Dari Dinta

Dari Dinta
5


__ADS_3

"iya buat apa?" Tanya ayah


"Ya apa salahnya? Terserah mamah juga dong mau beli apapun, uang mamah ko itu" jawab mamah.


Aku sudah siap untuk ke sekolah hanya tinggal sarapan saja, tapi sampai di meja makan aku hanya melihat ayah dan mamah saling bentak dengan nada tinggi rasanya hilang semua mood sarapanku pagi itu.


Aku menghampiri keduanya yang masih terus saling bicara dengan nada tinggi, bahkan setelah aku berdiri cukup lama disana mereka tidak mempedulikanku.


"Setidaknya mamah izin kek ke suami, mamah masih nganggap ayah suami mamah gak sih?" Tanya ayah


Aku mengambil gelas yang ada di meja yang sudah terisi penuh dengan susu buatan Bi Nani "Braaakkkkk" aku sengaja menjatuhkannya sampai keduanya diam melihat ke arahku.


"Ayah sama mamah kenapa si harus terus berantem kek gini? Ngemasalahin apa si kalian sampe gak sadar aku anak kalian dari tadi diem berdiri disini. Kalian kan udah tua gak usah bertingkah kaya anak kecil lah, Dinta muak dengan semua keadaan ini"


"Dinta ini bukan masalah mamah atau ayah yang udah tua tapi nak..."


"Ah udahlah apapun alasan kalian, ini semua tuh gak wajar dan Dinta gak suka" kataku lalu pergi dengan menahan tangis.


Sampai depan sudah ada Arkan dengan motornya. Tanpa banyak bicara aku langsung naik ke motor dan Arkan langsung menjalankan motornya pelan. Aku mulai terisak, dengan penuh kesadaran aku memeluk Arkan sambil sesekali menyeka air mataku. Arkan tidak bicara, dia hanya diam tidak bertanya atau apapun. dia mungkin menyadari aku sedang menangis tapi sepertinya dia memang tidak ingin bertanya atau apapun dan membiarkan aku tetap menangis.


Kalau di fikir-fikir saat itu aku sudah seperti Milea saja. Saat aku pertama kali nonton film Dilan di bioskop, saat itu aku masih pacaran, aku ingat sekali saat adegan itu tapi di Dilan Milea bahagia sedangkan aku sedang menangis.


Sampai di sekolah aku sudah berhenti menangis dan seperti biasa aku ikut ke parkiran. Arkan membantu melepaskan helm ku lalu merapikan rambutku membuatku terbang bersama perasaan sepihak ini.


"Yo" katanya berjalan terlebih dahulu dan kemudian kami berjalan sejajar. Arkan belum menanyakan apapun kenapa aku menangis aku sempat berfikir mungkin Arkan tidak tau tadi aku menangis.


"Ke kantin dulu yah, kamu belum sarapan" katanya.


"Lah?" Hanya itu reaksiku.


"Iya kan?" Tanyanya dan aku mengangguk


"Ko tau?"


"Aku sampe ke rumah kamu lebih pagi hari ini, kalau hitungan ku harusnya aku sekitar 10 menit nunggu kamu dan itu waktu sarapan kamu, tapi tadi aku gak nunggu dan kamu keluar 10 menit lebih cepat, itu artinya kamu gak sarapan" jelasnya.


Arkaaaaaaaaannnn Adek meleleh bang sampe hafal begitu. Batin konyolku saat itu.


"Iya si" jawabku dan dia langsung berjalan dengan tangan merangkul pundak ku masuk kantin.

__ADS_1


"Ceu bubur 2 tanpa kacang satu" pesan Arkan kepada Bu kantin yang semua murid di sekolahku memanggilnya ceuceu dengan buburnya yang enak. Nama aslinya Ceu Rina tapi anak-anak cukup manggil eceu, ceuceu, atau Ceu saja.


"Siap bos" jawabnya.


"Nangis lagi?" Tanyanya tiba-tiba sesaat setelah duduk.


"Biasalah obat kesel" jawabku.


"Berantem lagi?" Tanyanya dan aku mengangguk.


"Kayanya Ayah kesel liat mamah beli mobil baru tanpa izin ayah, mamah si yang salah karena emang gak izin ke ayah walaupun aku juga tau itu memang uang mamah" kataku.


"Yang sabar yah, Semuanya pasti akan cepat membaik" katanya sambil mengacak rambutku pelan dan aku mengangguk "semangat ah" katanya lagi.


