Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
Mezzanine


__ADS_3

Loteng tengah katedral berdentang sebanyak sepuluh kali kala misa hari Minggu akan segera di mulai. Elena duduk di bangku paling depan dengan wajah semringah dalam balutan gaun A-line putih selutut tanpa lengan.


Dengan bangga dia menyaksikan ayahnya berkhotbah di atas mimbar, sementara ibunya menatap mantan kekasihnya dalam keadaan resah yang menyebar di seluruh urat nadinya.


Elena telah tiba dimana seminggu penantiannya usai, besok ia akan kembali menjadi anak kampus lagi dan itu membuat orang tuanya resah.


Penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan Jonathan sedikit menemukan petunjuk tentang tanda di tengkuk Elena. Dan Mark merasa dirinya hampir jantungan ketika Jonathan menyebutkan bahwa simbol itu adalah lambang kerajaan yang di bakar masa pada tahun 1820. Luther dan seluruh pelayan kerajaan yang kini mengabdi di kastil Van Broden adalah korban dari marahnya para rakyat yang muak dengan semua kelakuan Valek yang serupa reinkarnasi iblis. Sungguh malang pemuda yang kesehariannya telah menciptakan kewibawaan tanpa skandal sedikitpun sebagai seorang pangeran. Melalui sarana yang penuh dengan mantra-mantra kuno, ia kembali dibangkitkan oleh Valek dengan mempertaruhkan nyawa Malcolm dan Patricia kepada sekte gelap yang sanggup mewujudkan lagi mereka-mereka yang telah tiada.


Mark kini telah menduga putrinya sedang menjadi tawanan seseorang yang Elena sebut brengsek. Pun Julianne yang tahu kembalinya Elena ke kampus hanya akan membuatnya patah hati kehabisan akal untuk mengurung Elena terus di katedral.


Misa hari Minggu selesai, lonceng tengah kembali berdentang sepuluh kali. Para jemaat yang masih ingin melakukan perenungan berdiam diri di kursi-kursi panjang.


Elena tersenyum kepada ayahnya sebelum mengikuti ibunya keluar dari ruang peribadatan. Mark mengangguk kecil meski dalam dirinya sedang terjadi hujan badai dan tornado yang memporak-porandakan segala ketenangannya.


Sekarang, dengan matahari yang menyentuh kulitnya yang halus. Kehangatan dan rasa senang membuat pipi Elena berseri-seri. Dia menghirup napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan ringan.


"Aku tau mom, hari ini akan kembali padaku lagi." sebut Elena.


Julianne mengulum bibir, membuat adonan kue rasanya lebih gampang daripada mengurus anaknya yang sudah dewasa. Elena bisa menentukan pilihan hidupnya dengan lugas dan cerdas, tapi ia juga pasti sadar diri pertemuannya dengan Luther adalah sebuah awal dari malapetaka di hidupnya.


Julianne sampai tak habis pikir kenapa putrinya masih menyembunyikan hal berat itu sendirian meski Mark dan Jonathan telah yakin, tak main-main dengan kembalinya Elena.


Julianne menurunkan fascinator dari kepala ke pangkuannya. Dia mengembuskan napas lelah. Pesanan kue yang membludak dari para customer yang peduli akan rasa dukanya telah merenggut separuh tenaganya terlebih masalah putrinya.


"Kau yakin ingin kembali ke kampus, Ela?" Julianne membetulkan posisi duduknya. Dia lebih menghadap ke arah Elena yang mengamati pepohonan di sekitar katedral sambil sesekali cemberut.


"Tidak ada kegiatan apapun yang bisa aku lakukan selain belajar, mom. Ayolah... jangan melihatku seperti anak taman kanak-kanak!" bujuk Elena. "Aku aman, mom. Berusahalah tenang."


Julianne mengangkat pundak.

__ADS_1


Aman bagaimana, apa muka ini tidak menunjukkan aku masih syok, Ela!


Julianne mengakui keras kepala yang dia miliki ternyata lebih mengalir di dalam darah putrinya ketimbang perangai Mark yang penyayang.


