Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
Ends in Darkness


__ADS_3

Keesokan harinya. Lonceng tengah katedral berbunyi sebanyak delapan kali. Elena dan Luther yang memakai baju curian itu merasa tegang di tempat duduk mereka di ruang belakang altar.


"Luth, sebelum kita benar-benar menikah. Aku ingin tanya sesuatu padamu." Elena menyentuh dadanya yang berdebar-debar. "Kau ingin memiliki anak atau kau seperti Marissa?"


Luther memastikan dasi kupu-kupunya terpasang dengan benar sebelum tersenyum lebar di hadapan Elena.


"Aku kemarin sempat membelikanmu cincin dengan uang yang aku dapatkan dari Jonathan." ucap Luther mengalihkan pembicaraan.


Elena meringis, entah kenapa pernikahan mereka dan kedekatan mereka terasa buruk. Pakaian pengantin mencuri, cincin pengantin dari uang Jonathan belum lagi nanti jika mereka benar-benar memiliki anak. Entah apa yang akan Elena alami.


"Rasanya aku tidak siap Luth memiliki anak di waktu sekarang. Kau tau maksudku? Aku ingin kuliahku selesai dan bekerja. Kita pun juga harus kabur dari kota ini jika nanti penduduk datang ketika keadaan sudah membaik dan mereka mengusir kita sebagai pasangan tidak normal." Elena menundukkan kepala, sedih. "Aku takut hal itu akan terjadi Luth."


Luther berjongkok di depan Elena seraya menggenggam tangannya. "Apapun yang kau inginkan aku turuti, Elena. Jangan meragukanku, aku bisa kau kendalikan."


"Kau bersungguh-sungguh?" tanya Elena memastikan.


"Aku selalu bersungguh-sungguh, kau bisa memintaku dengan manis dan lembut aku akan menurutinya."


"Kau janji?"


Luther menghela napas. "Susahkah untuk sekedar percaya dahulu? Kita sudah hampir menikah Elena, kau mulai ragu? Kita batalkan saja jika begitu dan pastikan kata hatimu."


"Jangan." Elena menggeleng. "Aku hanya memastikan kau bisa diajak kerjasama, Luth. Ini juga bukan urusan sepele makanya aku banyak tanya dulu, kau maklum sajalah. Aku ini perempuan, dimana-mana butuh pengertian!"


Kembali lonceng tengah katedral berbunyi, Julianne yang tak mengerti Luther tidak kunjung keluar dari persembunyiannya melongok ke dalam ruangan.


"Jadi tidak? Ayolah, tamu kita sudah menunggu."


Luther mencium punggung tangan Elena seraya membantunya berdiri.


"Aku pastikan kau tidak menyesal menikah denganku, Elena. Kita bisa menghabiskan waktu di atas pohon tertinggi dan menghitung bintang, atau berkeliling kota melewati atap ke atap. Itu tidak pernah kau rasakan bukan?"


Elena tersenyum. "Bagaimana dengan ayah dan ibumu? Apa mereka akan memanfaatkan darahku?"

__ADS_1


"Sedikit."


Mereka mengikuti Julianne ke arah pintu masuk katedral. Di sana sudah menunggu Jonathan dan Patricia yang nyaris menyerupai pengantin. Berdiri berdampingan sambil tersenyum lebar.


Malcolm pun menemani Marissa dan orang tuanya merasa gembira, luar biasa gembira bisa menyaksikan Patricia mengukung Jonathan sementara waktu sebelum dia yakin Luther akan menghabisinya nanti di kastil.


"Mereka serasi seperti kita, Jo." puji Patricia yang menjadi pengiring pengantin. Jonathan mengangguk agar semua cepat berlalu. Dia kembali pada kehidupannya, Patricia kembali ke kastil. Tak ada lagi vampir di hidupnya kecuali Luther.


Tiba di depan Mark yang memakai pakaian lengkap pastor, sekali lagi matanya yang tajam dan tak pernah lengah sedikit saja menatap Elena, mencari tahu apakah putrinya tetap melanjutkan keinginannya menikah dengan Luther.


Elena memberikan hormat kepada ayahnya seperti putri raja. Manis dan anggun.


"Mari kita mulai." Mark mengambil buku kitab yang kadangkala dalam pikiran terdalamnya ingin sekali dia merapalkan sebuah akrasa yang sanggup membinasakan Luther dalam keabadian yang sahih.


