Dark Walker

Dark Walker
episode 20


__ADS_3

"Lu terlibat dalam kasus ini rupanya," Kata Jefri ke Rio yang terkejut dan mundur perlahan.


"Kasus apa? Gue gak tau," Jawab Rio namun Jefri yang sudah emosi langsung melompat turun dan berlari ke arah Rio tepat sebelum kilat kuning menyambar tubuhnya dan terlihat Pria misterius bertopeng Thunderbird muncul dan menendangnya, sekaligus memberi kesempatan bagi Rio untuk kabur.


"Siapa lagi dia?! Edwin!" Kesal Jefri sembari melirik Edwin yang mengeluarkan rantai api dari tangannya.


"Kam die brachwache! Der Dämonentanz Hölle!" Teriak Edwin yang memukul tangannya ke tanah dan seketika disekitar pria itu muncul banyak rantai yang terus menyerangnya tanpa henti walau dengan mudah dihindari oleh Pria tadi yang mencoba membalas.


Namun, sebuah besi panjang nyaris menghantam wajahnya jika Ia tidak cepat menghindar.


"Lu urus jarak jauh biar gue yang hadapin dari dekat," Kata Jefri yang mengubah kedua tanganmu menjadi tangan jin yang langsung Ia gunakan untuk menyerang walau dengan mudah dihindari dan langsung terkena tendangan Pria bertopeng tadi yang langsung bersiap menebas Jefri sebelum meteor biru menghantam Pria itu hingga terhempas dan menabrak dinding rumah.


"Satria bintang datang, bersiaplah untuk menjemput takdirmu," Ucap Bintang ke pria bertopeng yang tertawa dan mengaliri pedangnya dengan kilat kuning yang menyambar.


"Semuanya bersiap!" Kata Jefri ke Edwin dan Bintang yang memasang kuda-kuda, sementara Daniel mulai memainkan katananya.


"Dancing thunder bird!" Teriak pria bertopeng tadi yang berlari dengan tubuh ditutupi listrik disertai kilat yang menyambar berwujud kepala burung yang mengarah ke mereka bertiga.


"Rahu's hand sun breaker!"


"Kette der Zerstörung!"


"Bela diri angkasa pukulan jupiter!"


Ketiga serangan gabungan tersebut mengarah saling beradu dengan serang petir itu hingga meledak dan hingga memperlihatkan topeng yang hancur dan jatuh.


"Sekarang kita tau identitasnya!" Kata Jefri namun tangan hitam raksasa mengarah ke mereka bertiga.


"Beraninya kalian menggangu tidurku!" Murka sesosok genderuwo yang cukup besar dengan taring panjang yang menatap Jefri, Edwin, serta Bintang yang menatap sinis makhluk itu.


"Menggangu saja!" Geram Edwin sementara pria bertopeng tadi mulai berlari meninggalkan mereka bertiga.


"Tunggu!" Bintang mencoba mengejar. Namun, terhalang oleh tangan genderuwo itu yang berhasil menghindar dengan melompat dan langsung menendang makhluk itu.


"biar gue aja," Kata Edwin yang mengeluarkan rantai apinya lalu Ia tancapkan ke tanah.


"Höllenfalle!" Teriak Edwin dan muncul banyak rantai api dari dalam tanah berbentuk perangkap yang mengikat dan menjerat genderuwo tersebut sementara Jefri langsung mengeluarkan bola api dari tangan kanannya yang Ia tangkap.


"Habisi dia Jef," Kata Edwin yang langsung berlari dan melompat lalu menghantam tubuh genderuwo itu hingga hancur dan terbakar.


"Selesai," Ucap Jefri yang menerima telfon dari Tissa dan mengangkatnya, sementara Bintang berjalan menjauh dari mereka dan menghilang.


"Apa?! Tasya? gue segera kesana," Kata Jefri yang menutup telfonnya lalu melirik Edwin.


"Ada apa?" Tanya Edwin ke Jefri yang menggelengkan kepalanya pelan lalu menatapnya dengan ekspresi cemas.


"Tasya dalam bahaya," Ucap pria itu yang membuat Edwin terkejut dan memegang kepalanya panik dan segera keluar dari rumah kosong itu.


