Dari Dinta

Dari Dinta
11


__ADS_3

Hari itu hari pertama Arkan di skors. Pagi itu juga seperti biasanya orangtuaku masih selalu bertengkar di setiap ada kesempatan. Dengan buru-buru aku segera berangkat dan siap menelpon tukang ojeg langganan Bi Nani untuk mengantarku ke sekolah karena Arkan tentu saja tidak akan kesekolah.


Aku sampai didepan gerbang rumah kulihat Arkan sudah ada dengan motornya dan sedang bersiul sambil menengadah ke langit pagi yang biru cerah lalu segera menyadari bahwa aku sudah ada di sampingnya.


"Lama amat, ngapain dulu si?" Tanyanya sambil melihat jam tangannya.


Aku melihatnya dari bawah ke atas, dari atas ke bawah karena dia berseragam lengkap bahkan lengkap dengan tasnya.


"Hey,Β malah bengong, udah ayo. Nanti telat lagi" katanya lagi.


"Ko? Mau sekolah?" Tanyaku heran.


"Ya Enggak, kan di skors." Jawabnya.


"Terus ini?" Tunjukku pada seragamnya.


"Ya masa aku harus bilang ke Bubu atau ke ayah, atau ke Kak Rahfa si aku di skors Din? Bisa di goreng matang aku" jawabnya.


"Kamu gak bilang?" Tanyaku lagi.


"Udah kek pembeli deh banyak nanya. Udah ayo buruan udah siang gerbang ditutup tau rasa" katanya dan menghidupkan motornya lalu aku naik.


Sampai didepan gerbang banyak orang yang melihat ke arah kami. Tapi kami tidak memperdulikan semuanya. Aku langsung saja turun.


"Berapa bang?" Tanyaku sambil berlaga mengeluarkan uang dari saku.


"Buat neng cantik mah enggak apa-apa Abang kasih gratis, tapi nanti malem nginep di rumah Abang yah" jawabnya membuatku spontan meninju pelan lengannya.


"Tukang ojeg mesum, Abang tuh bisa saya laporin ke polisi dan di jerat pasal 338 tentang pelecehan seksual." Kataku sambil menahan tawa mengingat kejadian ditempat nasi goreng.


"Hahaha neng itu pasal pembunuhan bukan pelecehan seksual. Neng sekolah yang bener dong jangan cuma malah di tampar orang" katanya dengan senyumannya.


"Arkan udah ah, aku mau masuk" kataku.


"Hahaha yaudah salam dulu ke bapak" katanya sambil mengacungkan lengan dan bertingkah tegap seperti bapak yang mengantar anak ke sekolahnya.


Aku tersenyum lalu menerima tangannya dan bersalaman.


"Bapak hati-hati yah dijalan" kataku.

__ADS_1


"Iya nak, belajar yang bener nak, jangan jadi anak yang tidak membanggakan please" katanya.


"Euuuuhhh bapak apaan kek gini" kataku kesal dan Arkan hanya tertawa.


"Aku jemput ko nanti Din" katanya lagi.


"Iya, yaudah aku masuk yah, kamu jangan kemana-mana"


"Nongkrong" jawabnya langsung.


"Asal jangan bikin ulah aja" jawabku.


"Daaaah" katanya dan aku membalasnya lalu segera masuk dan dia pun pergi.


🍁🍁🍁


Tiga hari sudah berlalu, selama itu juga Arkan tetap mengantar dan menjemputku sekolah dan yang orangtuanya tau dia sekolah seperti biasanya. Sepanjang aku sekolah dia hanya pergi ke warnet atau nongkrong saja lalu menjemputku dan pulang kembali bersamaku di jam normal pulang sekolah.


Hari ke-2 Arkan di skors sekolah menentukan keputusan untuk Andi yang di biarkan untuk direhabilitasi terlebih dahulu setelah kesepakatannya dengan orang tua Andi juga.


Hari ke tiga Arkan di skors Andi juga meminta maaf kepadaku dengan tulus. Dia sengaja datang ke kelas ku untuk berbicara denganku. Dan dengan senang hati juga setulus hati aku memaafkannya dan dia berterima kasih atas maaf yang kuberikan padanya.


