Dari Dinta

Dari Dinta
12


__ADS_3

Malam itu sekitar pukul 7 malam.


"Neng Dinta" panggil Bi Nani di luar pintuku.


"Iya Bi?" Tanyaku yang sedang menyisir rambut yang sudah mulai mengering di depan cermin.


"Di depan ada Mas Arkan" jawabnya.


Aku langsung tersenyum mendengarnya lalu dengan cepat merapikan rambut ku.


"Iya Bi, Dinta keluar ko" kataku.


Setelah selesai aku langsung keluar kamar dan menuju ruang tamu dan sudah ada Arkan yang duduk disana dengan sweater kuningnya.


"Hai" sapanya.


"Tumben, ada apa?" Tanyaku basa basi. Tapi karena memang tumben walaupun tetanggaan Arkan hanya pernah beberapa kali saja itu pun dia akan mengabariku dulu lewat SMS.


"Gak ada apa-apa cuma pengen kesini aja. Tapi emang ada maunya si" katanya.


"Apaan? Mau kemana? Makan nasi goreng?" Tanyaku.


"Temenin aku ketemu Nandan Nino sama Vino yah, sekalian lah kamu juga kan kenal mereka jadi ayo ketemu" katanya.


"Nino Nandan sama Vino doang?" Tanyaku.


"Iya, paling Si Vino sama Nino bawa ceweknya jadi ayolah aku juga gak mau sendiri di motor. Sebenernya males juga tapi masa aku harus nolak si gak enak juga. Lagian agendanya makan-makan kata Nandan merayakan ke akuran Nano dan Vino setelah perebutan wanita itu" jelasnya panjang lebar membuatku tersenyum.


"Kalau gitu aku mau. Bentar aku ganti baju dulu." Jawabku.


"Udah denger makanan lebih semangat langsung. Pake jaket Din" katanya dan aku mengacungkan jempolku sambil berjalan menuju kamar.


Tanpa makan-makan juga sebenarnya aku mau kali Ar, kan sama kamu. itu mah cuma basa basi semata. Batinku


Orangtuaku belum pulang dan aku hanya izin kepada Bi Nani lalu segera pergi bersama Arkan.


Aku dan Arkan langsung masuk ke sebuah cafe yang sudah ditentukan Nandan kata Arkan. Sesampainya disana benar saja Nano dan Vino bersama wanita tapi sepertinya Nandan hanya sendiri.


"Hey Yoman" Sapa Nandan dan satu persatu menyalami Arkan lalu menyapaku.


"Duduk duduk" kata Nino dan dengan manisnya Arkan memundurkan satu kursi untukku duduk. Aaaaah saat itu aku benar-benar meleleh dibuatnya.


"Weeeeyyy pujangga cinta tapi jomblo manis banget" kata Vino.


"Lebay Lo" kata Arkan.


"Dinta makin cakep aja nih" kata Nandan.


"Bisa aja Lo" jawabku dengan senyum


"Awas Din jangan sampe" kata Arkan dan kusimpulkan dengan hati yang berbunga-bunga Arkan cemburu saat itu, padahal kalau dipikir sekarang astaga cemburu dari mananya yah hahaha parah banget si yah aku dulu.


"Jadi yang di rebutin Vino sama Nino cewek yang mana nih?" Tanyaku tiba-tiba dan seketika dua cewek di sampingnya saling melirik ke pasangan masing-masing sedangkan Nandan tertawa.

__ADS_1


"Aduh Din jangan bahas itu disini dong" kata Vino.


"Tau Lo Din" jawab Nino.


"Memang ada cewek yang kalian rebutin?" Tanya Felicia yang dikenalkan Vino sebagai pasangannya.


"Siapa?" Tambah Laras yang dikenal Nino sebagai pacarnya.


"Gak ada sayang" jawab Vino dan Nino bersamaan.


"Dasar 2 kue lapis" cerca Arkan kepada keduanya dan semuanya tertawa.


"Din Lo tau Risa nggak?" Tanya Nandan


"Risa? Siapa? Yang mana? Gak tau ah" jawabku.


"Masa Lo gak tau, Risa kakak kelas hits kita waktu SMP." Kata Nandan dan aku berfikir sebentar.


"Itu Din yang rok nya pernah sengaja di angkat sama Arkan dulu" kata Vino mengingatkanku pada kejadian waktu itu dimana Arkan sedang nakal dan jail waktu itu.


"Hahahahaha oh iya itu aku tau. Arkan mesum banget si pas itu" kataku.


"Dulu kali Din ih udah deh" katanya dan aku juga semuanya hanya tertawa.


"Jadi kenapa sama Kak Risa?" Tanyaku lagi pada Nandan.


"Iya jadi kan Risa satu SMA sama kita tuh sekarang. Nah yang di rebutin Vino sama Nino tuh dia, padahal Risa kan emang gitu yah baik jadi ternyata mereka berdua cuma Baper aja, kita kan tau Risa selain cantik dia ramah dan baik banget dari dulu" jelas Nandan.


"Oooohhh gitu menyedihkan banget si Nan, Vin" kataku dengan sedikit tawa.


"Dasar nax alay" kata Arkan sambil meminum capuccino yang sudah di pesankan Nandan sebelumnya.


