Dari Dinta

Dari Dinta
8


__ADS_3

Pagi-pagi seperti biasanya pasti ada adu mulut dari para perundung yang mudah tersinggung. Aku sudah tidak peduli dan langsung berangkat tanpa sarapan.


Pagi itu Aku berangkat bersama tukang ojeg langganan Bi Nani jika ke pasar karena hari itu Arkan tidak bisa mengantarku karena dia harus pergi bersama keluarganya menghadiri acara wisuda kakaknya, kak Rahfa.


Sesampainya disekolah banyak orang yang sedang bergerombol tapi semuanya tampak bergosip lalu aku terus berjalan saja dan kulihat beberapa siswa sedang berkerumun didepan kelas XI IPS 2.


"Eh sorry itu ada apa yah?" Tanyaku kepada salah satu siswa yang sepertinya sudah mengetahui apa yang terjadi.


"Oh itu ada razia dadakan untuk anak IPS dan guru menemukan narkoba di salah satu siswa." Katanya membuatku kaget.


"Siapa?" Tanyaku.


"Si gilang anak XI IPS 2" jawab siswa itu.


"Oh oke thanks" jawabku dan segera berjalan menuju kelas dengan rasa kaget masih ada.


Sesampainya dikelas sepertinya anak-anak juga sedang bergosip soal ini hanya Niana yang tidak ikut merumpi dan dengan santainya membaca buku dimeja.


"Pagi Ann" sapaku.


"Pagi" jawabnya dengan mata masih fokus pada bukunya.


"Ann ada yang ketauan bawa narkoba?" Tanyaku.


"Iya, si Gilang anak XI IPS 2."


"Yang mana si?" Tanyaku.


"Masa gak tau lagi si? Kamu keliatannya aja yah yang hits tapi bener-bener kudet banget" kata Niana.


"Yeeeeeeee emang aku gak tau, dan kalo gak gini aku juga gak mau tau. Yang mana si Ann si Gilang?" Tanyaku.


"Aku jelasin ciri-cirinya juga kamu bakalan mikir lama. Pokonya itu lah. Tapi aku agak gak yakin kalo itu dia, soalnya si Gilang itu gak sebandel itu, bandelnya dia paling cuma jail biasa. Kata-kata anak-anak yang lain juga kayanya itu bukan sepenuhnya milik si Gilang."


"Ya terus? Milik siapa? Kan itu katanya ada di si Gilang" jawabku.


"Nih yah logika Din, aku satu SMP sama dia, dia tuh nggak kaya, makanya dia mutusin buat jadi murid normal gak banyak tingkah, dari dulu dia gak pernah punya kasus, paling dihukum juga gara-gara gak ngerjain tugas. Pokonya dengan kejadian ini tuh bukan Gilang banget si menurutku. Nah, dengan dia punya narkoba kek gitu, dari mana dia punya uang coba? Sedangkan barang haram itu mahal lho Din" kata Niana.


"Ya mungkin aja dia sengaja nabung kan? Orang tuh bisa aja berubah Ann, berevolusi seiring berjalanya waktu."jawabku.


"Iya juga si, tapi aku tetep gak percaya itu si Gilang. Dan banyak temen-temen sekelasnya yang tiba-tiba bilang dia cuma kerja sama orang buat dapet uang. Menurut kamu apa maksudnya itu?" Tanya Niana

__ADS_1


Aku langsung diam dan fikiranku tertuju pada Andi sekarang.


"Bentar Ann, apa mungkin dia kerja sama si Andi."


"Alasannya?" Tanya Niana.


"Kan kamu bilang si Andi pemake sekaligus pengedar, bisa aja kan buat transaksi dia butuhin orang dan mungkin memang si Gilang kerja sama dia"


"Maksud kamu itu barang si Andi, tapi nyuruh Gilang buat jadi perantara ngasih ke yang beli?" Tanya Niana.


"That's right. Menurut aku si gitu" kataku sekaligus meyakinkan diri sendiri.


"Bisa jadi, karena dari dulu si Gilang memang babunya si Andi dalam arti sering di suruh-suruh sama Si Andi, bukan karena lemah tapi si Gilang butuh uang"


"Nah kan apalagi gitu. Jadi kita harus gimana?" Tanyaku pada Niana.


"Ya kalo pertanyaan kamu kek gitu. Ya kita bisa apa? Diem aja, lagian gak punya bukti juga kita, dan apa yang kita bicarakan barusan juga cuma alibi semata." Kata Niana.


"Iya juga si. Ah yaudah lah bodo amat" kataku dan Niana hanya tersenyum lalu fokus kembali pada bukunya sedangkan aku ingin sekali membuktikan semuanya.


🍁🍁🍁


Jam istirahat tiba seperti biasanya semua orang berhamburan menuju kantin untuk mengisi perutnya, aku dan Niana juga bersiap untuk pergi ke kantin namun satu orang laki-laki masuk dengan santai namun seperti penuh amarah. Itu Andi.


"Mau apa dia kesini?" Tanya Niana.


"Gak tau" jawabku.


"Maaf, ada yang bisa kami bantu?" Tanyaku.


