Dari Dinta

Dari Dinta
38


__ADS_3

Sesampainya di kantin kami langsung memesan makanan favorit kami masing-masing lalu mulai menyantapnya setelah pesanan sampai di meja kami.


"Hai Kak Dinta" sapa Yoan yang sepertinya sengaja menghampiriku.


"Hai" sapaku balik "makan?" Tanyaku dan dia mengangguk. "Ada apa? Ada yang bisa aku bantu?" Tanyaku


"Gak ada, cuma mau bilang kak Dinta tadi keren mainin pianonya" katanya sambil mengacungkan 2 jempolnya.


"Hahaha aduh makasih yah" kataku.


"Iya. Yaudah aku mau pesen dulu. Kak Witri Kak Anna kesana dulu" pamitnya dan Anna juga Witri mengangguk dengan senyumannya lalu Yoan berlalu setelah melambaikan tangannya padaku.


"Deket sama si Yoan sekarang?" Tanya Niana.


"Nggak juga. Tapi kemarin emang sempet ketemu terus dia cerita soal Andi gitu." Jawabku.


"Si Yoan masih pacaran sama Andi?" Tanya Witri dan aku mengangguk "Cinta buta" omelnya.


"Tapi aku rasa bukan juga si Wit, karena dia punya alasan lain." Jawabku


"Dia cerita?" Tanya Niana dan aku mengangguk "oooh" lanjutnya.


"Eh aku ke toilet dulu yah" pamitku karena sudah kebelet dan semuanya mengangguk.


Aku segera pergi menuju toilet untuk buang air kecil lalu berjalan keluar kemudian melepaskan jepit rambut kecil dengan kepala panda itu kemudian merapikan rambutku dengan jepit rambut yang ku genggam erat.


Aku terus berjalan gontai sambil merapikan rambutku dengan sebelah tanganku kemudian langkahku kembali mudur saat aku melihat dua orang yang ku kenal di tengah koridor lorong menuju gudang yang ku lewati. Itu Arkan dan Shanum.


"Aku tau mungkin ini aneb buat kamu. tapi Shanum, itu yang sebenarnya aku rasa sekarang" tanganku meremas ujung baju yang masih ku kenakan dengan kuat.


"Iya iya aku ngerti" aku menggigit bibirku mendengar suara Shanum mengatakan itu.


"Jadi kamu mau?" Tanya Arkan membuat dadaku makin sesak dan air mataku sudah ingin keluar mendengarnya.

__ADS_1


"Ya tentu saja" jawab Shanum dan aku langsung memejamkan mataku dan satu butir air bening keluar membasahi pipiku.


Dengan cepat aku melepaskan peganganku pada ujung baju dan memutar balik langkahku untuk kembali ke toilet.


Hari itu hatiku benar-benar hancur. Untuk pertama kalinya aku benar-benar merasakan yang namanya sakit hati. Ku kerahkan semua tenagaku untuk tidak menangis namun tidak bisa, aku terus menangis.


"Dintaaaaa berhenti nangis. Kamu kuat, kamu gakpp, kamu bisa ngadepin semuanya. Ini konsekuensi itu Dinta ini" aku terus berbicara sendiri di dalam toilet sambil terus menghapus air mata yang terus keluar dalam hitungan detik.


Sekitar 5 menit aku berusaha untuk tidak terus menangis menarik nafas panjang sampai mengipas-ngipas mataku sendiri hanya itu yang ku lakukan. Aku segera mencuci wajahku lalu kembali ke kantin dengan tampang biasa saja walaupun Niana pasti merasa ada yang aneh padaku hidungku juga memerah walaupun mataku biasa saja.


"Lama amat, ngapain si?" Tanya Witri.


"BAB mules ih" jawabku dan Niana terus saja menatapku tapi aku hanya tersenyum padanya dan kembali memakan makananku dengan hidung seperti orang flu.


"Lo sakit?" Tanya Niana.


"Agak flu kayanya efek udara dingin gini kan" kataku dan Niana hanya mengangguk dengan mata yang menatapku tidak percaya.


"Btw si Shanum kemana si, katanya mau nyusul ke kantin" kata Witri.


"Hai, sorry telat udah mau selesai yah makannya?" Tanya Shanum yang baru datang


"Dari mana si barusan?" Tanya Witri seperti masih penasaran.


"Emmmh ada deh" jawab Shanum dengan senyumannya membuatku menunduk dengan dada sesak karena harus menerima kenyataan bahwa Shanum dan Arkan hari ini resmi pacaran.


"Udah udah Witri kepo amat. Shanum kalo mau makan cepet makan kita tungguin ko" kata Niana.


"Nggak ah gkpp kan bentar lagi pengumuman. Yuk kalo udah selesai kita ke lapangan" katanya.


"Bentar tungguin dulu Dinta selesai" kata Niana karena makananku lumayan masih banyak.


"Kalo mau duluan, duluan aja nanti aku nyusul" jawabku

__ADS_1


"Nggk lah, nunggu aja" kata Shanum


Setelah semuanya selesai kami segera kembali ke lapangan sebenarnya aku sudah ingin pulang dari sekolah tapi tidak ada alasan untuk itu dan dengan terpaksa aku harus menunggu semuanya selesai.


Detik-detik pengumuman juara debat akan segera di umumkan. Semuanya sudah berkumpul kembali di lapangan. Ku lihat Shanum melambaikan tangannya kepada seseorang yang saat kulihat itu Arkan. Pacarnya sekarang. Fikirku.


"Kelasmu atau kelasku yang menang?" Tanya Arkan tiba-tiba setelah berdiri di sampingku bersama Reno.


"Kelasku ikut takdir tuhan saja" jawabku datar


"Ah gak PD. Shanum Anna siapa yang menang?" Tanya Arkan.


"Kita lah" jawab Anna dan Shanum hanya tersenyum dan aku tidak suka melihatnya.


"Aku ke kelas dulu ambil tas" kataku pada Niana dan pergi karena merasa tidak nyaman. Aku berjalan melewati koridor yang sepi.


"Sorry mau nanya" kata seseorang yang berpapasan denganku.


"Iya?" Tanyaku dan saat ku lihat itu Novan.


"Liat Shanum?" Tanyanya


"Oh di lapangan" jawabku


"Oh oke thanks" katanya dan aku mengangguk


Tu orang siapanya Shanum? Dia kenal Shanum? Tunggu, dia kan murid baru dari Bandung pula bukan Surabaya. Waaaahhh awas aja kalo sampe Shanum ada main sama dia dan Shanum juga sama Arkan. Batinku terus mengoceh kemudian memutuskan untuk bodoamat dan pergi untuk mengambil tas ke kelas.


Setelah ku ambil tas, aku kembali ke toilet mengganti bajuku dengan seragam dan sepatu yang kupakai sebelumnya dengan air mata yang terus mengalir keluar.


"Udah dong Dinta kenapa nangis terus sih" omelku pada diri sendiri lalu segera mencuci wajahku dan kembali ke kelas menyimpan pakaian Shanum dan sandalnya di dekat tas nya.


Setelah itu aku segera berjalan menuju gerbang. Di lapangan sudah ku dengar penyebutan juara ke tiga dan saat langkahku hampir sampai ke gerbang aku mendengar juara satunya adalah kelasku. Aku ikut tersenyum lalu segera mempercepat langkahku menuju gerbang.

__ADS_1


Rupanya gerbang sudah di buka sejak 5 menit yang lalu dan tanpa basa basi lagi aku melangkah keluar dan dengan senang aku tersenyum melihat orang yang ku tunggu tersenyum melihatku di atas motornya.


🍃🍃🍃


__ADS_2