Dari Dinta

Dari Dinta
21


__ADS_3

Sampai di rumah aku langsung menuju dapur menyapa Bi Nani seperti biasanya lalu meneguk air mineral dingin sambil ku lihat layar handphone ku yang masih menampilkan SMS dari Kevin.


Hahaha bisa jadi.


Aku segera beranjak dari dapur menuju kamar untuk mandi dan mengganti pakaianku. Setelah semuanya selesai aku kembali mengecek handphoneku dan satu pesan masuk sudah tertera sejak aku menghidupkan layarnya.


๐Ÿ“ฉKevin


Hahaha iya. Kamu udah pulang?


Udah. Dari tadi. Masih ekskul?


Aku menjatuhkan diriku sambil membaca novel yang sebelumnya ku beli bersama Arkan di malam yang menyebalkan itu.


๐Ÿ“ฉKevin


Udah mau pulang ini otw parkiran hehe.


Oh, hati-hati.


๐Ÿ“ฉKevin


Siap.


Aku melanjutkan membaca buku ku tanpa ada niat untuk membalas pesan Kevin lagi saat itu. Sore itu lumayan indah bagiku, karena sebelumnya aku bisa bersama Arkan. Aku jadi tersenyum sendiri sambil menatap langit-langit kamarku.


Dreedd. Tanda pesan masuk


๐Ÿ“ฉ Arkanmopq


Din? Udah mandi?


Udah dong. Emangnya kamu :p


๐Ÿ“ฉ Arkanmopq


Enak aja. Udah juga dong.


Bagus deh kalo gitu.


๐Ÿ“ฉ Arkanmopq


Kata Bubu kesini.


Mau apa katanya?


๐Ÿ“ฉ Arkanmopq


tau paling nyuruh makan kek biasanya.


Yaudah deh aku kesitu.


๐Ÿ“ฉ Arkanmopq

__ADS_1


Yaudah ayo, aku udah di depan ko.


Lah? Ngapain? Kenapa gak bilang dari tadi?


Dengan terburu-buru aku segera bersiap pamit kepada Bi Nani lalu segera keluar. Dan laki-laki yang ku suka dan ku cinta saat itu langsung tersenyum saat melihatku.


"Kenapa gak masuk aja si?" Tanyaku membuka pintu pagar rumahku.


"Nanggung kan kamu yang ke rumah aku. Ayo" katanya sambil merangkul kasar pundakku.


"Mau apa si bubu?"


"Gak tau, aku cuma di suruh jemput aja" jawabnya dan tak lama kami sampai.


"Bubuuuuu nih udah Dateng" kata Arkan sambil membawa tanganku masuk kedalam.


"Tante" kataku dan bersalaman.


"Sini duduk sini" katanya.


"Iya Tante makasih" jawabku dan langsung duduk di samping ibunya Arkan sedangkan Arkan duduk di sebrangku sambil mengambil camilan yang sudah tersedia disana.


"Jadi Tante nyuruh Arkan jemput Dinta tuh, Tante mau ngajak Dinta buat pergi hari Minggu nanti" katanya.


"Wah? Kemana Tante?" Tanyaku.


"Ke Bandung. Jadi om, ayahnya Arkan baru beli villa gitu di Bandung, nah kita sekeluarga mau kesana Dinta ikut yah" lanjutnya lagi.


"Lah Bubu ko Arkan gak tau?" Tanya Arkan.


"Assshhhh, jadi yang anaknya Bubu aku apa Dinta sih?" Kata Arkan


"Jadi gimana Din? Bisa kan?" Tanyanya aku hanya tersenyum dari tadi.


"Iya kalau gak ada halangan Dinta ikut ko Tante"


"Waaaahhh syukur deh kalau gitu. Kan kebetulan tuh Seninnya juga libur kan?" Tanyanya dan aku mengangguk.


"Tapi tante beneran gakpp nih Dinta ikut? Terus nginep juga?"


"Ya gakpp Lah orang Tante yang ajak. Kak Rahfa juga ikut ko. Kita nginep dua malem disana kalau gak ada halangan om yang harus balik buru-buru ke Jakarta karena kerjaan si." Jelas ibunya Arkan.


"Oh iya iya Tante" jawabku.


"Nanti biar Tante juga yang izin ke ibumu kalau seandainya ibumu atau ayahmu gak ngizinin."


"Iya Tante"


"Aku anaknya siapa si Bu?" Tanya Arkan yang sejak tadi aku lihat-lihat dia terus saja menatap kami yang sedang berbicara.


"Anak Bubu lah." Jawab ibunya.


