
Pagi itu seperti biasa aku berangkat bersama Arkan, sesampainya di sekolah aku pasti ikut ke parkiran lalu di koridor akan berpapasan dengan Niana atau Shanum. Dan pagi itu Aku dan Arkan berpapasan dengan Shanum lalu dengan penuh semangat Arkan mengantarku sampai di depan kelas.
"Semangat belajar Din" katanya mengacak rambutku
"Iya" jawabku sambil merapikan rambutku walaupun aku tidak suka karena rambutku akan berantakan tapi ya aku bahagia tentunya.
"Semangat belajar Shanum" katanya dengan senyum yang membuatku cemburu karena bertahun-tahun biasanya dia hanya memberikan senyum dan tatapan mata itu hanya padaku Dinta Syakira.
"Iya Arkan, kamu juga" kata Shanum dengan senyum cantiknya. Aku hanya tersenyum melihatnya lalu Arkan pergi dan kami masuk kelas.
Hari itu Niana tidak sekolah karena ada urusan keluarganya di Bandung. Jam pelajaran pertama di hari itu benar-benar Free dan aku hanya mengobrol ria dengan Shanum kemudian merasa bosan.
"Din, keluar yuk?" Ajak Shanum.
"Mau ngapain?" Tanyaku.
"Ya ngapain kek Din, sambil keliling-keliling sekolah juga, aku juga belum tau semua, serius" katanya
"Mending ke kantin aja" kataku.
"Boleh, yang penting jangan di kelas gini, berisik banget ya ampun emang kebiasaan yah setiap gak ada guru pasti pada gini"
"Ya emang gini lah. Yaudah ayo" kataku dan dia setuju untuk pergi ke kantin bersamamu.
Sesamanya di kantin aku hanya memesan jus melon dan Shanum jus jeruk lalu kami hanya duduk santai. Kantin pagi itu lumayan sepi karena jam pelajaran pertama sepertinya hanya kelasku yang kosong. Namun tetap ada anak kelas X yang membeli minum karena sedang jam pelajaran Olahraga.
"Din?" Tanyanya.
"Hemh?" Tanyaku.
"Kamu udah sahabatan sama Arkan lama banget yah?" Tanyanya tiba-tiba. Seperti yang sudah ku bilang Shanum sempat bertanya tentang pribadi Arkan sebelumnya ya walaupun cuma nanya "Arkan tuh gimana si Din?" Dan saat itu aku jawab sesuai dengan penilaianku sendiri. Tapi hari itu Shanum sepertinya memang benar-benar ingin tau.
"Lumayan lama si udah sejak SD sampe sekarang SMA, tapi dulu gak se akrab sekarang, cuma kenal aja karena kami tetanggaan. Mungkin sekitar sejak SMP aku mulai deket kek sahabatan gitu lah sama dia." Jelasku
"Oh gituuuu, rumah kamu sama dia deket banget?" Tanyanya lagi.
"Iya posisinya rumahku, rumah tentanggaku, rumah Arkan" jelasku sambil menggerakkan tanganku.
"Oooohh" jawabnya.
"Kenapa?" Tanyaku.
__ADS_1
"Gkpp si nanya aja, eemmh emang Arkan beneran gak punya pacar?" Tanyanya.
"Iya nggak" jawabku datar.
"Punya mantan?"
"Punya pas SMP" jawabku lagi.
"Sejak saat itu dia gak pernah pacaran lagi gitu?"
"Iya, gak pernah dan aku sama dia bikin komitmen di persahabatan kita kalau salah satu dari kami tidak boleh ada yang berpacaran. Tapi itu hanya omongan semata karena prinsip Arkan sebenernya katanya selagi dia gak punya pacar aku juga gak akan pernah. Kan rese"kataku.
"Hahaha ada-ada aja deh" katanya.
"Ya gitulah namanya juga Arkan, kalau gak gitu bukan dia" jawabku.
"Terus Din aku boleh nanya sesuatu lagi gak?"
"Boleh? Apa emang?"
"Kamu suka Arkan lebih sekedar sahabat?" Tanya Shanum membuat aku melemparkan tatapanku kemana saja dan terpaksa untuk senyum walaupun sebenarnya aku tidak mau tersenyum.
Untuk beberapa saat aku hanya diam berlagak so berfikir untuk dapat menjawab pertanyaan Shanum.
