
Malam itu dan besok paginya aku bersyukur karena tidak akan mendengar orang yang bertengkar. Ya, karena kedua orang tuaku sedang pergi ke luar kota Jakarta untuk mengurus bisnisnya waktu itu. Rasanya benar-benar menyenangkan.
Malam itu hampir satu jam aku berbicara dengan Bang Deris di telpon membahas tentang semuanya, mulai dari kuliah nya, sekolahku, dan semuanya. Aku juga bercerita tentang keadaan rumah dan Bang Deris hanya berkata sabar saja dan dia berjanji untuk pulang di bulan April akhir atau Mei awal. menyebalkan sekali. saat itu masih berada di pertengahan bulan Februari masih sekitar 2 bulan lagi aku harus menunggu dia ada di rumah.
📞"Kan kamu ultah Mei jadi Abang pulangnya awal Mei aja kayanya"
"Pengen kado yang bagus ah" kataku.
📞"Bisa di atur"
Dan aku senang mendengarnya, satu jam berlalu dan telpon terputus katanya dia harus mengerjakan tugas kuliahnya dulu.
Aku keluar kamar untuk makan lalu kembali setelah selesai dan kudapati 1 pesan masuk. Itu dari Arkan, aku membukanya.
📩 Arkanmopq
Sini, banyak makanan.
"Tidak, besok ada ulangan matematika harus menghafal" balasku
📩 Arkanmopq
Besok aku bawa aja ke sekolah yah
"Harus 😁"
📩 Arkanmopq
Yaudah gih ngehafal jangan sampe remidi. Malu-maluin aku sebagai sahabat kamu yang pinter gini.
"Sombong lagi iuh"
📩 Arkanmopq
Ngomongin fakta tuh gakpp:p
"Besok jangan telat"
📩 Arkanmopq
__ADS_1
Iya bawel
Aku hanya tersenyum lalu kembali membaca buku tebal yang isinya angka semua sampai akhirnya aku memutuskan untuk tertidur lalu terlelap dengan perasaan seadanya saat itu.
🍁🍁🍁
Siang ini disekolah kulihat kelas Arkan sedang berada di jam pelajaran olahraga. Aku sendiri sedang berada di jam kosong karena guru yang mendadak tidak masuk hari itu. jadi aku langsung saja menuju pinggiran lapang bersama Niana, niat awalnya hanya untuk lihat juara dari karya Mading yang biasa di pajang di koridor dekat lapangan utama sekolah.
"Din, ke kantin aja yuk, aku lapar" kata Niana.
"Boleh" jawabku tanpa melihat ke arah Niana tapi fokus melihat ke arah Arkan yang sexy dengan keringatnya.
"Yaudah ayo, jangan liatin mulu yang berkeringat gitu, dosa" jawab Niana dan aku hanya nyengir saja ketahuan Niana.
Kami berjalan menuju kantin tapi kulihat ada 2 orang yang ku kenal yang sedang berjalan terburu-buru ya, mereka adalah Andi dan Yoan.
Aku melihat Andi yang membawa Yoan dengan buru-buru menuju belakang sekolah dengan tangan Yoan yang digenggam kasar.
"Eh Ann, kamu duluan saja ke kantin nanti aku nyusul, mau ke toilet dulu" kataku.
"Oke, tapi harus tetap nyusul yah. Btw mau pesen apa? Aku pesenin duluan" kata Niana.
Aku berjalan setengah berlari dan tiba di belakang sekolah yang lumayan sepi memang, tapi tidak ada Andi dan Yoan disana, aku kembali berjalan dan aku menemukan mereka di bagian bawah sekolah didepan gudang sekolah yang jika kita ingin kesana harus menuruni beberapa anak tangga terlebih dahulu.
Aku cepat jongkok mengintip dari atas seperti biasa mereka sepertinya sedang berdebat, dan beberapa kali Yoan di dorong oleh Andi sampai hampir tersungkur.
Rasanya aku ingin sekali membuat Andi di hukum tapi aku tidak cukup bukti untuk melakukan itu. Saat itu aku jadi gemetar sendiri, gemetar takut ketahuan dan emosi melihat perlakuan Andi menjadi satu.
