Dari Dinta

Dari Dinta
14


__ADS_3

Pagi itu seperti biasanya aku berangkat bersama Arkan. Dijalan Arkan tidak henti-hentinya menanyakan soal Shanum padaku dan kujawab setahu ku.


"Jadi Shanum dulu sekolah di Amerika?" Tanya Arkan.


"Iya soalnya katanya ibunya disana" jawabku


"Oh gitu" kata Arkan dan masih banyak lagi dia bertanya membuat ku semakin tidak nyaman dengan tingkah Arkan yang selalu bertanya soal Shanum bahkan bukan hanya pagi itu tapi setiap pagi.


Di sekolah Arkan selalu bertemu dengan Shanum tentunya karena aku Niana dan Shanum selalu bersama-sama kemanapun sekarang. Hanya cukup satu Minggu dan kami mulai akrab.


Setiap ke kantin kami selalu jadi pusat perhatian karena memang aku dan Niana selalu bersama Shanum, untuk beberapa menit aku merasa risih tapi aku pikir semuanya tidak apa-apa.


"Din" sapa Arkan ke mejaku yang saat itu aku bersama Niana dan Shanum sedang berada di kantin.


Entah apa maksudnya tapi saat Arkan menyapaku matanya pada Shanum yang sedang fokus pada handphonenya.


"Hai" sapaku "duduk Ar" lanjutku.


Dan kami mengobrol bersama. Iya selalu begitu.


🍁🍁🍁


Sore itu seperti biasanya aku pulang bersama Arkan lalu kami mampir ke sebuah toko kue untuk membeli kue pesanan ibunya Arkan.


"Kamu mau yang mana? Bubu bilang aku harus beliin kamu satu" katanya.


"Terserah deh aku di beliin nya yang mana aja" jawabku


"Di tawarin makan gitu, di tawarin kue gitu, selalu aja gitu, kamu milih aja aku suka jadi bingung Din"


"Yang ini" jawabku langsung.


"Mba ini satu" Arkan menunjuk pilihanku.


Setelah selesai aku pulang bersama Arkan. Arkan menjalankan motornya pelan sekali ditengah manisnya suasana kota Jakarta sore hari di tahun itu.


"Din, aku mau ngomong sama kamu" katanya. Pernyataan nya membuatku langsung berfikir jauh saja.


"Ngomong apa? Ngomong aja, kek baru kenal aja" kataku.


"Tapi aku malu juga" katanya


"Hahaha apaan si Arkan, udah mau ngomong apa?"


"Nggak sekarang ah, nanti aja malem, aku mau ke rumahmu yah, biar ngobrolnya enak" katanya membuat jantungku makin dag dig dug gak karuan saja.


"Iya boleh" jawabku.


Sesampainya dirumah aku mendapat Ayahku yang sudah ada di rumah bersama beberapa teman kantornya.


Aku masuk lalu tersenyum sopan menyapa kedua teman ayahku.

__ADS_1


"Udah pulang nak?" Tanya Ayah


"Iya Yah."


"Duduk dulu sini. Kenalin ini teman-teman Ayah. Ini Dinta anak bungsu saya" kata ayah.


"Hallo Om, saya Dinta" kataku sambil menyalami keduanya.


"Wah anakmu cantik juga" komentar teman ayahku


"Ini bisa nih kita besanan" timpal yang satunya lagi dan aku hanya tersenyum saja.


"Kalian ini" kata ayahku.


"Mungkin kita bisa besanan ini, ayo kita jodohkan saja" katanya lagi.


"Ah tidak aku membiarkan dia memilih pilihan nya saja nanti" jawab ayahku.


"Waaaah ayah yang bijaksana" kata teman ayahku dan semuanya tertawa.


"Yaudah om Dinta ke kamar dulu, mau ganti baju" pamitku.


"Oh iya iya silahkan" jawab keduanya lalu aku segera pergi ke kamar.


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam tapi teman-teman ayahku belum juga pulang dan memilih menyelesaikan pekerjaannya di rumahku sepertinya.


Aku mengirim pesan kepada Arkan untuk bertemu diluar saja karena dirumah ada teman-teman ayahku dan Arkan setuju lalu aku segera keluar kamar dan keluar lewat pintu belakang setelah pamit pada Bi Nani.


Sesampainya didepan Arkan sudah ada diatas motornya.


"Mau kemana?" Tanyaku


"Nasi goreng?" Tanyanya.


"Kamu belum makan?"


