
Paginya di hari Minggu, hari terakhir libur dan esoknya akan kembali ke sekolah. Pagi ini aku sudah merasa baikan. Kejadian semalam hanya membuatku syok sesaat saja. Lagian aku tidak selemah itu, seperti harus menjadi manusia yang trauma laki-laki setelahnya.
Aku segera turun dari tempat tidur dan membuka gorden kamar Arkan lalu tersenyum seperti orang gila. Entah kenapa aku jadi senang saja dengan kajadian itu aku merasa Arkan memperlihatkan sikap-sikap manisnya yang semakin membuatku terbang lalu merasa Arkan memang membalas perasaanku tapi aku kembali berfikir bahwa tidak menutup kemungkinan akunya saja yang terlalu berharap saat itu.
Kudengar pintu kamar di buka dan Arkan masuk.
"Ar" kataku dan dia hanya tersenyum
"Kalau udah baikan keluar, terus sarapan. manusia bandel" katanya menyentil dahiku.
"Aku gakpp ko Ar, aku bener-bener gakpp dan semalem aku emang takut banget tapi aku bukan cewek lemah" jawabku.
"Iya iya aku tau" jawab Arkan.
"Maaf dan makasih yah" kataku lagi.
"Iya. Tapi maaf untuk apa?" Tanyanya.
"Yaa... Untuuuukkk" aku jadi menggantung kata-kata ku sendiri saat itu.
Maaf untuk apa yah? Untuk aku yang gak nurut pas di larang Arkan? Tapi Arkan Emang larang aku semalem? Kan nggak. Jadi maaf untuk apa?" Batinku.
"Untuk?" Tanya Arkan lagi.
"Maaf aja karena udah ngerepotin" jawabku langsung
"Ngapain minta maaf untuk itu coba, kek ke siapa aja Dinta. Udah ayo sarapan" ajak Arkan.
"Iya. Eh Ar handphone ku?" Tanyaku
"Ada di tas mu" jawabnya dan aku hanya mengangguk.
Aku segera keluar dari kamar Arkan dan sarapan bersama Arkan dan Kak Rahfa. Sepanjang makan akhirnya aku menceritakan semuanya tentang apa yang terjadi semalam kepada Kak Rahfa dan Kak Rahfa malah menyalahkan Arkan karena katanya tidak bisa menjagaku.
"Dinta nya yang bandel!" Jawab Arkan.
Aku hanya tersenyum saja mendengarnya. Dan setelah makan aku memutuskan untuk pulang di antar Arkan dan saat sampai di rumah aku tidak menemukan siapapun kecuali Bi Nani yang tidak tau apapun. Dan yang Bi Nani tau aku hanya tidur di rumah Anna begitupun dengan orangtuaku. Mungkin si.
"Aku charger hp dulu yah" kataku dan Arkan mengangguk.
Kembali dari kamar di ruang tamu sudah ada Niana Shanum Nino dan Vino.
"Dintaaaaa" Niana menghampiriku lalu memelukku "maafin akuuuuu" kata Niana.
"Maafin apa Anna kenapa minta maaf" kataku.
"Maaf semuanya gara-gara aku" jawab Anna.
"Udah gkpp Ann" jawabku lalu kami kembali duduk bersama.
"Kamu baik-baik aja kan Dintaaaa?" Tanya Shanum sambil memelukku
"Iya aku baik-baik aja Shanum" jawabku.
"Semalem aku tau dari Arkan, syukurlah kalo kamu baik-baik aja" jawab Shanum dan aku hanya tersenyum.
"Iya. Makasih yah udah kesini" jawabku dan Shanum mengangguk.
__ADS_1
Dan kami semua hanya mengobrol kesana kemari. Tidak ada pembahasan soal semalam, semuanya hanya membahas hal lain yang berkaitan dengan sekolah juga hal-hal lainnya.
Hari itu aku cukup senang karena ada mereka di rumahku walaupun ada Shanum dan Arkan yang selalu memperlihatkan kedekatannya.
Hampir pukul 12 siang akhirnya mereka pamit untuk pulang.
"Nino Vino, makasih yah buat semalem" kataku.
"Sama-sama Dinta, santai aja" kata Vino.
"Ko tau si aku disitu?" Tanyaku penasaran
"Panjang lah kalo di ceritain yang pasti sekarang Lo udah gakpp, baik-baik aja semuanya, dan jangan ulangi hal-hal kek gitu lagi" kata Nino dan aku mengangguk.
"Ar, Anna, Shanum" kita pamit yah kata Vino
"Hati-hati Lo pada" kata Arkan dan semuanya pergi.
"Din, aku juga harus pulang nih, sampai ketemu besok aja yah di sekolah, tapi kalo belum baikan gak usah dulu sekolah aja" Kata Niana.
"Sekolah ko besok" jawabku.
"Yaudah Dinta aku juga mau pulang sampai ketemu besok yah" kata Shanum
"Iya, Shanum makasih yah" jawabku dan dia mengangguk.
"Din aku anter dulu Shanum sama Anna yah" kata Arkan dan aku mengangguk "jangan kemana-mana" aku mengangguk lagi "nanti aku kesini lagi" katanya.
