
Pagi itu aku bangun dengan suasana hati yang masih belum baik tapi aku teringat akan main dengan Bang Deris.
Hhhhhhhhh "semangat Dinta, masa mau lembek cuma gara-gara hal kek gitu"
Aku segera turun dari kasur dan mandi lalu setelah selesai langsung keluar untuk sarapan bersama. Iya niatnya bersama karena ku pikir saat itu ayah dan ibuku masih ada di rumah karena hari itu hari libur.
"Mamah sama ayah mana?" Tanyaku pada Bang Deris yang sudah duduk di meja makan setelah sebelumnya berteriak kepadaku untuk sarapan.
"Ada kerjaan mendadak katanya. Buruan sarapan kita kan mau maen" kata Bang Deris seperti membesarkan hatiku yang menciut.
"Oke" jawabku stelah menghela nafas panjang.
"Mau maen kemana emangnya?" Tanya Bang Deris di tengah-tengah sarapan pagi itu.
"Kemana aja deh asal sama Bang Deris dan jangan di rumah" jawabku.
"Oke deh, kemana pun kan?" Tanya Bang Deris dan aku mengangguk dengan serius.
"Btw, mamah ninggalin mobilnya kan?" Tanyaku
"Iya, tadi mamah berangkat di antar ayah, soalnya Abang yang izin bilang mau main sama kamu" jelas bang Deris dan aku hanya mengangguk sambil tersenyum dan terus melahap sarapanku.
Setelah acara sarapan selesai aku dengan cepat mandi lalu sekitar pukul 9 kami langsung berangkat.
Didalam mobil aku dan Bang Deris terus mengobrol, membicarakan semuanya, mulai dari kesibukan ku, kesibukannya, planning ku kedepannya dan planning nya juga.
"Ini jadi Bang Deris mau nikah umur berapa si?" Protesku karena Bang Deris terus menyebutkan planningnya di ranah masa depan impiannya.
"Nanti aja pokonya kalau udah ada jodohnya" jawabnya dengan santai.
"Ya emang bang Deris gak punya pacar apa sekarang?" Tanyaku
"Nggak" jawab bang Deris
"Serius?" Tanyaku keheranan "
"Ya serius, emang kenapa si?"
"Kalo aku bukan adek bang Deris aku bakal langsung mau ke bang Deris deh, tampan gini" kataku karena itu memang fakta
"Hahahaha dasar Lo dek" kata Bang Deris
"Jadi kenapa Bang Deris gak punya pacar?"
"Ya nggak aja. Ini jomblo pilihan lho yah bukan nasib"
"Iya iya aku tau. Tapi punya cewek inceran?"
"Ngapain jadi nanya kesana"
"Udah deh bilang aja ke Dinta"
__ADS_1
"Iya ada. Cuma dianya punya pacar"
"Whahahaha" aku tertawa kemudian mengeluh sendiri karena posisi sekarang begitu juga.
"Anjirrr ngejek Abang Lu dek"
"Ya nggak juga. Tapi yaudah si cari lagi yang lain, mojang Bandung kan cantik-cantik" kataku.
"Halah anak kecil tau apa soal perasaan. Gak sesederhana itu kali Dintaaaa"
"Iya juga si" jawabku karena aku sadar pada diriku sendiri.
"Iya apa? Ngerti apa kamu soal perasaan?" Kata Bang Deris sambil terkekeh
"Hey, Dinta udah mau kelas 3 SMA yah sekarang. Soal perasaan doang mah Dinta faham"
"Whahaha so soan kek bukan jomblo aja" ejeknya
"Iiiiiihhh" aku memukul pelan lengannya dan dia hanya tertawa.
Perjalan terus berlanjut hari itu aku sangat senang dan kenyang karena hari itu aku sudah seperti di ajak wisata kuliner oleh Bang Deris karena jalan-jalan kami hari itu terus mencoba makanan-makanan yang ada di Jakarta walaupun untuk beberapa makanan aku sudah pernah bahkan sering mencobanya tapi hari itu rasanya berbeda semuanya benar-benar menjadi sangat istimewa dan menyenangkan mungkin karena bersama Bang Deris dan kami memang sudah lama tidak melakukan kegiatan seperti itu.
