
Selesai sudah semua rangkaian acara debat dalam dua hari, aku semakin tidak tenang menanti besok untuk tampil di acara pentas seni sebagai penutupan acara ulang tahun sekolahku saat itu.
Oh iya saat itu aku merasa Arkan dan Shanum menjadi semakin dekat. Arkan sering menggoda Shanum setiap kali bertemu dengan hal-hal yang membuat Shanum tertawa nyaman. Saat itu hari-hari semakin menyebalkan.
Malam itu aku hanya duduk di kursi meja belajarku, melamun sendiri dengan lamunan yang tidak jelas arahnya, sepintas melamunkan Arkan, kemudian keluargaku, nasib ku kedepannya jika dengan keadaan keluarga seperti itu.
"Dreeeddd dreeedd" tanda telpon masuk ada nama Arkan di layarnya untuk beberapa detik aku hanya menatap layar dengan tampilan namanya itu lalu segera mengangkatnya.
"Hallo" sapaku datar
๐kenapa?
"Apanya?"
๐Suara.
"Maksudnya?"
๐Suaramu lemas
"Oh, gkpp"
๐Udah tidur?
"Belum. Ada apa?"
๐Makan nasi goreng?
"Ayooo" jawabku
๐Yaudah ayo keluar aku di depan gerbang.
"Kebiasaan. Tunggu bentar" jawabku lalu segera pergi dengan sweaterku.
Aku berjalan keluar dari kamarku dan kulihat ayah dan ibuku yang sedang duduk menyaksikan acara tv.
Tapi ya begitu tidak ada percakapan disana.
"Aku keluar dulu" pamitku.
"Kemana? Sama siapa?" Tanya Ibuku.
"Tempat nasi goreng sama Arkan" jawabku.
"Kamu pacaran Din sama Arkan?" Tanya Ayah.
"Kenapa papa nanya gitu?" Tanya ibuku padahal harusnya aku yang jawab.
"Ya kita tau sendiri mereka sering jalan" jawab Ayah.
"Oh jadi papa sering jalan juga sama Dewi papa pacaran juga?" Tanya ibuku sinis membuatku langsung kesal seketika.
"Apaan si Mah" kata ayahku menampakan sikap yang tidak suka.
"Iya kan? Maksudnya gitu kan?" Tanya ibuku.
"Terserahlah" kataku pelan lalu segera pergi meninggalkan obrolan yang terus berlanjut mungkin sampai aku berjalan hingga luar.
__ADS_1
Aku berjalan kedepan dan kulihat Arkan sudah ada dan tersenyum padaku.
"Lama banget. Dingin tau" omelnya
"Sorry" jawabku.
"Ayo" katanya dan aku menurut lalu motor segera melaju menuju tempat favorit kami.
"Malem bang" sapa Arkan
"Eh Mas Arkan to, malem Mas. Eh mbak Dinta" sapa Bang Udin padaku.
"Malem Bang, 2 yah Bang, kek biasa, yang aku agak pedes dikit" kataku
"Siap mbak Dinta silahkan duduk dulu" kata Bang Udin "ngomong-ngomong Mbak Dinta kemana aja lumayan udah lama Lo gak kesini" kata Bang Udin.
"Sibuk Bang" jawabku
"Oh begitu to, pantas saja Mas Arkan bawa yang lain ternyata sahabatnya sibuk to" kata Bang Udin lagi
Aku langsung berfikir seketika, siapa yang dibawa Arkan ke tempat ini selain aku? Shanum maksudnya.
"Aduuuhhhh udah deh Bang cepetan saya lapar" kata Arkan.
"Hahaha siap Mas, kapan-kapan bawa lagi itu Mbak bulenya kesini Mas biar saya di borong lagi" jawabnya.
"Bule bule bulepotan kali ah" kata Arkan dengan senyumnya dan aku hanya diam dengan sesak.
Sesak karena aku harus terima kenyataan Arkan sering pergi ke tempat nasi goreng itu bersama Shanum. Sungguh aku benar-benar sakit hati mendengarnya.
"Selamat menikmati" kata Bang Udin
Seperti biasanya Arkan tidak banyak bicara kalau sedang makan dan nafsu makanku sudah hilang sejak kabar dari Bang Udin itu. Aku hanya mengaduk-aduk nasi goreng ku sambil memikirkan apa yang dikatakan bang Udin lalu mengingat kembali saat masa SMP aku dan Arkan selalu stay untuk menunggu kedai Nasi goreng ini buka lalu mendapat bonus karena jadi pelanggan utama.
