
Acara belum selesai tapi aku memutuskan untuk segera pulang lebih dulu, dan hanya kak Rahfa kak Steven dan Ibunya Arkan yang tahu aku pulang duluan.
Sesampainya di rumah seperti biasa ku dengar adu mulut yang sudah tidak asing lagi di telingaku. Aku menghela nafas lalu segera pergi ke kamar dan menangis di bawah bantal. Suara telpon masuk ku dengar dari handphoneku yang ada di sampingku, tapi aku tidak mau mengangkatnya. Sudah tiga kali dan ku putuskan untuk melihatnya ternyata itu panggilan dari Arkan.
📞"Hallo Din" sapanya.
"Iya?" Jawabku parau.
📞"Kamu udah pulang?"
"Iya" jawabku lagi "Arkan aku mau istirahat dulu" kataku dengan suara yang jelas semakin parau.
📞"Kenapa?" Tanyanya langsung.
"Kenapa apa?"
📞"Kamu nangis?"
"Nggak, aku tutup yah Ar" kataku dan ku tutup tanpa persetujuan Arkan dan kembali menangis, rasanya benar-benar menyesakan.
🍁🍁🍁
Hari-hari terus berlalu seperti biasanya hidupku masih dengan keadaan seperti biasanya. Arkan pun masih sama seperti biasanya masih tidak jelas. Sebenarnya bukan Arkan yang tidak jelas tapi aku yang terlalu berharap banyak untuk bisa bersama Arkan lebih dari sekedar sahabat. Banyak hal yang sudah aku coba untuk menetralkan semua rasa yang ada tapi usahaku hanya sia-sia.
Minggu pertama di bulan April 2009. Pagi itu seperti biasanya aku berangkat bersama Arkan dan motornya. Sejauh ini aku tidak bisa menyebut hubungan aku dan Arkan sekarang tidak baik karena memang aku dan dia masih baik-baik saja, namun hanya di beberapa waktu aku yang akan menjauh atau merasa Arkan yang benar-benar menjauh dan dekat untuk Shanum.
"Semangat belajar Dinta" katanya setelah aku sampai di depan pintu kelas.
"Semangat kembali" jawabku dengan senyuman lalu Shanum datang dan aku segera pergi dengan sesak.
Aku mencoba melihat kebelakang dan aku tau senyum senang itu sudah cukup lama menjadi milik Shanum. Dan saat aku membalikan tubuhku Niana sedang melihat ke arahku dengan lekat.
"Pagi Ann" sapaku.
"Iya" jawabnya tandas.
"Lah? Kenapa? Judes banget" kataku.
"Aaaahhh udahlah" katanya sambil mengacak rambutnya.
"Ih kenapa si kamu aaaaann" kataku dengan tawa karena merasa aneh dengan tingkah Anna.
Jam pelajaran pertama di isi dengan biologi dan pelajaran kedua oleh fisika kemudian jam istirahat tiba. Seperti biasanya semua orang pergi ke kantin.
"Dinta, Anna, ayooo ke kantin ajak Shanum"
"Ayo" kata Niana.
"Aku enggak deh" jawabku.
"Lah kenapa Din?" Tanya Shanum.
__ADS_1
"Gak apa-apa, ngerasa gak laper aja" jawabku.
"Ya masa gitu si Dinta". Kata Niana.
"Udah sana kalo enggak laper ya gimana dong" kataku.
"Atau mau nitip nggak Din?" Tanya Shanum.
"Enggak Shanum, udah sana pada ke kantin nanti keburu masuk lagi" kataku.
"Yaudah kalo gitu kita makan dulu yah Din" kata Niana dan aku mengangguk.
Di kelas hanya menyisakan aku saja, yang lainnya pergi ke kantin. Hampir 10 menit dan aku hanya melihat jam dinding yang ada di kelas berputar tanpa fokus pada satu fikiran.
Dred dred. Handphone ku bergetar tanda satu pesan masuk dari no yang tidak ku kenal.
08573456xxxx
Hallo Dinta.
Aku mengerutkan dahiku karena tidak tau siapa itu. Aku hanya melihat pesan itu tanpa berniat membalasnya tapi kemudian no yang sama menelpon.
📞"Hallo" sapanya terlebih dahulu.
"Iya" jawabku
📞"Dinta yah?"