Aku terus memperhatikan mereka sampai akhirnya tangan Andi melayang, siap menampar Yoan.
"Stop" pekikku dari atas dan keduanya melihat ke arahku.
Dengan mengumpulkan semua keberanian ku aku mulai turun melewati anak tangga dan sampai di hadapan mereka berdua.
"Ini apa-apaan?" Kataku sambil diam didepan Yoan yang berdiri ketakutan.
"Lo siapa? Gak usah ikut campur" kata Andi.
"Elo yang siapa? Berani-beraninya merlakuin anak orang kek gitu!" Jawabku tidak takut.
__ADS_1
"Lo gak usah ikut campur, suka-suka gue, dia juga pacar gue. Jadi mending Lo diem aja."
"Apalagi gitu, Lo cuma pacarnya. Orangtuanya saja yang lebih berhak mungkin gak pernah ngelakuin hal kek gitu ke anaknya, terus Elo yang cuma pacarnya kenapa berani banget?"
"Kak udah kak, aku gakpp ko" suara gemetar Yoan terdengar pelan sekali dibelakangku.
"Lo gak usah ikut campur deh, ini urusan gue. Urus aja hidup Lo sendiri" jawabnya
"Kalo Lo masih merlakuin dia kek gitu, gue laporin Lo ke kepala sekolah."
"Halah so ngancam, punya bukti apa Lo?"tanyanya aku sempat gelagapan tapi akhirnya ide ala sinetron muncul di kepalaku.
"Gue udah rekam semuanya dari mulai percakapan Lo yang maksa pacar Lo buat ngasih barang haram pas di toilet, terus kejadian barusan semuanya udah ada di hp gue" ancamku padahal tentu saja tidak ada gak ada waktu buat ngerekam juga.
Dia terlihat memerah seperti malu dan takut bercampur menjadi satu. Kemudian satu telpon masuk ke hpnya, sepertinya dia menolaknya.
"Lo bakal nyesel udah berurusan sama gue. Urusan kita belum selesai" katanya lalu pergi terburu-buru.
"Terserah" kataku berani. "Kamu gakpp?" Tanyaku pada Yoan.
"Tidak kak, saya tidak apa-apa, saya sudah terbiasa juga seperti itu."
"Kenapa kamu mau jadi pacar dia si?" Tanyaku keheranan.
"Balas Budi. yah, balas budi. Hemh Intinya saya berterimakasih kepada Kakak, tapi saya mohon walaupun kakak sudah mengetahuinya kakak jangan sampai melaporkan apapun dan saya mohon juga kakak tidak usah mempedulikan ini lagi. Saya gak mau kakak jadi terbawa-bawa bahkan mungkin bisa saja celaka hanya gara-gara menolong saya. Saya mohon untuk itu dan berterimakasih banyak atas bantuan kakak dan kepedulian Kakak kepada saya. Saya duluan kak" jawabnya panjang lebar lalu pergi terlebih dahulu.
Aku menghembuskan nafas panjangku lumayan cape harus bertingkah so berani seperti itu. Saat itu aku merasa sedikit takut tapi segera ku tepis dan kupikir yasudahlah urusan mereka, lagian aku tidak punya bukti apa-apa tapi aku juga memutuskan untuk melaporkan jika sudah mempunyai bukti.
Aku segera berjalan menuju kantin karena Niana sudah terus mengirimiku pesan menanyakan dimana aku sekarang.
"Dintaaaa dari mana si?" Tanyanya kesal.
"Toilet" jawabku.
"Baksonya udah mau dingin tau itu" katanya.
"Gakpp aku suka ko yang dingin-dingin gini" jawabku dan langsung melahap bakso ku yang memang sudah di pesankan Niana sejak tadi dengan fikiran dipenuhi tentang Andi dan Yoan namun fikiran itu tiba-tiba hilang dan segera fokus pada Arkan yang baru saja datang dengan keringatnya dan tersenyum kepadaku yang sedang mengunyah mie bakso.
Sexi parah. Batinku
__ADS_1
🍁🍁🍁