Dark Walker

Dark Walker
episode 11


__ADS_3

"Pendekar angkasa Bintang... Telah tiba," Ucap Bintang yang datang dan menatap Prabu Asmoro Bangun serta Dewi Krasih lalu akhirnya memasang kuda-kuda.


"Hajar dia!" Ucap Prabu Asmoro Bangun yang memerintahkan Dewi Krasih yang langsung menyerang dengan pukulan yang membuat makhluk itu terlempar, sementara Edwin bangkit dan menatap Bintang yang melompat dan menendang Prabu Asmoro Bangun yang mundur menghindari serangan itu.


"Mundurlah, orang ini biar aku yang hadapi!" Ucap Bintang sembari memasang kuda-kuda ke Prabu Asmoro Bangun yang langsung mengeluarkan tongkatnya.


"Akan kutangani dengan serius," Ucap Bintang yang langsung berlari menerjang Prabu Asmoro Bangun yang menghindar dan langsung menyerah dengan tongkatnya. Namun, dengan cepat dihindari olehnya.


"Bela Diri Angkasa Tendangan Neptunus!" Ucap Bintang yang menendang dengan kaki bagian luar yang langsung ditahan oleh Prabu. Namun, karena kuatnya tendangan itu sukses membuatnya mundur beberapa langkah.


"Keren," Puji Tasya dan Edwin. Namun, Dewi Krasih mulai bangkit dan membuat mereka berdua mengalihkan pandangan ke makhluk itu.


"Win, lebih baik lu amankan si Ditha, biar gue yang hadapin makhluk ini," Ucap Tasya ke Edwin yang mengangguk dan berlari ke arah Tasya.


*************


Di tempat lain nampak Laler terlempar keluar sedangkan Dandi dan Al berlari mengejar makhluk itu yang nampak berteriak dan sebuah aura biru terkumpul di tubuhnya.


"Arghh!" Nampak Laura berteriak kesakitan dan membuat Rico panik. Namun, terlihat seorang gadis memegang dahi Laura dan sebuah cahaya bersinar dari tangan gadis itu.


"Bantu kak Jefri, biar gue yang lindungin kak Laura," Ucap gadis itu ke Rico yang mengangguk dan mengeluarkan kalungnya yang bersinar dan berubah menjadi pedang dan langsung digunakan oleh Rico untuk menyerang jin-jin itu hingga menjauh dan membuat Jefri menatap tajam.


"Nampaknya kali ini biar aku yang beraksi," Ucap Yaca ke Jengki yang mengangguk dan mulai menjauh dan sebuah energi dari tubuh Laura nampak mengalir di tubuh Yaca dan mengubahnya menjadi harimau raksasa yang membuat mereka berdua terkejut.


"Uakh!" Teriak Laura kesakitan yang membuat Rico dan Jefri panik dan bersiap menghadapi makhluk itu yang melompat dan langsung menerkam mereka berdua yang berhasil menjauh.


"Heaa!" Nampak ledakan api mengarah ke Yaca yang membuat luka bakar di salah satu kaki harimaunya yang langsung mengaum hingga melempar Jefri sementara memanfaatkan kesempatan untuk menyerang Yaca yang langsung menghantamnya dengan salah satu kakinya.


Namun, sebuah sinar terlihat dan memotong kaki itu hingga membuat Yaca berteriak kesakitan.


"Kak! Kondisi kak Laura benar-benar kritis!" Ucap gadis itu yang didengar oleh Jefri dan Rico yang langsung berlari menuju Yaca yang mengaum keras.


"Sekarang atau gak Rico! Kita selesaikan makhluk ini!" Ucap Jefri ke Rico yang mengangguk dan berlari kencang menuju sang harimau yang masih berusaha menyerang mereka berdua.


"Jefri!" Teriak Rico yang mengarah ke pedangnya ke arah pria itu yang melompat ke bagian tumpul pedang itu dan dilemparkan oleh Rico ke atas.


"Groaa!" Teriak Baca sementara mata Rico mulai menyala dan pedang itu Ia pegang dengan kedua tangannya, sementara tangan kanan Jefri mulai berubah dan mengeluarkan api yang besar.


