Dari Dinta

Dari Dinta
27


__ADS_3

Paginya kami semua sudah siap untuk kembali ke Jakarta, aku kurang senang karena harus meninggalkan Bandung yang sejuk sekali. Aku segera memasukan barang-barang ku yang tidak terlalu banyak ke dalam bagasi di bantu Arkan di sampingku yang merapikannya.


Setelah semuanya selesai kami segera pergi setelah mengucapkan salam perpisahan ke Mang Ujang. Aku selalu melihat ke belakang saat di dalam mobil karena rasanya enggan sekali pergi.


"Udah, nanti kita ke Bandung lagi" kata Arkan


"Iya"jawabku. Dan Arkan hanya tersenyum.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh akhirnya aku sampai dan segera masuk ke rumah setelah berpamitan dengan Keluarga Arkan dan tak lupa mengucapkan terimakasih atas kebahagiaan yang luar biasa yang saat itu ku rasa.


Aku masuk dan sudah ada ibuku yang duduk di kursi memandangiku. Aku sedikit terkejut tapi berusaha tidak terlihat dan menampilkan wajah datar saja.


"Tumben mamah ada dirumah" ucapku


"Dinta, kamu dari mana?" Tanyanya.


"Rumah Anna" jawabku singkat.


"Mamah tau kamu dari Bandung" jawabnya


"Syukurlah jadi Dinta gak perlu repot-repot ngebohong"jawabku


"Dinta, mamah udah bilang kan kamu gak boleh ikut"


"Iya Dinta tau, tapi ayah ngizinin" jawabku.


"Kamu ini mulai gak nurut yah sama mamah, mamah bilang gak boleh kenapa tetep pergi?" Tanyanya dengan marah.


"Mah? Apa salahnya si Dinta pergi? Cuma 2 malem dan sama Keluarga Arkan yang jelas-jelas baik. Dinta juga butuh hiburan Mah" jawabku.


"Tapi itu bikin malu mamah, kenapa kamu harus ikut keluarga orang buat liburan?" Tanyanya.


"Lah? Kenapa nanya Dinta? Tanya dong diri mamah sendiri. Mamah pernah punya waktu gak buat Dinta? Ya wajar aja Dinta sama keluarga orang karena keluarga Dinta sendiri emang gak pernah punya waktu, fakta kan itu?" Tanyaku dengan emosi.


"Tapi Mama kan sibuk nak, Mama harus kerja itu juga buat kamu bukan buat orang lain"


"Sibuk tuh tergantung kitanya mah, kalau Mama terus-terusan bikin diri Mama sendiri sibuk sampe masuk liang lahat juga terus aja sibuk."


"Dinta..."


"Udah cukup Ma, Dinta cape, mau istirahat. Mama kenapa gak ngantor aja? Dinta gak biasa ada yang peduli gini, Risih!" Ucapku lalu pergi ke kamar.


"Hahhhhhhhhhh" aku menghembuskan nafas beratku seiring dengan tubuhku yang ku jatuhkan dengan sengaja ke atas kasur.


Dreeeddd


📩Kevin


Udah sampe Jakarta?


Udah baru aja


📩Kevin


Yaudah selamat istirahat


Iya


Aku segera menyambar Handukku lalu mandi dan berganti pakaian dan tidur terlelap.


Aku membuka mataku perlahan dan kulihat sudah hampir malam cukup lama aku tidur kulihat handphoneku yang terdapat beberapa pesan masuk di dalamnya.


📩Arkanmopq


Ding dong


Kamu tidur yak?


Hey?


Din


Mau ikut gak?


Semoga kamu bangun sebelum jam 7 malem kalau lewat jam itu kamu bakalan gak ikut.

__ADS_1


Telpon atau balas aku kalau udah bangun Ding dong.


Aku segera mengetik sesuatu untuk membalas pesan Arkan.


Sorry, aku tidur. Ikut kemana?


📩 Arkanmopq


Ketemu Shanum, aku mau ngasih oleh-oleh nih


Aku langsung gak mood membacanya.


Oh. Gak ikut aku ada acara.


📩 Arkanmopq


Kemana?


Aku berfikir sebentar, memikirkan jawaban yang pas untuk membalas pesan Arkan.


Jalan sama Kevin.


Itu balasanku entah setan apa yang merasuki fikiranku sampai aku berani membalas itu kepada Arkan.


📩 Arkanmopq


Oh. Have fun yah


Iya.


"Heuuuuhhh. Ini makhluk emang gak pernah punya perasaan" gerutuku.


Aku membuka pesan-pesan yang lain ada dari Anna yang menanyakan kabarku dan ku balas sesuai dengan keadaanku yang baik-baik aja.


Kemudian ada pesan dari Kevin.


📩Kevin


Hallo Dinta.


Hai :)


📩Kevin


Gak lagi apa-apa. Kamu?


📩Kevin


Sama aja si. Eh Dinta jalan yuk?


Aku jadi langsung berfikir untuk menerima tawaran Kevin aku hanya menatap pesannya saja bertanya beberapa kali pada diriku sendiri untuk pergi atau tidak karena aku malah jadi kesal pada Arkan yang malam ini akan bertemu Shanum.


