Dari Dinta

Dari Dinta
1


__ADS_3

Malam itu aku sedang jalan-jalan bersama Arkan dengan motor RX king yang pada tahun itu merupakan motor keluaran terbaru.


Arkan berasal dari keluarga kaya tentunya. Ayahnya pengusaha sukses begitupun ayahku yang memang ayahku dan ayah Arkan partner bisnis, bedanya ayahku memulai semuanya dari nol sedangkan ayah Arkan hanya tinggal melanjutkan perusahaan keluarganya.


"Ding dong, mau makan apa?" Tanyanya setengah teriak kepadaku yang duduk dibonceng olehnya.


Arkan memang memanggil ku begitu, katanya karena dia lebih pintar dariku. Menyebalkan!


"Apa yah? Terserah deh." Jawabku.


"Yeeeeeeh ayo makan apa? Aku yang traktir"


"Gimana kamu aja, semua makanan aku suka ko" jawabku.


"Nasi goreng bang Udin aja yah?" Tanyanya.


"Boleh!" Jawabku. Dan kulihat kepalanya mengangguk lalu dia kembali fokus mengendarai motornya.


Angin berhembus kencang membuat rambutku tersingkap ke belakang. Nasi goreng bang Udin lumayan jauh dari komplek tempat kami tinggal. Sampai akhirnya kami sampai disebuah kedai kecil dipinggir jalan.


Malam itu tidak banyak yang makan, mungkin karena memang belum terlalu malam, karena kedai itu akan ramai sekitar pukul 9-12 malam.


"Selamat malam mas Arkan mba Dinta" sapa Bang Udin dengan logat jawanya yang medok.


"Malam bang" sapa Arkan dan aku hanya menganggukkan kepalaku sebagai jawaban sapaan bang Udin.


Sebenarnya Bang Udin orang Jawa tengah dan memang biasa di panggil Mas tapi hanya Arkan dan aku waktu itu yang memanggil dia Abang. Dengan alasan Arkan yang bilang Bang Udin lebih cocok jadi orang Betawi dan dengan tertawa Bang Udin mengizinkan kami memanggilnya Abang saat Arkan sengaja meminta izin untuk memanggilnya Abang pertama kali.


"Komplit yah Bang kek biasa, 2 dimakan disini" kata Arkan.


"Monggo ditunggu" kata Bang Udin.


"Bang pedes yah" kataku.


"Dikit aja bang pedes nya punya Dinta"


"Siap Mas Arkan" kata Bang Udin


"Ish"


"Besok gak bisa sekolah lagi tau rasa. Udah pedes dikit aja" katanya dan aku menurut saja lah dari pada banyak ngomong dengan Arkan aku tidak akan menang. Teori cewek selalu benar tuh bener-bener di langgar sama Arkan di kehidupanku. Karena memang saat itu Arkan gak kalah dan argumen nya selalu bikin aku ngerasa bahwa memang argumen aku sendiri tuh salah.


Setelah cukup lama, 2 porsi nasi goreng pun datang ke meja kami.


"Makasih bang" kata Arkan.


"Iya Mas Arkan" jawab Bang Udin.

__ADS_1


"Selamat makan" kataku kepada Arkan.


Arkan memang orang kaya pada saat itu tapi dia tidak memperlihatkan bahwa dia kaya. Dia selalu menganggap bahwa yang kaya itu hanya orangtuanya bukan dia. Jadi untuk makan diluar saja Arkan hanya ke nasi goreng Bang Udin saja denganku yang jelas bikin kenyang, ditemani cewek cantik, harga murah, dan minum sepuasnya. Begitu pendapatnya.


"Mas nasi goreng 2" kata pelanggan yang baru datang. Itu dua orang laki-laki tua tapi lebih mirip om om gitu si.


Aku terus memakan porsiku tanpa berbicara dengan Arkan. Arkan memang menyebalkan khusu banget kalau lagi makan.


Sepanjang aku memakan nasi gorengku entah aku yang terlalu perasa atau bagaimana tapi dua laki-laki yang baru saja datang dan sedang menunggu pesanannya terus saja melihat ke arahku dengan senyuman menjijikan. Sedikit-sedikit mengobrol lalu melihat ke arahku dengan senyuman dan tatapan yang menjijikan.


"Arkan?" Aku memanggil Arkan yang khusu dengan nasi gorengnya.


"Apa Din? Minum?" Tanyanya dan langsung mengambilkan minum untukku padahal bukan itu yang dimaksud. "Nih" katanya lagi.


"Thanks" kataku dan meminumnya. "Tapi bukan masalah minum" lanjutku.


"Hemh? Apaan? Kenapa?"


"Gak tau emang aku yang perasa atau gimana tapi dua laki-laki tua itu terus aja liatin aku. Risih" kataku setengah berbisik.


"Mereka tau kamu jomblo makanya ngeliatin terus" jawabnya dengan sedikit tawa disana.


"Arkaaaaan" aku memukulnya pelan.


