Dari Dinta

Dari Dinta
34


__ADS_3

Sesampainya di rumah Shanum kami di sambut oleh dua pembantu nya dan langsung menuju studio musik yang tidak terlalu besar tapi isinya lengkap.


"Kamu punya kakak cowok?" Tanya Niana.


"Iya namanya Ramayel tapi beda ibu, yang di Amerika itu ibuku yang disini ibunya Bang Rama." Jawab Shanum


"Terus mana? Ko gak ada?" Tanya Witri.


"Mamah lagi pergi ke Surabaya ke rumah ibunya Ayah maksudnya nenekku tempatku dulu sebelum ke Amerika dan sebelum kesini." Jawab Shanum dan semuanya mengangguk.


Tak lama kemudian datang dua pembantu rumah itu dengan makanan dan minuman.


"Makasih Biiii" kata Witri dan mulai makan.


"Sama-sama" ucap keduanya lalu pergi.


"Yaudah kita nyemil-nyemil dulu baru kita mulai latihan yah" kata Shanum dan semuanya setuju.


Setelah kurang lebih 30 menit akhirnya kami mulai latihan menentukan lagu yang akan kami pilih.


Banyak lagu yang sudah di coba dan Dinta atau Shanum selalu bisa menyelesaikannya dan itu membuat Niana kagum.


"Yaudah jadi sekarang lagunya mau apa yang bakalan di tampilkan?" Tanyaku jadi pusing sendiri.


"Mau mellow mau biasa aja?" Tanya Niana sambil men scroll handphonenya mencari lagu yang pas.


"Mellow aja mending" kata Witri sambil terus mengunyah makanan.


"Sahabat jadi Cinta lagunya Zigaz" kata Niana "gimana?" Tanyanya. Karena tahun itu lagu milik Zigaz berjudul sahabat jadi cinta cukup terkenal.


"Boleh" kata Shanum. Sedangkan aku merasa tidak enak mendengar lagu itu.


"Mau itu?" Tanyaku.


"Kenapa? Lo gak bisa Din?" Tanya Anna sambil menggodaku dan aku tau maksud Niana memang benar-benar menyebalkan.


"Oke kita coba" kataku sambil membuka hpku sendiri untuk melihat not piano yang ada di google dan aku mulai memijit piano dengan mata yang tak lepas dari angka yang ada di layar hpku sebagai kuncinya.


Satu kata yang sulit terucap hingga batinku tersiksa, tuhan tolong aku jelaskan perasaanku berubah jadi cinta.


Suara Shanum benar-benar menusuk tepat di dadaku dan semakin lama aku semakin emosi memainkan piano ku dengan sempurna. Sampai di bait terakhir dan lagu selesai dengan sempurna.


"Huuuuuhhhh sumpah itu keren" sorak Witri sambil bertepuk tangan begitupun dengan Niana.


"Bagus nggak?" Tanya Shanum dan Niana juga Witri mengacungkan dua jempolnya.


Aku tersenyum lalu mengacungkan telapak tanganku pada Shanum untuk tos dan Shanum menerimanya dengan Senang.


"Penampilan kalian akan menjadi penampilan yang paling bikin menyentuh di hati" kata Niana.


"Alayyy" cibirku.


Waktu hampir menunjukan pukul lima sore lewat dan kami sepakat untuk mengakhiri semuanya hari itu dan pamit.


"Yaudah kita pulang yah Shanum, sampai ketemu besok" kata Witri


"Oke hati-hati yah kalian" katanya dan kami mengangguk.

__ADS_1


"Shanum, berhubung kamu juga harus latihan buat debat, buat latihan musik aku rasa cukup aja, kita latihan masing-masing aja yah, aku latihannya di rumah aja ada ko piano dan kamu hafalin lagunya kek tadi." Kataku.


"Setuju" jawab Shanum.


"Oh iya, materi debat aku udah kirim ke email mu, itu dari Malik kamu baca-baca besok kita coba, soalnya kata Malik kita kebagian lusa tampil buat babak penyisihan pertama di jam normalnya setelah istirahat katanya. Dan besok kita harus latihan" kata Niana.


"Sip" jawab Shanum dengan senang.


"Yaudah kita pamit yah Shanum" kata Witri lagi.


"Oke hati-hati pokonya" katanya dan kami mengangguk lalu pergi dengan lambaian tangan masing-masing.


🍃🍃🍃


Pagi itu seperti biasa aku berangkat bersama Arkan lalu setelah sampai kami berjalan menuju kelas. Hari itu juga hari pertama di bukanya acara ulang tahun sekolah.


"Kamu yang nyanyi Din?"


"Shanum yang nyanyi" jawabku.


"Kamu?"


"Piano" jawabku


"Waaaaaaahhhh jadi gak sabar. Kamu kan udah lama gak main piano." Jawab Arkan.


"Iya, lumayan ngeri gitu si" kataku


"Semangat ah" katanya sambil meletakan telapak tangannya di puncak kepalaku. Dan aku mengangguk tersenyum.


Dan akhirnya kami sampai didepan kelasku.


"Iya kamu juga debatnya yang bener" jawabku dan Shanum sudah datang menghampiri Arkan aku segera masuk saja dan membiarkan merek ngobrol.


"Resiko" celetuk Niana.


"I'm Fine Niana" jawabku


"Oke i proud of you baby" katanya sambil memelukku.


"Ann ih" cibirku "Eh Ann btw temen Lo yang brengsek kenapa gak minta maaf sama sekali ke gue karena kejadian itu?" Tanyaku maksudnya Kevin.


"Sebenernya dia hubungi gue dan minta tolong sampein maaf Dia yang sebesar-besarnya sama Lo. Emmmh gini deh Din soal itu mending Lo lupain semuanya gak perlu Lo inget lagi dan anggap aja si Kevin emang brengsek aja di mata Lo dan yang penting Lo baik-baik aja sekarang." Kata Niana.


