
Setelah beberapa hari sejak kejadian malam itu Arkan memang memperlihatkan keseriusan nya untuk berusaha mendapatkan Shanum. Dan dengan penuh rasa sakit aku berusaha mewujudkan itu untuk Arkan dengan membantu mereka dekat.
Shanum yang sepertinya sadar Arkan sedang mendekatinya terlihat senang dan menerima Arkan. Sesekali dia juga menanyakan tentang pribadi Arkan kepadaku dan dengan penuh kesabaran aku menjawabnya dengan benar. Aku masih berfikir tidak apa-apa karena Arkan masih tetap selalu ada untukku walaupun aku tau tidak ada lagi tempat untukku dihatinya.
Seperti biasa pagi ini aku berangkat bersama Arkan dan sampai disekolah aku diantarkan ke kelas namun kali ini bukan agar aku baik-baik saja tapi karena Arkan ingin bertemu Shanum dan menyapanya dan sudah beberapa pagi memang seperti itu. Dan jujur saja aku benar-benar tidak bisa melihat itu semua.
Bukan hanya pagi tapi juga jam istirahat mereka akan selalu bertemu karena Shanum yang selalu bersamaku dan Niana kemanapun aku pergi.
Sore ini sepulang sekolah aku tau Arkan akan latihan basket terlebih dahulu dan seperti biasanya juga aku akan menunggu nya karena akan pulang bersama.
Sekitar pukul 5 sore aku segera menuju gerbang untuk menunggu Arkan. Cukup lama aku menunggu sampai akhirnya aku melihat Arkan dengan motornya tapi dia membawa orang lain dan itu adalah Shanum
Beberapa kali aku menghembuskan nafasku berusaha untuk terlihat tenang dengan keadaan ini tapi sepertinya tidak bisa tapi aku harus bisa, sampai akhirnya Arkan berhenti bersama motornya di hadapanku.
"lho? Dinta belum pulang?" Tanyanya dengan polosnya padahal dia sudah tau setiap dia latihan basket dulu aku akan menunggu karena akan pulang bersama.
"Belum Ar"
"Bukannya taa..."
"Dinta kamu mau pulang sama Arkan yah?" Tanya Shanum langsung memotong kata-kata Arkan.
"Eh nggak ko, aku lagi nunggu itu euh jemputan aku" jawabku berusaha tenang.
"Bohong yah? Ar kamu sama Dinta aja aku bisa naik taxi" kata Shanum.
"Eh enggak, serius udah sana Ar anterin Shanum aja, aku udah ada yang jemput ini di jalan ko" jawabku.
"Din beneran ada yang jemput gak? Kalo gak ada kamu tunggu disini, aku anterin dulu Shanum terus aku balik lagi. aku kira ta...." katanya.
"Serius Arkan aku udah ada yang jemput, aku di jemput Ayah kali ini, serius deh lagian aku gak mau ganggu kamu lah" godaku pada Arkan membuat dia tersenyum senang dan hatiku sakitnya makin menjadi dengan senyum bahagia Arkan.
"Dintaaaaa" kata Arkan.
__ADS_1
"Udah sana pergi" kataku.
"Dinta beneran gakpp nih?" Tanya Shanum aku tau dia merasa bersalah tapi aku lebih peduli Arkan yang terlihat bahagia di banding semua itu.
"Ih iya Shanum udah ayo pulang udah sore lho"
"Kalau udah sampe kabarin yah" kata Arkan dan aku mengangguk.
"Duluan yah Din kalau gitu" kata Shanum dan aku mengangguk dan melambaikan tanganku lalu mereka berlalu meninggalkan aku dengan semua perasaan sakit yang nyata.
🍁🍁🍁
Aku turun dari angkot yang membawaku sampai di pintu masuk menuju komplek perumahanku dan dengan langkah lelah aku berjalan menuju rumahku.
Setelah sampai depan pintu rumah sudah ku dengar suara-suara nyaring dari dalam. Iya, mereka sedang bertengkar seperti biasanya. Aku menghembuskan nafasku lelah dengan semua keadaan itu. Aku mengeluarkan handphoneku dan mengirim pesan kepada Bi Nani bahwa aku akan menginap di rumah Niana karena sebuah tugas.
