
Pagi itu aku segera mengganti bajuku dengan baju santai untuk hanya sekedar jalan santai ke taman yang biasa aku kunjungi. Hari ke tiga dalam 6 hari yang di beri sekolah untukku.
Aku segera keluar dengan sepatuku dan punggung seseorang yang ku kenal sudah ada di depanku.
"Ar" panggilku dan dia menoleh lalu tersenyum
"Ayo" katanya dan aku segera berlari dan sampai di sampingnya.
"Tumben olahraga" kataku.
"Pusing, di ganggu kak Rahfa terus di suruh olahraga. Tadi aku udah niat buat ngajak kamu tapi takutnya kamu masih tidur" katanya.
"Oh gitu, nggak si aku gak tidur ini lari sama orang yang namanya Arkan" jawabku.
"Euuuuhhh" katanya menyentil samping kepalaku.
"Sakit Arkan"kesalku dan dia hanya tersenyum dan mempercepat larinya dan berbelok ke arah taman.
Aku dengan ngos ngosan mengejar dia sampai akhirnya dia berhenti untuk membeli 2 air mineral dan duduk.
"Cape tau" kataku.
"Payah" jawabnya sambil menyodorkan botol minuman yang dia beli.
"Bukan masalah payah atau nggak, tapi capek aja" jawabku dan mulai meneguk perlahan airnya.
"Gak usah maksain lari kalo capek" katanya sambil mengusap keringat di dahiku membuat aku jadi gugup saja.
"Ya kan ngejar kamu" jawabku
"Ya siapa juga yang nyuruh ngejar, cewek tuh harusnya di kejar bukan ngejar" katanya seperti sedang membicarakan sesuatu di dalamnya sambil masih mengusap keringat di dahiku yang bercucuran.
"Iya cewek tuh harusnya di kejar tapi kalo yang harusnya ngejar malah ngejar cewek lain, berarti tetep harus di kejar" jawabku seakan-akan sedang menimpali obrolannya.
"Masih banyak yang akan ngejar gak usah maksa" jawabnya sambil selesai mengelap keringatku. Dadaku terasa sesak sekali dengan kata-kata itu Arkan seakan berbicara bahwa aku tidak perlu berharap padanya jangan memaksakan kehendak sendiri karena jelas dia bersama Shanum.
"Oke" jawabku dan berdiri lalu pergi begitu saja.
"Din hey tunggu mau kemana?" Tanyanya dan mulai mengikutiku.
"Kalo masih mau Olahraga, olahraga aja" kataku.
"Nggak udah cukup."jawabnya "eh semalem kamu beneran jalan sama Kevin Kevin itu?" Tanyanya.
"Iya" jawabku
"Oh iya. Emmmmh kayanya si Kevin itu suka deh sama kamu. Tapi aku gak suka" katanya membuat aku langsung melihatnya.
"Gak suka?" Tanyaku.
"Iya. Dia kayanya nakal sama cewek"
"So tau, liat juga kamu belum pernah" jawabku.
"Udah" jawabnya.
"Kapan?"
__ADS_1
"Dari fotonya aku buka akun FB Anna dan ada foto mreka pas di cafe itu di ambil baru-baru ini" jawabnya dan aku ingat foto itu aku yang mengambilnya. Saat itu memang Facebook yang lagi hits sekali.
"Udah kek psikologi aja liat wajah langsung tau" cercaku.
"Jangan main lagi sama dia mending" katanya.
"Ya dari pada bosen di rumah, Anna juga kan di Bogor" jawabku.
"Kan ada aku, ada Shanum"
"Ya kamu aja sama Shanum, aku gak mau jadi obat nyamuk juga" jawabku datar.
"Hey lagian siapa bilang kamu kek obat nyamuk, ya nggak lah, emang kapan aku merlakuin kamu gak baik di depan Shanum?" Tanyanya seperti kesal mendengar apa yang aku bilang.
"Tapi aku ngerasanya gitu Ar"
"Yaudah terserah. Aku minta no si Kevin itu sini" katanya.
"Buat apa?" Tanyaku.
"Bilang ke dia jangan macem-macem sama kamu" katanya.
"Lebay banget deh, aku bisa jaga diri Arkan Mahendra tenang aja" jawabku sambil menggandeng tangannya dan tanpa menjawab dia merangkulku dan kami pulang ke rumah masing-masing pagi itu.
🍁🍁🍁
Hari ke 4 libur, sudah sejak kemarin Arkan mengajakku jalan bersama Shanum. Sebenarnya aku gak mau tapi aku tetap ingin pergi bersama Arkan dan di hari ke 4 libur itu aku setuju untuk pergi bersama mereka.
Jam 9 pagi aku sudah stay di depan rumah menunggu Arkan datang dengan mobilnya ayahnya.
"Din ayo" katanya dari dalam.
Hampir 15 menit untuk menjemput Shanum sampai akhirnya kami melihat Shanum yang berada didepan sebuah minimarket dengan cantiknya.
Dengan tau diri dan dada sesak aku turun dari kursi depan dan beralih ke belakang, aku tidak mau menunggu di suruh Arkan karena rasanya itu akan lebih menyakitkan bagiku.