"Apa kau tidak mau bercerita tentang siapa yang menolongmu, Ela? Mommy penasaran dan karena kau telah kembali. Mommy harus berterima kasih padanya." rayu Julianne, tipu muslihat dan kejujuran tampak beda tipis di wajahnya sekarang. Ia tersenyum sambil menggenggam tangan Elena.


Elena mendengus, sudah genap selusin ibunya mengungkapkan kalimat bujukan yang terus membuatnya kesal. Dia kesal belum menemukan obat terbaik untuk melupakan Luther kecuali amnesia, tapi untuk menjadi pasien dengan diagnosis amnesia Elena geleng-geleng kepala. Tidak mau.


Elena berdiri, dia melangkah ke atas rerumputan tanpa alas kaki. Sorot matanya memandang jauh lalu terpejam. Ingatan tentang kastil Van Broden, serangan Valek, dan macam-macam kejanggalan yang dia alami di sana memancing denyutan di sebelah kepalanya.


"Dia bukan orang baik, mom." kata Elena lemah.


Nah, teruskan Nak!


Sekejap yang memancing harap, keinginan Julianne langsung musnah. Elena menggeleng lalu kembali duduk di sampingnya.


Pembohong besar anak ini, Ya Tuhan. Mark. Sebaiknya benar, anak ini mulai kau didik!


Julianne memberikan cengiran bodoh lalu berubah serius lima detik kemudian.


Elena menghela napas, perasaannya tidak tenang akan tatapan ibunya.


Julianne menggaruk kulit kepalanya. Rasa-rasanya percuma Elena menyembunyikan identitas penolong brengsek itu. Jonathan dan Mark yang telah menghabiskan banyak waktu di depan buku-buku kuno dan sejarah di kamar pengap dengan cahaya minim telah mengetahui kebenaran di balik rahasia yang disembunyikan Elena.


"Baiklah, kembalilah ke kampus tapi dengan syarat."


Elena memberikan senyuman lemah dan memeluk ibunya sambil mengucap terima kasih seakan tak peduli dengan syarat yang akan ibunya minta.


Julianne meremas pundaknya lalu mencium kedua pipi Elena.

__ADS_1


"Kau harus berjanji untuk tidak berkecil hati, Elena!"


***


Elena merasa hidupnya penuh dengan aturan dan alat-alat perlindungan yang di siapkan orang tuanya keesokan hari sebelum pergi ke kampus. Bisa jadi sekarang dia bukan lagi atlet equestrian yang membawa kuda gagahnya ke kampus, melainkan atlet pemanahan yang membawa busur perak dan air suci satu liter.


"Hayley, apa kau malu?"


Kudanya tetap menggelinjang dengan tenang di bahu jalan.


"Hayley, aku malu dan sepertinya mommy dan Daddy sudah tau Luther vampir!" Elena berdecak. Terutama saat ia memasuki lingkungan kampus. Rasanya memang aneh, semua mata mahasiswa yang berjalan keluar masuk gedung universitas menatapnya dengan penuh rasa keterkejutan dan senyum lebar yang menggelitik.


Jonathan melipat kedua tangannya di depan dada ketika menyambut baik Elena depan lift.


"Panah yang tidak asing lagi bagiku!"


Enam patah kata itu membuat Elena kesal, dia menyemburkan dengusan kasar. Jonathan tersenyum lebar sambil mengikuti Elena masuk ke dalam lift.


Mereka bertatapan melalui cermin.


"Ada yang menyerang kekasihku satu hari setelah kau kembali! Dan seseorang yang bernama Malcolm membayar kekasihku dengan setangkai bunga dan ucapan tanda permintaan maaf." kata Jonathan.


Elena menoleh. "Kau di suruh papa untuk menjadi pengawal ku di kampus?"


"Yah..." Jonathan mengeluarkan suara pasrah. "Bagaimana pun ayahmu menyimpan rasa bersalah yang besar kepadamu, Elena. Dia meninggalkanmu dari bayi sebelum hidup selibat di katedral itu. Kau pikir menjadi dia mudah sementara kau sendiri dalam bahaya!"


Elena keluar dari lift seraya melebarkan mata dengan mulut yang ternganga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2