
Setelah sampai di gerbang aku langsung masuk dan kulihat Arkan yang sedang duduk di teras rumahku dan langsung berdiri saat aku sampai di depannya.
"Loh? Arkan?" Kataku sambil mengusap wajahku karena basah.
"Kamu gak apa-apa kan?" Tanyanya dengan kedua tangannya memegang lengan atasku.
Rasanya dadaku semakin sesak. rasanya Arkan benar-benar mempermainkan perasaanku jika seperti ini. Dengan sengaja aku menjauhkan badanku, bergerak menolak pegangan tangannya.
"Iya aku gak apa-apa ko. Shanum gimana? Dia gak apa-apa kan?" Tanyaku dan dia mengangguk.
"Maafin aku Din, gara-gara aku kamu jadi malah hujan-hujanan gini padahal se......" .
"iya gak apa-apa ko Ar, santai aja. Yaudah kamu pulang, udah malem juga, aku juga mau masuk mau ganti baju, kehujanan di atas motor malem juga lumayan dinginnya"
"Iya" katanya. Hanya itu. Dan aku segera berjalan masuk tanpa melihat kembali ke belakang padahal aku tau Arkan masih disana dan hujan masih sedikit deras tapi aku berusaha untuk tidak peduli pada Arkan rasanya jika terus-menerus aku yang jatuh cinta padanya aku akan semakin sakit hati walaupun pada kenyataannya aku malah ikut sakit saat diriku sendiri mengacuhkan Arkan seperti itu.
Sesampainya didalam aku malah menangis karena tidak tega mengacuhkan Arkan seperti itu tapi aku harus melakukannya. Aku harus melakukan ini semua demi perasaanku sendiri.
πΈπΈπΈ
Hari-hari berlalu begitu cepat, semakin hari aku memang merasa Arkan semakin jauh dariku tapi aku berusaha tidak apa-apa aku akan jadi manusia dengan ketegaran maksimal, aku tidak boleh lemah hanya gara-gara masalah rasa saat itu walaupun nyatanya memang nol besar.
Malam itu aku sudah siap untuk datang ke rumah Arkan karena hari itu hari ulangtahun Kak Rahfa.
π© Arkanmopq
Din aku di depan nih suruh jemput kamu kata kak Rahfa.
Aku tersenyum lalu keluar dan Arkan sudah berdiri dan kami berjalan bersama.
"Ini deket gini harus di jemput segala" kataku.
"Kamu tau sendiri lah gimana kak Rahfa aku gak bisa nolak" kataku.
"Hahaha iya si, emang kenapa aku harus jam segini si datengnya?"
"Kamu kan spesial Dinta, jadi harus lebih cepat tapi intinya paling bantuin dekorasi." Kata Arkan dan aku hanya menganggukan kepalaku.
Sampai disana aku di suguhkan dengan keadaan yang membuatku ingin pulang. Saat aku masuk sudah ada Shanum disana yang sedang memompa balon sambil tertawa bersama kak Rahfa.
"Dinta, siniiii" kata Kak Rahfa dan aku tersenyum lalu segera menghampirinya.
"Dinta lama banget si, aku gak enak tau sendiri dari tadi" kata Shanum.
"Beres-beres dulu tadi" kataku dengan senyum palsu dan berusaha mulai mengikuti semuanya sambil menyibukkan diri.
"Jadi aku ngerjain apa nih kak?" Tanyaku pada kak Rahfa.
"Buat saat ini kita pompa-pompa balon aja yah" katanya.
"Siap" jawabku.
__ADS_1
"Arkan bantuin kek" kata Kak Rahfa.
"Males ah" jawab Arkan "Bubuuuuu Dintanya udah dateeeeng" teriak Arkan.
"Iyaaaaaaa" jawab ibunya dari dapur dan dengan cepat ibu Arkan datang.
"Dinta" sapanya.
"Tante" sapaku balik dan bersalaman.
"Tante, nungguin kamu dari tadi." Katanya.
"Waaaah kenapa nih nungguin Dinta?"tanyaku memasang wajah senang.
"Tante bikin kue lapis, Dinta harus nyobain kalo menurut Dinta enak Tante yakin itu emang enak"
"Aduh Tante emangnya Dinta Chef apa" kataku.
"Ayo cobain ke dapur" katanya.
"Udah Din sana, Bubu bawel dari tadi" kata Arkan.
"Hahaha iya Tante ayo" kataku dan pergi berdua.
"Gimana?" Tanya setelah aku memakan apa yang harus aku makan.
"Seperti biasa Tante ini enak banget" jawabku.
"Syukurlah kalau begitu, Tante seneng dengernya. Ayo makan lagi aja" katanya.
