Dari Dinta

Dari Dinta
25


__ADS_3

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun, kulihat Kak Rahfa masih terlelap aku segera turun dari ranjang dan melihat keluar masih lumayan gelap tapi aku fikir udaranya sangat segar pagi itu.


Aku segera keluar dengan jaketku, ku dengar sepertinya ibunya Arkan sudah bangun dan sedang di dapur. Aku tidak dulu menghampirinya tapi langsung saja keluar berjalan ke tepian danau yang bisa kulihat ujungnya.


Aku hanya menatap danau itu jauh sekali dengan udara segar yang benar-benar segar. Di tempatku berdiri saat itu memang bukan tempat melihat sunrise yang sesungguhnya karena itu bukan dataran tinggi, tapi karena itu masih pagi, aku bisa melihat matahari terbit walaupun bukan di tempat yang semestinya.


Aku hanya tersenyum sendiri melihatnya lalu sesekali menghirup udara segar itu dengan perlahan. Rasanya benar-benar menenangkan sampai tiba-tiba beberapa kali seperti ada yang menjatuhkan sesuatu ke air danau, seperti ada yang melemparkan batu-batu kerikil. Kulihat ke belakang tapi tidak ada siapa-siapa semakin lama aku jadi semakin merinding padahal danau sudah mulai berkabut cantik tapi ku putuskan untuk kembali ke dalam saja dan saat aku berbalik.


"Aaaaaaaaaaaaa"teriakku sambil memejamkan mata dan memeluk sembarang.


"Hahahaha ini kenapa oy Din" suara Arkan fikirku dan yang ku peluk itu Arkan dan yang membuatku kaget juga Arkan. Dengan cepat aku melepaskan pelukanku sendiri.


"Arkaaaan apaan si gak lucu tau kalau aku jantungan mati disini gimana? aku kira hantu, mana tadi ada yang lempar-lempar batu lagi ke danau. Atau kamu yah tadi yang lempar-lemparin batu?" Tanyaku kesal.


"Iya" jawabnya lalu menjulurkan lidahnya.


"Gak lucu"jawabku sambil memukul lengangnya.


"Ya emang nggak, kamu yang lucu Din, kamu ngira aku hantu tapi langsung di peluk, kalau itu hantu beneran kamu juga bakal meluk gitu?" Tanyanya dan tertawa.


"Ya nggak tau, lagian kan spontan kagetnya" jawabku dan mulai berjalan untuk masuk.


"Aneh-aneh aja deh, lagian ngapain percaya hantu, hantu tuh gak ada Dinta itu cuma mitos" kata Arkan.


"Hantu tuh ada, kalau gak ada film film hantu terinspirasi dari mana coba?" Tanyaku kekeh sambil terus berjalan masuk.


"Ah nggak ada" jawab Arkan.


"Ada"


"Nggak ada"


"Ada"


"Nggak"


"Ada"jawabku kekeh


"Nggak"


"Ih ada Arkan"


"Ih Nggak ada Dinta"jawabnya.


"Kamu kenapa si gak pernah mau ngalah?" Tanyaku kesal


"Lah ko kesel? Ya emang nggak ada juga"


"Ih ada Arkan ada" jawabku tanpa sadar ibu Arkan dan ayahnya juga kak Rahfa sudah melihat ke arahku dan Arkan yang dari tadi berdebat ada dan nggak ada di depan pintu.


"Tanya Bubuu noh" kata Arkan.


"Oke. Tante Menurut Tante hantu ada apa nggak?" Tanyaku.


"Ada"jawabnya dan aku langsung menjulurkan lidahku ke arah Arkan.

__ADS_1


"Ayah, menurut ayah?" Tanya Arkan.


"Nggak ada" jawab Ayahnya dan Arkan membalas dendam padaku.


"Kak Rahfa menurut Kak Rahfa gimana?" Tanyaku.


"Ada"jawab kak Rahfa.


"3-2. Fiks aku yang menang" jawabku langsung ke Arkan.


"Oh gak bisa gitu dong, jelas-jelas hantu tuh nggak ada itu cu...."


"Haduuuuhhh Arkan kamu tuh jadi cowok gak pernah mau ngalah. Sesekali ngalah nak sama cewek" kata ibunya.


"Dengerin. Makasih Tante udah di bela sama kak Rahfa juga" kataku sambil menjewer telinganya dan berjalan setengah berlari ke kamar.


"Waaah Berani lagi yah Dinta jewer kuping lagi" katanya dengan senyumannya.


"Bodoamat"jawabku sambil menaiki tangga agak cepat.


🍃🍃🍃


Aku segera mandi bergantian bersama Kak Rahfa lalu segera pergi ke rumah makan karena ibu Arkan sudah memanggil ku dan Kak Rahfa.


