
Hari itu hari Minggu, kedua orangtuaku tentu saja sedang di rumah karena keduanya libur. Pagi itu aku keluar untuk sarapan setelah ibuku yang memanggilku.
Kami hanya sarapan dengan pikiran masing-masing tanpa ada percakapan apapun di antara kami. Walaupun begitu aku lebih senang seperti itu di banding harus mendengar keduanya bertengkar.
"Gimana sekolah kamu Din?" Tanya Ayah.
"Baik Yah" jawabku.
"Syukur kalau gitu, kalau kamu butuh apa-apa bilang aja sama Ayah, karena kamu tau sendiri kan Ayah sibuk, jadi Ayah gak bisa nanya apa yang kamu butuhin jadi kamu saja yang bilang ke ayah" jelasnya.
"Iya Ayah" jawabku dan ibuku hanya diam. Lalu aku melanjutkan sarapanku dengan sedikit senang karena ucapan Ayah sebelumnya dan aku langsung berdo'a supaya setiap hari orangtuaku minimal seperti itu.
πππ
Pagi itu Senin di bulan yang baru yaaa bulan Maret, senin pertama di bulan Maret. Rutinitas pagi ku tidak ada yang berubah semuanya masih sama seperti biasanya dan seperti hari Senin pada umumnya semua siswa seperti ku akan berangkat pagi sekali karena harus Upacara.
"Dintaaa" panggil Niana di belakangku saat aku berjalan menuju kelas bersama Arkan.
"Ann" sapa Arkan.
"Pagi Din, Ar" sapa Dinta.
"Pagi Ann" jawabku.
"Ayo udah mau mulai" kata Niana maksudnya upacara.
"Ar aku duluan sama Anna"
"Oke Din" jawab Arkan dan aku segera pergi ke kelas bersama Niana untuk menyimpan tas lalu kembali ke lapangan utama sekolah dengan topi sebagai atribut sekolahku.
Semua siswa mulai berbaris sesuai kelasnya masing-masing dengan sembunyi-sembunyi aku tentu saja melihat ke arah barisan kelas Arkan apakah dia sudah ada disana atau belum dan dia sudah ada di barisan kelas XI IPA 1.
Upacara di mulai rangkaian acara demi acara di laksanakan seperti biasanya. Sampai akhirnya tiba di sesi pengumuman dan sesi itu adalah sesi yang di tunggu-tunggu karena semua siswa bisa duduk atau sekedar menyandarkan punggungnya sambil mengobrol ria.
Hari itu yang menyampaikan pengumuman langsung dari kepala sekolah. Isinya hanya amanat untuk anak-anak kelas XII yang sebentar lagi akan memasuki Ujian akhir sekolah.
Dan diujung acara pengumuman pak Fathan yang hari itu selaku pembina upacara menaiki podium untuk memberikan pengumuman saat itu. semua siswi bersorak ramai karena yang naik ke podium adalah seorang guru muda, tampan dan baik hati yang di gandrungi semua siswi di sekolah ku saat itu.
"Tes, mohon perhatiannya anak-anak semua, selain pengumuman yang sudah bapak kepala sekolah tadi sampaikan, disini juga saya akan mengumumkan sekaligus memperkenalkan teman baru kalian semua" katanya membuat semuanya ramai berbisik penasaran dengan murid baru yang akan dikenalkan pagi itu.
"Siapa?" Tanyaku entah bertanya pada siapa.
__ADS_1
"Katanya si anak kepala sekolah, pindahan dari Surabaya" jawab Niana langsung.
"Sumpah Ann Lo uptodate banget si. Btw emang iya?" Tanyaku penasaran.
"Iya katanya dulu dia sekolah di Amerika gitu, cuma balik ke Surabaya dan sekarang pindah kesini"
"Oh yah? Keren dong. pindahan luar negeri" jawabku.
"Iya iya tuh tuh" kata Niana sambil melihat ke arah depan karena satu wanita cantik dengan rambut agak pirangnya sudah ada didepan di samping pak Fathan.
Suara siulan dari anak-anak laki-laki yang jail memenuhi lapangan pagi itu karena bagaimanapun wajah cewek itu ya wajah wajah bule gitu.
"Selamat pagi semuanya" sapanya terlebih dahulu.
"Pagiiiii" jawab semuanya.
