
"Nggak gue gak mau" jawabku lagi sambil menyingkirkan tangannya yang merangkul ku.
"Lo so jual mahal juga yah, padahal cewek-cewek disini selalu ngajakin gue joged tapi guenya gak mau" jawabnya lagi dengan nada orang mabuk dan meremehkanku.
"Yaudah sama cewek yang mau aja gak usah sama gue" jawabku sudah mulai jengkel dengan semua keadaan juga takut karena Kevin belum kembali juga.
"Waaaaaaahhhh" kata laki-laki satu lagi yang sekarang berdiri juga diikuti laki-laki satunya lagi.
"Lo mau berapa? Gue bisa bayar Lo, berapapun yang Lo mau" katanya membuatku langsung tersenyum sinis dan ikut berdiri.
"Sorry yah gue bukan cewek murahan!" Jawabku dan mulai melangkah pergi dengan langkah yang panjang menuju pintu keluar.
Aku melihat ke belakang ternyata satu orang laki-laki itu masih mengikutiku dengan cepat aku jadi semakin takut dan berjalan lebih cepat menuju tempat parkir kecil yang ada di depannya. Mataku berusaha mencari Kevin tapi aku tidak menemukannya sampai akhirnya laki-laki itu berhasil mencekal lengan ku kasar.
"Lo mau kemana hah?"
"Lepasin gue mau balik" jawabku kesal.
"Pulang? Ngapain Lo kesini kalau mau pulang? Gak bisa apa happy-happy dulu?"
"Lepasin bentak ku"
"Please Dinta malem ini temenin gue, gue bakal bayar berapa aja yang Lo butuh. Lagian Lo kesini butuh uang kan?"
"Maksud Lo apa? gue bukan Cewek murahan *******" jawabku dengan suara teriak dan aku sudah ingin menangis.
"Hahahaha Lo bilang gue apa? *******? Lo kali cewek murahan" Tanyanya dengan tangannya yang berpindah mencekal rahang ku dengan satu tangannya.
"Wepasin" kataku lagi maksudnya lepasin tapi karena rahangku di cekal kurang lebih seperti itu terdengarnya. Dan dia hanya tersenyum menyeramkan kepadaku.
"Cuih" karena aku sudah kesal tidak bisa bicara dan sebal melihat seringai senyumnya yang bisa ku lakukan saat itu hanya meludahinya.
"Anjing" makinya sambil refleks melepaskan tangannya dari rahangku dan "brakkkk" dia mendorong tubuhku sampai rasanya tulang punggungku remuk karena dorongan itu.
"Awwwww" pekikku "arrrgghhh" rasanya sakit sekali.
"Berani-beraninya Lo ludahin gue, emangnya Lo siapa hah?" Teriaknya sambil tangannya mencekal kembali rahangku.
"Cuih" meludahinya kembali adalah jawaban dariku.
"Plaaaaakkkk" satu tamparan keras mendarat di pipiku sampai aku tersungkur ke dekat ban mobil yang terparkir disana.
"Sialan Lo anjing" makian itu bukan makian untukku tapi makian seorang untuk si brengsek yang tidak bisa ku ingat namanya sekarang karena itu adalah hal yang tidak mau aku ingat.
Dengan perlahan aku mengangkat wajahku dan kulihat 3 orang laki-laki yang ku kenal sedang meninju laki-laki sialan itu. Air mataku terus mengalir melihatnya, aku tau di antara mereka bertiga ada Arkan disana.
__ADS_1
"Arkan udah" pekikku pelan dan dia langsung melihat ke arahku dan seperti sadar bahwa ada yang lebih penting selain ikut memukul laki-laki brengsek itu.
Dengan cepat dia menghampiriku lalu memelukku hangat dengan terisak aku memeluknya lalu menangis dengan kencang.
"Arkaaaan" hanya itu yang bisa ku ucapkan.
"Aku disini, gakpp gkpp" katanya dan entah hanya perasaan ku saja atau itu benar terjadi saat itu Arkan beberapa kali mengecup puncak kepalaku.
"Udah ayo ke mobil aja Ar" kata Nino. Aku yakin itu Nino dan yang satunya lagi adalah Vino.
Aku berjalan di samping Arkan yang terus mengusap kepala ku yang tertunduk karena menangis lalu segera masuk ke mobil. Vino yang menyetir, disampingnya Nino dan aku di belakang bersama Arkan.
"Kasih minum dulu Ar" kata Nino
"Minum dulu yah" kata Arkan dan aku menurut.
"Vin ke rumah gue aja" kata Arkan lagi kepada Vino.
"Siap" jawab Vino.
Mobil mulai melaju tidak ada obrolan apapun disana. Aku masih menenggelamkan setengah kepalaku di setengah leher Arkan dan dia hanya mengusap kepalaku dengan detak jantung normal. Rasanya hangat sekali malam itu.
