
Sore itu aku pulang di jemput Bang Deris yang sengaja pulang dan langsung menjemputku tanpa memberi tahu dulu aku dari sebelumnya. Katanya Surprise biar aku terkesan.
"Akhirnyaaaa sampe juga" oceh Bang Deris setelah sampai di rumah dan duduk di kursi.
"Mau minum apa?" Tanyaku.
"Orange jus please mbak" katanya dengan senyuman.
"Ish" kesalku lalu pergi dan kembali dengan dua gelas jus jeruk.
"Makasih mbak" katanya.
"Sampe jam berapa ke Jakarta?" Tanyaku.
"Jam 3. Satu jam Abang nungguin kamu di gerbang" katanya.
"Ya suruh siapa gak ngabarin" jawabku.
"Kan surprise" jawabnya.
"Oleh-oleh?" Tanyaku
"Halah oleh-oleh apaan. Gak ada. Besok aja kita main" katanya dan aku langsung tersenyum
"Setuju" seruku heboh dan dia tersenyum
"Yaudah Abang mau mandi dulu, ganti baju dan istirahat. Capek" katanya
"Oke, Selamat istirahat Abangku besok kita main yah" kataku dengan nada suara yang di buat manis.
"Hish Geli Abang liatnya" katanya lalu segera pergi ke kamarnya begitupun aku yang masuk kamar.
Aku menyimpan tasku lalu mengambil handphone yang ku biarkan dari tadi.
Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Arkan dan Niana kemudian sisanya pesan dari keduanya juga Shanum yang menanyakan kemana aku? Kenapa tidak kembali ke lapangan? Dan apa yang terjadi. Ku jawab saja bahwa aku tidak enak badan dan pulang lebih dulu karena Bang Deris juga menjemputku ke sekolah. Ku kirim alasan itu untuk semua yang menayakanku lalu aku kembali mengingat kejadian tadi dan air mataku kembali turun.
"Oh tuhaaaaaan apa ini? Kenapa rasanya sakit sekali?" Ucapku di tengah isak tangisku.
Ku biarkan air mata itu mengalir sekarang tidak peduli seberapa lebaynya aku saat itu tapi aku benar-benar sakit hati, rasanya benar-benar seperti di cabik-cabik. Ya itulah kenyataannya saat itu.
Setelah puas menangis karena merasa semuanya sia-sia saja, aku mengambil handukku untuk mandi.
Sekitar pukul 7 malam aku keluar kamar karena mendapat teriakan dari Bang Deris.
"Apa si bang?" Kataku
"Makan cepet" katanya sudah duduk duluan.
"Iya, gak usah teriak-teriak juga dong" kataku.
"Ya abisnya budeg. Ayo buruan makan" katanya dan kulihat Bi Nani hanya tersenyum sambil menyiapkan makanan di meja makan.
__ADS_1
"Mamah jam berapa pulang nya?" tanya Bang Deris.
"Pukul 8 paling malem, kalau normalnya bentar lagi juga pulang" jawabku dan Bang Deris hanya mengangguk.
Benar saja tidak lama keduanya pulang masing-masing. Iya masing-masing keduanya memang punya mobil masing-masing.
"Mah Yah" Sapa Bang Deris kemudian keduanya duduk dan mengambil piring untuk makan bareng.
"Kapan sampe Bang?" Tanya Ayah
"Tadi sore Yah" jawabnya.
"Tumben pulang? Ada apa?" Tanya ibuku yang membuatku berhenti mengunyah.
"Pertanyaan macam apa si itu? Salah anaknya balik ke rumah?" Tanyaku dan Bang Deris langsung memelototi ku.
"Rindu Dinta aja" jawab Bang Deris cepat.
"Bukan gitu maksud mamah Dinta" jawab ibuku dan aku acuh saja.
"Bagaimana kuliah mu?" Tanya Ayah
"Lancar Yah on proses pengen cumlaude." Jawab Bang Deris yang membuatku ikut tersenyum.