"Kek nya kita perlu tes DNA deh Din? Apa jangan-jangan kita Adek Kakak. Atau Bu, aku Dinta Bubu dan ibunya Dinta yang tes DNA, bisa ajakan kita anak yang tertukar?"

__ADS_1


"Euuuuhhh ngaco" kata Ibunya Arkan sambil berdiri dan menggetok kepala Arkan pelan.ย  "Dinta bentar yah Tante mau ngeringin dulu cucian" katanya.


"Iya Tante" jawabku tersenyum


"Waaaaaaahhhh Bu, besok ke Rumah Sakit deh Arkan bener-bener butuh tes DNA kalau kek gini caranya". kata Arkan setengah teriak tapi ibunya tidak menghiraukannya.


"Dasar Arkan Mahendra" omelku.


"Jadi kamu ikut kan?" Tanyanya tiba-tiba.


"Gak tau"


"Lah? Ko gitu. Tadi katanya mau"


"Ya itukan ke ibumu Arkan, masa aku langsung bilang nggak. "


"Emangnya mau kemana sampe gak mau ikut? ketemu Kevin?" Tanyanya tiba-tiba membuat dahiku langsung mengerut.


"Ko Kevin? Apa hubungannya?"


"Ya kan mau ngajak kamu main bukan selama libur seminggu depan?"


"Kapan aku bilang?"


"Pas di kantin, ke Niana"


"Ya kan aku cuma bilang Kevin nya aja yang mau ke Jakarta bukannya mau main sama aku" belaku.


"Ya dari seminggu itu pasti ada hari buat kamu sama dia main. Ya kan mau main kan? Udah di rencanain kan?" katanya lagi membuat aku sedikit senang banyak sebalnya karena gak enak aja Arkan kek gini.


"Lah ko kamu nuduh? Belum juga pasti udah nuduh-nuduh."


"Tuh kan? Itu tuh udah punya rencana." Aku semakin kesal saja pada Arkan saat itu.


"Oke, Ya kalau iya kenapa? Kamu mau larang aku? Hak mu apa? Aku juga gak larang-larang kamu pas kamu main sama Shanum, bahkan pas pulang dari toko buku aku biarin kamu nemuin Shanum bela-belain aku jalan kaki jauh, harus nyari tukang ojeg dan pulang hujan-hujanan. Kamu peduli?" Tanyaku dengan nada sebagaimana orang yang ngungkapin unek-uneknya.


Arkan diam setalah aku selesai bicara sambil menatapku lekat tapi entah kenapa aku jadi malu sendiri.


"Udah ah aku mau pulang, bilangin ibumu aku pamit" kataku dan pergi meninggalkan Arkan yang masih menatapku lekat.


Aku berjalan cepat keluar dari rumah Arkan dengan menepuk-nepuk jidatku sendiri.


"Ya ampun Dinta kenapa bilang gitu si? Itu tuh sama aja kamu bilang kalau kamu cemburu dan secara singkat kamu bilang kamu cinta Arkan dan gak boleh Arkan berhubungan sama Shanum. Ah bodoh-bodoh" aku berbicara sendiri sambil terus berjalan keluar dari halaman rumah Arkan.


"Dinta tunggu bentar" kata Arkan dari belakang. Aku melihat ke arahnya sebentar lalu berhenti dengan bingung.


"Dibilang tunggu juga woy, budeg apa?" Tanyanya dari belakang dan langsung membalikan tubuhku sampai ke posisi berhadap-hadapan.


"Apa lagi? Mau nuduh aku lagi?" Tanyaku tenang. "Denger yah Ar, aku juga gak mungkin semudah itu di ajak main sama cowok yang baru aku kenal jadi gak usah khawatir berlebihan, kita cuma sahabat, kamu gak bisa seenaknya juga ke aku" kataku nyerocos.


"Jujur ke Aku, aku gak boleh deket sama Shanum?" Tanyanya sambil menatap mataku membuat aku ingin memeluk Arkan saat itu.


"Nggak ko, siapa bilang? Itu hak mu buat bisa deket sama siapa aja atau jatuh cinta sekalipun. Kenapa aku harus gak boleh? Nggak lah. Alay banget. Nih yah Arkan selagi itu baik buatmu dan bahkan bikin kamu bahagia kenapa aku harus gak ngebolehin segala" kataku berusaha netral

__ADS_1


"Aku anterin kamu pulang aja ayo" katanya dengan senyuman dan merangkulku untuk berjalan membuat aku jengkel saja tapi aku tidak bisa memperlihatkan kejengkelanku saat itu.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


__ADS_2