"Mau minum lagi?" Tanya Arkan dan aku menggeleng "tidur aja, masih 20 menit lagi ko sampe rumah" jawab Arkan.
"Iya Din istirahat aja, kita gak akan nanyain kronologis nya dulu ko" kata Nino
"Iyaaaaa" jawab Arkan seperti mewakili semuanya.
20 menit berlalu dan aku di bangunkan Arkan karena sudah sampai. Aku segera turun dan masuk ke rumah Arkan.
"Gakpp ke rumah mu?" Tanyaku dan Arkan hanya mengangguk sambil mengecek suhu pipiku dengan punggung tangannya.
Kami segera masuk dan sudah ada Kak Rahfa yang buru-buru menghampiriku.
"Ya ampuuuun Din? Kamu gakpp kan?" Tanya Kak Rahfa.
"Gakpp Kak" jawabku dan duduk.
"Kak ambilin es batu buat kompres pipinya" kata Arkan.
"Kompres?"
"Ambilin dulu aja, nanti Arkan cerita" jawab Arkan dan dengan cepat Kak Rahfa pergi lalu kembali dengan kompresan es batu. Arkan segera meletakkannya di pipiku memeganginya dengan raut wajah khawatir.
"Bro, kita pamit aja gkpp kan?" Tanya Vino.
__ADS_1
"Iya nih udah malem soalnya besok kita kesini lagi sekalin motor Lo juga kan masih di rumah temen gue" kata Nino.
"Yaudah iya, thanks yah udah bantuin gue" jawab Arkan.
"Santai kek ke siapa aja" kata Vino.
"Kak Rahfa Dinta kita pamit dulu" kata Nino.
"Oh iya, hati-hati yah kalian" kata kak Rahfa dan keduanya mengangguk.
"Din Lo istirahat aja gak usah banyak fikiran" kata Vino.
"Thanks yah Vino, Nino" kataku dan keduanya mengangguk lalu segera pergi setelah menepuk bahu Arkan.
Tersisa kami bertiga dengan Arkan yang tak lepas memandangiku dengan tangan masih mengompres pipiku.
"Tante Pratiwi kemana?" Tanyaku.
"Bunda ke Bogor ada acara perkawinan teman bisnis Ayah. Dinta malam ini disini aja yah" kata Kak Rahfa dan aku mengangguk.
"Yaudah kamu istirahat di kamar aku aja biar aku di kamar depan" kata Arkan dan aku hanya mengangguk lalu di antar kedalam.
"Kakak ambil dulu minum buat di kamar kamu" kata kak Rahfa pada Arkan dan Arkan mengangguk lalu segera membawaku ke kamarnya.
"Kamu istirahat disini yah, jangan fikirin apapun kamu cuma perlu istirahat" kata Arkan dan aku hanya mengangguk lalu segera berbaring dan Arkan menyelimutiku.
"Ini Airnya" kata Kak Rahfa.
"Makasih Kak" kataku dan dia mengangguk.
"Yaudah Kakak juga mau istirahat, Dinta istirahat jangan pikirin apapun" katanya dan aku mengangguk. "Ar" kata Kak Rahfa dengan sorot mata penuh makna.
"Iya" jawab Arkan dan Kak Rahfa segera keluar dari kamar.
Sampai akhirnya dikamar itu hanya tinggal kami berdua, dengan Arkan yang masih menempelkan kompresan di pipiku.
"Udah aja, udah baikkan ko Ar" dan tanpa menjawab dia menyimpannya lalu menaikkan selimutku tanpa berkata apapun. Sorot matanya memperlihatkan kekhawatiran yang besar di sertai rasa marahnya padaku.
"Ar, Maaf dan Makasih" kataku dengan air mata yang mengalir di sudut mataku rasanya menyesal sekali karena semuanya gara-gara aku yang tenggelam dalam sebuah kecemburuan yang tidak pasti, padahal sudah sejak awal Arkan melarangku untuk pergi saat itu aku jadi merasa bersalah pada Arkan saat itu.
Tanpa berkata apa-apa dia mengusap air mataku dan tersenyum.
"Kamu baik-baik aja aku udah seneng, selamat istirahat Dinta" katanya lalu mengganti lampu terangnya dengan temaram dan dia keluar dari kamarnya.
Sepeninggalannya aku hanya menangis karena merasa bersalah tapi karena mungkin tubuhku lelah aku dengan cepat terlelap tanpa mempedulikan dimana tas ku handphoneku atau keluarga ku yang mungkin mencari ku karena tidak pulang atau tidak memperdulikanku sama sekali. Aku sudah tidak peduli.
__ADS_1
🍂🍂🍂