"Din, hey" Arkan membuat lamunanku buyar.
"Hemh?" Sadarku.
"Kenapa gak di makan?" Tanyanya.
"Dimakan ko"
"Itu masih banyak, biasanya juga kamu gak gitu" jawabnya.
"Kalau kamu udah selesai langsung pulang aja yah" ajakku.
"Kenapa si? Kamu sakit?" Tanyanya sambil memegang dahiku dengan punggung tangannya.
"Lumayan gak enak badan" jawabku.
"Yaudah ayo pulang aja" katanya padahal masih ada sisa nasi goreng di piringnya.
"Udah abisin dulu aja" kataku.
"Nggk, aku udah kenyang ko. Bentar aku minum dulu" katanya lalu membayar semuanya dengan uangnya dan kami segera pergi.
Sepanjang perjalanan kami hanya diam dengan perasaan Arkan yang tidak ku ketahui sedangkan perasaanku sedang tidak baik.
__ADS_1
"Mau beli obat?" Tanya Arkan.
"Gak usah, aku gakpp ko" jawabku
Dan motor terus melaju sampai akhirnya kami sampai di depan rumahku.
"Makasih yah. Aku masuk dulu" kataku
"Langsung istirahat yah" kata Arkan dan aku mengangguk lalu langsung pergi tanpa menoleh kembali.
๐๐๐
Paginya aku sampai di kelas dengan di antar Arkan seperti biasanya.
"Dinta siap?" Tanya Shanum
"Siap" jawabku dengan semangat.
"Good!" Jawab Niana "pokonya harus tampil memukau seperti saat latihan" kata Niana. Aku jadi ingat lagi aku sebenarnya tidak latihan sama sekali di rumah.
"Siaaaapp" kata Shanum.
"Acaranya jam berapa si?" Tanyaku.
"Kita tampil agak siangan si Din, soalnya sekarang mau acara sambutan-sambutan dulu terus potong tumpeng gitu sambil nerbangin balon harapan dari guru-guru gitu" kata Shanum "paling kita tampil sekitar pukul 10 tapi infonya sistemnya di undi jadi gak nentu deh" lanjutnya.
"Oh gitu oke deeehh. Sumpaaah aku deg deg-an" kataku.
"Aku juga ih" jawab Shanum
"Kalo gak deg deg-an Lo pada mati semua dong ah" cibir Niana.
"Semangat ah" kata Witri
"Huh, semangat!" Kataku juga diikuti Shanum.
Acara mulai berlangsung semua hadir di lapang utama Outdor. Hari itu cuacanya cukup mendukung tidak panas tidak hujan tapi sejuk lebih dingin si bukan sejuk.
Acara demi acara mulai dilaksanakan sambutan-sambutan demi sambutan mulai di berikan dari komite kepala sekolah ketua OSIS dan yang lainnya sampai di puncak acara utama yaitu penerbangan balon harapan sebagai tanda hari itu adalah ulang tahun sekolah.
Semuanya menikmati acara dengan suka ria banyak orang mengabadikan momen-momen itu termasuk aku Niana dan Shanum yang sengaja mengambil gambar kami bertiga di acara itu kemudian di foto kedua bersama Witri di foto ke tiga bersama Arkan dan Reno 3 foto itu ada di handphone ku saat itu.
Setelah semuanya selesai barulah pentas seni di laksanakan. Saat itu penampilan pertama dari kelas X dengan menampilkan atraksi beatbox nya.
Penampilan pertama kelas X aku tidak menyaksikan nya karena saat itu aku Niana Shanum dan Witri memutuskan untuk mengisi perutku terlebih dahulu setelah tau bahwa penampilan kelasku berada pada no urut terakhir.
"Padahal aku ngarepnya kita tampil duluan Din, biar plong kan kalo udah, terus bisa santai deh" kata Shanum.
"Sama" keluhku.
"Halah mau nanti atau sekarang juga sama aja" kata Niana.
"Justru yang terakhir pasti banyak penonton nya karena di akhir ada pembagian tropi buat 3 besar debat sekaligus pengumuman juara satunya yang belum di umumin dan gue yakin kelas kita bakal menang bukan kelas Arkan" seru Witri ramai sendiri.
"Ah justru aku maunya tidak ada penontonnya saja biar tidak malu" kataku.
"Mana ada Dinta" kata Shanum terkekeh
__ADS_1
"Tau ni anak ngaco deh" kata Niana dan aku cuma nyengir saja tidak suka.
๐๐๐