
Setelah berbaring di tempat tidur sempit dari balok kayu yang sudah mengalami pengolahan. Jonathan merasa Patricia terus mengawasinya tanpa rasa malu. Terang-terangan. Bahkan ketika ia menyantap makanan yang di bawa olehnya, Jonathan tak habis pikir Patricia berminat melakukan perjalanan jauh hanya demi dirinya yang nyaris mengigil kelaparan. Beruntung hawa oven yang sedang membakar tulang-tulang para klan Dark Larks hingga mengeluarkan suara gemeletak yang tidak ada habisnya cukup menghangatkan tubuh.
"Aku bisa membaca pikiranmu!" kata Jonathan tegas sembari membalas tatapan Patricia dengan terang-terangan pula. "Kau tidak bisa menginginkan seorang paranormal tidur bersamamu dan harusnya kau binasa di tanganku."
Patricia mendengus jengkel. "Kau bisa membunuhku tapi setelah kita melewati badai ini bersama. Lagipula kau sakit Jonathan kau tidak bisa menyerangku."
"Kau pikir mudah?" Jonathan meneguk aspirin ketika badannya semakin demam. "Aku akan tidur, kau sekali saja menyentuhku dan berpikir tentang kesenangan semata kau akan menjadi abu!"
Patricia terbahak. "Kau pria kasian, Jonathan. Kau ingin menikah bukan, aku bisa menjadi pengantinmu!"
"Dan mati di tangan ibuku!" sahut Jonathan cepat. "Kau harusnya sadar, pria berambut perak panjang yang menyelamatkanmu mencintaimu dan bukannya sudah aku katakan, jangan memperkeruh suasana. Kau tidak sadar apa dengan kekacauan yang di terjadi karena Luther dan Elena. Kota ini semakin ditinggalkan, rusak, dan sepi!"
Patricia membuka jaketnya, dia merasa kepanasan alih-alih kedinginan di dalam ruangan yang tidak memiliki kontruksi yang rapat. "Kau pakai itu biar Luther tidak marah melihatmu semakin parah!" Ia melemparnya ke tubuh Jonathan. "Kau lebih butuh itu, aku sudah kedinginan hampir dua ratus tahun."
Jonathan terpaksa mengenakannya sambil menatap raut wajah Patricia yang berubah. Gadis manis bertubuh sintal itu masam.
__ADS_1
Andai ada Marissa, kami bisa berbagi kehangatan.
Jonathan memijat keningnya. "Kau masuk saja ke oven itu sekalian biar hangat." ucapnya dengan malas. Kepalanya terasa berat. Tapi kemudian dia tersentak ketika Patricia benar-benar bergerak ke arah oven besar.
Terpogoh-pogoh ia dengan lunglai turun dari balok kayu. Jonathan menarik tangan Patricia sebelum gadis itu bertindak ceroboh.
"Aku bercanda, bodoh!" katanya dengan khawatir. "Kenapa kau menurutinya!"
"Aku cari perhatian!" Patricia menatap Jonathan penuh tekad. "Memangnya kau kira bersama vampir selama puluhan tahun tidak bosan. Kakiku ingin berlari ke ujung dunia, tapi hanya neraka dan kastil Van Broden yang menyambutku di keabadian ini."
Jonathan tertegun, tapi itu bukan penderitaannya. Keluarga vampir ini sudah memberinya persoalan-persoalan rumit yang sulit teratasi. Dia yakin sekarang wanita itu hanya bersandiwara seolah-olah paling tersiksa untuk mengelabuhinya..
"Dan kau masih tidak berminat membagi hawa tubuhmu itu denganku? Ah, sialan. Padahal itu cukup menyenangkan bagiku."
Jonathan terbahak dengan malas dan lemas. "Kau sama saja dengan adikmu, menghancurkan hubungan kami dengan alasan menyedihkan yang kalian gembor-gemborkan lalu jika aku mau melakukannya malam ini, bukannya aku sama saja menyakiti Marissa? Cukuplah, Patricia. Bukan aku tempatmu mencari kesenangan."
__ADS_1
Patricia memaki-maki dengan lucu sebelum kembali duduk di balik kayu. "Kau sendiri kenapa tidak menghabisi adikku? Kau benci dengannya bukan." Mata Patricia menyipit.
Jonathan merebahkan diri ketika kepalanya semakin terasa berat. Ia memejamkan mata meski telinganya masih sanggup mendengar suara di sekelilingnya dengan fokus.
"Hati nurani ku masih bekerja, aku akan maklum untuk sementara waktu jika itu masih di dalam batas wajar. Musim dingin masih lama, aku sendiri tidak yakin Luther sanggup membereskan masalahnya sekarang."
"Terserahlah... Kau tidak asyik, itulah kenapa Marissa lebih nyaman bergurau dengan Malcolm, gadis itu butuh hiburan, Jo! Tidak hanya kau beri dia pengertian terus, memangnya tidak kesepian dia kau tinggal mencari iblis." komentar Patricia. "Sudahlah kau tidur saja, aku sudah tidak berminat denganmu!" katanya tak acuh.
"Baguslah, aku juga tidak berminat denganmu walaupun kamu cantik." Jonathan memunggunginya.
Patricia mencebikkan bibir, dia membiarkan Jonathan jatuh ke mimpinya dalam lelap yang tenang sebelum dia mencuri kesempatan untuk meminta kehangatan dari tubuh pria yang sedang mengalami demam itu. Patricia cekikikan tanpa suara. Dia merasakan hawa yang berbeda dari tubuh Jonathan, pria pemberani yang patah hati.
"Aku berjanji tidak akan membiarkan malam kita diketahui manusia, Jo. Kamu hangat sekali." Patricia mencari letak nyaman pria itu dalam dekapannya dari belakang sebelum ikut terlelap di tengah guyuran badai salju dan suara-suara tulang yang nampaknya belum juga selesai melebur menjadi abu-abu.
Jonathan mendengus. Sadar, naluri iblis wanita itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bermalam dengannya. Maka dia yang selalu memiliki intuisi tajam tak sepenuhnya mengistirahatkan benaknya.
__ADS_1
"Kau salah bermain-main denganku, Patricia!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...