"Padahal di depan aja gakpp Din" kata Shanum
"Gakpp Shanum santai aja" jawabku.
"Arkan, Dinta kalian udah sarapan?" Tanya Shanum.
"Udah jam 9 Shanum pasti udah lah. Iya nggak Din?" Tanya Arkan dan aku hanya mengangguk karena kenyataannya aku belum sarapan.
"Oh udah yah, tadi aku beli sandwich di depan, kamu mau nggak, aku beli 3 ini 2 lagi" katanya
"Sini buat aku aja satu" kataku karena aku lapar.
"Boleh, ini Din" katanya dia menyodorkannya padaku.
"Aku satu" kata Arkan
"Nih" kata Shanum
"Aaa"kata Arkan membuka mulutnya "aku kan lagi nyetir. Suapin gakpp?" Tanya Arkan membuat Shanum merona pipinya karena gugup sedang wajahku memerah karena kesal.
"Boleh" jawabnya dan mulai memberikan sandwich itu pada Arkan sedangkan aku di belakang hanya berusaha menguatkan diri saja.
__ADS_1
Sabar Dinta sabar. Batinku
20 menit perjalanan dan kami sampai di sebuah pusat perbelanjaan karena Shanum yang minta kesana kami bertiga masuk dan Arkan terus berjalan di samping Shanum sambil mengobrol sedangkan aku di belakang sendiri. Setiap Arkan melihat ke arahku aku selalu pura-pura dengan mataku yang melihat ke arah Handphone padahal aku sedang tidak menggunakannya. Itu hanya caraku agar tidak terlalu terlihat menyedihkan.
"Din aku mau beli baju, samaan yuk? Aku yang bayar ko" Ajak Shanum.
"Boleh" jawabku
"Mau Kaos apa sweater?" Tanyanya.
"Berhubung kamu yang beli aku terserah saja" jawabku.
"Emmmmh kaos aja kali yah, aku mau beli 4 yang sama" katanya.
"Banyak amat, buat siapa aja? Jatohnya kek jadi pake baju parpol" celetuk Arkan itu membuat Shanum tertawa sedangkan Dinta Biasa saja dengan jokes jokes Arkan yang memang renyah.
"Nggak gitu juga Arkan. Aku beli buat aku, Dinta, Anna dan Witri" kata Shanum.
"Mau pilih yang mana?" Tanya Dinta karena bosan melihat Arkan dan Shanum saling senyum
"Kamu suka warna apa?" Tanya Shanum padaku.
"Apa aja kecuali kuning" jawabku karena itu faktanya.
"Pink ini lucu kali yah" Kata Shanum dan aku mengangguk setuju lalu Shanum mengambilnya.
Kami terus berjalan berkeliling sampai kakiku rasanya pegal sekali, aku memang wanita tapi aku tidak se gila wanita umumnya jika berbelanja. Entah kenapa kakiku cepat pegal mungkin saat itu di tambah dengan mood ku yang jelek karena harus mempunyai perasaan seperti obat nyamuk berada di antara orang laki-laki yang kucintai tapi laki-laki nya malah sama cewek lain.
Shanum berhenti di depan patung yang memakai dua Sweater khusus pasangan berwarna Biru cerah. Shanum tampak tersenyum melihatnya dan tanpa basa basi dia membayarnya.
Maksudnya satunya lagi buat Arkan? Hello Arkan gak akan suka karena itu warna biru. Batinku puas.
Acara berbelanja sudah selesai dan kami naik ke lantai dua ke bagian food area untuk makan dengan jijiknya aku melihat Shanum yang meminta di pesankan makanan yang sama dengan Arkan.
Awalnya aku fikir Shanum bukan tipe cewek pada umumnya tapi ternyata sama aja dia bertingkah so manis dan berlagak manja di depan Arkan. Sebal aku melihatnya padahal mereka belum resmi pacaran dan bagaimanapun aku tau, tanpa dia bersikap begitu Arkan akan dengan sangat baik memperlakukan wanita apabila orang yang dia cintai.
Aku jadi semakin badmood di buatnya aku ingin segera selesai pulang dan tidur. Dari awal aku memang sudah seharusnya menolak acara ini. Fikirku.
"Dinta mau pesen apa?" Tanya Arkan yang menyadari sejak tadi aku hanya melamun
"Jus melon aja" jawabku.
"Dinta diet atau gak bawa uang tanya Shanum" membuat aku ingin memukul kepalanya dan berkata 'uang gue banyak, walaupun uang bokap sama nyokap'
"Diet apaan diet, gak boleh diet-dietan" kata Arkan.
"Bawa uang dan gak diet, lagi gak mood aja, tadi kenyang makan sandwich padahal udah sarapan" jawabku datar.
"Oh gitu, eh iya, bajunya aku kasih nanti aja kali yah Din pas masuk sekolah biar sekalian" katanya.
"Iya terserah kamu aja" jawabku.
"Mau pulang Din?" Tanya Arkan tiba-tiba seperti tau mood ku tidak mau bersama dia dan Shanum.
"Ko pulang? Makan dulu Ar baru kita pulang" kata Shanum
"Iya gitu aja" jawabku sambil menatap Arkan.
__ADS_1
🍁🍁🍁