"Bagus lah, lagian ngapain si sampe pada berantem cuma gara-gara cewek kek gak ada lagi" kataku.


"Iya-iya sekarang sadar ko Din, lagian udah dapet yang baru" kata Vino dan merangkul pasangannya begitupun Nino.


"Pacar Lo mana?" Tanya Arkan pada Nandan.


"Nah iya mana Dan?" Tanyaku.


"Lah emang sejak kapan Lo punya pacar Dan?" Tanya Vino


"Anjirrr Lo aja yang kurang update" kata Nandan langsung.


"Jadi pacar Lo mana?" Tanyaku ulang.


"Gue baru putus soal keyakinan Din" katanya lemas.


"Maksudnya Lo sama cewek Lo beda agama?" Tanyaku


"Ko miris yah" sambung Laras pelan pelan dan Nino hanya tersenyum seperti setuju dengan apa yang dikatakan pasangannya.


"Bukan, maksud gue baru putus soal keyakinan tuh guenya yakin dianya nggak" jawabnya dan semuanya tertawa lalu Arkan Nino dan Vino menoyor kepala Nandan bergantian.

__ADS_1


"Bacot Lo" cerca Arkan.


"Aelah Lo juga jomblo kan dari dulu sampe sekarang." Kata Nandan dan Arkan diam.


"Dinta gimana Dinta masih jomblo juga?" Tanya Vino.


"Kalo gue belum dapet pacar dia gak akan" jawab Arkan sambil melihat ke arahku.


"Sembarangan, kalo kamu jomblo seumur hidup aku juga jomblo maksudnya hah? Males banget" kataku.


"Kenapa kalian gak jadian aja si?" Tanya Nino membuat jantungku seketika berdetak benar-benar tidak normal sama sekali.


"Iya, udah sahabatan dari dulu, masa Lo gak punya perasaan lebih sama Dinta." Kata Vino. Kata-katanya benar-benar menohok dadaku aku yang terasa tersindir dengan kata-kata itu.


"Lo lebih cakep sedikit dari gue, pinter juga, sekarang udah jadi good boy juga masa Lo masih jomblo" kata Nandan.


"Iya Lo ah gak seru. Kalo emang gak ada yang cocok ya sama Dinta udah paling cocok Lo kan udah tau Dinta gimana begitupun sebaliknya" kata Nino membuat aku semakin terbang terasa ada yang setuju dengan perasaanku saat itu.


"Iya gue tau, gue sama Dinta cocok" katanya sambil merangkulku membuat aku semakin salah tingkah.


"Lah terus kenapa gak jadian aja kalian berdua" kata Nandan dan aku semakin tidak enak terus diam.


"Apaan si Lo pada, kenapa jadi ngatur hidup orang lagian gu...."


"Gue tau, gue sama Dinta cocok banget dan Dinta juga termasuk ke dalam cewek idaman gue walaupun agak jorok, kebo dan terlalu berani ke gue, tapi jomblonya gue tuh prinsip bukan nasib kalo tuhan ngizinin ya jodoh gue Dinta juga gue bakalan bersyukur banget" potong Arkan membuatku semakin terbang jauh super jauh dan terasa semua perasaanku padanya rasanya tidak terlalu sia-sia saat itu.


"Noh dengerin pujangga cinta" kataku sambil meneguk capuccino ku berusaha tidak gugup dengan semua keadaan ini.


"Ah Lo pake teori lama ah" kata Nandan.


"Eh btw si Rizal yang pas SMP di hukum gara-gara angkat rok kak Risa bareng Arkan dimana sekarang?" Tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Dia di Bandung, tapi sekarang ada di Jakarta malahan sekitar bulan lalu apa 3 Minggu yang lalu lah gue ketemu dia" kata Vino


"Oh yah?" Tanyaku dan Vino mengangguk.


"Istrinya udah hamil belum?" Tanya Nandan. Karena kami semua tau Rizal itu sudah menikah di akhir semester 1 kelas satu SMA dulu karena katanya udah gak kuat lagi saat aku Arkan dan teman-teman yang lain datang di acara resepsi nya.


"Gak tau, tapi dia cerita ke gue dia mau cerai"


"Hah?" Aku Arkan dan Nino bereaksi sama.


"Si kampret" kata Arkan


"Terus-terus? Dia cerita apa lagi sama Lo?" Tanya Nino.


"Cuma bilang gitu aja terus ya katanya kapan-kapan ayo kumpul ajakin yang lain katanya, cuma gitu terus dia cabut" jawab Vino.


Saat SMP Rizal dan Arkan selalu membuat ulah dan kejadian yang tidak bisa dilupakan adalah kejadian saat keduanya dihukum pak Ade guru BK SMP ku untuk hormat bendera seharian karena sudah mengangkat rok Kak Risa yang sudah ku bahas bersama di atas.


Sekitar pukul 9 malam aku pulang bersama Arkan. Dan malam itu aku tidur dengan perasaan yang indah entah memang suasana hatiku yang sedang baik atau bagaimana yang pasti malam itu Arkan sangat manis membuatku terbang tinggi, tinggiiiiii sekali.


Selamat malam Arkan Mahendra. Ucapku berbicara sendiri sebelum memejamkan mataku dan tidur nyenyak malam itu.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2