"Iya si, tapi heran aja kenapa tu orang bisa lakuin hal kek gitu ke gue, tapi kalau aja suatu saat nanti gue ketemu lagi sama dia, gue pasti akan tanyain semuanya dan minta penjelasan dari dia sejelas-jelasnya" tegasku.


"Iya terserah kau saja lah" jawab Niana.


KBM memang di berhentikan untuk 3 hari ke depan dan anak-anak yang lain hanya berhamburan di luar ada yang nongkrong ada juga yang di kantin.


Hari itu perlombaan debat bahasa Inggris sudah berlangsung sejak pagi tempatnya berada di Aula. Pagi itu aku hanya diam di kelas saja bersama beberapa temanku kelasku.


Niana dan Shanum sedang glady di lab Kimia bersama Malik untuk persiapan debat mereka.


"Bt bener" keluhku dan berdiri lalu bergegas untuk ke kantin saja. Aku berjalan pelan sambil melihat kanan kiri lalu menemukan 3 orang siswa siswi yang sedang serius di dalam ruangan lab fisika salah satunya ada Arkan disana rupanya sedang berlatih debat juga.


"Semangat Arkan" ucapku pelan lalu kembali berjalan menuju kantin.

__ADS_1


Sampai di kantin aku memesan batagor dan langsung ku lahap.


"Hai kak" sapa seorang wanita yang ku kenal dengan mangkuk baso di tangannya. itu Yoan yang pacarnya Andi.


"Eh hai" sapaku.


"Boleh duduk disini?" Tanyanya


"Tentu" jawabku dan dia duduk.


"Tumben sendiri, Kak Anna mana?" Tanyanya.


"Oh Anna lagi latihan debat" jawabku


"Oh gitu, Kakak gak ikutan debat?" Tanyanya.


"Nggk lah gak mahir bahasa Inggris" kataku dan dia tersenyum "eh Andi apa kabar?" Tanyaku.


"Baik, dia baik kak, Minggu kemarin aku baru aja liat dia. Dia baik dan ingin segera kembali ke sekolah katanya" kata Yoan.


"Syukurlah kalau begitu, emmh kamu denger gk kapan dia bisa balik ke sekolah gitu?" Tanyaku.


"UAS semester ini dia akan ikut dan akan di pastikan dinyatakan bersih" kata Yoan dengan mata berbinar.


"Waaaahhh aku ikut seneng" jawabku.


"Iya. Makasih yah kak." Katanya.


"Untuk?" Tanyaku


"Untuk semuanya aja, kan karena kakak Andi bisa kek gini sekarang, menuju orang yang lebih baik lagi"


"Oh iya sama-sama deh. Emh selama ini kamu gak putus?"


"Nggk. Aku cinta sama dia kata anak-anak si aku buta cuma gara-gara cinta katanya, tapi ya inilah cinta" lanjutnya sambil nyengir seperti malu berbicara itu di depan kakak kelasnya.


"Iyalah kalo cinta harus di perjuangin terus" kataku seperti memberi semangat yang mustahil ke diri sendiri.


"Hehe iya kak, dan sebenernya masalah aku bantuin dia jadi kurirnya gitu bukan karena cinta nya aku ke dia, karena aku sadar itu konyol sekali. Semua itu aku lakuin buat balas Budi. pas ketemu kakak itu aku bilang karena balas Budi, Kakak inget?" Tanyanya.


"Ya aku inget, jadi kenapa itu? Eh ini kalau boleh tau si yah, kalau nggak juga gakpp ko." Kataku.


"Jadi ayah aku sama Andi kolega bisnis tapi ayahku bangkrut dan ngutang banyak sama ayahnya Andi. Sejak dulu aku kenal Andi, jatuh cinta sama dia dan tau dia pengedar dan konsumsi tapi aku tetap terima dia apa adanya dan Andi yang bantuin aku lunasin hutang ayah ke ayahnya sendiri tapi mungkin uangnya hasil haram itu dan lama-kelamaan aku ngerasa gak enak sampe akhirnya aku mulai bantuin Andi karena aku gak enak sama dia, awalnya dia ngelarang tapi lama-lama dia keenakan dan barangnya lebih laku lagi dan lama-kelamaan juga aku mulai gak mau tapi Andi tetep maksa. Sebenernya dia baik, dia gak kasar, tapi karena pengaruh obat-obatannya itu kadang dia jadi kasar seperti yang Kakak lihat dia bisa ngelakuin hal yang gak wajar padaku." Jelasnya panjang lebar dan aku cukup kagum mendengar ceritanya bagaimana seorang Yoan yang hanya bocah kecil bisa punya rasa sebesar itu.


"Waaaahhh aku kagum sama cintanya kamu sama Andi, semoga langgeng terus deh yah pokonya" jawabku.


"Makasih kak" jawabnya.


"Iya" jawabku.


"Kakak punya pacar?" Tanyanya dan aku langsung menggeleng tanda tidak dan memang tidak punya. "Masa sih? Cewek secantik kakak gak punya pacar?" Tanyanya lagi.


"Hey aku serius" jawabku.


"Orang yang di sukai ada?" Tanyanya dan aku langsung diam "pasti ada kan? Apa jangan-jangan cinta sepihak? Ah tapi Keknya gak mungkin si" katanya membuatku ingin teriak mengiyakan.


"Haduuuuhhh Yoan gak usah ngelantur gitu, ayo abisin makanannya bentar lagi kelas kakak tanding debat kamu harus nonton." Kataku ramah.

__ADS_1


"Oke oke" jawabnya dan aku hanya tersenyum.


🍃🍃🍃


__ADS_2