"Udah si tadi pas dateng sekolah tapi kalau kamu mau ayo"


"Jangan deh aku juga udah makan"


"Ke cafe aja yah, ngopi" katanya.


"Boleh" jawabku dan motor melaju membelah jalanan Jakarta dimalam hari dan kami sampai di sebuah cafe yang tidak terlalu jauh dari komplek rumahku dan Arkan.


Seperti biasanya aku dan Arkan hanya memesan dua gelas capuccino dan makanan ringan saja.


"Jadi kamu mau bilang apa sebenarnya? Kek nya serius banget." Kataku.


"Serius gak serius si ini, tapi aku pengen serius soal ini dan aku rasa cuma kamu yang bisa wujudin ke seriusan aku ini" katanya. Sudah sejak tadi jantungku berdetak kencang lalu.


"Sampe berbelit gitu ngomongin serius doang haha. Yaudah jadi kamu mau ngomong apa?"

__ADS_1


"Oke, tapi kamu jangan kaget yah" katanya.


"Iya iya, jadi kamu mau ngomong apa? Lama deh." Kataku tidak sabar.


"Din" katanya dan tangannya menggenggam tanganku yang nangkring di atas meja membuat jantungku sebentar lagi akan meledak.


"Iya?" Tanyaku sambil membalas tatapan tajamnya.


"Kayanya aku jatuh cinta sama Shanum deh" katanya membuat jantungku berdegup kencang bukan karena senang tapi patah.


"Hah?" Jawabku sepontan.


"Iya Din gitu, bantuin biar aku deket sama dia yah, plis plis" katanya sambil terus menggenggam tanganku sedangkan aku sudah ingin menangis sekarang.


"O-oh oke" jawabku sambil menarik tanganku cepat dari genggamannya dan membenarkan rambutku.


"Serius? Din kamu tau sendiri kan ini pertama kalinya aku milih cewek, dan gak tau kenapa aku jadi suka ke Shanum kek gini. Jadi plis yah Din bantuin aku deket sama dia biar dia bisa kenal aku lebih jauh begitupun sebaliknya" katanya dengan mudah nya semua kata-kata itu meluncur dari mulutnya. Rasanya aku ingin langsung menangis mendengar semuanya karena bagaimanapun sudah bisa dipastikan cinta sepihak ku tidak akan terbalas sampai kapanpun.


"Iya aku bantuin" jawabku dengan senyuman palsu.


"Thanks yah Din" katanya


"Iya Ar" jawabku "eh aku ke toilet dulu yah, kalo kamu butuh no Shanum ada di hp ku ambil saja" kataku dan dia mengangguk.


Aku langsung buru-buru pergi ke toilet dan menangis disana terisak pelan beberapa menit lalu dengan cepat aku mencuci wajahku dan kembali menghampiri Arkan.


"Kamu mau pesen makanan apa lagi?" Tanya Arkan


"Enggak, udah aja" jawabku dengan suara aneh.


"Din?" Tanyanya.


"Iya?" Tanyaku


"Kamu kenapa?"


"Kenapa apanya? Gakpp ko" jawabku tersenyum palsu.


"Kalau ada apa-apa kamu cerita"


"Iya iya, lagian aku baik-baik aja kali ini gakpp"


"Yaudah mau pulang sekarang?" Tanyanya dan aku mengangguk lalu dia segera menarik tanganku dan kami meninggalkan cafe itu setelah membayar.


Di atas motor dengan perasaan kami masing-masing. Tentu saja perasaan kami berbeda Arkan sedang senang dan aku sebaliknya.


Entah mengapa air mataku mengalir begitu saja dan sepertinya Arkan sadar akan hal itu dan dengan itu dia menarik tanganku yang kusimpan diatas pahaku ke perutnya dan dengan penuh kesadaran aku memeluknya dan menyandarkan kepalaku dipunggung nya dan terisak disana.


Malam itu aku merasa separuh rasaku pergi begitu saja. Entah apa yang Arkan pikirkan tapi mungkin dia hanya menganggap aku yang menangis karena tentang orangtuaku.


Sesampainya di rumah kudapati kedua orang tuaku sedang kembali berdebat, saat itu Mamah yang berdebat masalah teman ayah yang kerumah padahal apa salahnya dan hal itu membuat aku semakin hancur. Rasanya aku ingin pergi saja dari dunia saat itu.

__ADS_1


Aku segera ke kamar lalu menangis dan kemudian terlelap.


🍁🍁🍁


__ADS_2