
"udah lah, Ayah gak usah berbelit pake alasan basi kek gitu mamah tau sendiri, mamah udah liat pake mata kepala mamah sendiri"
"Mamah yang terlalu lebay, Ayah udah jelasin semuanya tapi mamah tetep gak percaya"
"Bagaimana mamah mau percaya kalau ayah terus bertingkah seperti itu kalau ayah gak...."
Well you done done me and you bet I felt it
I tried to be chill but you're so hot I melted
I fell right through the cracks
And now I'm trying to get back
Before the cool done run out
I'll be giving it my best-est
And nothing's going to stop me but divine intervention.
Lagu Jason Mraz dengan judul i'm Yours masuk menyeruak telingaku. Aku benar-benar tidak mau mendengar lontaran kata-kata dengan frekuensi nada tinggi. Aku sudah bosan dengan semua itu.
Nada-nada tinggi itu sudah benar-benar sering ku dengar selama 3 tahun terakhir saat itu dan di bulan-bulan itu orangtuaku benar-benar menjadikan perdebatan dan pertentangan seperti sebuah hobi dan keharusan karena tidak tertinggal satu hari pun saat mereka bertemu di rumah pasti akan perang adu mulut tanpa henti.
Rasanya aku ingin kabur saja dari rumah ingin pergi kemana saja yang jauh dari mereka yang terus berdebat seperti itu.
Laguku sudah habis ku putar, diluar sedang gerimis rupanya, aku bisa melihatnya dari kaca jendela kamarku. Perdebatan sudah tidak terdengar lagi tapi seperti biasa ku lihat mobil ayah tidak ada. Memang seperti itulah setelah mereda satu orang akan hilang, mereka menghilang sendiri di telan egonya sendiri.
Aku keluar kamar dengan sweater kuningku untuk memakan apa saja yang bisa ku makan, sore tadi aku tidak jadi makan bakso karena kesal kepada Arkan yang berbelit tidak mau jujur kepadaku. Kalau di pikir sekarang saat itu aku tidak seharusnya seperti itu karena Arkan juga hanya sahabatku tapi percayalah aku tidak suka dengan sikap Arkan seperti itu karena aku pikir Arkan harusnya jujur padaku karena kami bersahabat sudah lama, harusnya dia percaya padaku dan bisa mengatakan semuanya. Begitulah pemikiran ku saat itu.
Setelah aku memakan roti bakar yang ku pinta dari Bi Nani aku keluar dengan payungku tanpa tau arah tujuan.
Aku berjalan dengan fikiran yang berfikir jauh ke depan. Berfikir bagaimana masa depan keluarga ku nanti sedangkan sekarang saja ayah dan mamah selalu saja bertengkar karena hal yang tidak wajar.
Aku terus berjalan dan sampai dipertigaan jalan yang keluar dari jalur komplek rumahku. Aku jadi pusing sendiri saat itu tidak tau harus kemana dengan penuh kesadaran aku langsung jongkok dan menundukkan kepalaku diatas lipatan kedua tanganku lalu menangis.
Mungkin sekitar 5 menit bahkan lebih aku menangis dengan posisi seperti itu. Sampai akhirnya kaki dan punggungku lumayan pegal lalu memutuskan untuk berdiri dan tiba-tiba satu orang dengan sweater kuningnya juga berdiri dihadapanku.
"Aaaaaaaaaaaaaaa" aku berteriak sekencang mungkin lalu dengan cepat pemilik tangan itu membekam mulutku.
"Astaga Dinta berisik, ini malem" katanya. Itu Arkan.
"Arkan" kataku dengan nafas ngos-ngosan.
__ADS_1
"Iya ini aku, Arkan. Gak usah alay sampe histeris gitu liat aku. kan udah biasa liat tiap hari juga." Katanya jail.
"Fiks kita musuhan!" Kataku lalu pergi sambil merebut payungku yang sempat dia pegang karena ku biarkan payungku tergeletak saat aku mulai menangis lagian hujan sudah reda sebenarnya waktu itu.
"Yaelah Din hey, tunggu" katanya dibelakangku dia sepertinya berjalan setengah berlari karena tidak lama dia sudah berjalan sejajar denganku.
"Aaaahhh cape Din pelan-pelan dong jalannya" katanya.
"Lemah" komentarku.
"Ih Dinta, masih marah? Hemh? Hemh?" Tanyanya sambil kini dia berjalan mundur "maafin ih kan tadi juga aku mau jelasin tapi kamunya maen pergi aja"
Abisnya Lo berbelit ngomongnya. Batin ku.
"Dintaaaa maafin yah, ayo dong, atau kamu dengerin penjelasan aku semuanya sekarang yah? yah? yah?" Tanyanya.
"Gak perlu" jawabku.
"Ish terus aku harus gimana? Iya tau kamu marah sama aku gara-gara aku gk jujur padahal gak seharusnya aku nyembunyiin masalah sepele kek gitu dari kamu." Katanya dan aku berhenti sedangkan dia masih berjalan mundur lalu berjalan maju karena melihatku berhenti. "Di maafin?" Tanyanya langsung.
"Jadi tadi kenapa izin segala?" Tanyaku ketus sambil mulai jalan kembali dan dia berjalan mundur kembali.
