Dari Dinta

Dari Dinta
4


__ADS_3

Hari-hari berlalu seperti biasanya, berangkat pagi bersama Arkan, disekolah belajar, jam istirahat ketemu Arkan, pulang bareng Arkan lagi, malamnya sedikit menghafal ditemani Arkan lewat SMS mengobrolkan hal yang tidak perlu, lalu terdengar suara orang tua ku yang bertengkar dan aku langsung menyalakan musik lalu tidur.


Ya seperti itulah aku setiap harinya. Aku sangat bersyukur punya Bi Nani dan Arkan juga Niana yang masih bisa ku ajak bicara walaupun hanya lewat SMS dan Bi Nani hanya sesekali. Aku rasa di rumah aku hanya hidup bersama Bi Nani saja selebihnya itu orang asing yang tidak kenal aku dan seakan dunianya hanya milik mereka berdua saja bersama ego ego tingginya masing-masing.


Malam itu seperti biasanya aku hanya membuka-buka buku pelajaranku sebentar lalu menerima sebuah pesan masuk dari Arkan seketika aku langsung tersenyum membaca isinya.


๐Ÿ“ฉArkanmopq


Makan belum? Makan nasi goreng Bang Udin yuk?


Aku langsung membalas dengan jawaban iya dan segera bersiap-siap dengan jaketku lalu keluar.


"Bi, Dinta keluar dulu sebentar" kataku kepada Bi Nani


"Sama siapa neng?" Tanyanya.


"Arkan Bi"


"Oh iya, jangan pulang malam-malam" kata Bi Nani.


"Iya Bi" jawabku lalu keluar.


Masih pukul 7 malam orangtuaku belum pulang tentunya dan sebelum mereka pulang dan bertengkar aku pikir pergi sekarang adalah pilihan paling baik.


"Din ayooo" kata Arkan dari luar gerbang rumahku.


"Iya bawel" jawabku yang baru saja keluar lalu buru-buru menemuinya.


"Mba Dinta Mas Arkan mau kemana? Dinner yah?" Tanya Pak Anto satpam kompleks yang setiap malam berjaga bersama rekannya.


"Iya nih pak" jawab Arkan.


"Selamat Dinner kalau begitu"


"Selamat bertugas pak" jawabku dia tersenyum begitupun Arkan.


"Duluan pak Anto" kata Arkan.


"Siap mas Arkan hati-hati" katanya dan motor Arkan segera melaju menuju kedai Bang Udin.


"Din mau makan nasi goreng atau yang lain?" Tanya Arkan di motor.


"Gimana kamu aja deh aku" jawabku.


"Selalu aja gitu, ayolah aku nanya ini sekarang giliran kamu yang nentuin"


"Oke, aku malah pengen martabak telor, gimana dong?"


"Ko bisa samaan?"


"Samaan? Sama kamu?"


"Sama kak Rahfa, dia nitip martabak telor juga"


"Yaudah sekalian aja kalau gitu. Tapi kalo emang kamu mau nasi goreng yaudah beli nasi goreng aja dulu"


"Gini aja deh, aku juga mau martabak aja, tapi martabak manis, terus kita makannya di rumah aku aja biar barengan" katanya.


"Boleh" jawabku dengan senang.


"Oke kalau gitu" katanya lalu menambah kecepatan motornya.


Setelah semuanya selesai kami pulang menunju rumahnya Arkan, di tanganku sudah ada 4 martabak, 2 martabak telor dan 2 martabak manis. Kami hampir sampai kemudian bertemu kembali dengan pak Anto lalu Arkan berhenti.


"Eh udah pulang lagi ini yang dinner" kata pak Anto.

__ADS_1


"Hehe iya nih pak. Din yang manis kasih aja ke pak Anto satu" katanya dan aku langsung memberikannya.


"Wah? Ini buat saya?"


"Iya pak biar semangat jaganya." Kata Arkan.


"Jangan malah jadi ngantuk karena kenyang yah pak Anto" kataku.


"Siap mba Dinta. Terimakasih ini mas Arkan mba Dinta."


"Sama-sama pak, duluan yah"


"Iya iya mas Arkan" kata pak Anto dan kami cepat melaju kembali.


Kami sampai dan aku langsung ikut masuk ke rumah Arkan. Aku memang kenal baik dengan ibu ayah dan kakaknya Arkan tapi ya tidak sedekat itu walaupun aku tau ibu Arkan sangat baik sekali.


"Om, Tante, kak" sapaku saat masuk karena kulihat semuanya sedang mengumpul.


"Eh ada Dinta, sini sini" kata Kak Rahfa dan aku duduk di sampingnya.


"Oh perginya sama Dinta" kata Ayahnya.


"Iya Yah" jawab Arkan sambil ikut duduk di sampingku.


"Bukannya makan nasi goreng to kalian?" Tanya Ibunya.


