
Malam itu aku hanya menggulingkan badanku ke kanan dan ke kiri setelah menerima telpon dari Bang Deris yang berbicara ingin pulang tapi tidak pernah pulang-pulang.
Aku mengecek handphoneku sesekali tapi tidak ada pesan papaun apalagi pesan dari Arkan.
Aku menghela nafasku panjang setelah kembali kudengar suara-suara tinggi dari ruang tengah. Aku beranjak dari tempat tidurku da menghampiri notebook yang ada di meja belajarku.
Aku hanya menatap notebook dengan wallpaper fotoku dan Arkan tanpa berniat untuk mengklik aplikasi apapun.
Dengan melihat fotoku dengan Arkan memori tentang semuanya seakan kembali masuk ke otakku. Bagaimana awal aku akrab dengan Arkan, kenangan-kenangan bersamanya, juga hal-hal manis lainnya.
Cukup lama aku memandanginya dan kembali ke semua cerita sejak awal bertemu Arkan. Sampai aku tidak sadar orang-orang yang bertengkar sudah tidak terdengar lagi. Aku tersenyum perih lalu menutup notebook ku dan memutuskan untuk tidur saja lagi pula saat itu besoknya libur.
Paginya aku bangun seperti biasanya dan memutuskan untuk mengganti pakaianku dengan kaos santai dan celana olahragaku lalu keluar untuk sekedar menikmati udara pagi di taman yang tak jauh dari komplek perumahan ku.
"Waaaah Neng Dinta mau joging?" Tanya satpam komplekku.
"Iya nih pak, duluan yah" kataku
"Iya neng monggo" jawabnya dan aku melanjutkan langkahku hingga sampai ke taman.
Bukan hanya ada aku disana tapi banyak orang-orang juga yang memang sengaja joging di area taman yang tidak luas itu bahkan mungkin kalau sekarang itu tidak bisa ku sebut sebagai taman.
"Hai" sapa seorang wanita itu kak Rahfa.
"Eh, kakak" jawabku.
"Joging juga?" Tanyanya dan aku mengangguk "bagus deh, jangan kek si Arkan masih di kasur" katanya.
"Kakak sendiri?"
"Iya joging juga" jawabnya " Eh yaudah ayo kita beli minum dulu" katanya dan aku setuju setelah membeli dua botol air mineral yang dibayarkan kak Rahfa kami duduk di bangku taman.
"Kak Rahfa biasa joging?" Tanyaku.
"Setiap libur pasti kesini"
"Oh gitu" jawabku.
"Oh iya Dinta, Minggu depan Kakak ulangtahun kamu harus dateng"katanya
"Oh yah? Waaaah seru dong, iya kak Dinta pasti dateng ko" jawabku.
"Iya, acaranya malem cuma barbeque-an aja si, yang kakak undang juga cuma orang-orang terdekat kakak aja, sekalian juga katanya si Bunda mau bersyukur gitu karena Kakak udah wisuda."
"Oke deh kak" jawabku.
"Kalo bisa si Dinta datengnya dari sebelumnya sekalian bantuin persiapin semuanya." Katanya.
"Siap kalo gitu" jawabku senang.
"Oke, nanti biar kakak yang nyuruh Arkan buat jemput kamu"
__ADS_1
"Nggak juga gakpp kali kak, orang deket juga"
"Hahaha iya si" jawabnya dan aku hanya tersenyum saja.
Setelah selesai joging aku kembali ke rumah dan walaupun libur tidak ada orang selain Bi Nani yang ada di rumah. Aku segera mandi dan stelah selesai hanya memakan makanan ringan di depan tv.
Sejak semalam tidak ada pesan dari Arkan atau kabar yang lainnya. Rasanya sakit sekali harus menerima Arkan punya wanita lain yang dia prioritaskan selain ibu dan kakaknya saat ini.
Sejak hari dimana Arkan mengajak Shanum untuk jalan saat pulang sekolah, rasanya Arkan semakin jauh saja dariku sudah jarang ada pesan darinya dan aku hanya bisa bersama saat brangkat sekolah saja karena sepulang sekolah dia akan mengantar Shanum pulang.
Dreedd dreedd. Getaran handphone ku tanda telpon masuk.
"Hallo Ann" kusapa Niana terlebih dahulu dan kurang lebih dua menit aku dan Anna mengobrol aku segera pergi ke kamar untuk mengganti bajuku dan akan pergi hanya untuk makan di luar bersama Anna.
Setelah semuanya selesai aku segera keluar rumah dan berjalan menuju jalanan utama dan sudah ada Anna disana, lalu aku segera pergi dengan motor Anna.