Aku segera berbalik dan berjalan menuju jalan utama kembali tanpa tujuan yang pasti. Sampai akhirnya aku menyetop taxi lalu mengatakan alamat rumah Niana.
Setelah sampai aku segera mengetuk pintu dan Niana keluar dan aku langsung memeluknya dan menangis.
"Aku mau nginep disini malem ini yah" kataku dan Niana mengangguk dan membawaku ke dalam.
Di rumah Niana tidak ada siapa-siapa hanya ada dia dan kedua pembantunya saja. Kedua orangtuanya hanya pulang sesekali dari Bandung karena sebenarnya Niana orang Bandung tapi dia sendiri yang ingin sekolah di Jakarta sejak SMP. Katanya dulu saat SMP Niana bersama neneknya tapi saat pertama masuk SMA neneknya meninggal dan dari sejak saat itu dia hanya tinggal sendiri di temani dua pembantunya.
Setelah semuanya selesai, dari mulai aku mandi mengganti pakaianku dan makan malam saat itu aku sudah berada dikamar Niana bersamanya.
"Jadi sebenarnya apa yang terjadi si?" Tanya Niana.
"Aku lagi gak mau di rumah aja, biasa lah" kataku
"Berantem?" Tanya Niana yang memang sedikit banyak nya dia tau walaupun kami hanya kenal ketika pertama masuk SMA saja tidak sejak SMP.
Aku mengangguk mendengar pertanyaan Niana dan dengan tulus dia memelukku.
__ADS_1
"Yang sabar yah Din, aku yakin semuanya akan cepat berlalu" katanya.
"Thanks yah Ann" jawabku.
"Sama-sama Din, pokonya mulai sekarang kalau kamu emang gak mau di rumah kamu kesini aja. Lagian kamu tau sendiri kan aku disini cuma sama dua pembantu aku aja." Katanya dan aku mengangguk.
🍁🍁🍁
Pagi-pagi sekali Arkan sudah menelponku menanyakan aku harus menjemputku atau tidak di rumah Niana dan ku jawab tidak lalu mengatakan sampai bertemu di sekolah saja lalu dia setuju.
Dari jauh sudah kulihat Arkan yang sudah berdiri di depan kelasku. Aku terus berjalan dengan senyuman begitupun dia.
"Gue denger-denger ada yang tiba-tiba nginep yah Ann?" Tanyanya pada Niana. Karena sejak semalam Arkan tau aku sedang menginap di rumah Niana dan saat dia bertanya "tumben? Ada apa? Kamu kenapa?" Aku hanya menjawab tidak apa-apa lalu dengan cepat mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain.
"Iya nih, padahal gak dipinta, kek jailangkung datang gak di suruh tapi pulangnya gue anterin deh nanti" kata Niana.
"Apaan si" kataku.
"Yaudah aku ke kelas dulu, sampai ketemu jam istirahat Din" kata Arkan.
"Iya. Btw Shanum kan belum datang, kenapa buru-buru?" Tanyaku setengah menggoda sisanya sebal.
"Apaan si Din, pdkt nggk se sering itu, soalnya aku keliatan banget kek nya yah, makanya gak mau ah, pokonya tau-tau aku sama Shanum nikah aja deh" katanya membuat hatiku mencelos begitu saja mendengarnya. Tapi walaupun begitu aku tetap tersenyum receh menanggapi apa yang di katakan Arkan.
"Lebay banget ah Lo" komentar Niana.
"Yaudah aku ke kelas dulu" katanya dan pergi setelah aku dan Niana yang mengangguk.
"Si Arkan serius mau ke si Shanum" tanya Niana sambil berjalan kek kelas.
"Gak tau ah" jawabku.
"Masa sih?"
__ADS_1
"Udah deh Ann kita gak usah ikut campur urusan orang lah" jawabku dingin dan saat itu mungkin bikin Niana bingung.
🍁🍁🍁