"Semangat kembali" jawabku sambil menerima dua mangkuk bubur dari Ceu Rina.


"Makasih Ceu" kataku.


"Siap" jawabnya.


"Yaudah ayo makan, abisin" katanya dan aku mengangguk dan kami mulai makan.


🍁🍁🍁


"Ann ganti di toilet aja yuk" ajak ku pada Niana.


"Iya ayo" katanya dan kami keluar menuju toilet.


Setelah selesai aku langsung menuju lapangan utama disekolah dan menemukan Arkan di koridor pinggir lapangan dengan teman-teman kelasnya.


"Lah? Di hukum apa gimana?" Tanyaku.


"Negatifnya ini anak, gak ada guru, dari pada dikelas udah aja disini" kataku.


"Sambil cuci mata katanya Din liat cewek lain disini" kata Reno.


"Ya kan gue juga normal" jawab Arkan.


"Aaaaah iyalah terserah, gue olahraga dulu" kataku.

__ADS_1


"Semangat Dintaaaa" kata Arkan.


"Semangat Annaaaaa" kata Reno kepada Niana.


"Ya ya ya yah" jawab Niana dan kami pergi.


Agendanya seperti biasa pemanasan lebih dulu dan akhirnya pak Rudi guru olahraga ku malah pergi karena ada urusan katanya.


Aku hanya berlari kecil bersama teman sekelas dan sesekali aku melihat Arkan yang masih mengobrol dengan teman-temannya ditempat yang sama.


Kami bermain volly bersama, jika sudah seperti itu rasanya semua bebanku hilang. Aku memang lemah tapi tidak pernah memperlihatkan kelemahanku di depan teman-temanku mungkin hanya Arkan yang tau aku lemah seperti ini.


Beberapa kali kepalaku terkena bola dari service service anak laki-laki yang saat itu memang aku bermain bersama mereka. tapi aku hanya tertawa walaupun memang sedikit sakit.


Permainan volly terus berlanjut sekarang tim wanita lawan tim wanita. Permainan saat itu sungguh menarik dimana taruhannya siapa yang kalah harus menggendong tim yang menang keliling lapangan dan dengan bangga saat itu timku menang dan tim lawan menggendongku keliling lapangan. Dan dengan hal sederhana itu aku bisa tertawa lepas dan melupakan semua masalahku di rumah. Saat itu aku di gendong dengan temanku yang badannya super besar bernama Ica dan kabarnya satu tahun yang lalu Ica meninggal akibat serangan jantung di Manado tempat dia tinggal bersama suaminya. Do'a terbaik untuk temanku Ica semoga kamu tenang disana. Aamiin.


🍁🍁🍁


Seperti biasa setelah selesai jam pelajaran aku langsung menuju gerbang tapi aku mampir dulu ke toilet saat itu untuk mencuci tanganku karena tercecer cairan berwarna bekas praktik biologi yang dilakukan di jam trakhir.


Aku masuk toilet dan sepertinya disebelah ada orang. Aku melihat dua pasang sepatu dari bawah dinding toilet yang memang dindingnya tidak sampai ke lantai. Sepertinya memang ada dua orang tapi yang satu seperti anak laki-laki.


Aku menempelkan telingaku untuk mengetahui apa yang mereka bicarakan. Tapi aku tetap tidak bisa mendengarnya. Dengan penuh penasaran aku naik ke atas WC.


"Lo gak usah nolak apapun yang gue perintah, Lo lakuin aja tinggal Lo kasih."


"Tapi gue takut Ndi" jawab wanita itu.


"Takut apa? Ini barang kecil gak akan ketauan. Atau Lo mau foto Lo gue sebar?" Tanyanya.


"Jangan Ndi gue mohon." pinta wanita itu


Dengan perlahan aku segera keluar dari toilet dan bernafas lega diluar.


Aku belum mengetahui siapa wanitanya yang kulihat hanya rambut pendeknya, tapi aku yakin dia masih anak kelas X dan sepertinya dia juga anak taekwondo, tapi aku lupa namanya siapa dan laki-lakinya aku tau laki-laki itu, namanya Andi anak XI IPS 4.


Sudahlah Dinta tidak perlu dipikirkan itu urusan orang. Batinku.


Dan aku langsung segera pergi menuju gerbang karena aku yakin Arkan sudah menungguku untuk pulang.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2