"Dinta hari ini kami mau ke rumah teman lama Tante disini. sekalian mau keliling sebentar terus silaturahmi. kamu ikut yah?" kata ibunya Arkan.


"Emmh kayanya Enggak deh Tan, soalnya aku mau ketemu Bang Deris. udah lama banget gak ketemu jadi hari ini aku mau nemuin Bang Deris gitu" jawabku.


"oh gitu. yaudah nanti biar d anterin dulu sama Arkan yah" kata Ayahnya Arkan.


"Aduh gak usah Om Kak, repot bener. Dinta udah tau kok dari sini harus naik apa ke tempat Bang Deris. dan nanti pulangnya juga pasti di anterin Bang Deris" jawabku.


"Yakin nih?" tanya Arkan.


"iya" jawabku.


"Yaudah nanti kita bakal pulang sore. bisa jadi kamu duluan bisa jadi kita duluan tapi kita gak akan pulang malem kan Yah?" Tanya ibunya Arkan pada suaminya.


"Iya gak akan" jawab Ayahnya.


"Dinta juga gak akan pulang malem Ko Tan, jadi gak apa-apa kalaupun Dinta sampe duluan Dinta bisa nunggu di luar aja, atau mungkin bisa ke kedai cilok depan aja tuh ciloknya enak disana." kata Dinta.


"Cilok teroooss" kata Arkan.


"yaudah kalau gitu-gitu kabar-kabar pokonya Yah Din" kata kak Rahfa.


"iya kak" jawabku dan kami semua menyelesaikan sarapan kami.


setelah selesai aku ke dapur untuk mencuci piring sendiri. mood ku bener-bener bagus saat itu. aku bener-bener seperti punya keluarga yang sesungguhnya. aku benar-benar merasakan kehangatan keluarga yang sesungguhnya bersama keluarga Arkan.


bibirku benar-benar tidak berhenti tersenyum merasakan kebahagiaan saat itu.


"Gila yah?" tanya Arkan yang tiba-tiba datang sambil melihat wajahku dari samping.


"Apaan sih!"

__ADS_1


"Senyum-senyum sendiri. kayak orang gila."


"Suka-suka aku yah" jawabku sambil menata piring ke rak atas dengan susah payah karena aku harus berjinjit. Arkan hanya diam di sampingku sambil melihat aku yang kesusahan.


"kenapa sih malah cuma liatin. bantuin kek ini aku susah" kataku kesal.


"pendek sih" kata Arkan dan mulai membantu memasukan piring.


"suka-suka badan aku yah."


"hahahaha yeeeeh. btw Din mending ikut aja yuk. kalau kamu ikut mungkin bisa jadi kita ke pantai" kata Arkan.


"Bukannya gak mau Ar. tapi aku bener-bener pengen ketemu Bang Deris mumpung disini."


"Kan bisa malem sama aku" katanya.


"Udah deh gak usah bikin capek badan sendiri. malem tuh tidur bukan keluyuran. udah gak apa-apa aku gak ikut aja. kalau mau ke pantai ya bikin plann lain aja nanti" kataku.


"iya deh. btw asli nih abis semester ini kita mantai yuk? ajakin Shanum Reno Niana" kata Arkan.


"iya ayo" jawabku yang tiba-tiba jadi bad mood mendengar nama Shanum.


"Oke. terus kita masang tenda di pinggir pantai." kata Arkan.


"Terus mati kesapu ombak" lanjutku.


"Terus Dinta sedih karena aku mati" katanya sambil menatapku yang sekarang sedang mencuci tangan.


"Apaan sih ngelantur" jawabku yang tidak suka Arkan berbicara itu.


"Haha takut yah?"


"iya lah omongan tuh doa' . you know?"


"hahaha oke oke. tenang aja, aku mati nya satu jam setelah kamu ko." kata Arkan membuat ku ikut menatapnya.


"jangan ngelantur" kataku dan pergi mengambil lap.


"Hahahaha serba salah deh padahal itu udah pilihan paling bagus biar kamu gak sedih" katanya yang mengikutiku dan aku hanya diam.


"Din?"


"hemh?"


"kamu seneng gak?"


"kapan? gara-gara apa?"


"sekarang. gara-gara ikut sama keluarga aku kesini" jawabnya.


"Banget. tapi kaya lagi mimpi" kataku dan Arkan hanya tersenyum lalu mengelus rambutku.


"Yang sabar yah Dintaku. gak ada hal buruk yang gak ada hikmahnya." katanya membuat aku hanya diam dan tersenyum saja karena jantungku rasanya akan meledak mendapat perlakuan seperti itu.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2