"KalaRau Hand, Burning Earth Punch!" Teriak Jefri yang menghantam tubuh bagian atas Baca dari atas hingga membuatnya terbakar.


"Pedang cahaya tebasan horizontal!" Teriak Rico dan sebuah tebasan cahaya membentuk garis mendatar memotong makhluk itu yang hancur menjadi debu-debu biru yang masuk ke dalam tubuh Laura.


"Mati juga makhluk ini," Ucap Dandi yang mencabut pedang itu dari tubuh Laler yang perlahan hancur menjadi debu.


"Sepertinya makhluk ini dibuat untuk mencelakai seseorang," Ucap Al ke Dandi dan Tsabina yang melihat makhluk itu.


"Keknya gue tau, siapa yg terlibat kasus ini," Ucap Tsabina ke Dandi dan Al yang menatapnya bingung. Namun, Dandi segera tersenyum karena mengetahui sesuatu, sedangkan tanpa mereka sadari sebuah kamera menangkap momen-momen tadi.


"Bagus nih buat koleksi," Gumam pemilik kamera itu yang ternyata adalah Ersya


*******


Kembali ke tempat Bintang nampak Prabu Asmoro Bangun terus terdorong karena pukulan dan tendangan Bintang yang membuatnya semakin kewalahan.


"Pintu angin!" Ucap Prabu Asmoro Bangun yang menghalangi salah satu tendangan Bintang hingga membuatnya terlempar.


Namun, Ia dapat mengimbangi tubuhnya dan kembali menyerang.


"Pukulan angin!" Ucap Prabu yang memukul ke arah Bintang dari jauh dan ternyata sukses mengenai pipi kirinya dan hampir membuat topengnya terlepas dan segera Ia perbaiki posisinya.


"Makan nih!" Ucap Prabu yang kembali menyerah. Namun, dengan mudah Ia melompat menjauh dan sebuah energi berbentuk debu angkasa berkumpul di kakinya.


"Bela Diri Angkasa Tendangan Debu Angkasa!" Teriak Bintang yang menendang Prabu hingga membuat debu angkasa tadi bertaburan ke arah Prabu membentuk seperti meteor kecil yang diserap oleh bola angin Prabu yang Ia lemparkan ke arah Bintang yang dihancurkan dengan mudah oleh Bintang.


Dan saat itu Prabu tersadar akan sesuatu yang membuatnya sedikit panik dan menjadi kesempatan emas bagi Bintang yang berlari ke arah Prabu.


"Sial, aku harus kembali segera," Gumam Prabu yang mengeluarkan energi angin yang besar yang Ia arahkan ke atas.


"Tarian Elang Jawa," Ucap Prabu yang menyerang Bintang dan Tasya yang nampak kewalahan dengan serangan Dewi Krasih dan saat itu mereka berdua menghilang dari sana meninggalkan Bintang, Tasya, Ditha, dan Edwin yang terkejut dengan tingkah aneh Prabu saat itu.

__ADS_1


"Sial," Gumam Bintang yang berjalan meninggalkan mereka bertiga.


"Tunggu?!" Ucap Tasya ke Bintang yang nampak mengabaikan mereka berdua.


"Ditha harus dibawa ke rumah sakit," Ucap Edwin ke Tasya yang nampak panik mengetahui hal itu dan segera menelpon ambulan dan segera membawanya ke rumah sakit.


"Tasya? Edwin?" Panggil seseorang saat mereka di rumah sakit yang membuat mereka menoleh ke arah suara itu.


"Rico? Jefri?" Kaget Tasya dan ia juga nampak bingung melihat seorang gadis yang ada di sana.


"Gue Tissa adik kelas kalian," Ucap Tissa memperkenalkan diri ke mereka sembari tersenyum.


"Kenapa lu bisa ada saat kejadian tadi? Dan lu juga yang pagi itu ngehalangin salah satu makhluk tadi yang mau celakain siswi di sekolah kan?" Tanya Rico ke Tissa yang mengangguk membenarkan.


