Dari Dinta

Dari Dinta
10


__ADS_3

Sesampainya di kantin kulihat banyak orang yang sedang berkerumun, mengerumuni Arkan dan Andi yang sudah sama-sama saling meremas kerah baju satu sama lain.


"Lo gak usah ikut campur." Kata Andi dengan wajah sinisnya.


"Kalo Lo gak nampar cewek gue, gue gak bakalan ikut campur anjing" kata Arkan penuh emosi.


"Oh jadi itu cewek Lo, makanya kasih tau sama cewek Lo gak usah ikut campur urusan orang lain. Urus aja hidup sendiri." jawab Andi lagi tanpa mengurangi ekspresi bengisnya sedikitpun.


"Lo harusnya sadar kelakuan bobrok Lo itu harus diperbaiki. ini bukan sekolah Lo, kalo Lo mau jualan narkoba Lo sana diluar jangan disekolah."


"Gak usah so suci bro, Lo juga pernah kan sampe OD gara-gara narkoba" kata Andi seenaknya dan aku yang sempat berhenti sejenak melihat Arkan dengan emosi dan siap memukul.


"Arkan stooooop" kataku dan melepaskan tangannya dari kerah baju Andi. "Arkan udah. Ayo gak usah ngelayanin orang **** kaya dia, cuma buang tenaga dan bikin emosi. Udah ayo" kataku menggenggam lengan nya.


"Bentar Din orang kek gini tuh gak bisa cuma di diemin, cowok macam apa Lo? Yang di konsumsi aja Lo narkoba so gaya Lo, tapi nampar cewek, banci banget si Lo, sadar diri, Lo gak pantes jadi cowok" kata Arkan dan mendorong Andi.


"Bro udah bro" kata Reno yang ada dibelakangku.


"Arkan udah" kataku tapi Arkan terus maju akan melawan Andi. "Arkan liat aku, aku bilang udah udah" kataku menghalangi langkahnya untuk kembali menghajar Andi yang sudah mulai dipegangi oleh teman-temannya.


Arkan berhenti dan menatapku lalu aku segera membawa Arkan keluar dari kerumunan orang-orang dan kulihat Yoan hanya diam dengan ketakutan.


Aku segera membawa Arkan dengan pakaian kusut dan ujung bibir yang berdarah karena setelah ku tau kronologis kejadiannya ternyata sebelumnya Arkan sudah meninju Andi setelah tau ceritanya dari Reno beberapa hari setelah kejadian itu.


Aku membawa Arkan ke taman samping sekolah yang lumayan sepi dan teduh disana.


"Minum dulu" kataku sambil menyodorkan botol minumanku. Dengan penuh kasih sayang dan rasa yang masih kupertahankan. Ku rapikan rambutnya yang acak-acakan juga merapikan baju seragamnya yang kusut dan menyeka ujung bibirnya yang berdarah dengan tisu yang ada disaku ku.

__ADS_1


"Kenapa gak bilang si Din?" Tanyanya.


"Aku baik-baik aja ko Arkan" kataku sambil membuka masker ku.


"Astaga Dinta, ini merah gini apanya yang baik-baik aja. Maaf aku baru tau semuanya, dan maaf aku emosi dan ngotorin tangan aku sendiri kek gini. Aku ngerasa bersalah gak bisa jagain sahabat aku sendiri" katanya sambil meletakkan punggung tangannya di pipiku.


Aku tersenyum.


"Gak apa-apa Ar, aku baik-baik aja. serius. ini merah cuma bekasnya aja" jawabku dan tanpa permisi dia langsung memelukku erat rasanya jantungku benar-benar berhenti ditambah jika ku ingat-ingat Arkan membelaku di depan Andi dan semua orang yang berada di kantin dengan menganggap aku pacarnya.


"Kita kan udah janji kalau ada masalah cerita" katanya.


"Iya maaf aku gak cerita" jawabku berusaha menjawab dengan jantung berdetak tidak normal dan membalas pelukan Arkan.


