
Acara demi acara terlaksana dengan semestinya. Acaranya lumayan meriah di tengah cuaca yang membuat siapa saja jadi mau diam di lapang Outdor.
Perwakilan dari kelas X XI satu persatu mulai tampil tapi aku Shanum Witri dan Niana tidak menyaksikan semuanya. Kami berempat hanya diam di kelas sambil membicarakan hal-hal konyol sampai tidak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 01 siang.
"Dinta, Shanum siap-siap 3 penampilan terakhir" seru Malik yang datang ke kelas.
"Oke" jawab Shanum.
"Aduuuhhhh malah jadi makin gugup" keluhku.
"Ah semangat dong Ding dong" kata Niana dengan senyum penuh arti nya dan aku hanya menggerakkan bibirku kesal.
"Ayo Dinta, kita ganti baju" kata Shanum.
"Lah? Ngapain?"
"Ko ngapain? Ya masa kita mau tampil pake seragam gini? Nggak ah aku gak mau" jawab Shanum.
"Tapi aku gak bawa baju ganti"
"Aku udah bawa, ayo tinggal ganti aja" lanjut Shanum.
"Di toilet?" Tanyaku dan Shanum mengangguk.
"Ann, Wit, kalian ikut aja, nanti abis ini kita langsung ke lapangan utama aja" kata Shanum dan semuanya setuju.
Aku sudah ganti baju dengan dress berwarna moccha milik Shanum dan saat ku lihat di kaca dress nya cocok sekali.
"Tuh kan di kamu cukup banget Din, kalo di aku yang ini udah lebih pendek lagi, udah gak nyaman akunya tumbuh ke atas" kata Shanum
"Yaudah yuk" ajakku
"Eh bentar-bentar sini dulu jangan maen yuk yuk aja" katanya sambil membawaku ke depan kaca lagi dan dia membuka tasnya lalu mengeluarkan beberapa alat make up dan sisir.
Dia mulai mengoleskan pelembab lalu bedak awalnya aku biasa saja tapi dia memoleskan beberapa alat make-up lainnya seperti blush-on, eyeliner, maskara, dan lipstik berwarna pink yang membuat wajahku lebih fresh lagi.
"Aduuuhhhh ini di pakein apa si?" Kataku dan Shanum hanya tersenyum saja. Itu memang membuat ku tidak nyaman menempel di wajahku Karena saat itu aku hanya tau blush-on eyeliner dan yang lainnya itu hanya sekedar tau sedangkan yang ku pakai hanya lipbam tanpa warna juga bedak bayi saja.
"Udah" katanya dengan senyumannya dan benar saja hasil kerja tangan Shanum membuatku kagum karena hasilnya memang bagus, wajahku lebih cantik dari biasanya dan terlihat lebih fresh.
"Gila sih Shanum pinter banget" pujiku.
"Nanti kamu harus belajar sendiri biar bisa tampil cantik banget karena kalau cantik aja kamu emang udah cantik" katanya sambil menyisir rambutku dan aku hanya tersenyum saja
"Ini depan rambut kamu gimanain yah? Biar gak kedepan kalo ketebas angin?" Tanyanya padaku dan aku hanya diam lalu teringat jepit kepala panda yang aku tau itu dari Arkan "aku gak bawa jepit" lanjut Shanum
"Bentar, Keknya aku ada jepit deh" kataku sambil merogoh saku bajuku karena sejak pagi aku memang sengaja membawanya karena ingin memakainya saat tampil. "Jepit ini?" Tanyaku sambil memperhatikan pada Shanum.
"Good ini juga gkpp" jawab Shanum dan memakainya padaku. kemudian setelah selesai dia mengeluarkan sendal ber hak pendek untuk ku pakai.
__ADS_1
"Aduh Shanum padahal pake sepatu aja lah" kataku.
"Lah? Gak Perfect dong Din ah" katanya dan beberapa detik kemudian "selesai, Perfect" gumamnya.
"Thanks yah Shanum" kataku sambil tersenyum dengan mata berbinar melihat tampilan lain dari diriku.
"Iya sama-sama, bentar lagi kita keluar" katanya sambil memakai bedak dan memoleskan lipstik blush-on juga eyeliner nya membuat dia tampak lebih cantik lagi.
Aku dan Shanum keluar dan di sambut Niana juga Witri yang kagum melihat penampilanku yang satu tingkat lebih cantik lagi.
Tanpa banyak basa basi kami langsung pergi bersama ke lapangan dan suara MC dalam acara itu mulai memenuhi lapangan mengatakan bahwa yang akan tampil selanjutnya adalah penampilan terakhir dari kelas XI IPA 3.
Aku dan Shanum naik setelah meminta restu dari Niana dan Witri juga Malik yang berdiri bertiga untuk menyaksikan penampilanku.