"Dan gue juga yang kasih aware ke lu kak, buat gk usah ikut masalah ini," Jawab Tissa lagi ke Rico yang mengangguk karena mengingat pertemuan mereka sebelumnya.


"Kenapa lu bisa tau semua itu?" Tanya Jefri penasaran ke Tissa yang menunduk dan menatap mereka tajam.


"Karena gue bisa lihat mereka, dan gue tau kak Laura terlibat sejak seminggu yang lalu," Terang Tissa ke Rico dan yang lainnya.


"Berarti lu lebih tau masalah ini," Ucap Edwin ke Tissa yang mengangguk dan menatap mereka.


"Kurang lebih begitu," Ucap Tissa ke mereka yg ada disana.


"Sesuai dengan dugaan awalku, sekarang adalah waktu bagi Abdi Iblis untuk mengambil jiwa Laura," Ucap Joel yang tiba-tiba sudah duduk di kursi yang ada di sana.


"Masih ada waktu sampai jam 12 malam," Bantah Tissa ke Joel yang tersenyum dan melihat jamnya.


"Sekarang sudah hampir jam 10, dan masih ada 2 makhluk lagi," Ucap Joel ke Tissa yang kesal mendengar ucapan Joel dan tiba-tiba semua orang yang ada di sana pingsan dan di luar nampak Jengki berjalan mendekati rumah sakit dan teriakan dari Laura kembali terdengar.


"Akan kuambil tubuh Laura kali ini," Ucap Jengki yang makin mendekat. Namun. Rico dan Jefri nampak berjalan keluar dari rumah sakit.


"Gak akan kami biarkan!" Ucap Rico yang membuat Jengki tertawa dan jiwa Laura perlahan masuk ke tubuhnya yang membuat Rico makin geram dan langsung mengeluarkan pedangnya sembari berlari menuju makhluk itu yang memanjangkan ekornya kemudian langsung menusuk Rico yang langsung menangkisnya, sementara pukulan api Jefri dengan telan mengenai perut Jengki hingga terhempas.


"Laura, lu harus kuat," Ucap Tasya dan Tissa sembari mengenggam tangan Laura.


Terlihat saat itu Laura mendapat kabar bahwa kakaknya meninggal dan membuatnya terpuruk dan pasti membuat sifatnya berubah hingga membuatnya dijauhi oleh teman-temannya.


"Ini ingatan Laura," Gumam Tasya yang melihat hal ini.


"Gue punya sesuatu nih," Ucap salah satu teman Laura yang memberikan sebuah Jelangkung.


"Apaan nih?" Tanya Laura ke temannya itu yang memberikan sebuah artikel ke Laura yang berpikir cukup lama sebelum akhirnya Ia bawa dan mulai memainkan permainan Jelangkung itu hingga akhirnya bayangan kakaknya terlihat.


Namun, makin lama bayangan itu berubah menjadi sosok siluman Kalajengking.


"Aku bisa membuat kakakmu hidup kembali asalkan kau membiarkan aku dan kedua temanku mengonsumsi jiwamu," Ucap Jengki dengan tipu dayanya yang membuat Laura mulai tertarik dengan hal itu dan menerima tawaran Jengki yang ternyata tidak sesuai harapan dan saat Ia akan mengakhiri...


Tidak akan ada jalan kembali dan akhirnya perjanjian itu terus ada hingga sekarang, siapapun yang berbuat masalah dengan Laura akan mereka habisi dan makan jiwanya hingga membuat orang-orang yang mengetahui hal itu mulai menjuluki Laura sebagai gadis terkutuk dan dijauhi oleh teman-temannya dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan terlihat Laura yang duduk dan memeluk kedua lututnya dan dikelilingi oleh banyak Kalajengking.


"Laura!" Panggil Tasya panik dan akan berlari ke sana. Namun, ditahan oleh Tissa yang menggelengkan kepalanya.


"Kita gak bisa langsung kesana kak, bisa bisa kita yang akan jadi mangsa kalajengking itu," Kata Tissa memperingati dan nampak Laura menatap mereka dengan tatapan sayu.