"Perkenalkan nama saya Shanum Mikhaela Wijaya, biasa di panggil Shanum, pihak sekolah sudah memasukan saya ke kelas XI IPA 3. Untuk teman-teman kelas XI IPA 3 khususnya dan untuk semuanya tentunya salam kenal dari saya, semoga kita bisa berteman baik" katanya dengan manis dan semua bertepuk tangan.
"Waaaaaaahhhh, dia masuk kelas kita Ann" kataku pada Anna.
"Akhirnya dikelas kita ada yang bening lagi setelah Dinta" celetuk anak laki-laki di belakang.
"Berisik Lo pada" ketusku.
Setelah bubar semuanya kembali ke kelas masing-masing dan tentu saja Shanum juga masuk dikelasku dengan sopan lalu duduk bersama Witri yang duduk dibelakang mejaku yang kebetulan duduk sendiri dikelasku karena jumlah kelas kami yang ganjil.
Jam pelajaran pertama guru tidak masuk dan teman-teman dikelaskuΒ malah mengerumuni Shanum untuk berkenalan dan berteman baik dan dengan penuh kesopanan Shanum menanggapinya dengan ramah.
Semakin lama aku semakin pusing melihat anak laki-laki yang terus berkerumun dimeja Shanum.
"Shanum? Kamu mau ke kantin gak? Sekalian biar kamu tau" tawarku.
"Boleh Dinta, ayo" katanya.
"Iya gih Shanum, biar tau, tapi sorry aku gak ikut ini nyatet materi yang ketinggalan, gak apa-apa kan?" Tanya Witri.
"Iya Wit gak apa-apa" jawab Shanum lalu aku bersama Shanum keluar kelas di ikuti Niana di belakang menuju kantin.
"Shanum maaf yah kalau risih, itu lah kelas XI IPA 3 selamat datang di kelas itu, kamu harus terbiasa tiap hari" kataku sambil berjalan.
"Gak apa-apa ko Dinta, santai aja" jawabnya yang sudah hafal dengan namaku.
__ADS_1
"Harap maklum yah" kata Niana.
"Iya Niana gak apa-apa. Justru aku seneng ini tandanya mereka nerimaku kan? ya walaupun caranya emang oke bisa di bilang aku juga agak risih si. but, it's oke i'm fine" Jawabnya sambil tersenyum manis.
"Iya pasti. yang sabar aja deh pokonya" kataku.
"hehe iya. Aku cuma belum biasa aja. Mungkin nanti gak akan" katanya.
Dan kami bertiga sampai di kantin lalu disapa dengan lambaian tangan dari Arkan yang sedang duduk berdua bersama Reno.
"Kesana aja yuk" ajaku pada Shanum dan Niana ikut.
"Bolos?" Tanyaku pada Arkan sambil mengambil minumannya lalu meneguknya setengah.
"Sembarangan" jawabnya.
"Shanum duduk aja disini" kata Niana dan Shanum mengangguk.
"Oh iya Shanum kenalin ini Arkan sahabat aku, dan ini Reno. Mereka satu kelas" kataku mengenalkan pada Shanum.
"Hello sahabat Dinta dan Niana, aku Shanum" katanya mengenalkan diri.
"Hello Shanum, salam kenal" kata Reno.
"Iya" jawabnya sedangkan Arkan hanya menatap Shanum membuat aku aneh melihatnya.
"Tinggal di Amrik?" tanya Reno.
"iya sejak masuk SMP aku di Amerika" jawab Shanum.
"Oh gitu. terus kenapa pindah?" tanya Reno lagi.
"Jadi dulu aku tinggal di Amerika sama omah. ibu dari ibuku. tapi Omah meninggal jadi aku males kalau harus tinggal disana kalau omah gak ada. makanya aku pindah aja kesini dan kebetulan Ayahku kepala sekolah disini juga jadi aku pikir yaudah ikut Ayah aja." jelas Shanum.
"Oohh gitu"
"Salam kenal Shanum" kata Arkan yang dari tadi ikut menyimak.
"Iya Arkan" jawab Shanum. Dan aku hanya terus melihat mata Arkan yang terus menatap Shanum.
"Yaudah kita mau pesen apa nih?" Tanya Niana.
__ADS_1
Dan kami semuanya memesan sesuatu yang bisa dimakan. Dan mulai hari itu aku dan Niana lebih dekat dengan Shanum seperti dekatnya aku dan Niana. Begitupula dengan Arkan yang mengenal Shanum seperti dia mengenal Niana.
πππ