"Tes" Shanum mulai akan bicara "oke temen-temen kita disini dari kelas XI IPA 3"
"Huuuuuhhhh" suara riuh dari sisi sebelah kiri dimana anak-anak kelasku yang lain berkumpul disana.
"Kami disini akan mempersembahkan sebuah lagu dari Zigaz yaitu Sahabat jadi Cinta" aku tersenyum di depan piano mendengar Shanum mengatakan judulnya.
"Lagu ini spesial untuk kelas XI IPA 3 dan juga untuk semua yang merasakannya" kata Shanum. Shanum melihat ke arahku menanyakan kesiapanku dengan isyarat matanya dan aku mengangguk lalu mulai ku pijit not piano.
Bulan terdampar di pelataran
hati yang temaram
ada hasrat yang mungkin terlarang
Satu kata yang sulit terucap
Hingga batinku tersiksa
Tuhan tolong jelaskanlah
Perasaanku berubah jadi cinta
Tak bisa hatiku menafikan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya
Apa yang kini telah kita rasakan
Mengapa tak coba kita tuk satukan
Mungkin cobaan untuk persahabatan
__ADS_1
Atau mungkin sebuah takdir tuhan.
Sejak lagu di mulai banyak siswa-siswi yang mulai kembali memadati lapangan. Permainan pianoku berjalan dengan sempurna bersama lagu yang di bawakan Shanum juga.
Aku sangat senang saat itu, rasanya semua bebanku hilang. Suara tepuk tangan dan teriakan kagum keluar dari mulut semua siswa siswi yang ikut menyaksikan penampilanku dan Shanum sampai di detik-detik terakhir aku menemukan mata yang kucari sejak pertama kali tanganku menekan not piano, Mata itu hampir menyipit karena tersenyum kepadaku lalu kedua jari jempolnya terangkat terarah padaku. Tidak, saat itu aku tidak berfikir itu untuk Shanum, Arkan memberikan itu murni untukku karena matanya hanya menatapku. Aku tersenyum dengan senang sampai di ketukan terakhir mata itu tetap melihatku dengan tenang dan lagu selesai.
Aku segera turun bersama Shanum setelah mengucapkan terimakasih bersama. Niana dan Witri langsung memelukku saat aku selesai.
"Good job honey" kata Niana padaku dan Shanum
"Perfect gila parah keren terharu gue" kata Witri
"Iya dong siapa dulu pemain pianonya" kata Shanum
"Eits siapa dulu yang nyanyinya" kataku dan Shanum mengangkat tangannya untuk tos denganku.
Aku sangat senang. Hari itu adalah salah satu kenangan indah yang tidak bisa dan tidak akan ku lupakan sampai kapanpun.
"Nih yah semua orang yang nonton kagum banget sama kalian, apalagi bocah-bocah bau kencur kelas X pada jelalatan saling pilih Shanum atau Dinta katanya" jelas Witri
"Waduh" kata Shanum sambil terkekeh
"Siap-siap banyak fans deh" kata Witri lagi
Selama Witri mengoceh aku jadi fokus tidak fokus karena aku mencari pemilik mata tadi.
Kenapa dia gak kesini? Arkan mana si? Batinku.
"Eh Ann liat Arkan gak? Aku rasa tadi dia ikut nonton gak jauh dari kalian." Kata Shanum.
Aku tersenyum dalam hati seperti menertawakan diriku sendiri yang jelas-jelas menanyakan keberadaan Arkan duluan di dalam hati tapi kenyataannya Shanum yang menanyakan di keadaan nyata. Dari situ saja aku sudah sadar saat itu bahkan hati yang katanya suci saja sudah tidak mengizinkan apalagi situasi dan semesta.
"Iya tadi dia ada, tapi gak tau kemana sekarang. Mungkin ke toilet atau ke kelas" jawab Niana.
"Coba SMS aja dong Shanum kalo mau ketemu, kek gak pernah Chatting aja padahal tiap malem juga" goda Witri.
"Apaan si Witri" jawab Shanum sambil melihat handphonenya.
Aku hanya tersenyum saja dengan perasaan seadanya dengan Niana yang menepuk-nepuk punggung ku pelan.
"Yaudah ayo kita ke kelas atau ke kantin gitu?" Kataku
"Boleh tuh ke kantin" kata Shanum sambil mengetik sesuatu di handphonenya "tapi kalian duluan aja, aku ada urusan dulu" lanjutnya.
"Oke deh, harus nyusul yah Shanum" kata Niana.
"Siap" jawab Shanum dan melambaikan tangannya pergi terburu-buru. Sedangkan Aku Niana dan Witri pergi ke kantin untuk mengisi perut-perut karet sebelum acara terakhir yaitu pengumuman juara debat di umumkan setengah jam lagi.
🍃🍃🍃
__ADS_1