
Mark memegangi pinggiran kursi untuk menguatkan dirinya di depan Julianne yang terus memeluk Elena dan dua orang yang mengerti segala akar permasalahan yang terjadi. Dia mengucapkan segala keraguan-keraguannya dan kemungkinan-kemungkinan besar secara jelas dan berani. Meski demikian dia masih bisa merasakan hasrat dan keinginan dari mata Elena dan Luther untuk bersama. Keduanya saling mencuri tatapan sambil sesekali tersenyum kecil walaupun sudah gamblang ia katakan, ia tidak terima anaknya harus pergi ke kastil Van Broden. Tempat kejam yang jauh dari jangkauannya.
Elena menyandarkan kepalanya di lengan ibunya. "Papa hanya khawatir dan tidak percaya dengan Luther."
"ELENA!" sahut Mark penuh peringatan. "Kau tidak mengerti apa yang kau pertaruhkan sekarang."
"Aku mengerti, papa. Hidupku!" Elena menegakkan tubuhnya lalu bersikap seperti gadis dewasa yang siap melakukan diskusi berat dengan kedua orang tuanya. Elena menatap Julianne dan Mark bergantian.
Julianne mencengkram punggung tangan Elena. "Jangan lakukan, Ela. Belum saatnya."
"Ini saatnya, mom!" sahut Elena cepat. Dan sebelum Julianne sempat menjawab dan Luther mencegah Elena mengucapkan hal yang tidak-tidak, Elena sudah kembali bicara dengan nada tinggi.
"Aku tahu kalian menginginkan yang terbaik bagiku, tapi perpisahan kalian adalah hal terburuk bagiku. Sekarang, lihatlah betapa kalian mengkhawatirkan aku atas pilihanku. Kalian egois dan tidak sedikitpun mengerti kekurangan yang aku rasakan sebagai seorang anak!"
Mata Julianne dan Mark seketika melebar. Rasa sakit dan tertohok menyelimuti dada mereka. Elena, putri mereka yang hidup tanpa sepasang orang tua lengkap yang bisa tersaji di depan matanya setiap hari sudah mengucapkan hal-hal yang mereka takutkan selama ini. Sebuah protes dari pisahnya mereka.
Mark dan Julianne menarik napas, sulit untuk mengatakan bahwa semua adalah salah mereka. Tetapi ketakutan mereka sangat beralasan. Elena memilih Luther, manusia abadi yang belum pernah mereka kenali secara keseluruhan. Bagaimana watak asli dan keluarga, bagaimana dia bisa membuat Elena bahagia dengan persoalan rumit antar ras manusia dan vampir.
Mark menggertakkan gigi untuk menahan geraman. Dan ketika Elena menatapnya lekat-lekat, ekspresi pria itu seolah ingin mati saja jika Elena benar-benar menyerahkan hidupnya pada Luther.
"Beri papa waktu Elena!" kata Mark.
Di sisi lain Jonathan yang bergeming di depan jendela tepat di ruangan menara utama palang atas menatap ke bawah sembari melipat kedua tangannya. Aksi dari Klan Dark Larks dan para vampir pelayan belum juga usai. Persaingan kasar yang membabi buta menumbangkan jasad-jasad yang kalah ke atas salju.
Jonathan membuang napas. "Aku akan bilang kau cukup egois, bapa. Elena dan kami semua yang ada di sini dalam bahaya!" Dia berbalik, lalu berjalan dan berdiri di belakang Luther. Matanya yang lebam dan merah menjadikan pandangan terlihat kabur.
"Keadaan seperti ini bukan hanya satu Minggu, tapi tiga bulan selama musim dingin berlangsung. Apa kau tidak bisa membayangkan apa yang terjadi selama tiga bulan ke depan? Dalam sehari saja bangunan yang melingkari katedral ini akan roboh!"
Jonathan mendesis jengkel dalam keadaan lelah. Tubuhnya banyak mengalami memar dan goresan dari kuku tajam Malcolm. Rasa perih menyelimuti tubuh dan hatinya. Marissa, satu-satunya gadis yang ia jadikan penyemangat sedang menyumbangkan darah untuk Malcolm.
"Mereka tidak mempan dengan air suci, kau harus tahu itu bapa. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah memenggal kepala dan menembak tepat di jantung mereka!"
Mark berdiri lalu menatap Luther dan Elena. Ucapan Jonathan cukup membuatnya berpikir tentang implikasi tersebut walau ketakutan dan rasa mengalah sulit teruraikan dari benaknya.
