
Sekitar 30 menit dan akhirnya ibu juga ayahnya Arkan pulang, aku segera keluar bersama Kak Rahfa dan menyapanya lalu sedikit bercerita dan semuanya tertawa.
"Yaudah-yaudah sekarang mending ayo kita masak buat nanti disana" ajak ibunya Arkan.
"Yaudah, kakak tolong bikinin Ayah Teh yah" kata ayahnya Arkan kepada kak Rahfa.
"Siap Ayah" kata Kak Rahfa.
Dan aku segera mengikuti Ibunya ke dapur sekitar setengah jam kami memasak bersama dengan penuh obrolan dan canda tawa juga aku yang sedikit tau tentang cara-cara masak yang menurutku tabu sekali dalam hal masak memasak.
"Nak, kamu tolong masukin sayurnya ke wadah yang ada di atas sana yah" katanya
"Siap Tante" jawabku dan segera bergegas.
"Bubuuuuu" panggil seseorang yang kutau itu Arkan.
"Apa?" Jawab ibunya.
"Haus" jawabnya aku tersenyum mendengarnya.
"Ya minum, kalo lapar baru makan" jawab ibunya. Aku kembali tersenyum lalu kulihat Arkan yang berjalan menuju Kulkas dengan mata yang tidak normal, masih seperti orang teler.
Aku segera memasukan sayur sesuai perintah. Aku berdiri di meja makan dan kulihat Arkan yang meneguk air dingin dengan sexynya saat itu, jakunnya sampai naik turun membuat aku ikut menelan ludah.
"Aaaaah" ucapnya lalu menyimpan botol air minumnya lalu bersandar pada pintu kulkas sambil melihat ibunya yang sedang memasak. Aku bisa melihat Arkan jelas karena posisi meja makan yang ada di sebelah Arkan berdiri. Kulihat dia mengedipkan matanya seperti malas.
"Ayo mandiiii" kata Ibunya.
"Iyaaaaa" jawabnya tapi tidak kunjung pergi.
"Bu?"
"hemh?" jawab Ibunya.
"Bubu SMS-sin Tante Nindi dong atau datang ke rumahnya" kata Arkan dan aku tersenyum dia sedang membicarakan Ibuku.
"Buat apa?" tanya ibunya.
"Dinta gak di izinin ikut ke Bandung tau Bu sama Tante Nindi."
"Oh yah?" tanya ibunya serius padahal sudah tahu yang sebenarnya.
"Iya. makanya Bubu bantuin yakinin Tante Nindi biar Dinta bisa ikut. Yah Bu yah?"
"Iya nanti Bubu telponin." jawab Ibunya dan aku tersenyum.
"Emang kenapa sih Dinta harus banget ikut?" tanya ibunya sambil melihat ke arahku yang jadi deg degan tidak jelas.
__ADS_1
"Apa dengan segala hal dan udah selama ini aku sahabat sama Dinta aku harus jawab juga alasan nya apa?" tanya Arkan membuat aku diam memikirkan pernyataan ambigu Arkan.
"Ya emang apa?" tanya ibunya lagi.
"waaah Bubu bener-bener gak peka. huaaaaaaaaaaahhhhhhh" dia menguap sambil mengangkat tangannya ke atas sampai bajunya terangkat menampilkan sebagian perut sexy nya. Aku yang memang sudah mulai berjalan untuk menyapanya semakin mempercepat langkahku sampai akhirnya aku berada di sampingnya tepat pada saat dia menguap dengan posisi sexynya itu.
Plaaakkkkk. aku memukul bagian perutnya.
"Selamat pagi, ayo ke Bandung" kataku sambil lewat.
"Awww" katanya dan membuka matanya "lah? Dinta?" Katanya kaget.
"Tan apa lagi?" Tanyaku tanpa menghiraukan Arkan yang sudah ada di sampingku.
"Bentar lagi tinggal masukin cabe ijonya aja yah, Tante mau masukin packing yang lain dulu selain makanan" katanya dan aku mengangguk lalu dia pergi.
"Din?" Tanya Arkan yang sudah ada disampingku.
"Apa?" Tanyaku sambil mengambil spatula dari atas rak.
"Jadi ikut ke Bandung?"
"Enggak"
"Terus ngapain disini?"
"Dinta ih serius"
"Apa Arkan apa?" Tanyaku sambil mulai memasukan cabai hijau.
"Jadi ikut kan?"
"Iya" jawabku.
"Serius?" Tanyanya.