*******


"Rico! Lu jangan gegabah kaya gini dong " Kata Tsabina memperingati Rico yang memukul dinding didekatnya.


"Please tenang dulu kak Rico," Tissa mencoba menenangkan Rico yang benar-benar marah dan memegang pundak gadis itu.


"Gimana gue mau tenang?! Tasya dalam bahaya! Dan semua karena Prabu Asmoro brengsek itu!" Geram Rico yang didekati oleh Tsabina.

__ADS_1


"Tapi kita juga harus nolong Jeremy dan yang lainnya dari belenggu Sekartaji!" Potong Tsabina ke Rico yang menutupi wajahnya dengan tangan lalu berteriak.


"Lu aja yg urus itu, gue harus nolong Tasya!" Kata Rico yang membuka pintu ruangan itu. Namun, dari luar Jefri langsung menghadiahinya dengan pukulan telak di pipi kiri Rico hingga tersungkur.


"Brengsek! Gue udah serahin Tasya ke lu dan endingnya lu malah gak bisa jaga dia hah?! Cowok brengsek!" Geram Jefri yang menarik kerah baju Rico yang langsung menendang Jefri yang tidak siap hingga mundur beberapa langkah kebelakang dan dengan sigap ditangkap oleh Edwin.


"Lu kira gue mau kejadian kaya gini?! Gak! Jangan asal main nuduh aja lu disini serta jangan sok merasa paling benar disini brengsek!!!" Geram Rico ke Jefri yang langsung berlari dan menarik kerah baju Rico yang juga melakukan hal yang sama pada Pria itu.


"Udah woi!" Edwin mencoba menenangkan mereka berdua. Namun, percuma emosi mereka berdua benar-benar sudah meluap dan saling hantam, tendang serta menabrak diri mereka ke dinding sebelum akhirnya Tsabina mendekat dan menampar mereka berdua.


"Gue kecewa sama kalian berdua, memangnya dengan ribut dan saling nyalahin kek anak kecil tadi Tasya bakal balik? Itu malah makin bikin kita pecah belah tau gak! Dan hal itu yang mereka mau... kalian mau dimanfaatin sama mereka?!" Kesal Tsabina yang membuat Jefri dan Rico diam, sementara Edwin mulai angkat suara.


"Ini pertama kalinya kita ada di situasi sulit kaya gini, di satu sisi kita harus selamatkan Jeremy, Ruth, dan Hugo, dan disisi lain kita juga harus nolongin Tasya gimana kalau kita bagi 2 kelompok aja?" Usul Edwin yang disetujui oleh mereka.


"Gue bakal selamatkan Tasya," Ucap Rico dan Jefri bersamaan dan membuat mereka saling menatap benci. Namun, dilerai kembali oleh Tissa.


"Ok, ok kak Rico dan kak Jefri yang tolong kak Tasya biar kak Edwin, gue, sama Tsabina yang nolong Jeremy," Ucap Tissa memberi usul yang disetujui oleh Rico dan Jefri yang menatap ke depan dengan penuh emosi.


"Tunggu aja Prabu... Riwayatmu bakal tamat disini!" Jawab mereka berdua kompak lalu segera membuka pintu keluar


*********


"Reno! Lepasin gue! Lu apa apaan sih?!" Nampak Tasya mencoba melepaskan diri. Namun, percuma ikatan di tangan dan kakinya di kursi itu terlalu kuat, sementara Reno hanya tertawa dan melihat gadis itu dengan puas.


"Kali ini akan aku tunjukkan kesuksesan rencanaku," Ucap Reno yang menatap Tasya yang mulai bingung dengan perubahan yang terjadi pada Pria itu.


"Siapa lu sebenarnya?" Tanya Tasya ke Reno yang tertawa dan mengeluarkan sebuah topeng yang membuat Tasya tidak percaya dengan apa yang Ia lihat.


"Lu?! Jadi selama ini...," Tasya benar benar tidak tau harus berkata apa lagi setelah melihat hal ini orang yang telah membantu dalam menghadapi Kalarau selama ini ternyata adalah...


"Ya, gue Prabu Asmoro Bangun," Ucap Reno dengan tawa jahatnya hingga membuat sakit hati Tasya.