"Iya nak, eh Din, Shanum masih temanmu dan Arkan?" Tanyanya dan reaksi pertamaku hanya berhenti mengunyah dan tersenyum samar.
"Iya Tante, Shanum sekelas sama Dinta. Dia murid baru juga di sekolah"
"Oh pantas saja Tante baru liat. Ngomong-ngomong dia dekat dengan Arkan?" Tanyanya.
"Emmmmh iya" jawabku singkat.
"Kamu nggak cemburu Arkan deket sama dia?" Tanyanya membuat aku langsung tersedak.
Ukhuu-ukhu ukhu.
"Aduh pelan-pelan dong nak" katanya sambil menyodorkan minum untukku lalu mengusap-usap punggungku.
"Aduuuhhh kebiasaan banget deh gini" kataku berusaha menetralisir perasaan ku sendiri.
"Tenang saja, Tante percaya hati Arkan bukan untuk orang baru" katanya membuat aku ingin bertanya atau sekedar menyela tapi handphone nya berbunyi tanda telpon masuk.
πΈπΈπΈ
Malam itu banyak orang yang hadir di acara kak Rahfa, acara demi acara juga berjalan sesuai dengan rencana dan meriah. Malam itu aku jadi tau pacar kak Rahfa tau teman-teman kak Rahfa juga. Tapi di tengah keramaian seperti itu aku tetap merasa sepi karena Arkan yang terus menerus bersama Shanum.
__ADS_1
Semakin lama terasa semakin membosankan bagiku walaupun semua teman-teman kak Rahfa ramah kepadaku. Aku hanya duduk di sebuah kursi yang lumayan jauh dari acara joget-joget itu.
"Dinta yah?" Tanya seorang laki-laki yang ku tau itu kak Steven pacarnya kak Rahfa.
"Eh kak, iya" jawabku.
"Kenapa disini?" Tanyanya.
"Gak apa-apa" jawabku dengan senyuman.
"Kamu sahabatnya Arkan kan?" Tanyanya.
"Iya kak jawabku"
"Iya saya juga tau dari Rahfa katanya adiknya punya sahabat cantik pasti ini si gak salah lagi" katanya dengan ramah dan aku hanya tersenyum saja.
"Waaaah kakak bisa aja" kataku dengan senyuman pura-pura malu.
"Kenapa gak sama Arkan aja gabung, terus ngomong-ngomong itu siapa yang sama Arkan? pacarnya?" Tanyanya membuat aku bingung harus menjawab apa.
"Emmmmh mungkin" jawabku.
"Ah masa sahabatnya gak tahu" godanya seperti sedang mengubek isi perasaanku sekarang.
"Hehehe, aku kan cuma sahabatnya, bukan ibunya, kakak." Candaku.
"Hahaha oke oke, kamu tau saya dan Rahfa bersahabat?"
"Iya, kak Rahfa sempat cerita katanya calon suaminya sahabatnya sendiri."jawabku.
"Waaaahhh Rahfa bangga banget kayanya punya saya yah" katanya PD dan aku hanya tertawa saja.
"banget. Kak Rahfa semangat banget ceritain Kakak" jawabku mengungkapkan fakta.
"Oh yah? pasti sih hahahaha. Kak Rahfa cerita gak siapa yang jatuh cinta duluan?"
"emmh enggak. siapa emang? Kak Rahfa?"
"Binggo. Jadi kita emang sahabatan dan saya baru tahu Rahfa suka sama saya pas SMA kelas satu. itu pun saya tahu dari sahabatnya. waaah saat itu saya bener-bener seneng padahal saya punya pacar pas tau itu"
"waaaah jahat banget" jawabku.
"hahahaha bukan gitu Din sebenernya udah sejak SMP saya suka Rahfa tapi saya kayak ngehargain persahabatan dan saya pikir nunggu kita sama-sama dewasa lah misalkan nanti pas udah kuliah gitu. jadi mungkin lebih bisa di mengerti kenapa saya jatuh cinta sama sahabat saya sendiri tanpa ada anggapan ngerusak feel persahabatan itu sendiri. jadi saya pacaran dulu sama yang lain deh soalnya saya gak tau Rahfa suka saya. kalau tau udah aja dari dulu. emang gitu sih Din di persahabatan" katanya panjang lebar.
"waw salut pokonya sama kak Steve" jawabku.
Dan kulihat salah satu laki-laki memanggilnya.
"hahah biasa saja. Yasudah, saya kesana dulu, kamu jangan disini terus. Nikmatin acaranya juga dong"
"Iya kak" jawabku.
__ADS_1
"Arkan Arkan kenapa juga dia gak pacaran sama sahabatnya juga kaya saya sama kakaknya" katanya sambil pergi membuat aku tersenyum aneh mendengarnya.
πΈπΈπΈ