"Hahaha tunggu sini jangan ikut" katanya dan dia berdiri lalu menghampiri meja yang di tempati dua orang laki-laki itu. Arkan sudah selesai makan terlebih dahulu waktu itu.


"Tidak. Kenapa?" Tanya abang-abang itu.


"Kalau tidak jangan diliatin terus, kasian pacar saya risih katanya" lanjut Arkan.


Aku tersenyum mendengarnya.


"Ya siapa juga yang liatin gak usah Gr mbak" katanya kepadaku langsung dan aku hanya memutar bola mataku sebal.


"Tapi Abang emang liatin terus-terusan saya juga liat, bang Abang bisa saya laporin ke polisi, Abang bisa di jerat pasal 338 KUHP tentang pelecehan seksual. Mau?" Tanya Arkan dengan serius.


Aku berusaha menahan tawa karena tidak tahan dengan apa yang dikatakan Arkan soal pasal pelecehan seksual.


"Astaga Arkan itu salah." Gerutuku pelan sambil menahan tawa.


"Wah mas, mas gak perlu ngancam begitu lagian saya gak liatin pacar mas nya ko sumpah, dan kalau mbaknya merasa begitu saya minta maaf saja tidak usah bawa-bawa polisi segala" kata salah satu bapak-bapak itu.


"Iya saya maafin" jawab Arkan lalu menghampiri Bang Udin dan membayarnya dan segera menghampiriku  yang sudah selesai makan dan membawa tanganku menuju motornya.


Aku hanya tersenyum tanpa berkata apapun. Arkan menghidupkan motornya lalu kami berlalu dari tempat nasi goreng itu sambil aku yang terus terbayang pasal yang di sebutkan Arkan untuk mengancam dua orang laki-laki itu.


Arkan memberhentikan motornya di depan sebuah warung.

__ADS_1


"Mau ngapain?" Tanyaku masih dengan sedikit senyum.


"Beli minum" katanya sambil terus melihat ke arahku yang memang tidak bisa di sembunyikan aku terus menerus tersenyum.


Aku hanya diam di atas motornya melihat dia membeli minum dan kembali sambil menyodorkan satu botol minuman yang sama untukku.


"Kamu kenapa si senyum-senyum mulu" katanya.


"Enggak gak apa-apa." jawabku.


"Bohong. Tapi ngomong-ngomong aku keren gak tadi pas ngancam om om itu?" Tanyanya.


"Hahahaha keren banget" jawabku.


"Ko kamu ketawa si? Terharu kek, atau gimana kek" katanya.


"Hahaha aduuuhhh Arkan kamu pinternya boongan yah?" Tanyaku.


Arkan Mahendra itu adalah siswa yang dikenal di sekolah, bisa disebut dia tuh most wanted nya sekolah pada masa itu, dengan rambutnya yang sedikit acak-acakan, badannya yang tinggi bersih, kaya, pinter juga, selalu ikut lomba-lomba yang berhubungan dengan hitung menghitung, tapi dia tetap punya riwayat nakal, di awal kelas 1 dia pernah mengkonsumsi barang haram sampai dia drop dan masuk rumah sakit.


Sejak SMP aku tau Arkan memang sudah merokok, tapi aku tidak tau dia melangkah sejauh itu. Sejak saat itu Arkan berubah menjadi lebih baik, dia ikut organisasi basket dan taekwondo di sekolah untuk menyibukkan dirinya.


Sudah ada beberapa prestasi yang di raih Arkan sejak kelas 1 semester 2 mulai dari lomba MIFA dan sebagainya. Dan dari situlah nama Arkan Mahendra semakin dikenal.


Arkan pernah menjadi kandidat ketua OSIS tapi tidak jadi dan hanya sebagai anggota lalu keluar karena alasan cape. Lalu dia memutuskan untuk fokus di akademik nya saja.


Dengan semua prestasi dan pesona yang dia miliki dia hanya memutuskan untuk tetap jomblo dan hanya bersahabat baik denganku juga Reno sahabat laki-lakinya.


"Boongan? maksudnya?" Tanyanya.


"Hahaha nih yah Arkan, pasal 338 KUHP tuh tentang pembunuhan bukan pelecehan seksual aduuuhhhh" aku terus tertawa.


"Anggap aja lupa, lagian om om nya juga gak tau dan malah langsung minta maaf" katanya.


"Ya iya tapi lain kali jangan malu-maluin gitu, kamu kan pinter disekolah, pasal gitu aja salah" cibirku.


"Iya iya, yaudah yuk pulang aja, udah jam 9 besok kan sekolah"


"Iya ayo" kataku.


Kami pulang bersama dan aku turun di depan rumahku.


"Jam 7 jangan kebo" kataku, maksudnya besok berangkat jam 7 karena tentu saja setiap hari aku di bonceng Arkan dengan RX-KING nya ke sekolah.


"Siap nyonya" jawabnya lalu pergi menuju rumahnya yang terhalang oleh satu rumah penghuni lain dari rumahku.


🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2