
Kulihat jam tanganku sore itu. Hampir pukul 5 tapi ku lihat orang-orang belum datang. Ku buka handphoneku dan mengirim pesan pada Bang Deris bahwa aku sudah sampai di villa dengan selamat.
"Neng" sapa seorang laki-laki yang ku tau namanya adalah Ujang. Dan di Panggil mang Ujang oleh ayah Arkan katanya dia adalah penjaga Villa itu.
"Eh Mang" sapaku.
"Sendiri? Yang lain pada kemana?"
"Belum pulang mungkin" jawabku.
"Lho? Neng gak ikut sama Tuan?"tanyanya.
"Nggak" jawabku dengan senyum.
"Waduh gimana dong? Mamang juga gak nyimpen kunci yang satunya lagi, semuanya dia bawa"
"Gakpp Mang, bentar lagi juga pulang ko katanya" jawabku padahal entahlah.
"Oh begitu, yasudah atuh, atau Eneng mau ikut dulu ke rumah mamang?"
"Nggak mang makasih, bentar lagi juga dateng ko" jawabku.
"Yasudah kalau begitu, mamang pergi dulu. Mangga Neng" katanya.
"Iya Mang" jawabku dan Mang Ujang pergi.
Aku kembali sendiri di depan teras tidak ada kabar dari Arkan dan aku tidak ada niat untuk menelpon Arkan atau sekedar mengirimnya pesan untuk menanyakan kapan dia pulang.
Dreeeddd.
📩Kevin
Selamat Sore Dinta :) masih di Bandung?
Iya masih
📩Kevin
Oh iya. Aku di Jakarta Lho
Oh jadi? Sama siapa?
📩Kevin
Sendiri aja. Kapan pulang? Biar aku ada temen
Besok juga pulang. Ya suruh temenin ke temen SMP kamu dulu aja Vin
📩Kevin
Rata-rata pada sibuk, aku juga gak tau kontak-kontak mereka.
📩 Arkanmopq
Udah di rumah?
Udah di rumah Jakarta.
📩Arkanmopq
Gak lucu. Udah di villa?
Udah dari tadi.
📩Arkanmopq
Bentar lagi sampe ko
__ADS_1
Iya
Aku segera membalas pesan Kevin.
Oh gitu iya juga si yah udah lumayan lama juga kan kalau sama temen SMP.
📩Kevin
Iya gitu hehe. Dinta lagi apa?
Gak lagi apa-apa.
Aku terus membalas pesan Kevin. langit sudah mulai gelap dingin juga tapi belum ada tanda-tanda kepulangan keluarga Arkan.
Dimana Ar?
Aku mengirim pesan tapi hampir 10 menit masih tidak ada jawaban dan handphoneku langsung mati karena kehabisan daya.
Aku jadi bingung sendiri harus apa karena memang sudah mulai malam sampai akhirnya Mang Ujang kembali dan mengajakku ke rumahnya dan dengan cepat aku setuju untuk ikut karena tidak mau diam di luar sendiri.
Di rumah Mang Ujang aku bertemu istrinya. Ternyata mereka tidak mempunyai anak. Katanya istrinya mandul dan bercerita bahwa mereka tetap bahagia tanpa anak.
Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 8 malam aku masih asyik mengobrol dengan camilan martabak yang di beli mang Ujang untukku.
"Mang saya mau pulang saja, mungkin sekarang sudah pulang" kataku dan mang Ujang setuju lalu aku segera pulang setelah pamit pada istrinya mang Ujang yang ramah sekali itu.
Aku hanya di antar sampai depan rumah dan memang mobil sudah ada tanda sudah pulang.
"Makasih yah mang"
"Sama-sama neng, mari" katanya dan aku mengangguk.
Aku segera masuk.
"Ya ampun Dintaaaa dari mana?" Tanya ibunya Arkan.
"Dari Rumahnya mang Ujang"
"Kenapa gak ngabarin kami?" Tanya Ayahnya Arkan.
"Hp Dinta mati Om" jawabku dan sepertinya semua memang khawatir lalu aku minta maaf.
"Arkan mana?"
"Arkan lagi cari kamu keluar katanya ke tukang cilok" jawab Kak Rahfa.
"Coba telpon Arkan nak, dia khawatir sekali kamu tidak ada"
"Iya Tante" jawabku dan segera ke kamar untuk menyalakan hpku sambil di sambungkan dengan penambah daya.
Baru saja hpku ku nyalakan pintu kamar tiba-tiba terbuka dan itu Arkan.