"Apa lagi yang kalian inginkan! Belum puas manggil gue anak terkutuk dan suruh mereka jauhin gue!! Masih kurang?!," Marah Laura dan membuat para Kalajengking - Kalajengking tadi bergerak ke arah mereka.


"Bahaya?!" Ucap Tasya yang mengeluarkan kalungnya yang bercahaya dan berubah menjadi pedang dan digunakan untuk menebas Kalajengking yang mendekat.


"15 menit lagi kalau begitu," Nampak Jefri mengarahkan tangannya ke depan dan perlahan tangan itu terkelupas dan berubah menjadi tangan Monster berwarna coklat yang retak dan dari retakannya muncul nyala api.


"Kalarau Hands," Ucap Jefri serius sementara Rico mulai memasang kuda-kuda serius hingga membuat Jengki tertawa.


"Hahaha! Jangan kira karena hal itu alu akan ketakutan!" Ucap Jengki yang menyerah dengan ekornya yang mengarah ke Jefri yang langsung ditangkis oleh Rico dan dengan cepat Jefri melompat di ekor Jengki dan berlari mendekatinya...


"Kalarau Hand, Burning Earth Punch!" Teriak Jefri yang menghantam tubuh Jengki hingga terhempas ke belakang.


"Kerja bagus," Puji Rico ke Jefri yang tersenyum meremehkan. Namun, sebuah sinar biru membuat mereka terkejut dan nampak Jengki muncul dengan tubuh Kalajengking raksasa yang langsung mencambuk Rico yang terlempar kebelakang sementara Jefri mulai menghantam tubuh Kalajengking raksasa itu yang tidak bergeming dan malah sebuah pukulan dari capitnya membuat Jefri terhempas.


"Belum selesai!" Teriak Jefri yang berlari dan kembali memukul Kalajengking yang langsung menghantam dengan ekornya.

__ADS_1


Namun, ditahan oleh Pria itu yang membakarnya dengan tangannya dan Jefri malah dilempar oleh makhluk itu ysng kemudian mau ditusuk dengan ekornya yang mengeluarkan racun.


*******


Ternyata Kalajengking raksasa itu juga ada di dalam pikiran Laura dan menyerang Tasya serta Tissa.


"Gue bakal bantu halangin makhluk ini, lu segera sadarin Laura," Ucap Tasya ke Tissa yang mengangguk dan berjalan mendekati Laura yang menatapnya tajam dan membuat gadis itu terlempar, Namun, Ia segera bangkit dan berjalan menuju Laura.


"Kak, lu gak harus ngelakuin ini, lu gak harus nyerah dengan semuanya" Ucap Tissa ke Laura yang tidak bergeming dan malah mengarahkan tangannya yang seperti mencekik ke arah Tissa yang langsung memegang lehernya dan tiba-tiba terangkat.


"Gue udah nerima apa yang akan terjadi, setidaknya gue udah bisa ketemu sama almarhum kakak gue," Ucap Laura dengan tanpa penyesalan.


"Lu kira dengan cara ini lu bisa ketemu kakak lu?! Gak!! Laura kakak lu bakalan kecewa kalau tau masalah ini!" Kata Tasya mengingatkan Laura yang geram dan seketika capitan Kalajengking nyaris mengenai tubuhnya jika Ia tidak melompat menjauh.


"Tau apa lu! Orang kaya lu gak mungkin ngerti apa yang gue rasain!" Marah Laura ke Tasya yang menahan semua serangan Kalajengking raksasa itu.


"Gue emang gak ngerti! Tapi gue tau hal yang lu lakuin ini sia-sia, masih banyak orang yang butuh lu!" Ucap Tasya ke Laura yang terdiam dan melepaskan Tissa yang terbatuk-batuk.


"Termasuk adek lu! Dia masih butuh banyak support dari lu kak Laura!!!" Ucap Tissa ke Laura yang memegang kedua kepalanya. Namun, Kalajengking raksasa tadi yang menyadari hal itu mulai berbalik dan menyerah Laura dengan ekornya.


