Dari Dinta

Dari Dinta
24


__ADS_3

Akhirnya semuanya sampai di sebuah villa yang lumayan besar menurutku, kami segera masuk dan membagi kamar, berhubung di villa itu hanya ada 3 kamar saja, jadi aku dan Kak Rahfa sekamar berdua.


"Gakpp nih Kak Dinta sekamar sama kakak?" Tanyaku.


"Kalau Kak Rahfa gak boleh Dinta sama kakak biar Dinta aja di kamar Arkan, Arkan bisa di sofa atau kita berdua aja yah Din?" Tanya Arkan dan merangkul pundakku.


"Arkaann" aku mendelikkan mataku ke arahnya.


"Apaan si kalian, gkpp kali Din, ayo aja, kalau Kakak sama Arkan baru gak mau" jawab Kak Rahfa


"Heran deh orang-orang bela Dinta semua. Yang adeknya kakak aku apa Dinta si?" Tanya Arkan dengan memelas.


"Dinta!" Jawab kak Rahfa ketus. "Ayo Din" ajak kak Rahfa dan aku tersenyum lalu menjulurkan lidah kepada Arkan dan Arkan melemparkan tatapan tidak suka pura-pura nya kepadaku.


"Bubuuuuu ayo tes DNA" kata Arkan setengah teriak dan pergi ke kamarnya.


Villa nya terdiri dari dua lantai dua kamar di atas, dan satu kamar utama dapur dan kamar mandi berada di lantai utama. Malam itu aku keluar dengan senang, rasanya segar sekali menghirup udara di lantai atas di villa itu.


Aku sudah memberi kabar pada Bang Deris bahwa aku sedang berada di Bandung dan letak tempatku berada dan Bang Deris lumayan cukup jauh tapi Bang Deris berjanji untuk bertemu denganku.


"Malam Ding dong" sapa Arkan dan menyodorkan segelas kopi capuccino kepadaku.


"Iya, kapan ke warung?" Tanyaku sambil mulai menyeruputnya. Karena yang Kutau letak villanya bukan berada di pinggiran kota Bandung, letaknya lebih ke dalam lagi dan posisinya menghadap ke danau kecil disana, aku lupa nama daerahnya saat itu.


"Tadi" jawabnya.


"Oh iya" jawabku


"Bang Deris tau kamu kesini?" Tanyanya dan aku mengangguk. "Mau kesini?" Tanyanya lagi dan aku menggeleng. "Dinta kenapa si?" Tanyanya dengan serius.


"Gakpp, emang aku kenapa?" Tanyaku dengan senyum.


"Berasa aneh aja. Jalan-jalan yuk?" Ajaknya.


"Ke?"


"Kemana aja, namanya juga jalan-jalan" jawabnya.


"Ayooo" jawabku dan dreeeddd dreeeddd handphonenya berbunyi.


"Bentar" jawabnya lalu melihat layar handphonenya dengan sumringah.


"Selamat malam Shanum" sapa Arkan.


"............."


"Gak lagi apa-apa"


".............."


"Dinta? Ada di sebelahku" jawabku.


"............."


"Udah" jawab Arkan sambil memijit tombol pengeras suara.


📞"Hai Dintaaaaa" sapanya.


"Hallooo" jawabku dengan ceria padahal aku tidak suka. Tapi harusnya aku memang tidak seperti itu juga saat itu.


📞"Dinta lagi apa?"


"Gak lagi apa-apa, lagi berdiri aja" jawabku

__ADS_1


📞"Gak seru banget, Arkan maen kek bareng gimana kek mumpung di Bandung gitu" katanya.


"Ini juga mau, tapi kamu keburu telpon" jawab Arkan.


📞"Oh yah? Hahaha yaudah sana pada main, masa cuma pada berdiri"


"Tapi gakpp ko kalo emang kamu mau telpon aku temenin" jawab Arkan.


📞"Gak usah yah" jawab Shanum dengan senyumnya sampai terdengar.


"Shanum kapan-kapan kita main ke Bandung yah" ajakku.


📞"Ayo Dinta ayo, pokonya harus sama-sama yah kita" jawabnya.


"Tentu" jawabku.


"Yaudah Shanum aku tutup yah, jangan tidur malem-malem" kata Arkan


📞"Kamu juga" jawab Shanum membuat aku tersenyum pahit di balik gelas yang sedang ku teguk isinya, tegukan trakhir. Dan kudengar tanda panggilan di matikan.


"Ayo" ajak Arkan sambil membawa tanganku.


"Mau main kemana si?" Tanyaku setelah berjalan menuruni anak tangga.


"Udah ikut aja" jawabnya.


"Bu, Arkan mau keluar sama Dinta" katanya setelah sampai di depan orang tuanya yang sedang menonton televisi.


"Kemana? Kek tau aja daerah Bandung" katanya.


"Udah biarin aja" kata ayahnya.


"Jam 9 balik, kalo gak nyasar si" kata Arkan to the point.