*******


Malam harinya nampak Tissa, Tsabina dan Edwin bertemu dengan Sekartaji yang tengah mengikat ketiga siswa dan siswi tersebut sementara 3 hantu itu berdiri dibelakang mereka.


"Riwayatmu berakhir disini Sekartaji!" Marah Edwin ke gadis bertopeng yang tertawa dan menatap ketiga hantu dan tanpa dikomando mereka langsung berbalik dan bersiap menghadapi Edwin cs.


"Tiga hantu ini terbentuk oleh keinginan terdalam mereka bertiga, aku hanya mengubah hal itu menjadi nyata dalam wujud jin milikku," Ucap Sekartaji ke mereka bertiga yang geram.


"Lalu apa yang lu mau dari mereka?!" Tanya Tissa ke Sekartaji yang tertawa mendengar hal itu dan memegang kepala Jeremy.


"Tentu saja memberi mereka tubuh," Jawab Sekartaji yang membuat mereka geram.


"Ini gak bisa dibiarin, kalau gini bisa bisa mereka bertiga bakal mati," Kata Tsabina yang mengeluarkan sebuah pistol dan Ia todong ke Sekartaji.


"Percuma saja lagipula sebentar lagi mereka akan berhasil," Ucap Sekartaji yang langsung mendapat serangan rantai Edwin. Namun, kilat kuning menghancurkan rantai rantai itu.


"Urusan kita belum selesai," Ucap pria bertopeng Thunderbird itu ke Edwin yang langsung berjalan mundur menjauhkan Pria itu dari Tissa dan Tsabina yang bersiap menghadapi ketiga hantu yang mulai menyerang.


"Sakunta!" Teriak Tissa yang mengarahkan cincinnya ke depan dan nampak sinar terang muncul menyilaukan dan terlihat Pria dengan hoodie hitam muncul dan menendang salah satu dari 3 hantu tadi.


"Mereka mengganggumu tuan putri?" Tanya Sakunta ke Tissa yang mengangguk dan membuat Pria itu segera memasang kuda-kuda.


"tombak angsa siap," Ucap Tsabina yang mengeluarkan sebuah tongkat dan Ia gesekkan dengan sebuah kartu lalu tongkat tersebut perlahan berubah menjadi tombak dengan motif warna putih dan dipinggiran nya berbentuk seperti sayap.

__ADS_1


"Menarik... habisi mereka!" Perintah Sekartaji ke tiga hantu yang langsung menyerang Sakunta, Tissa, dan Tsabina.


"Sepertinya rencanamu gagal?" Tanya Sabdoh Palon ke Raden Wijaya yang menutup bukunya lalu menatap Pria itu.


"Justru ini berjalan sempurna, siapa juga yang bilang 3 hari lagi Jumat Kliwon, itu hanya jebakan saja agar aku bisa tau siapa penghianat diantara kita," Ucap Raden Wijaya yang menatap Sabdoh Palon.


"Sudah kuduga dia orangnya," Ucap Sabdoh palon sementara di tempat lain Rico dan Jefri akhirnya tiba di rumah yang tertera pada alamat surat itu.


"Syukurlah kalian datang," Ucap Reno yang terlihat sangat kotor hingga membuat Jefri panik.


"Lu gapapa?" Tanya Jefri yang dijawab anggukan oleh Reno yang langsung berjalan menuju tempat Tasya disekap.


"Disini tempat Tasya disekap," Ucap Reno dan saat Jefri membuka pintu tersebut ternyata benar, disana terlihat Tasya tengah diikat dan mulutnya dilakban tengah meronta melihat hal itu Jefri yang panik segera  masuk ke dalam, meninggalkan Reno yang tersenyum dan mengeluarkan tongkat kecilnya dan bersiap menghabisi Jefri.


"Tasya?! Lu gapapa?" Tanya Jefri yang langsung membuka lakban Tasya yang mengaduh akibat tarikan keras Jefri  sebelum ia akhirnya berteriak.


"Reno itu Prabu!" Teriak Tasya yang membuat Jefri terkejut dan menoleh ke belakang tapi terlambat tongkat Reno sudah melayang ke kepala Pria itu.


"Mati!!!" Teriak Reno namun sebuah tendangan berhasil membuatnya terlempar cukup jauh walau dengan cepat Ia dapat mengendalikan diri dengan kekuatan anginnya.