"Aku bantuin beresin masalah Nano sama Vino, mereka tuh bertengkar rebutan cewek gitu, sampe mau adu jotos kata si Nandan, aku tau mereka gak satu sekolah lagi sama aku tapi mereka juga masih temen aku. Aku di chat Nandan tiba-tiba dengan katanya si Vino bawa-bawa piso, aku panik juga tadi makanya aku langsung kesana dan ternyata mereka baik-baik aja cuma yang emang musuhan nah aku bantuin selesaiin. Udah cuma gitu emang si Nandan aja yang bikin dramatis." Jelasnya. Vino Nano dan Nandan itu adalah teman SMP Arkan yang sama-sama pernah di skors karena katauan merokok di toilet.
"Oke doang?"
"Terus?" Tanyaku merasa lucu dengan tingkah Arkan saat itu.
"Nggak. Jadi di maafin kan?" Tanyanya dan aku berhenti berjalan dia juga.
"Iya" jawabku.
"Yeeeeeee makasih Ding dong, aku tuh gak bisa di cuekin kamu ding dong" Katanya sambil berpindah posisi ke sampingku dan menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Ah berat-berat awas, alay lagi " kataku.
"Hahaha udah balik lagi nih kayanya ke Ding dong yang biasanya. Kenapa jadi samaan yah kita pake baju" katanya. Iya kita pakai sweater yang sama.
"Kebetulan" jawabku.
"Kek nya udah mulai kekecilan deh sweater kamu, padahal satahun juga belum yah" katanya.
"Gak tau, padahal berat badan aku gak nambah ko" jawabku.
__ADS_1
"Jadi salah baju?" Tanyanya
"Iya lah" jawabku lagi.
Sebenarnya sweater itu adalah hadiah ulangtahun dari Arkan tahun lalu, harganya gak seberapa tapi itu dia nyisipin dari uang jajan dan sisa rokok katanya khusus buat beli 2 sweater biar samaan katanya.
"Harganya gak seberapa memang Din tapi penuh perjuangan ini belinya, aku bisa aja minta ke Bubu dan yakin bakalan dikasih tapi kalau minta dari ortu kesannya beda. Jadi aku minta maaf deh kadonya cuma itu." Katanya saat itu membuatku terharu jadinya walaupun saat itu perasaan ku belum sejauh sekarang.
Warna sweater nya kuning, warna yang aku benci dan dia malah pilih warna itu buat aku pake. Katanya sengaja biar gak ada hal yang aku benci.
"Dasar cewek. Okelah, eh Btw, kamu nangis Din? Ada apa?" Tanyanya.
"Nggak, siapa yang nangis"
"maksudnya Tadi bukan sekarang"
"Iya tadi juga siapa yang nangis nggak ah"
"Nah sekarang kamu yang nyembunyiin masalah dari aku, gak nangis gimana orang aku berdiri didepan kamu sejak pertama kamu jongkok juga tadi." Katanya lagi.
"Tapi gak ada masalah, serius." Jawabku.
"ya terus kenapa nangis? Gara-gara apa? Om sama tante berantem lagi?" Tanyanya pelan.
Arkan tau ayah dan mamah yang selalu berantem sejak dulu tapi mungkin saat aku dulu sering cerita kejadiannya belum se parah sekarang-sekarang.
"Selalu" jawabku dengan senyum pahit.
Dia merangkul punggungku dengan tangan kekarnya lalu telapak tangannya mengusap-usap ujung pundak ku.
"Mungkin memang sedang ada masalah saja. Jangan terlalu di pikirkan. Mungkin dalam rumah tangga memang seperti itu. Bubu sama ayah juga suka ko berantem tapi pasti baikan lagi. Om sama Tante juga gitu pasti mereka baikan lagi nanti" katanya seperti memberi ketenangan kepada anak kecil yang kehilangan permennya.
Mendengar itu dari Arkan saat itu aku hanya diam dengan air mata yang mulai turun kembali seperti merasa iri saja pada siapapun yang mempunyai orangtua yang akur.
"Hemh? Nangis lagi?" Tanyanya dan aku hanya terisak. "Udah dong Din" katanya sambil terus mengusap punggungku.
"Aku kesel aja sama mereka kenapa harus selalu berantem" kataku tidak terlalu jelas mungkin terdengarnya Karena aku berbicara di tengah Isak tangisku.
"Iya iya aku ngerti, udah gakpp ko" katanya lagi lalu memelukku. Entah apa yang ada dipikiran ku saat itu tapi yang pasti saat dia memelukku aku malah semakin kencang menangis bukan malah tenang dan dia hanya benar-benar memelukku saja saat itu tanpa berkata apapun lagi.
Saat itu aku sadar, bahwa selama ini Arkan memang selalu ada untukku, aku merasa khawatir padanya setiap kali ada hal yang tidak baik begitupun sebaliknya, Arkan yang selalu perhatian, Arkan yang menurutku sempurna semuanya sudah aku rasakan dan dia tunjukan padaku sejak dulu. Sudah ku akui sejak dulu aku menyayanginya sebagai sahabatku walaupun kadang aku bingung karena aku merasa tidak suka jika ada wanita yang dekat dengannya selain aku dan malam itu akhirnya aku mengakui semuanya karena sudah mengerti dan tau rasa lebih dari sekedar sayang sebagai sahabat.
Malam itu di bulan Februari didepan gerbang rumahku dan di pelukan Arkan aku memutuskan untuk melabuhkan hatiku padanya mengakui bahwa selama ini perasaan itu adalah Cinta yang sesungguhnya walaupun aku tau mungkin tidak akan berbalas tapi aku tetap memutuskan untuk mulai jatuh cinta pada sahabatku sendiri Arkan Mahendra.
__ADS_1
🍁🍁🍁