Dari Dinta

Dari Dinta
33


__ADS_3

Setelah Niana tau semuanya aku merasa lebih lega setidaknya ada yang mengerti perasaanku, ada yang mengetahui perasaan tak berbalas itu. 


🌻🌻🌻


Pagi itu seperti biasanya aku di antar sampai depan kelas oleh Arkan dan di akhir dengan lambaian tangan Arkan kepada Niana sebagai sapaan paginya. Menyebalkan.


"Pagi Din" sapa Niana yang baru saja sampai kemudian duduk di sampingku setelah menyapa Shanum dan Witri yang setelah sapaan berakhir Shanum pergi di panggil Bu Winda salah satu guru.


"Din gue barusan ketemu Novan dari deket tau" kata Niana heboh.


"Novan? Siapa?" Tanyaku


"Itu murid baru pindah Bandung yang cakep itu" jawabnya.


"Emang ada murid pindahan dari Bandung?"


"Aish. Emang Lo gak tau apa?"


"Enggak"


"Lo ikut upacara gak sih kemarin? Kan dia ngenalin diri" kata Niana.


"Oh pantes, soalnya pas sesi pengumuman kan gue ke Air sama Witri terus gak balik lagi ke lapangan" jawabku


"Emh pantesan. Intinya dia cakep. Uuuuhhh" kata Niana.


"Iya deh iya" jawabku "Ann ke kantin yuk, laper nih" kataku.


"Gak sarapan?"


"Nggak. Gue kesiangan"


"Bagus. Gue juga nggak. Ayo ah" ajak Niana dan kami pergi ke kantin.


Sampai di pintu depan Shanum sudah kembali dan akhirnya kami ke kantin bersama. Di tengah perjalanan menuju Kantin suara speaker sekolah menyala seperti akan ada pengumuman dan semua diam untuk menunggu apa yang akan di bicarakan.


"Tes tes tes" suara itu mulai terdengar.


Aku Niana dan Shanum berhenti berjalan untuk mendengarkan apa isi dari pengumuman.


"Perhatian! Kepada seluruh siswa siswi silahkan untuk berkumpul di lapangan sekarang juga, sekali lagi untuk...."


"Yaaaaaaaaaaaah" Niana yang pertama kali mengeluh


"Padahal laper banget tapi harus kumpul" sambung Shanum


"Yaudahlah ayo mungkin emang penting" kataku.


"Emang pengumuman apa si?" Tanya Anna kepada Shanum.


"Gak tau Ayah ku tidak bilang, sudah lah ke lapangan dulu saja" kata Shanum dan kami setuju pergi. Semuanya di persilahkan duduk di lapangan yang matahari nya menyehatkan tapi tetap panas.


"Selamat pagi anak-anak" Pak Umar sebagai kurikulum yang berbicara.


"Pagi paaaaakkkk" jawab semuanya.


"Baik di tengah cuaca yang dingin ini."


"Huuuuuuuuuuuuuuuh"


"Maksud saya di tengah cuaca yang hangat ini, saya mengumpulkan kalian untuk memberitahukan tentang serangkaian kegiatan yang akan di laksanakan oleh kalian sebagai kelas X XI karena seperti yang kita ketahui kelas XII sudah pergi dari sekolah ini dan hanya tinggal menunggu surat kelulusan keluar" katanya dengan satu tarikan nafas.


"Aish nafas pak nafas jangan lupa" omelku dan orang-orang di sampingku terkekeh.

__ADS_1


"Dan untuk kalian kelas X XI kalian tersisa satu Minggu full lagi untuk pembelajaran materi karena setelah nya kalian akan melaksanakan ulangan semester genap. Ingat itu"


"Aaaaaaaaahhh" semuanya ricuh.


"Tapi untuk hari Kamis Jum'at Sabtu kami pihak sekolah dan pengurus OSIS akan mengadakan acara disekolah ini sebagai perayaan Ulang tahun sekolah kita. Jadi proses pembelajaran untuk Minggu ini hanya sampai besok saja."


"Refreshing dulu, seminggu pemanasan terus baru di palu" omel Niana.


"Oleh karena itu silahkan tertib dan ikuti acaranya untuk lebih jelasnya nanti jajaran kepanitiaan akan datang ke kelas kalian masing-masing untuk memberikan arahan pada ketua kelas. Sekian dari saya!" Tutupnya dan semuanya bubar dengan obrolannya masing-masing.


"Jadi ke kantin kan?" Tanyaku pada Anna dan Shanum dan keduanya langsung mengangguk cepat dan kami hanya berjalan cepat menuju kantin karena sudah lapar.


Sampai di kantin kami menemukan Reno dan Arkan yang sedang melahap siomaynya lalu melambai ke arah kami dan kami menghampirinya.


"Nih" Arkan mengangkat tisue yang ada di meja ke hadapanku dan aku mengambilnya begitupun Niana dan Shanum.


"Panas yah?" Tanya Reno dengan senyumnya.


"Gak kelapangan?" Tanyaku.


"Ngapain?" Tanya Arkan.


"Pengumuman lah"


"Ya diem disini juga kita bisa denger kali, Yo i gak Ren?" Tanya Arkan.


"Yo i" jawab Reno.


"Yang pinter dong Ding Dong ah" kata Arkan dan aku hanya mengkritingkan bibirku.


"Udah ah mau pesen apa? Gue yang kedepan" kata Niana dan Aku juga Shanum menyebutkan pesanan kami dan Anna segera pergi.