"Ann, ko ke cafe?" Tanyaku setelah turun dari motor Anna.
"Udah ayo ikut" katanya dan aku menurut lalu segera masuk dan Anna menghampiri beberapa orang laki-laki yang sedang berkumpul.
"Ann mau ngapain si ini?"
"Waaaaaaahhhh Anna gak ada perubahan" kata seorang laki-laki
"Masih menjadi si cantik yang culun" kata yang satunya lagi.
"Bisa aja Lo. Kenalin ini sahabat gue namanya Dinta. Dinta ini sahabat-sahabat aku waktu SMP tapi mereka be-4 sekolahnya di Bandung semua."
"Hallo Aku Dinta"
Dan hari itu aku hanyut dengan kebersamaan bersama sahabat-sahabat SMP Niana yang membuatku bengong, cewek se kutubuku dan se culun Niana bisa punya sahabat laki-laki seperti itu.
Setelah semuanya selesai aku dan Niana pamit pulang setelah terjadi kesepakatan yang di ucapkan salah satu teman Niana bahwa mereka dan aku harus menyapa jika bertemu dan kami setuju.
Aku dan Niana segera pulang bersama dan Niana mengantarkanku pulang. Sampai di rumah aku mengecek handphoneku dan tidak ada kabar dari Arkan. Rasanya sakit sekali menerima kenyataan Arkan sudah memiliki Shanum walaupun aku tau mereka belum resmi pacaran.
Malamnya aku sengaja memulai obrolan dengan Arkan. Aku ingin tau seberapa berubahnya Arkan saat itu. Dan hasilnya tidak mengecewakan.
"Arkan?
📩Arkanmopq
Iya Din? Kenapa?
"Sibuk nggak? Anter beli buku yuk"
📩Arkanmopq
Emmmmh, boleh, ayo.
"Oke, aku ke gerbang sekarang."
__ADS_1
Dengan cepat aku mengambil sweater ku dan keluar menunggu Arkan sebentar lalu pergi bersamanya ke toko buku bersamanya.
Aku mulai melihat-lihat buku yang sebenarnya aku tidak mau membelinya.
"Mau beli buku apa si?" Tanyanya di sampingku.
"Apa yah biar ada temennya aja kalo aku bt"
"Kan ada aku Dinta gak perlu pake buku." Katanya membuatku tersenyum.
"Ya beda lagi Ar"
"Yaudah beli novel aja"
"Boleh deh satu, kataku sambil mengambil sebuah novel dengan judul dan pengarang yang tidak bisa ku ingat sekarang
"Udah, mau itu aja?" Tanyanya dan aku mengangguk lalu dia segera membawa novelnya ke kasir dan membayarnya.
"Ar aku ada ko ini"
"Udah gakpp, aku dapet bonus dari Bubu jadi santai aja" katanya.
"Makasih kalo gitu" kataku dan dia mengangguk sambil tersenyum.
"Pulang aja? Makan dulu?" Tawarnya.
"Terserah Arkan"
"Makan yu ah makan" katanya dan berjalan mendahului lalu dengan senyuman aku mengikutinya.
Diatas motor berdua membelah jalanan Jakarta malam hari tiba-tiba suara handphone Arkan membuyarkan kebahagiaan ku. Arkan dengan cepat memberhentikan motornya.
"Hallo"
".............."
"Posisi kamu dimana?"
"............"
"Kamu diem didalem jangan keluar, aku kesana sekarang."
"Kenapa Ar?"
"Din, sorry aku harus bantuin Shanum, mobilnya mogok di jalanan sepi dia nelpon aku nangis-nangis aku khawatir dia kenapa-kenapa, gakpp kan kamu pulang sendiri?"
Aku diam beberapa saat lalu sadar. "Oh iya gakpp, aku bisa naik taxi ko, yaudah sana kamu bantuin Shanum kasian dia pasti takut banget"
"Yaudah Din aku pergi yah" katanya dan tanpa persetujuanku dia pergi begitu saja.
Aku tersenyum perih saat melihat Arkan berlalu dengan cepat untuk wanita lain seperti itu. Dengan berusaha tegar aku mulai berjalan mencari taxi atau sekedar ojeg agar bisa mengantarku pulang sampai ke rumah.
__ADS_1
Sudah lama aku menyusuri jalan tapi tak kunjung menemukan taxi karena mungkin sudah lumayan malam juga. Cukup lama aku berjalan sampai akhirnya aku menemukan pangkalan ojeg dan aku pulang dengan perasaanku yang kacau. Malam itu alam seperti ikut kacau, di tengah jalan tiba-tiba saja hujan padahal aku hampir sampai.
🌸🌸🌸