Sekitar pukul 5 sore aku sudah ada di rumah tapi sepertinya kedua orangtuaku belum pulang. Aku segera membersihkan badan kemudian terlentang di atas kasur karena lelah dan senang.
Dreeeddd dreeeddd dreeeddd. Tada telpon masuk dan itu Arkan.
πHallo Din
πLagi apa?
Tiduran
πAbis jalan-jalan sama Bang Deris?
Iya
πOh iya iya. Itu Din besok keknya gak bisa bareng soalnya aku harus ngan. . .
Gakpp, dua Minggu kedepan aku juga bakal di anterin Bang Deris terus ko. Jawab ku langsung. Aku memotong karena aku tidak mau mendengar nama Shanum
πOh oke kalau gitu.
Oke. Yaudah Ar aku mau istirahat dulu.
πOh iya. Selamat Istirahat Dinta.
Iya. Jawabku dan menutup telpon
Aku mengambil bantal dan menutupkan pada wajahku dan teriak disana. Kesal sekali rasanya harus bersikap seperti itu pada Arkan. Walaupun aku tidak yakin Arkan merasa aku berbeda tapi aku yang sekarang itu bukan aku yang seperti baisanya. Itu semua gara-gara Shanum!
πππ
__ADS_1
Ke esok paginya aku berangkat ke sekolah bersama Bang Deris di antar sampai gerbang dan terlalu banyak mata yang menyukai tampang Bang Deris.
"Sekolah yang bener" katanya setelah aku turun dari motornya
"Iya iya udah sana pergi jangan tebar pesona terus-terusan disini." Kataku
"Hey aku tuh gak tebar pesona yah. Ini emang pesona aku nya yang bertebaran" katanya dengan mimik wajah songong.
"Hih dasar! Udah sana pulang. Hati-hati" kataku
"Hahaha oke oke. Kabarin kalo udah mau pulang, nanti Abang jemput lagi"
"Siap" jawabku sambil melambaikan tangan dan dia berlalu.
Aku berjalan melewati koridor, sepanjang aku berjalan aku selalu melihat ke belakang mencari Arkan disana tapi yang ku temukan malah Niana.
"Dinta" katanya lalu berjalan setengah berlari menghampiri ku yang tersenyum menyambut sapaannya dan diam di tempat.
"Selamat pageh" sapaku
"Pageh. Btw mana Arkan? Kenapa gak bareng?" Tanya Niana.
"Emmmhh Aku di anter Bang Deris" jawabku
"Oh iya kan ada Bang Deris yah" katanya dan aku mengangguk.
"Iyalah" kataku dan melanjutkan langkahku bersama Niana.
Sesampainya di kelas aku melirik ke arah meja Shanum dan dia belum ada disana hanya ada Witri yang sama-sama baru duduk.
"Shanum belum kesini Wit?" Tanya Niana seakan mengerti aku yang ingin tahu.
"Belum tuh" jawab Witri
"Yaudah yo kelapangan." Ajakku karena hari itu tentu saja hari Senin dan harus upacara.
Upacara sudah mulai tapi aku belum melihat tanda-tanda keberadaan Arkan begitupun dengan Shanum.
"Nyari siapa?" Tanya Niana "Arkan apa Shanum?" Lanjutnya
"Nggak" jawabku
"Yeeeee ini anak, Lo belum cerita nih selesai upacara awas kalo gak cerita" katanya dan aku hanya tersenyum saja.
Sampai di pertengahan upacara aku lihat Shanum masuk ke barisan begitupun dengan Arkan. Aku merasa lega sekaligus kesal. Leganya melihat Arkan tidak di hukum walaupun kesiangan kesalnya karena tebakanku semalam benar ternyata Arkan tidak bisa mengantarku karena dia harus menjemput Shanum.
Upacara berlangsung seperti biasanya tapi hari itu cuaca lumayan sedikit mendukung. Tidak panas sama sekali.
Selesai upacara semuanya berjalan menuju kelas. Banyak orang yang bertanya pada Shanum tentang kenapa dia bisa telat dan dia hanya menjawab ada kendala katanya dan aku bersikap seperti biasanya saja.
πππ
__ADS_1