"Iya iya" jawabku dan mereka berlalu.
Pagi ini aku siap untuk berangkat ke sekolah. Sejak semalam aku tidak menemukan ayah dan ibuku kembali ke rumah, entahlah mereka kemana.
Aku segera keluar dari kamar dan menghampiri Bi Nani yang sudah menyiapkan sarapan untukku.
"Neng Sarapan dulu" kata Bi Nani
"Siap Bi" jawabku dan aku mulai melahap roti isi ku pagi itu.
"Neng Dinta baik-baik aja?" Tanya Bi Nani.
"Hemh? Iya aku baik-baik aja. Kenapa memangnya Bi?" Tanyaku.
"Sedikit pucet aja si Neng" jawab Bi Nani
"Tapi Dinta baik-baik aja ko" jawab Dinta.
"Syukurlah, tapi kalo ngerasa gak enak badan langsung makan obat yah Neng, jangan di biarin"
"Sipp Bi" jawabku dan melihat jam tanganku lalu aku menebak Arkan sudah ada didepan. Aku segera menghabiskan sarapanku dan cepat keluar.
"Bi, Dinta berangkat" kataku.
"Hati-hati Neng" katanya
"Iya" jawabku dan pergi keluar dan benar saja Arkan sudah menungguku.
"Ayo" kata Arkan.
__ADS_1
"Nunggu lama?" Tanyaku.
"Nggak" jawabnya dan aku langsung naik lalu motor melaju dan kami sampai disekolah. Seperti biasa Arkan mengajakku ke parkiran mengantarku ke depan kelas dan bertemu Shanum untuk sekedar menyapanya dengan hangat lalu seperti biasa aku tidak suka melihatnya.
"Sampai ketemu di jam istirahat Din" katanya dan aku mengangguk tersenyum dan melambaikan tangan dengan senyuman pada Arkan.
Hari pertama kembali ke sekolah diisi dengan upacara bendera. Hari itu matahari nya cukup panas membuatku tidak betah di lapangan. Untung saja yang memberi amanat guru yang tidak suka banyak bicara jadi upacara segera selesai dan aku melewatkan sesi pengumuman karena harus ke air.
Jam pelajaran pertama setelah upacara di isi dengan pelajaran Kimia dan itu membuatku sangat pusing namun untung saja jam pelajaran ke dua gurunya tidak ada.
"Dinta ke kantin yuk?" Ajak Anna seperti berbisik.
"Ayo, ngapain bisik-bisik segala si?" Tanyaku.
"Pengennya kita berdua aja ada yang mau aku tanyain itu, kalo berisik nanti Shanum ikut lagi" kata Anna.
"Yaudah ayo" kataku tanpa basa-basi kami pergi.
"Kemana Din?" Tanya Shanum.
"Toilet" jawabku dan dia mengangguk.
Aku dan Anna berjalan menuju kantin sesampainya disana kami hanya menyantap gorengan saja.
"Mau nanya apa si Ann?" Tanyaku sambil mengunyah gorenganku.
"Jawab gue yang jujur kalo Lo emang anggap gue sahabat Lo" kata Anna.
"Iya emangnya apa si?" Tanyaku.
"Lo suka sama Arkan kan?" Tanyanya langsung membuat aku berhenti mengunyah diam beberapa detik lalu.
"Hahaha apaan si Ann, gak penting banget nanyain hal kek gitu. Nih yah Ann aku anggap Arkan tuh udah kaya ka..."
"Iya atau nggak? Lo masih nganggap gue sahabat Lo kan?" Tanyanya dan aku hanya tersenyum sambil mulai memikirkan apakah aku harus berbicara soal ini ke Anna atau nggak.
"Din?" Anna membuyarkan lamunanku.
"Gue suka Arkan lebih dari sekedar sahabat" jawabku dan Anna langsung memalingkan wajahnya seperti frustasi mendengar pernyataan ku.
"Arkan udah tau?" Tanyanya.
"Mana mungkin Ann" jawabku.
"Sudah gue duga" jawabnya.
"Tapi gue lagi usaha buat netralin semuanya ko Ann Lo tenang aja, gue juga gak mau Arkan sampe tau semua ini, gue juga tau Arkan suka sama Shanum dan gue gak mungkin ngerusak kebahagiaan Arkan gitu aja."
"Kenapa gitu? Itu hak Lo buat suka sama dia. Apa perlu gue yang bilang semuanya ke Arkan?" Tanya Anna.
"Ann, gue gak mau ngerusak persahabatan gue sama Arkan, please jangan perumit hati gue. Gue nggak apa-apa ko selagi Arkan bahagia gue bakalan baik-baik aja walaupun ya itu bohong banget tapi seenggaknya gue mikir jauh bukan cuma mikirin perasaan konyol gue ini" kataku.
Anna menarik panjangnya lalu menghembuskan nya kasar.
"Oke oke, tapi itu bukan perasaan konyol ko Din, dan Lo harus yakin semuanya bakal baik-baik aja. Dan resikonya Lo harus bener-bener siap dengan apapun yang terjadi." Kata Anna.
"Iya Ann. Makasih yah" kataku dan Anna mengangguk.
__ADS_1