"Lo siapa si berani-beraninya ikut campur urusan gue?" Tanyanya dengan wajah songong.


"Oh kenalin nama gue Dinta Syakira gue anak kelas XI IPA 3 tepatnya dikelas ini" jawabku berusaha terlihat cool walaupun jauh dari lubuk hatiku sebenarnya aku sedikit takut.


Beberapa orang yang masih ada dikelas perlahan mulai keluar seakan tidak mau ikut campur dengan urusanku bahkan sekedar ingin tau pun sepertinya mereka tidak mau, sampai akhirnya hanya menyisakan aku dan Niana saja didalam.


Kulihat Andi tersenyum menyepelekan saat mendengar jawabanku.


"Elo yang ngasih tau guru soal urusan gue"


"Maksud Lo urusan Lo yang mana yah?" Tanyaku. Padahal sebenarnya aku mulai mengerti mungkin maksud Andi urusan dia yang aku ketahui di toilet dan kejadian hari ini pada si Gilang, dengan guru mengadakan razia dadakan itu gara-gara aku.

__ADS_1


Anak-anak kelasku malah keluar dari kelas sedangkan anak kelas lain mulai mendekati kelasku karena bisa kulihat sepintas dari dalam banyak siswa yang melihat semuanya dari kaca bahkan ada yang mulai masuk ke pintu ingin tau apa yang terjadi.


Memangnya se hits apa si ini anak. Batinku saat menyadari hal itu.


Tapi aku malah sedikit bersyukur dengan adanya banyak orang yang melihatku saat itu, jadi secara tidak langsung aku bisa membongkar kebobrokan Andi.


"Lo gak usah pura-pura **** deh" katanya lagi.


"Ha? ****? Gue? ****? Elo kali yang **** sampe berani merlakuin pacar sendiri kek babu perbuatan dosa Lo. Nyuruh pacarnya ngedarin narkoba itu ciri-ciri orang pinter? Nggak lah ****! ***** banget malah" kataku dengan nada tinggi berniat agar bisa didengar oleh orang-orang. Jika di ingat-ingat sekarang aku berani sekali saat itu padahal aku bukan tipe orang seperti itu. Mungkin saat itu karena memang aku ngebela cewek juga makanya sampe kek gitu.


Dari ucapanku itu, semua orang yang melihat kami jadi saling berbisik berisik.


"Din ini maksudnya apa si?" Tanya Niana tapi ku acuhkan.


"Kenapa? Gue ngomongin fakta yah? Apa jangan-jangan narkoba yang ditemuin di si Gilang juga itu termasuk barang Lo?" Tanyaku masih dengan berani.


"Jangan sembarangan nuduh orang yah Lo, punya bukti apa Lo sampe bisa ngomong gitu?" Tanyanya dengan nada tinggi karena memang dia mulai emosi.


"Banyak. Mulai dari gue denger Lo yangΒ  maksa pacar Lo sendiri buat bantuin transaksi barang haram Lo itu di toilet, terus Lo yang hampir nampar pacar Lo sendiri depan gudang sekolah gara-gara pacar Lo yang hampir ketauan, dan hari ini kejadian sama si Gilang itu ulah Lo juga kan? Soalnya cuma Lo disini siswa yang bobrok banget sampe bisa ngedarin barang haram di sekolah. Ups bukan cuma ngedarin si katanya tapi juga pemake. Emang iya yah?" Tanyaku santai.


Plaaakk! Satu tamparan keras yang membuatku langsung jatuh tersungkur dan menangis seketika karena sakit dipipiku sendiri.


"Astaga Andi stooooop! Lo apa-apaan si ini" teriak Niana kemudian membangunkanku yang mulai menangis karena pipiku benar-benar terasa sakit sekaligus panas sekali akibat tamparan Andi yang memang keras.


"Din Lo gakpp?" Tanya Niana tapi aku tidak menjawab dan hanya berusaha berdiri sambil mulai terisak karena sakit.


"Apapun urusan Lo sama Dinta Lo gak seharusnya kek gini Andi, Lo punya ibu nggak si gitu banget merlakuin cewek, kaya banci tau nggak. Pergi Lo sekarang" usir Niana.


"Kalo dia gak ikut campur urusan gue, gue juga gak ba...."


"Pergi sekarang atau gue laporin semua kejadian ini?" Ancam Niana.


Entah bagaimana reaksi Andi karena aku tidak mau melihatnya sama sekali tapi yang pasti sepertinya Andi langsung pergi. Walaupun Niana terkesan culun dan pendiam juga kutu buku tapi Niana cukup berani karena mungkin di tambah Niana dan Andi sudah saling kenal sejak SMP.


"Bubar!" Bentak Niana kepada semuanya dan semuanya bubar sambil berbisik, seperti bahagia karena ada topik terhangat yang bisa mereka rumpi kan di jam pelajaran setelah istirahat saat itu.


"Din, Lo gakpp? Din ini sebenarnya ada apa?" Tanya Niana khawatir. Aku mengusap air mataku.


"Aku gakpp ko Ann, kalo bisa anterin aku pengen ke UKS aja" kataku.


"Iya ayo aku anterin" katanya dan kami pergi ke UKS.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2