"Maunya apa si? katanya suruh serius, giliran orang udah serius malah nanya serius nggak. Aneh Deh" kataku.
"Yes. Terus kenapa semalem bilang gak akan ikut?"
"Ya berubah pikiran aja pas tadi" jawabku asal.
"Assshhhh ini dasar Ding dong" katanya menggetok pelan kepalaku.
"ish, udah sana mandi buruan, udah jam 6 lewat ini" kataku.
"Aku gak jadi ikut ke Bandung" jawabnya membuat aku langsung menatapnya tajam "tapi boong hahaha" katanya lagi dengan cepat.
__ADS_1
"Aku tumis juga nih" kataku sambil mengacung-acungkan spatula.
"Eish santai dong, mandi dulu yah" katanya dengan senyuman manisnya lalu pergi meninggalkanku dengan frekuensi jantung yang meningkat tinggi.
🍂🍂🍂
Sekitar pukul 7 pagi kami semua berangkat, sepanjang perjalanan terasa menyenangkan, ibunya Arkan dan ayahnya banyak bercerita tentang segala hal mulai dari awal pertemuannya sampai nikah dan punya Kak Rahfa. Ada yang menarik dari cerita orangtua Arkan, ternyata mereka dulunya adalah sahabat SMP dan SMA juga sepertiku, namun keduanya di pisahkan oleh jarak pada saat kuliah, tapi keduanya bertemu kembali dan bersatu.
"Nih yah laki-laki yang ada di sebelah Bubu sekarang ini dulunya sangat menyebalkan, dia berandalan, sering di hukum, pernah di gebukin orang, tapi pinter. Makanya dengan kelakuan Arkan dulu ataupun sekarang Tante yakin Din, ya bapaknya juga dulu kurang lebih gitu lah." Katanya dan aku hanya tertawa.
"Pantesan" jawabku.
"Tapi kisah cintanya Arkan gak akan semanis kita yah Bu?" Tanya Ayahnya Arkan.
"Iyalah jelas, Arkannya juga jomblo" jawab ibunya.
"Yaelah Bu, gak usah di bahas, jodoh tuh gak akan kemana" jawab Arkan dan Ibunya hanya tersenyum.
"Emang dulu gimana Yah?" Tanya Kak Rahfa.
"Ya gitu kami sahabatan, tapi dulu Ayah sempet nyakitin Ibu. Dulu Ayah suka sama sahabatnya Ibu pas jaman SMA padahal setelah menikah ayah tau saat itu ibumu sudah jatuh cinta sama ayah, tapi gak berani bilang kali." Jawab ayahnya.
"Ya iyalah Gengsi dong? iya gak Din?" Tanya ibunya Arkan padaku dan aku bingung harus jawab apa.
"Iya rata-rata cewek pada gitu sih" jawabku.
"iya Rahfa juga gitu. gak mau ketahuan Stave dulu tapi akhirnya tetep aja ketahuan" jawab Rahfa.
"Dasar cewek. padahal kalau suka ya bilang aja" kata Arkan.
"Gak semudah itu kali. cinta tuh rumit" jawab Rahfa.
"Cinta tuh gak rumit. manusia nya aja yang bikin cinta jadi rumit. kayak gitu-gitu tuh kayak cewek yang gengsi nya luar biasa." jawab Arkan.
"Bukan cuma masalah gengsi di ngungkapinnya. tapi mungkin soal harga diri setelah nya." Jawabku dengan sungguh-sungguh.
"Bener tuh, mending kan kalo di terima. kalau enggak. malu lah jelas" kata Rahfa.
"iya. apalagi sama sahabat sendiri. uuuhh berat banget makanya dulu Bubu dengan sekuat tenaga nyembunyiin rasa padahal kesiksa banget liat Ayah deket sama yang lain. mending cuma deket doang. ini pacaran beuuh kebakar nih ati" jawab Ibunya Rahfa dan semuanya tertawa.
"Dasar Cewek yah Yah. ribet" komentar Arkan pada Ayahnya.
"Emang" jawab Ayahnya.
Ceritanya sangat menohok dadaku, ko ibunya Arkan seakan-akan sedang menceritakan apa yang sedang aku rasakan yah. saat itu aku berpikir begitu. Dan saat itu aku langsung berharap semoga kisahku dengan Arkan akan sama seperti kisah orangtuanya juga Kak Rahfa yang sudah sejauh itu bersama kak Steven.
🍃🍃🍃
__ADS_1