📩Kevin


Eh itupun kalau kamu mau dan gak cape


Ayo. Tapi jemput aku gakpp?


📩Kevin


Boleh. Alamat kamu kirimin aja


Oke. Bentar


Aku segera mengirim alamat rumahku. Dan selang 20 menit Kevin sudah mengabariku dia ada didepan rumah dengan alamat yang kuberi aku segera keluar kamar.


Ada ayah dan ibuku yang sedang duduk dengan handphonenya masing-masing.


"Mau kemana?" Tanya ayah.


"Keluar sebentar Yah"jawabku.


"Jangan malem-malem Din"


"Iya Ayah" jawabku.

__ADS_1


"Kamu ini main izinin aja. Dia itu anak perempuan harusnya kamu bisa jaga dia larang dia buat keluar malem." Cerocos ibuku.


"Gak usah berlebihan gitu lah Mah, anak kita udah gede dan dia bisa jaga diri" jawab Ayah membuat aku tersenyum lalu segera pergi tak ingin mendengar ocehan ibuku yang lebih panjang lagi. Sudah seperti mencerminkan kepribadian seorang ibu yang peduli anaknya padahal nyatanya nol besar bagiku.


Aku segera keluar dan kudapati Kevin di samping motor gedenya malam itu.


"Hai" sapaku dan dia langsung tersenyum.


"Saya kira saya nyasar" jawabnya


"Nggk ko" jawabku


"Udah siap?" Tanyanya dan aku mengangguk sambil memakai jaketku. "Sorry yah naik motor. Saya gak bawa mobil ayah kesini" lanjutnya sambil memberikanku helm.


"Gakpp, aku suka ko naik motor" jawabku dan dia hanya tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk naik ke atas motor jangkungnya.


Kevin menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Aku hanya diam saja di belakang menikmati angin malam dan membayangkan Arkan yang sedang bercanda bersama Shanum.


"Kita kemana?" Tanya Kevin dari depan


"Kemana aja" jawabku.


"Ko gitu? Kan saya gak tau Jakarta"


"Oh iya yah hehehe maaf" kataku renyah.


"Makan dulu saja yah, saya lapar. Nanti saya traktir" ucapnya


"Oke" jawabku dari belakang dan akhirnya motornya melaju dan berhenti di sebuah restoran.


"Mau pesen apa?" Tanyanya


"Apa yah?" Jawabku malah balik bertanya sambil melihat menunya. "Kamu pesen apa?" Tanyaku.


"Saya pesen makanan berat soalnya lapar" katanya.


"Samain deh, aku juga lapar" jawabku nyengir dan dia hanya terkekeh lalu memesan makanan dengan porsi lengkap.


Kami makan dengan obrolan ringan seputar Bandung yang baru saja ku jamah sedikit.


"Kamu suka Bandung atau Jakarta?" Tanyaku.


"Jakarta. Kamu?" Tanyanya.


"Bandung" jawabku.


"Lah? Kenapa emang sama Jakarta?"


"Bosen aja, pengen sama Bandung" jawabku enteng


"Ada-ada saja" katanya dengan senyumannya yang manis sekali walaupun Arkan punya lebih banyak pesona tapi Kevin juga tampan dimataku.


Makanan kami hampir habis dan punyaku malah sudah habis saat itu diluar hujan entah kenapa malam ini Jakarta hujan seperti sedang merasa puas padaku yang terus memikirkan apa yang di lakukan Shanum dengan Arkan.


Aku dan Kevin sudah mengobrol panjang lebar kesana kemari tapi hujan belum kunjung mereda padahal waktu sudah menunjukan pukul 9 lewat.


"Din udah jam 9 lewat, gimana dong?"tanya kevin


"Apanya?"


"Ko apanya? Kamu pulangnya?" Tanyanya.


"Lah kamu gak akan nganterin aku?" Tanyaku panik.


"Eh kata siapa? Kenapa mikir gitu?"


"Itu kamu nanyanya"


"Ih Dinta" Kevin tersenyum "maksudnya saya kamu pulangnya malem orangtua kamu mungkin aja marah kan kamu pulang lebih dari jam 9" katanya.


"Oooohh, tenang aja kali mau pulang jam 1 malam juga gak akan ada yang marah" jawabku santai. .


"Oh oke" jawab Kevin tanpa ingin tau alasannya tapi baguslah Kevin tidak banyak bertanya karena kalaupun dia bertanya aku tidak akan semudah itu bercerita pada orang baru. "Maaf yah jalannya malah cuma diem di restoran kejebak hujan kek gini" katanya.


"Ih gakpp lagi, aku yang minta maaf malah abisin uang kamu, padahal ini hari pertama kita ketemu lagi, tapi kamu malah nraktir aku banyak banget" kataku tulus.

__ADS_1


"Gakpp, saya seneng bisa traktir kamu." Katanya dan aku hanya tersenyum saja karena Fikiranku malah fokus pada orang lain.


Shanum sama arkan lagi dimana yah? Ngapain yah?. Batinku.


__ADS_2