"Aku gak bisa nebak perasaan orang. Tapi aku percayai bahwa memang persahabatan laki-laki dan perempuan tuh gak ada. Dan kalaupun ada maka dibalik itu sebelah pihak sedang tersakiti" jawabnya. Ya itu teori yang sama yang ada di pikiranku setiap waktu setelah malam itu, malam dimana aku dan hatiku yang sepakat mencintai Arkan, sahabatku sendiri.
Aku diam mendengarnya dan berfikir bagaimana aku bisa menetralkan keadaan ini.
"Itu hanya teorimu saja. Arkan tuh udah aku anggap kaya kakak aku sendiri, dia tuh yang selalu ada buat aku dalam setiap keadaan, iya aku sayang sama dia, tapi gak lebih dari sekedar itu tapi juga sayangnya aku ke dia lebih dari sekedar sayangnya pacar ke pasangannya. Intinya dia itu segalanya buat aku tapi bukan dalam hal pacaran hubungan seperti itu, kamu pasti ngertilah maksud aku gimana, sayangnya Adek ke kakaknya gimana" jawabku dengan sedikit gugup karena itu jawaban paling menyakitkan buat hatiku sendiri.
"Waaaah Arkan beruntung sekali punya sahabat kaya kamu" kata Shanum.
"Dan aku lebih beruntung punya sahabat kek dia" jawabku "btw kenapa nanya gitu?" Tanyaku dengan senyum palsu.
"Emmh gak ada" jawabnya.
"Iiiiihh Shanuuuum mencurigakan deh" kataku "kamu suka sama Arkan?" Tanyaku.
"Dintaaaaa" katanya.
"Hahaha jadi bener?" Tanyaku dengan tawa tapi air mataku akan keluar.
__ADS_1
"Ih Dintaaa, oke jadi gini, aku gak tau harus gimana tapi jujur ke sahabat terbaiknya adalah hal paling baik keknya. Jadi Dintaaaa tebakan kamu bener, aku suka Arkan tapi aku gak yakin karena aku pikir sepertinya kalian lebih dekat lagian aku cuma orang baru, dan ini cuma harapan aku aja, dan aku gak pernah berharap Arkan balas semua perasaan aku tapi ya itulah kejujuran aku" jawabnya dengan wajah memerah sedangkan beberapa kali aku meneguk saliva menahan air mata dan sesak di dadaku sendiri.
"Tuh kaaaannn, ih Shanum kenapa gak bilang dari awal. Lagian nih yah Shanum, sebenarnya Arkan juga suka kamu lho" kataku dengan raut penuh kedustaaan.
"Hah? Gak mungkin lah Dinta. Itu terlalu impossible buat a.."
"Hallo everybody" kata seseorang dan itu adalah Arkan yang datang sendiri ke kantin yang tiba-tiba muncul begitu saja.
"Wah panjang umurnya yang di omongin nih" kataku basa basi busuk.
"Waaaah ngomongin aku apa nih?" Tanya Arkan dan kaki Shanum terus menyentuh kakiku dengan mata tak tenang.
"Hahahaha gak ada guru?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Iya gak ada, tapi ada tugas tapi aku udah ngerjain." Jawab Arkan sambil mengambil jus melonku dan meneguknya.
"Bagus deh rajin" jawabku dan dia hanya memasang raut sombong.
"Shanum, pulang sekolah ada acara?" Tanyanya tiba-tiba.
"Emmmmh gak ada" jawab Shanum.
"Jalan yuk?" Ajaknya membuat aku semakin hancur rasanya.
"Kemana?" Tanya Shanum
"Kemana aja, yuk Din?" Ajaknya.
"Hemh? Emmh gak bisa keknya" jawabku dusta "lagian mau di motor bertiga gitu?" Tanyaku.
"Euuuuhhh Ding dong yaaa gak mungkin lah, aku minjem mobil ayah. Ayo ikut yah" katanya.
"Bukannya gak mau Ar, aku emang lagi gak bisa aja serius." Jawabku.
"Yaaah masa gitu Din, ayo dong masa gak ikut" kata Shanum.
"Lain kali gue pasti ikut" jawabku.
"Yaudah Shanum gakpp, berarti naik motor aja yah, tapi kamu harus tetep mau" kata Arkan.
"Emmmmh Iya gimana nanti aja deh Ar, nanti aku kabarin lagi" katanya dan Arkan mengangguk dengan raut wajah paling bahagian membuat aku kembali menelan Saliva ku kasar rasanya sesak sekali dadaku.
__ADS_1
🍁🍁🍁