"Gak jadi Tante Arkan pengen martabak" jawabku.


"Gak kebalik?" Tanya Arkan dan aku hanya memelototi nya.


"Yasudah sebentar Bubu ngambil dulu piring dan minum" katanya dan pergi lalu kembali.


"Kak Rahfa itu punya Kakak, ini punya Dinta" kata Arkan mengatur.


"Astaga kau, sudah satuin aja" kata kak Rahfa.


"Yaudah iya. Ayah kita berdua saja ini yang manis, biarkan cewek-cewek makan yang asin" kata Arkan.


"Setuju, cewek-cewek kan sudah manis jadi tidak perlu makan asin" kata ayah Arkan


"Terimakasih, Dinta memang manis ko om" kataku yang membuat Arkan tersenyum saat itu.


"Kakak juga ko Yah"


"Iya Bubu juga manis sekali" kata Ibunya Arkan yang datang dengan air minum dan piring. membuat semuanya tertawaan pelan.


"Iya dimata ayah Bubu paling manis" kata ayahnya Arkan.


"Gombal teruuusss" kata Arkan.


"Ngiri saja kau Ar" jawabnya dan aku hanya tersenyum lalu tiba-tiba terasa sesak saja dadaku saat itu melihat keharmonisan keluarga Arkan.


Sudah hampir pukul sembilan, obrolan kami sudah ke barat, timur, selatan dan Utara sudah seperti mengelilingi dunia.


"Aku mau pulang, tapi gak enak pamitnya, kamu yang bilangin dong" bisikku ke Arkan.


"Kamu aja yang bilang kan kamu yang mau pulang" jawab Arkan dan aku mengkerlingkan mataku kesal.


"Eh Tante, om, kak Rahfa, Dinta mau pamit pulang yah, udah mau jam 9" pamitku.


"Baru mau to Din belum pas" kata ibunya.


"Hehehe mamah gak tau Dinta keluar tadi belum pulang terus harus nugas juga"


"Padahal sini bawa tugasnya ajarin Arkan sekalian dia malas begitu" kata ayahnya.

__ADS_1


"Weyyy Ayah, jangan salah, Dinta sama Arkan masih pinteran Arkan kemana-mana kali. Ding dong mah di bawah Arkan" jawab Arkan sombong.


Plaaakk!


Aku memukul punggungnya.


"Gak usah sombong" kataku dan Kak Rahfa tertawa.


"Yaudah Tante, Om, kak Rahfa pulang yah Dinta"


"Oke Dinta, sering-sering maen sini kan deket" kata Kak Rahfa.


"Siap Kak" jawabku.


"Bu Arkan anterin dulu Dinta" dan Ibunya mengangguk.


Aku langsung pergi setelah bersalaman kepada semuanya diikuti Arkan.


"Wey tungguin" katanya di belakangku.


"Mau kemana?" Tanyaku.


"Nganterin kamu"


"Yaelah deket kali Ar gak usah ih, cuma beberapa meter" jawabku.


"Udah gakpp, ayo" katanya dan merangkul bahuku sambil terus berjalan.


Aku hanya tersenyum dengan detak jantung tidak normal. Sejak malam itu aku yang memutusakan untuk jatuh cinta dengan Arkan rasanya semua perlukan Arkan yang biasa di lakukan terasa istimewa saat itu. Rasanya benar-benar berbeda padahal Arkan memang bertingkah seperti biasa, merangkul seperti itu memang hal biasa yang dia lakukan dan sebelumnya jantungku tidak berdetak sekencang ini.


"Yaudah sana masuk" katanya setelah sampai didepan rumahku.


"Iya. Kamu gak takut kan jalan kesana sendiri"


"Nggak lah masa takut emangnya kamu"


"Lah? Ko aku? Nggak aku gak takut"


"Iya iya Dinta iya, udah sana masuk"


"Yaudah" kataku dan masuk.


"Din?" Panggilnya.


"Hemh?" Tanyaku.


"Kalau seandainya om sama Tante berantem lagi jangan terlalu dipikirin yah" katanya dan aku hanya mengangguk seperti terhipnotis dengan tatapan Arkan yang teduh menatapku. "Sampai jumpa besok pagi" katanya tersenyum, melambaikan tangannya lalu berjalan pergi sedangkan aku masih mematung dengan senyuman lalu segera masuk kedalam rumah.


Sebelum masuk ku lihat ada dua mobil di garasi.


Mobil siapa. Batin ku


Sampai ke dalam ada ayah yang sedang bersantai depan tv.


"Darimana Din?" Tanyanya.


"Dari rumah Arkan"


"Ngapain?" Tanyanya.


"Mamah mana?" Tanyaku balik.


"Dikamar"


"Oh iya, Dinta istirahat dulu" jawabku dan pergi ke kamar.

__ADS_1


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


__ADS_2