🍁🍁🍁


"Serius Ann? Kamu tau dari mana?" Tanyaku.


"Aku disuruh Bu Ineu menyimpan Buku ke mejanya dan di kantor sebagian guru membicarakan hal itu" kata Niana.


"Padahal aku tau si Andi udah ngancam semua siswa agar masalah ini tidak bocor sampai ke pihak sekolah atau sekedar guru-guru bahkan BK." Kataku.


"Awalnya emang gitu gak ada yang berani buat laporin semuanya walaupun pada punya bukti, tapi kak Nando baru aja masuk sekolah hari ini setelah acara kegiatan khusus ketua OSIS yang seminggu itu. Jadi katanya kak Nando yang laporin semuanya dengan semua bukti yang ada" jelas Niana.


"Oh yah?" Tanyaku dan Niana mengangguk. "Tapi kenapa aku gak dipanggil yah? Padahal aku sendiri pengen bilang apa yang Andi lakuin sama Yoan" lanjutku. Belum sempat Niana menjawab satu orang datang. Itu kak Nando ketua OSIS yang sebelumnya Niana bicarakan. Ketua OSIS yang super cool dan tegas nan serius juga pintar. Kak Nando itu sebenernya sudah lengser jadi ketua OSIS tapi dia masih jadi panutan karena kesempurnaan dalam memimpin juga keberanian dan wajahnya.


Kak Nando saat itu adalah murid kelas XII IPA 4 yang saat itu berpacaran dengan Kak iren salah satu siswa di kelas XII IPA 1 yang terkenal dengan kepintaran, ke kakayaan, keramahan, juga kecantikannya disekolah.

__ADS_1


"Dinta" katanya tiba-tiba. Karena bagaimanapun aku mengenalnya begitupun sebaliknya walaupun tidak akrab karena dia kakak kelas.


"Iya kak?" Tanyaku langsung.


"Ikut saya sebentar" katanya dan aku mengangguk.


"Ini jawaban yang barusan kamu tanyain Din" kata Niana.


"Do'ain aku" kataku dan Niana mengacungkan 2 jempolnya.


Aku mengikuti Kak Nando dan kemudian sampai diruang BK. Sudah ada Arkan yang tersenyum saat aku datang, juga Yoan dan Andi disana.


Hari itu aku mengungkapkan semua yang aku lihat didepan guru BK. begitupun Yoan yang mengungkapkan tentang semua unek-uneknya dengan terisak. Sedangkan Andi hanya diam dan tetap mempertahankan wajah songongnya.


Setelah aku dan Yoan yang selesai dengan semuanya giliran Arkan dan Andi yang mengungkapkan isi fikiran masing-masing mulai dari Arkan yang mempertanggungjawabkan masalah perkelahian nya di kantin dan kemudian Andi yang membela diri setelah apa yang aku jelaskan dan Yoan beri taukan.


Hampir satu jam dan akhirnya selesai dengan keputusan akhir yaitu Arkan yang mendapat skors 3 hari atas perkelahian itu, juga Andi yang akan di tindak lanjuti dengan pihak sekolah yang akan memanggil orangtuanya.


Aku keluar bersama Arkan dengan air mata yang terus jatuh, merasa bersalah atas hukuman untuk Arkan.


"Lah? Jangan nangis Dinta" katanya


"Ma-afin a-ku udah bi-kin kamu jadi di se-skors" kataku dengan masih terisak pelan.


"Astaga Dinta santai aja. Aku gakpp cuma tiga hari juga bukan seminggu, udah gakpp ko gak usah nangis ih lebay" katanya sambil merangkulku dan mulai berjalan.


Jika diingat lagi Minggu itu salah satu hal yang sangat berkesan bagi masa SMA ku walaupun kesannya pahit tapi sampai sekarang aku seperti masih merasakan persaan dan suasana hatiku saat itu.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2