"Iya, ini siapa yah?"
"Oooohh Kevin, hai" sapaku dengan senyum.
📞"Maaf yah kalo saya ganggu" katanya.
"Nggak ko, ini lagi jam istirahat"
📞"Oh syukurlah kalo gitu. Lagi sama Niana?"
"Eggak, Niana ke kantin aku di kelas."
📞"Lah? Kenapa kamu gak ke kantin?"
"Nggak aja" jawabku.
📞"Ada-ada saja. Eh Din, Minggu depan sekolah kamu libur nggak?"
"Katanya si Libur soalnya ada ujian akhir gitu buat kelas XII, emang kenapa?"
📞"Oh yah? Sama dong, emmh kalo jadi saya mau liburan di Jakarta di rumah Omah. Bisa ketemu?" Tanyanya.
"Oooohh, boleh aja si" jawabku
__ADS_1
📞"Oke deh, nanti kalo jadi saya kabarin lagi yah, sekalian saya juga mau kabarin Niana"
"Oke" jawabku.
📞"Yaudah Din, saya tutup yah. Save no saya jangan lupa. Maaf udah ganggu."
"Oke oke, nggak ko gak ganggu" jawabku dan kudengar senyumnya setengah tertawa nya dari telpon lalu telpon terputus.
Iya dia Kevin yang saat Niana mengajakku bertemu dengan temannya bulan lalu yang ku sebutkan dia paling manis senyumnya di antara yang lainnya.
🍂🍂🍂
Sore itu seperti biasanya aku kumpul rutin bersama anak-anak karate yang lainnya. Sore itu aku sedikit telat karena harus menyelesaikan praktik kimiaku di jam pelajaran terakhir.
Aku masuk dengan izin pembina karate di sekolahku lalu kulihat tangan Arkan melambai ke arahku dan aku hanya tersenyum saja lalu bergabung bersama teman wanitaku.
Sekedar basa basi dari pembina dan sisanya latihan masing-masing. Hanya 15 menit lalu aku berjalan ke samping dan duduk karena sedikit lelah.
"Nih" katanya itu Arkan yang menyodorkan air mineral dingin.
"Thanks"jawabku dan meneguknya.
"Kamu udah makan?" Tanyanya sambil mengambil tasnya yang tak jauh dari tempat kami duduk.
"Udah" jawabku.
"Bohong" katanya sambil mengeluarkan kotak nasi.
"Enggak" jawabku.
"Tadi kamu nggak ke kantin juga ah. Nih buat kamu dari Bubu" katanya menyodorkan tempat nasi itu kepadaku.
"Waaaaaaahhhh, makasih Bubunya Arkan" jawabku sambil menerimanya.
"Udah ayo makan" katanya dan dengan cepat aku membukanya, isinya sedikit nasi dengan nugget ayam kemudian sayuran dan ada buahnya di kotak trakhir. Aku langsung memakannya dengan lahap karena memang aku lapar.
"Mau enggak?" Tanyaku pada Arkan yang melihat terus ke arahku.
"Nggak ah. Kamu kenapa gak ke kantin tadi? Padahal aku udah bawa itu ke kantin."
"Enggak laper. Terus kenapa gak di anterin ke kelas?" Tanyaku.
"Tadinya mau, cuma harus buru-buru ke lab ada praktik kimia abis jam istirahat dan setelah itu gak ada jam kosong satupun lagi" jelasnya dan aku tersenyum.
"Yaudah enggak apa-apa yang penting tetep aku makan kan ini" jawabku.
"Lain kali harus tetep ke kantin kalo jam istirahat Din dong, kalaupun gak laper tetep harus makan walaupun cuma makanan ringan di kantin." Katanya sambil menyelipkan anak rambutku ke belakang telingaku membuat jantungku semakin berdegup kencang.
"Kak Arkan, ada yang nyariin tuh" kata anak kelas X.
"Oh iya. Bentar yah Din" katanya dan aku mengangguk.
__ADS_1
Kulihat sedikit ke arah Arkan pergi sepertinya yang mencarinya Shanum. Aku menghela nafas panjang ku dan melanjutkan makanku saja. berusaha tidak peduli dengan apa yang terjadi. padahal dalam hati aku marah-marah tidak jelas.
🍂🍂🍂