"Semangaaaaaat" pekikku dan Bang Deris mengangguk dengan senyumannya.
"Syukurlah. Kalo kamu sampe bisa capai itu Ayah kasih hadiah deh" kata Ayah
"Ayah kalo Dinta?"
"Kalo kamu masuk 5 besar ayah kasih hadiah juga" kata ayah.
"Ko 5 sih 10 lah Yah 10" kataku dan ayah menggoyangkan jari telunjuk nya dan aku tidak jadi tersenyum. Membuat semuanya tersenyum termasuk ibuku yang biasanya jarang tersenyum dan hanya fokus pada kerjaannya.
"Mamah mau ngasih hadiah apa ke Deris?" Tanya Bang Deris.
"Intinya ada. Syaratnya sama kaya apa yang di katakan ayah kalian" jawab ibuku dengan senyuman seperti baru saja sadar dan merasakan bahwa bercengkrama dengan keluarga itu hangat dan menyenangkan.
"Setuju" kata Bang Deris dan aku ikut tersenyum lalu kami melanjutkan makan.
Pukul 9 malam aku masih di depan tv bersama Bang Deris tidur di paha Bang Deris yang fokus pada handphonenya.
"Bang Deris punya pacar?" Tanyaku tiba-tiba
"Nggk" jawabanya.
"Massa?" Tanyaku dengan nada tidak percaya.
"Serius dek. Abang emang gak punya pacar. Boro-boro mikirin pacar tugas kuliah aja bikin kurus gini" jawabanya.
"Kalo orang yang spesial? Punya?" Tanyaku lagi
__ADS_1
"Punya. Kamu ayah mamah" jawabnya
"Ish" gerutuku sambil menatapnya sinis.
"Hahaha iya Abang ngerti maksudnya. Iya punya" jawabnya ulang.
"Cewek itu tau Abang punya perasaan?" Tanyaku lagi.
"Entahlah, orangnya susah di tebak dia baik ke semua orang jadi ya gitu susah. Tapi Abang fikir beberapa perasaan memang harus di sembunyikan bukan karena kita takut mengakuinya tapi seperti menguji adrenalin diri sendiri aja, ujian meminimalisir rasa saat kita dan dia seperti tidak memiliki rasa cinta namun hati berkata iya." Jawabnya membuat aku puas dengan jawabannya.
"Udah kek Kahlil Gibran gitu" kataku dan dia hanya tersenyum saja.
"Btw ngapain nanya gitu?" Tanyanya.
"Ya nanya aja lah, masa gak boleh" kataku.
"Terus? Kamu punya pacar?" Tanyanya balik dan aku menggelengkan kepala "punya orang spesial?" Tanyanya lagi dan aku tahu harus menggeleng lagi atau mengangguk.
"Ah gak boleh dulu pacaran masih kecil. Aku tidur duluan yah kan besok mau main" kataku langsung bangun dari bantal pahanya itu dan pergi ke kamar.
Aku memutuskan untuk tidur saja malam itu walaupun bayangan Arkan dan Shanum saat itu masih terus ada di fikiranku dan rasanya semakin sakit saja.
Dredddd. Satu pesan masuk
📩Arkanmopq
Din?
Iya?
📩Arkanmopq
Besok ada acara?
Ada. Mau jalan sama Bang Deris kenapa?
📩Arkanmopq
Oh iya. Tadinya mau ngajakin kamu jalan si. Tapi yaudah kalo kamu mau jalan sama Bang Deris lagian kan Bang Deris jarang ada di rumah.
Iya. Kamu ajak Shanum aja. Biar ada temennya.
📩Arkanmopq
Iya. Gimana besok aja. Yaudah cepetan tidur Ding Dong. Udah malem. Good night have a nice dream:)
Aku tersenyum samar karena bagaimanapun Arkan masih manis seperti biasanya.
Kamu juga:)
"Oh God ku mohon berbaiklah pada hatiku" ucapku sendiri menyimpan handphone dan kemudian tidur.
__ADS_1
🍃🍃🍃