🍃🍃🍃


"Duduk dulu semua" kata Malik sang ketua kelas yang datar dingin pinter karena dia peringkat 2 setelah Niana. Dan semuanya menurut.


"Seperti yang udah di umumin tadi, gue sebagai salah satu panitianya. Ngehimbau buat kita semua agar tertib ikutin acara ini. Acaranya berlangsung 3 hari. Dua hari untuk lomba dan 1 hari untuk Pensi. Dua hari untuk perlombaan itu semuanya akan di isi dengan lomba debat bahasa Inggris antar kelas IPA dan IPS. Sisanya di Pensi perwakilan kelas harus ada yang bisa nampilin suatu bakat kek nyanyi dance atau tari tradisional. Bisa di mengerti?"


"Bisaaaa"


"Bukannya besok yah pengumuman nya?" Tanya Witri dengan polos


"Salahnya dimana kalo sekarang saya umumkan. Harusnya senang bisa banyak persiapan" jawab Malik.


"Yaudah si gak usah kesel gitu. Gue cuma nanya" jawab Witri emosi sendiri padahal Malik santai.


"Oke kalau gitu. Untuk debat bahasa Inggris saya akan tunjuk Niana, Shanum dan Saya. Ada yang keberatan?"


"Tidaaaaaaaaaakkkk"


"Woy temanya apaan dulu. Maen tunjuk-tunjuk aja Lo ah kebiasaan." Omel Niana.


"Nanti malem gue kirim materinya" katanya. "Dan untuk Pensi, Dinta mau nampilin apaan?" Katanya tiba-tiba.


"Ko gue?" Tanyaku.


"Nyanyi, nari tradisional, dance, puisi?"


"Kalau gue keberatan?"


"Yaudah Lo fikirin aja dulu biar jadi gak berat kalo udah ringan bilang ke gue, gue tunggu sampe pulang sekolah"


"Dasar ketua kelas Resek!" Cibirku.

__ADS_1


"Sisanya please TDI tertib dukung dan ikuti. Sekian" katanya datar dan kembali ke mejanya.


"Dasar freezer" omel Niana.


"Ann gue harus ngapain dong?" Tanyaku bingung karena kalau udah dia yang nunjuk susah nolaknya.


"Apa yah? Lo kan gak punya bakat apa-apa yah selain mencintai dalam diam" kata Anna membuatku langsung membulatkan mataku.


"Annaaaaaaaa" kataku.


"Din mau nampilin apa jadinya." tanya Shanum yang datang ke mejaku bersama Witri


"Gak tau, iiiihhh si Malik reseeeee" omelku sendiri.


"Gini aja Din, kamu bisa alat musik nggak? Apa gitu?" Tanya Shanum.


"Piano bisa si tapi udah lama gak main" jawabku. Karena memang di rumahku ada piano Ayah yang dulu sering kami mainkan tapi sudah lama aku tidak menyentuhnya.


"Nah aku dulu les vokal, bisa lah kalo cuma nyanyi ngehindarin Fals doang" kata Shanum


"Nah itu bagus, udah gitu aja" kata Witri.


"Tuh kan apa kata gue, kita pasti bisa" kata Anna sambil menaikan alisnya.


"Yaudah nanti pulang sekolah kita ke rumahku yah, di rumahku ada studio musik kecil gitu ko tempat Abangku latihan sama grup bandnya" kata Shanum


"Oke, tapi gue gak yakin niiiihhh" keluhku.


"Udah Dinta nyoba dulu aja masih ada hari besok Kamis dan Jum'at buat latihan. Gak usah pesimis duluan kek gitu" omel Niana dan aku hanya mengangguk.


🍃🍃🍃


Sepulang sekolah kami sepakat untuk ke rumah Shanum. Kami berempat berjalan ke gerbang. Rencananya saat itu aku akan bersama Niana dan Shanum akan bersama Witri di motornya Witri.


"Din" itu Arkan yang berjalan menghampiri kami


"Shanum pulang sama siapa?" Tanyanya tiba-tiba membuat aku tersenyum pahit karena awalnya memang aku yang di panggil tapi setelah sampai Shanum yang lebih dulu di tanya.


"Sama Witri Ar, kita berempat mau ke rumahku latihan buat pensi" kata Shanum.


"Nampilin apaan?" Tanyanya.


"Rahasia" jawab Shanum sambil menampilkan tampang manisnya.


"Diiiiih" kata Arkan sambil memasang wajah gemas membuatku semakin panas saja dan Niana sepertinya menyadarinya.


"Mau ikut nggak?" Tanya Shanum.


"Pengen. Tapi mau latihan debat juga." Jawab Arkan.


"Semangat" kata Shanum dan Arkan mengangguk dengan senyumannya.


"Oke kalau gitu ini jadi nggak?" Tanya Niana.


"Ya jadi lah" kata Shanum "Ar pergi dulu yah" lanjutnya.


"Oke hati-hati yah semuanya" kata Arkan dan semuanya mengangguk kecuali aku yang masih berusaha merekatkan pengait helmku.


"Hedeeehhh ini kalau **** tuh cukup sama Matematika aja, kalau cuma pake helm jangan" kata Arkan sambil membantuku menyelesaikannya. Aku hanya diam saja.


"Hati-hati" kata Arkan lagi sambil memukul pelan bagian atas helmku.


"Heeeemmh" jawabku dan naik ke motor Niana lalu kami semua pergi.

__ADS_1


🍃🍃🍃


__ADS_2