"Laura!"


"Kak Laura!"


Nampak Tasya dan Tissa panik melihat hal itu namun secara tiba-tiba ekor itu terpotong dan jatuh.


"Belum selesai!" Teriak Rico yang dikelilingi aura putih yang membuat Jefri terkejut sementara Jengki berteriak keras dan berlari menyerang Rico yang berjalan dan berada di belakang makhluk itu sembari memegang capit kirinya dan saat makhluk itu berbalik capit kanannya sudah terbang ke atas dan Rico nampak memasang kuda-kuda.


"30 detik!" Teriak Jefri dan nampak seluruh tubuh yang terpotong kembali menyatu dan langsung digunakan oleh Jengki untuk menyerang Rico. Namun, sebuah rantai api mengikat tubuh Jengki.


"Serang dia!!!" Teriak Edwin yang mengepalkan tangannya yang mengeluarkan rantai tadi.


"Kala Rahu Hand! Burning Earth Blast!" Teriak Jefri yang mengeluarkan ledakan api yang mengarah ke Jengki yang telak mengenainya dan membakar tubuh makhluk itu.


"Tebasan cahaya... Tebasan cahaya... Sabetan pembebas jiwa!" Teriak Rico yang menebas dengan tebasan cahaya yang membelah Jengki menjadi dua dan perlahan hancur menjadi debu sama halnya dengan Kalajengking raksasa yang ada di pikiran Laura yang terbelah dua hingga membuat Tasya dan Tissa terkejut, tapi juga senang.


"Akhirnya berhasil!!!" Teriak Edwin namun tiba tiba mereka bertiga pingsan karena kelelahan...


"Laura?!" Panggil Rico yang tersadar dan nampak Ia berada disebuah kamar dan di depannya terlihat Tasya, Laura, Tissa, serta Edwin yang tersenyum dan memberikan tepuk tangan ke Rico.


"Kita berhasil!" Ucap Edwin senang sembari menepuk pundak Rico.


"Berkat bantuan lu kita berhasil menyelamatkan Laura dari kutukan Banaspati," Ucap Tasya ke Rico yang tersenyum menatap Laura dan langsung bangkit dari tempat tidurnya.


"Terima kasih, berkat lu... Akhirnya gue bisa hidup normal lagi," Ucap Laura ke Rico yang mengangguk dan mengulurkan tangannya ke Laura.


"Sudah tugas gue yang punya kelebihan ini untuk menolong kok," Jawab Rico yang tangannya dijabat oleh Laura.


"Satu kasus terselesaikan," Ucap Edwin senang ke Rico yang tersenyum dan nampak melihat sekitar.


"Ditha mana?" Tanya Rico ke Edwin yang tersenyum mendengar pertanyaan itu.


"Ditha udah gue hapus memorinya dan gak gabung di tim kita lagi, ini terlalu berbahaya buat dia," Jawab Tasya ke Rico yang mengangguk paham.


"Yah memang kerjaan kita ini bener-bener punya resiko yang besar, gue maklumin kalau Ditha sampai keluar," Jawab Edwin ke Rico dan Tasya yang mengangguk dan tersenyum.


"Tapi akhirnya kita dapet 2 anggota baru nih, Tasya dan Tissa," Ucap Edwin yang dibalas tepuk tangan Tasya dan Tissa.


"Kita baru habisin 3 Abdi Banaspati, tersisa 4 lagi agar kita bisa mengalahkan dia," Ucap Tissa ke mereka bertiga.


"Banaspati harus kita hancurkan, agar tidak ada lagi manusia yang jadi korban iblis itu," Gumam Rico yang dibalas anggukan oleh mereka bertiga.


*******


"Gue masih belum kuat!" Ucap Jefri yang memukul samsak di depannya dengan keras sembari mengingat kejadian saat Ia nyaris dikalahkan oleh Jengki dan sebuah pukulan membuat samsak tadi berlubang dan hancur.


"Aku harus lebih kuat dari Rico!" Ucap Pria itu mantap.


                  TO BE CONTINUED

__ADS_1


__ADS_2