Sore itu setelah pulang sekolah tepatnya hari Sabtu tanggal 28 Februari 2009 aku pulang bersama Arkan seperti biasanya dan ditengah jalan hujan turun dengan derasnya.


"Iya" jawabku dari belakang padahal seragam aku dan dia sudah basah, tapi memang sayang sama buku di tas.


Saat itu aku dan dia berhenti di emperan sebuah toko mainan juga pernak pernik yang ada dipinggir jalan.


"Udah basah juga si yah ini padahal tanggung" katanya setelah berteduh.


"Buku nih dalem tas sayang ah kalo kebasahan" jawabku.


"Iya juga si yah" katanya sambil melihatku.


"Iya" jawabku sambil mengangguk dan badanku mulai kedinginan saat itu.


"Dingin yah? Gimana dong? Aku gak bawa jaket lagi" katanya.


"Gakpp lah" jawabku.

__ADS_1


"Bentar" katanya sambil menyebrang jalan padahal hujan sedang deras sekali.


"Hey mau kemana?" Teriakku.


Cukup lama aku menunggu sampai akhirnya kulihat dia membawa dua kantong teh, teh hangat sepertinya.


"Nih" katanya menyodorkannya padaku "lumayan daripada dingin banget" katanya lagi.


"Thanks" jawabku dan mulai meminumnya.


Cukup lama aku terjebak disana bersama Arkan. Saat itu sudah sangat kesal, mau tetap nerobos hujan apa kabar dengan buku-buku ku, Arkan juga tidak bawa jas hujan lagi.


"Ini udah jam 4 lebih lho Ar tapi kita masih disini mana pegel udah lumayan lama berdiri terus kek gini" gerutuku tapi dia hanya diam dan menepuk-nepuk punggungku sebagai isyarat menyuruhku untuk sabar.


Kulihat ke belakang ada dua bapak-bapak yang sama-sama berteduh disana namun tak lama kemudian bapak-bapak itu berdiri. Aku langsung menarik tangan Arkan untuk duduk ditempat yang sudah ditinggalkan bapak-bapak yang memilih untuk menerobos hujan sepertinya.


"Nah kan kalo gini enak. Kalo tetep mau ujan-ujanan mah dari tadi aja sono pak pergi" kataku berbicara sendiri.


"Yeeeeeeeh ini bocah ya suka-suka si bapak-bapak itu kali" katanya sambil tersenyum.


"Enak kan kalo duduk gini" kataku


Hujan masih seperti senang untuk turun, mataku juga mulai bosan melihat hujan, topik pembicaraan pun sudah habis aku perbincangkan dengan Arkan, aku mulai memejamkan mataku dan selebihnya aku tidak ingat.


"Din hey" suara itu samar-samar kudengar dan tangan dingin menempel dipipiku beberapa kali. "Kebo banget si, Din, mau nginep disini apa gimana? Ayo pulang hujan juga udah reda" lanjutnya lagi dan aku langsung membuka mataku dan tersadar posisiku ada di bahu Arkan saat ini. Dengan cepat aku bangun.


"Jam berapa ini?" Tanyaku tiba-tiba sambil melihat hujan yang sudah berhenti.


"Udah jam 5 lewat" jawabnya.


"Yaudah ayo pulang" kataku berdiri dan kemudian duduk lagi karena pusing.


"Ffffffttttt, Dinta Dinta udah duduk dulu aja 5 menit pulihin dulu kesadaran kamu" katanya dan lima menit berlalu kesadaranku sudah benar-benar terkumpul.


"Ayo Ar pulang ah" ajakku.


"Iya ayo. Udah sadar full kan?" Tanyanya dan aku mengangguk lalu Arkan segera menghampiri motornya lalu kami pulang.


Sesampainya dirumah aku cepat mandi dan saat melihat ke cermin rupanya ada jepit rambut kecil dengan kepala panda yang kecil di ujungnya ada di kepalaku menjepit rambutku yang biasa terurai ke samping bahkan kadang ke depan.

__ADS_1


"Ini dari Arkan?" Tanyaku pada bayangan diriku sendiri di cermin. Lalu aku tersenyum senang dan kemudian mandi dengan suasana hati yang baik tentunya.


🍁🍁🍁


__ADS_2