Elena menatapnya. Siksa batin meremas perut Mark dengan keputusasaan.
__ADS_1
Anak-anak Tuhan dalam bahaya sedangkan putriku jelas akan berada di penjagaan ketat bedebah itu.
Suatu keputusan yang menarik Mark lakukan. Dia menatap Luther dalam-dalam.
"Aku akan menyetujuimu membawa putriku. Tetapi dengan syarat, bawalah sekalian ibunya."
Tubuh Julianne gemetar dan tatapannya langsung mengarah pada mata Mark.
"Kenapa tidak kau saja! Aku hanya pintar membuat adonan kue dan tinggal di sarang vampir tidak menjadikan aku sebagai bantuan. Aku penakut!" katanya dengan cepat.
Luther meringis dengan kepala menunduk. Permasalah Mark dan Julianne terlihat menghiburnya. Luther menggunakan mantranya untuk memanggil Elena.
Kau percaya ibumu penakut?
Elena menyipitkan mata.
Kau pikir siapa yang membuatku jadi seperti ini! Ibu dan ayahku sama-sama keras kepala.
Luther memindahkan tatapan pada Jonathan.
Jonathan menekankan sebelah tangan pada bahu Luther.
Kau pikir gampang, sialan. Adikmu bahkan mengacaukannya dengan cintanya kepada Marissa.
Luther tertawa dalam benak.
Kau harus meyakinkan Mark, Elena aman bersamaku!
Jonathan mengelus pipinya yang memar lalu kembali ke depan jendela. Tepat ketika ia menatap ke bawah, mata Perl melihatnya.
"Kalian harus menentukan pilihan secepatnya!" teriaknya waspada.
Luther berlari keluar melewati jendela yang Jonathan dorong. Ia melompati pinggiran balkon demi pinggiran balkon yang terdapat di menara sampai ke halaman katedral.
Perl mendekat dengan gerakan tangkas menghindari anggota Klan Dark Larks.
__ADS_1
"Kau harus membawa gadis itu ke kastil, Luth dan lakukan perundingan darurat dengan ayahmu!" kata Perl terengah-engah.
"Kalau begitu kau dan Patricia akan tinggal di sini untuk penjagaan. Tarik anak buahmu masuk ke katedral jika mereka sudah kewalahan."
Perl menahan pergelangan Luther saat pemuda vampir itu hendak berbalik. "Aku meminta kau segera membawanya pergi sebelum tengah malam, kegelapan akan semakin mengelilingi tempat ini dan kau bisa kehilangannya!"
Luther mengangguk, benaknya mendidih sampai otot-ototnya menegang sebelum kembali ke menara utama katedral.
Semua tampak tegang dan waspada dengan senjata yang melengkapi mereka.
"Aku akan menyembuhkanmu, Jo. Dan kau bapa." Luther membungkukkan badannya rendah di depan Mark. Bersikap menghormati. "Kosongkan katedral, mintalah biarawati meninggalkan tempat ini secepatnya sebelum tengah malam dan persenjatai semua orang yang bersedia menjadi pasukanmu!"
Mark bersikap acuh tak acuh dengan kepedihan yang terlihat dari matanya. Dia mengangguk lalu mendekati putrinya.
"Kau bisa menjaga diri tanpa kami, Elena?"
"Tentu saja." Elena mengangguk sambil merentangkan kedua tangannya. "Kau hanya perlu mengorbankan aku, tapi tidak dengan yang lainnya."
Mark menatap Julianne dan Luther sebelum memeluk putrinya. Mereka semua sama-sama tahu, berdebat lebih lama akan semakin menghabiskan sisa tenaga.
"Aku mau kau tetap menjadi manusia sepulang dari kastil itu. Kau harus berjanji padaku, Elena! Untuk hal itu saja?"
Elena mengangguk lalu menarik tubuhnya untuk menatap Mark.
"Apa itu artinya kau setuju aku berkencan dengan vampir, papa?"
Mark menggaruk telinganya lalu memamerkan senyum masam. "Kau buktikan saja apa yang ku minta sebelum aku benar-benar menyetujuinya!"
Elena langsung menggandeng tangan Luther. Kemudian tatapan mereka berdua mematri wajah Julianne dan Mark dengan senyum berseri-seri.
"Kami bisa melakukannya asal kalian berdua juga tetap hidup untukku!"
Mark mengepalkan tangan di dalam saku mantel setelah putrinya berbalik dan menghilang dari pandangannya bersama Luther.
...ΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1