"Siap Tante" jawabku dan keluar mengikuti Arkan meninggalkan Kak Rahfa yang sedang telponan ria dengan pacarnya tidak mau di ganggu di kamar.


Kami berdua berjalan menyusuri jalanan kota Bandung yang sudah mempesona saat itu walaupun aku tau Bandung sekarang lebih mempesona lagi.


"Mau jajan apa?" Tanya Arkan


"Cilok" jawabku.


"Dimana ada nya?" Tanyanya


"Ya cari aja lah ke depan" jawabku.


"Terus jalan gitu?" Tanya Arkan


"Iyalah" jawabku.


"Awas aja kalo ngeluh capek" katanya dan aku hanya acuh.


Hanya beberapa meter dan akhirnya aku menemukan salah satu tukang cilok yang mangkal bersama tukang siomay dan batagor.


Arkan memesan 2 porsi cilok yang sengaja di masukan ke dalam kantong dan cara memakannya yaitu dari pojokkannya.


"Nyari tempat duduk ah" kataku dan kami menemukannya.


Aku dan Arkan menikmati ciloknya yang panas dengan satu botol air mineral untuk berdua.


"Enak yak" kataku.


"Lumayan lah dari pada kejepit pintu" jawab Arkan.

__ADS_1


"Ya apapun juga pasti lebih enak kalau perbandingan nya dari itu."


"Hahaha oke oke" jawab Arkan dan cilok kami habis Arkan segera mengambil botol air mineralnya untuk minum.


"Arkan Arkan aku dulu" kataku


"Yaudah niiih" jawabnya dengan lemas karena hampir saja dia meneguknya.


"Harus cewek dulu yah" kataku dan aku langsung meneguknya. "Nih" jawabku setelah selesai.


"Bekas bibir kamu" komentarnya dan langsung meneguknya dengan santai sedangkan aku memegang bibirku sendiri merasa tidak enak dengan apa yang di katakan Arkan.


Saat itu walaupun aku sudah SMA tapi ada yang bilang kalau kita minum satu botol berdua seperti saat itu, berarti itu artinya ciuman. Saat itu aku langsung berfikir, apakah aku sudah ciuman dengan Arkan malam itu? Konyol memang.


"Yeeee gak rabies ini" jawabku dengan perasaan gak karuan. Padahal kalau di pikir sekarang mungkin Arkan mengatakan itu karena jijik saja bekas bibirku.


Aku hanya melihat bintang malam itu dengan Arkan di samping ku yang sama-sama menengadahkan kepalanya ke langit.


"Gak kerasa yah udah mau kelas 3 lagi kita" katanya tiba-tiba.


"Iya" jawabku pendek.


"Berarti udah mau berapa tahun kita sahabatan?" Tanyanya.


"Berapa yah? Lama banget si" jawabku.


"5 tahun, lumayan lama si yah. Makasih yah Din udah jadi sahabat aku" katanya aku langsung menatapnya dengan heran.


"Lah? Mellow amat Ar, ya sama-sama kali. Aku juga" jawabku.


"Aku serius tau Din, asal kamu tau aku bener-bener bersyukur punya sahabat kayak kamu, dan aku harap kamu gak akan ninggalin aku" katanya.


"Gak kebalik?" Tanyaku


"Maksudnya?"


"Kamu kali yang bakalan ninggalin aku" jawabku dengan senyum pahit.


"Gak akan, aku disini sama kamu" jawabnya cepat.


Kamu Dan Shanum maksud mu Ar?. Batinku.


"Aku juga kalau gitu, aku disini sama kamu" jawabku.


"Oh iya aku mau mastiin sesuatu" katanya.


"Apa?" Tanyaku.


"Aku sama Shanum gimana?" Tanyanya membuat dadaku sesak seketika.


"Cocok" jawabku.


"Kamu dukung aku kan?"


"Pastinya" jawabku dengan senyum palsu. "apapun yang bikin kamu bahagia aku pasti ikut bahagia ko Ar" jawabku dengan tulus walaupun rasanya sesak sekali.


"Thanks yah Din" katanya dan aku mengangguk dengan air mata yang ingin keluar.


"Aku juga makasih banget kamu udah selalu dukung aku, udah paling ngerti posisi a..ku" aku mulai mengeluarkan air mata "a..ku rasa aku sangat beruntung punya kamu di hidup a..ku" kataku dan benar-benar menangis. Arkan hanya tersenyum lalu memelukku.


"Tetap kuat yah Ding dong ku, apapun yang terjadi hadapi dengan semangat, ada aku disini jangan pernah ngerasa sendiri." Katanya dan aku hanya memeluknya balik dengan erat bukan karena masalahku tapi rasanya sesak sekali harus merelakan orang yang aku cintai bersama orang lain karena secara tidak langsung malam itu aku fikir Arkan sedang meminta restuku untuk melanjutkan hubungannya dengan Shanum. Dan malam itu aku juga merasa sudah tidak ada kesempatan lagi untuk aku bisa menerima balasan cinta dari Arkan.


🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2