"Heh Ding dong, kamu dari mana si? Aku bilang tunggu di luar tapi malah gak ada, aku udah cari-cari di sekitar sini gak ada, aku cari ke tukang cilok juga gak ada, kenapa si gak nurut aja dan diem di depan? Mana hp gak aktif kebiasaan banget si hp mati" Cerocosnya cepat sedangkan aku hanya bengong sambil mengulum senyum.
"Apasi ini makhluk, aku dari rumah mang Ujang. Ya gimana mau nunggu kamu lama, serem juga harus diem disini langit udah gelap juga" jawabku santai
"Jangan di ulangi! Dan aku minta maaf, tadi di jalan ada kendala mobil jadi gak bisa cepet padahal emang tadi udah cepet" jawabnya.
"Iya gakpp"jawabku
"Tapi kamu gak kenapa-kenapa kan?" Tanyanya sambil berjalan menghampiriku yang duduk di ranjang sambil memegang handphone ku.
"Iya aku gakpp ko"jawabku.
"Aku khawatir, takut kamu frustasi dan pulang sendiri ke Jakarta"katanya dan duduk di sampingku. .
"Ngaco"jawabku.
__ADS_1
"Serius gakpp kan?" Tanyanya.
"Assshhhh iya Arkan aku gakpp" jawabku menegaskan dengan mata melotot dan dia hanya tersenyum manis padaku membuatku ingin memeluknya saja.
Malam itu kami semua habiskan dengan mengadakan BBQ di depan rumah, ibunya Arkan sengaja berbelanja segala kebutuhannya sudah seperti pesta ulang tahun kak Rahfa waktu itu. Acaranya meriah Mang Ujang dan istrinya sempat bergabung lalu pulang setelah hampir jam 10 malam sedangkan kami jam 10 masih melanjutkannya.
Malam itu Arkan dan Ayahnya yang kebagian menjadi tukang panggang malahan mang Ujang saja hanya duduk bersama kami.
"Arkan sebenernya gak mau bikin acara kek gini, dia juga gak suka sama daging panggang gitu" kata Kak Rahfa.
"Kenapa?" Tanyaku
"Dulu waktu kecil pernah kena arang panas gitu pas lagi manggang, dia juga kurang suka dagingnya karena menurutnya mentah, dia juga benci asapnya tuh liat"tunjuk kak Rahfa dan benar saja Arkan benar-benar seperti sedang perang bersama asap. Andai saja saat itu seperti sekarang sudah ada pemanggangan yang tidak perlu arang begitu mungkin Arkan tidak akan seperti itu.
"Ya kenapa juga dia maksain begitu" kataku.
"Gak tau" jawab Kak Rahfa aku segera berdiri dan menghampiri Arkan yang kini memanggang sendiri.
"Kalau gak kuat mending gak usah so soan gitu deh" ucapku dan berdiri di sampingnya lalu mengambil satu tusuk yang sudah terlihat matang.
"Perih ih Din"keluhnya.
"Iya makanya udah aja udah" jawabku.
"Nanggung ini" jawabnya.
"Biar sama ayah kamu aja" kataku.
"Gak boleh bikin orangtua sengsara Dinta Dosa" jawabnya.
"Yaudah beresin" kataku dan hendak pergi.
"Eits, mau kemana?" Tanyanya.
"Balik ke meja, lagian di meja masih ada yang bisa di makan ko"jawabku.
"Disini aja, temenin aku serem juga sendiri takut ada yang muncul dari danau" katanya.
Plakkk
"Apaan si gak lucu"
"Sakit tau Din"
"Ya abisnya kamu"
"Ya iya makanya temenin aku disini"
"Yaudah iya, tapi gak usah bahas yang kek gitu lah" jawabku.
"Iya iya ayo bantuin balikin dagingnya tuh capitnya" katanya dan aku membantunya sambil sesekali becanda bersama.
"A a a ah Dinta pedih, arang masuk kek nya" katanya sambil mengucek matanya sendiri.
"Sini-sini aku tiupin, jangan di kucek gitu nanti merah makin sakit lagi" kataku dan dia mendekatkan wajahnya.
Aku membuka sedikit matanya dan perlahan meniupnya.
"Coba kedip" kataku dengan jantung yang tidak stabil.
"Lumayan" katanya kemudian melihatku tanpa berkedip. Untuk per sekian detik kami hanya bertatapan saja.
"Makanya udah aja, ayo ke meja kita makan" ajakku dan pergi dengan jantung yang tak sehat.
Oh pliisss tolong stabil jantung. Batinku saat itu.
🍃🍃🍃
__ADS_1