pohon, ia terjerembab di atas lantai sebelum Malcolm menghujaninya dengan bola api.


Valek meringis dengan keji, darah hitam kegelapan yang mendarah daging di dalam jiwanya bahkan setelah menjadi vampir memancarkan aura kelam. Dia melompat, senyumnya merekah dengan sinis.


"Kalian menyerangku?"


Malcolm dan Patricia memasang kuda-kuda, rasa dendam kepada ayahnya ternyata cukup menyulut api pertengkaran. Mereka membentuk taktik sendiri-sendiri demi membalas rasa sakit kepada vampir tua itu.


Valek melepas jubahnya. Dia mengeram, cahaya kegelapan berputar-putar di ayas tubuhnya yang ringkih. Mulutnya menggumamkan mantra. Perlahan-lahan tubuhnya mengembang. Otot-otot terlihat bermunculan.


Patricia dan Malcolm menyambar pedang dari sarung yang terikat di pinggang mereka.


"Sudah lama kami menanti momen ini, papa. Kau menciptakan kami sebagai iblis!"


Valek tertawa. Kastil Van Broden berubah menjadi area pertempuran ayah dan anak, udara di penuhi teriakan para vampir pelayan. Suara berdesing dari pedang yang saling menyambar satu sama lain dan cahaya-cahaya yang berpendar dari masing-masing petarung tidak Luther hiraukan.


Dia mengusap wajah Elena dengan deru penyesalan. "Jangan takut padaku, aku tidak akan menyakitimu."


Air mata Elena meleleh. Dia tidak bisa bicara, tubuhnya kelelahan. Dalam benak, dia seperti nyaris mati untuk ketiga kalinya.


Luther mengusap air mata Elena. "Pejamkan matamu dan semuanya akan baik-baik saja. Setelah hari ini aku akan berjanji membawamu pulang, jadi bertahanlah." Elena menoleh, dadanya sakit.


"Kau tidak punya hati." Elena memejamkan mata. Dada Luther menghangat, sesuatu telah menyentuh hatinya, sesuatu kenyataan bahwa ia memang tidak mempunyai hati.


Luther menjilati darah yang keluar dari leher Elena, tubuhnya bergejolak, kekuatannya kembali bertambah. Pendar ungu memancing Valek untuk meliriknya.


"Bedebah!"


Malcolm menghalangi Valek sebelum menyerang Luther. "Lakukan secepatnya, Luth." teriaknya.

__ADS_1


Luther merapalkan mantra penyembuhan di leher Elena, gadis itu merasa ada keanehan yang menghangat dan terjadi di lehernya. Dia membuka mata.


Luther memalingkan wajah. Matanya menubruk Patricia.


Vampir perempuan yang kelelahan itu mengangguk. Dia melesat cepat ke perpustakaan. Dari atas, dia menjatuhkan dua botol penyimpan darah premium tepat di samping Valek.


Aroma darah menyebar, vampir pelayan menyerbu ke sekeliling Valek. Mereka membungkuk. Konsentrasi Valek pecah. Dia melompat ke atas anak tangga. Matanya menatap tajam Luther yang melepas baju kebesarannya dan membelakangi Elena.


Malcolm dan Patricia mendekati meja dimana Elena telah kembali pulih. Di depannya, kurang dari lima meter Elena melihat kengerian. Gadis itu menutup mulutnya setelah para vampir pelayan menoleh dengan mulut yang bersimbah darah, perutnya langsung terasa mual.


"Bawa dia kembali ke katedral ayahnya." ucap Luther dingin.


"Kau yakin bisa mengurusnya, Luth?"


Luther mengangguk. Malcolm lalu memasang punggungnya di depan Elena. "Naiklah, manusia!"


"Bagaimana bisa aku percaya?" Elena menggeleng dengan keras kepala.


"Lakukan saja dengan mantra bodoh, itu lebih mudah!" sahut Malcolm tidak terima, bagaimana bisa Patricia memberi gagasan yang akan membuat mereka mati dan masuk ke neraka setelah hidup abadi memberinya kesenangan tersendiri.


Elena dilanda pilihan yang sulit, Luther jelas akan bertarung dengan ayahnya. Secuil ragu meminta hatinya untuk menetap. Tapi bagaimana bisa dia menolak tawaran untuk pulang kepada orang tuanya yang jelas tidak akan bermain-main dengan mantra atau sihir. Dia naik ke punggung Malcolm.


"Kudaku jangan lupa!" kata Elena.


Sialan, dasar manusia.


Malcolm melesat keluar kastil. Patricia melompat dari pagar kastil ke punggung Hayley yang berada di depan kastil, dia menyentakkan tali kekang. Hayley menggelinjang hebat mengikuti Elena yang sesekali menoleh ke arahnya.


Elena sedikit tersenyum, meski sejujurnya dia menaruh prihatin jika Luther dan vampir tua yang hampir merenggut nyawanya dan menjadikannya vampir benar-benar bertarung.


"Kita akan menetap di hutan sampai malam datang!" Malcolm menurunkan Elena di tepi jurang.

__ADS_1


"Apa yang akan terjadi di kastil itu?" Elena beringsut dari Malcolm dan Patricia yang baru saja sampai dengan keduanya. Hayley meringkik sebelum kabur, Elena menarik tali kekang kudanya.


Patricia menyeringai lebar lalu menjatuhkan diri di tanah. "Pertarungan"


"Terus bagaimana dengan Luther?" sahut Elena. "Apa dia akan mati?"


"Dia sudah mati bodoh!" sergah Malcolm. "Semua yang ada di kastil itu sudah mati, makanya itulah alasan kenapa Luther mengurungmu di kamarnya!"


Elena menghela napas. "Aku takut, tapi terima kasih kalian mau membawaku pulang ke katredal papa."


Malcolm dan Patricia sama-sama mendengus. Kesedihan masa lalu dan kesenangan hari ini menarik-narik kedua sudut mulut mereka.


"Tidak masalah, kami justru senang bisa melawan Vlad Valek!" kata Patricia.


Elena merengut. "Terus bagaimana dengan Luther? Kalian belum menjelaskan apa-apa!"


"Menjelaskan apa?" Patricia menoleh, dia meringis geli. Raut wajah Elena terlihat sangat menunjukkan ketakutan juga kekhawatiran di saat yang sama.


"Katakan!" desak Elena. "Kalian lebih baik membantunya dan membawaku pulang dengan mantra kalian!"


"Tidak bisa manusia! Kami harus membawamu pulang sampai benar-benar ke katedral ayahmu!"


"Kalian tau katedral papa? Oh, kalian sudah mengetahui siapa aku?" protes Elena, menyapu wajah Malcolm dan Patricia dengan penasaran.


Patricia mengangguk dengan malas. Dia merasa lapar, lelah dan sebagian tenaganya telah terkuras melawan ayahnya tadi. Tapi kekhawatiran Elena mengingatkannya pada masa lalu. Khawatir tidak menenangkan.


"Luther sudah merasakan darahmu sejak pertama kali dia menolongmu dari kejaran beruang. Kekuatannya bertambah besar, aku yakin sekarang kastil sedang meriah dengan pertarungan mereka!" Patricia tersenyum lebar. Matanya membayangkan bagaimana Luther menyerang Valek dengan membabi buta sementara Elena menggaruk lehernya lalu menjerit histeris.


"AKU TIDAK MAU MENJADI VAMPIR!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2