Mark melakukan upacara pemberkatan dengan tenang di hadapan tamu undangan yang tak seberapa. Hanya orang-orang tertentu yang bersedia hadir di sana termasuk uskup Leif.


Luther mengangguk, mengiyakan pernyataan Mark untuk menjadikan putri satu-satunya dan menjaganya dengan baik. Setelah Mark menyaksikan sendiri bagaimana tekad vampir itu meyakinkannya, Mark mengangguk. Mengakhiri pemberkatan pernikahan mereka dengan membunyikan lonceng di tangannya sebagai pengganti air suci.


"Sematkanlah cincin di jarinya dan ciumlah pengantinmu."


"Elenaku."


Tepuk tangan terdengar meriah ketika Luther berhasil menyematkan cincin di jari manis Elena. Luther berdiri, ia menggenggam tangan Elena sebelum membuka kerudung transparan sebagai penutup wajah Elena.


"Aku tersiksa ketika pertama kali melihatmu dan aku tahu kau masih ragu, tapi kuharap kita bisa melewatinya."


Elena menatap cincin yang tersemat di jarinya. Tangannya gemetar dan tidak lagi kaget dengan tangan dingin Luther. Bibirnya hendak tersenyum tetapi ragu. Bibirnya tidak bisa merekah sempurna. Elena menatap Mark, air matanya menetes. Dia menangis, mengira dia bahagia dengan pilihannya sendiri walau sesungguhnya dia menangis untuk dirinya sendiri. Untuk semua takdir yang dimainkan untuknya, untuk rasa sepi yang menemaninya sejak lahir, untuk tidak adilnya hidup yang dijalani dan sekarang nasibnya ada ditangan vampir.


Oh betapa suramnya hidup Elena, meski begitu dia percaya dengan cinta Luther kepadanya dan darahnya. Dengan demikian, Elena sudah menjalani tahapan-tahapan yang tidak akan pernah membuatnya gampang menyerah.


Elena mengusap air matanya. Ia sudah jemu berada di altar, ia sudah ingin memeluk ibunya dan ayahnya. Tapi tidak dengan mertuanya, sebab dia masih trauma. Terlebih janji Luther kepada Valek belum dia ketahui.


Elena memandang wajah Luther. Cintanya kepada Luther seperti mimpi seorang perempuan yang menanti keajaiban-keajaiban ganjil yang bisa dilakukan oleh manusia biasa.

__ADS_1


"Aku percaya kita bisa melewatinya."


Keduanya mendekat bibir mereka hingga berciuman dengan penuh semangat dan memesona siapa saja yang melihatnya sampai-sampai Patricia menjerit histeris.


"Aku juga mau, Jo."


Marissa menoleh dengan mata sendunya. Dia menatap Jonathan yang memasang wajah tanpa ekspresi ketika Patricia menempel bibirnya di rahang Jonathan. Hatinya temaram, tidak ada lagi kata kita untuk Jonathan dan Marissa. Mereka seperti kertas-kertas kosong dan bunga palsu yang terpasang di setiap bangku pernikahan.


Marissa menundukkan kepalanya ketika Elena dan Luther melepas ciuman mereka.


"Kita tidur dimana, Elena?"


"Tunggu!" Valek berdiri saat Luther dan Elena bergandengan tangan seraya ingin melangkah begitu saja. "Kau belum memenuhi janjiku, Luth!"


Luther sontak menatap Elena.


"Apa yang kau janjikan, Luth?" tanya Elena heran. Kenapa Valek sedari kemarin terus menerus menagih janji Luther. Apa yang sebenarnya terjadi di kastil, dia menjadi curiga kala semudah itu kah membujuk Valek untuk datang ke dunia manusia apalagi katedral ayahnya.


Luther nampak mempertimbangkannya beberapa saat sembari menatap satu persatu orang yang ada di sana dengan cemas.


"Katakan, Luth! Apa yang kamu sembunyikan dariku?" desak Elena ketika Valek mulai mendekatinya sembari membawa gelas anggur merah.


Luther menarik sudut bibirnya perlahan-lahan sebelum menundukkan kepala.


"Darahmu, Elena. Sebagai restu aku menikahimu!"


...SELESAI...


...đź–¤...


...Terima kasih banyak-banyak Skavivi ucapankan....


...Sampai bertemu di cerita baru,...

__ADS_1


...“Jogja, Kamu & Kenangan”...


__ADS_2