"Selama ini lu, musuh dalam selimut kita?!" Marah Jefri sementara Rico sudah mengeluarkan pedangnya dan langsung memasang kuda-kuda.


"Bawa Tasya pergi," Ucap Rico yang melirik Jefri yang mengangguk dan memapah Tasya berdiri untuk dibawa pergi. Namun, tiba-tiba pintu tertutup dan muncul angin yang mendorong mereka berdua kembali ke tempat semula.


"Gak semudah itu, kalian berdua akan kuakhiri disini," Ucap Reno yang memasang topeng Prabu Asmoro Bangun, sementara Rico hanya tersenyum dan menodongkan pedangnya ke Reno.


"Percuma aja, lu bakal kalah dalam 20 menit," Jawab Rico yang membuat Reno tertawa.


"Aku bisa mengalahkanmu jauh lebih cepat dari..," Ucapan Reno terpotong karena Ia tiba-tiba menghilang dan muncul dihadapan Rico.


"Apa?!" Kaget Rico yang mencoba menghindar. Namun, jaraknya terlalu dekat hingga Ia tidak dapat menghindar.


"Itu!!!" Teriak Reno yang langsung menendang dagu Rico dan kembali Ia melompat lalu menghantam perut Rico hingga menabrak lantai dan diakhiri dengan tendangan yang melempar Rico ke ujung ruangan.


"Tasya, please lu diem disini jangan lakukan tindakan apapun ok! Cukup lihat dan diam kita pasti bisa habisin si brengsek ini," Ucap Jefri ke Tasya.


"Serum penguat jiwa milik Raden Wijaya ini pasti berguna," Ucap Reno seraya menyuntikkan serum ke tubuhnya dan nampak angin berkumpul di tubuhnya dan Ia segera berjalan mendekati Rico yang berangkat mencoba bangun dan saat Ia melihat ke depan Reno sudah menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi.


"Bagaimana peningkatan kekuatanku?" Ucap Reno sombong ke Rico yang langsung menebas Reno hingga pipi kirinya mengeluarkan darah karena tergores.


"Ini cuman bikin gue geli," Ejek Rico namun Reno langsung menancapkan tangannya ke dada Rico.


"Siksaan angin, tekanan udara" Ucap Reno yang merasakan jantungnya ditekan dari luar hingga membuatnya berteriak kesakitan dan memuntahkan darah dan akhirnya tak sadarkan diri setelah Reno menyudahi serangannya.


"Cukup sampai disana! Reno!!!" Teriak Jefri yang membuat Reno menoleh dan tersenyum ke Pria itu yang menatapnya geram lalu mengubah kedua tangannya menjadi tangan monster.


"Memangnya apa yang bisa kau lakukan monster jadi-jadian," Ejek Reno ke Jefri yang menatapnya geram.


"Lu jangan banyak bicara brengsek! Gue bakal habisin lu di tempat ini sekarang juga!" Marah Jefri ke Reno yang langsung memasang kuda-kuda dan Jefri tanpa ampun langsung berlari dan menghantam Reno.


Namun, dapat Ia tangkis dengan tongkatnya dan langsung Ia gunakan untuk menusuk Jefri yang melompat dan mengeluarkan bola api yang dapat dibalikkan dengan pukulan tongkat Reno hingga meledak Ke arah Jefri walau Ia dapat melompat menghindar dan kembali menyerang dengan memukul Reno.


"Gak mempan!" Ucap reno yang menghindar dan menendang Jefri walau dapat Ia tangkis dan langsung menjauh dengan melempar bola api yang membuatnya menjauh lalu kembali mendekat ke Reno yang terkejut dan langsung terkena pukulan tepat di wajah hingga membuatnya terlempar dan menabrak dinding dibelakangnya hingga topeng tersebut mulai retak.


"Menarik," Ucap Reno yang bangkit dan mengeluarkan aura angin yang cukup kencang yang membuat Tasya terkejut, sementara Rico masih tak sadarkan diri. Namun, Jefri hanya tersenyum melihat itu dan segera memasang kuda-kuda.

__ADS_1


"Sekuat apapun lu, tetep aja gue bakal habisin lu disini!" Ucap Jefri mantap ke Reno yang tertawa sombong.


                     TO BE CONTINUED


__ADS_2