
Sesampainya di aula sekolah nampak Rico dan Tsabina sedang berdiri menyaksikan Tissa yang memainkan gitarnya hingga membuat mereka berdua berdecak kagum dan bertepuk tangan dan terlihat Hugo, Jeremy, Ruth, dan Ersya berdiri dan bersiap dengan alat musik yang mereka miliki.
"Vokalisnya Ersya?" Heran Rico ke Tsabina yang mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu, sementara Rico kembali fokus menyaksikan aksi mereka.
"Sorry telat," Kata Reno yang baru tiba dan menyaksikan penampilan tersebut.
"Gimana Reno bagus gak?" Tanya Rico ke Reno yang mengangguk dan melakukan tepuk tangan sebagai tanda pujian darinya.
"Sekarang waktu yang tepat," Gumam Reno dan perlahan lampu di aula mulai mati dan menyala diiringi suara piano yang bermain sendiri dan Ruth yang tiba-tiba terlempar, beruntung Reno bergerak cepat menangkapnya, sementara yang lain mulai panik dan lari kecuali Tissa yang menatap sosok Pria dengan kemeja rapi, tapi memiliki wajah pucat.
"Tsabina, Reno amanin mereka gue bakal bantu Tissa!" Kata Rico yang berlari menuju Tissa, sementara Pria berjas tadi mulai memainkan pianonya dan sesosok Jerangkong muncul dari dalam tanah dan menyerang Tissa yang mengeluarkan cincinnya dan mengarahkan ke depan.
"Tunjukkan keagunganmu raja gagak Sakunta!" Teriak Tissa dan keluarlah sosok Pria tanpa baju dengan sayap gagak terlihat menendang Jerangkong tadi hingga hancur.
"Jangan sentuh tuan putri!" Teriak Sakunta yang mengepakkan sayapnya hingga menciptakan tekanan angin yang menghempaskan piano dan pria berjas itu.
Sementara Rico yang berlari mendadak disengat listrik dan terkena tendangan dari Pria misteri bertopeng kepala Thunderbird.
"Siapa lagi ini?!" Kesal Rico yang melihat Pria tadi yang mencabut katananya bergerak cepat menebas Rico yang langsung menangkis dengan pedang yang mendadak muncul di tangannya.
"Pedang ini?!" Kaget Rico. Namun, secara tiba-tiba tendangan Pria itu melempar Rico yang langsung terhempas dan menabrak dinding disusul kilat petir yang nyaris menyambar Rico jika tidak menghindar.
"Tebasan cahaya vertikal!" Serangan Rico mengarah ke Pria tadi yang menghindar dengan cepat dan langsung berada dihadapan Rico seraya menebasnya, walau dapat ditahan namun tekanan kekuatan Daniel memang lebih kuat sehingha membuat Rico terlempar keluar dari aula tersebut, disusul Pria tadi yang keluar dengan santainya dari dalam aula dengan kekuatan petir yang menyambar disekitar tubuhnya disusul turunnya Prabu Asmoro Bangun dan Joel dengan topeng Raden Wijaya nya, serta Sabdoh Palon dan Dewi Sekartaji.
"Kalian bertiga," Ucap Rico yang bersiap dengan pedangnya. Namun, terlihat Sakunta yang terlempar serta Tissa yang terhempas keluar dari aula juga.
"Tissa!" Kata Rico yang menangkap tubuh gadis itu. Namun, perlahan terlihat Jeremy, Hugo, dan Ruth tertangkap oleh Mereka.
"Menarik juga ya, bagaimana kalau kita bertaruh," Ucap Raden Wijaya ke Rico dan Tissa dan tiba- tiba jiwa mereka bertiga tertarik dan masuk ke dalam tubuh hantu Pria berjas rapi tersebut yang terhubung ke tubuh Prabu Asmoro Bangun.
"Kalau kalian ingin ketiga teman kalian selamat bertarunglah dengan kami pada malam jumat kliwon 3 hari lagi," Ucap Prabu Asmoro Bangun dan nampak 3 sosok menyeramkan muncul dari dalam tubuhnya.
"3 abdi neraka, Prabu asmoro bangun, serta 3 jin milik Sekartaji, serta pria misterius bertopeng Thunderbird" Ucap Rico ke Tissa yang menatap mereka.
"Tidak akan semudah itu!" Teriak pria dengan pedang petir yang langsung menyerang Rico sebelum sebuah dinding es menahan langkah Pria itu dan beberapa tali benang nyaris mengikatnya sebelum sebuah kilat memotong semua benang itu.
"Ok, cukup sampai disini," Ucap Pria dengan brewok tebal melirik Rico dan Tissa yang seakan tidak percaya dengan apa yang Ia lihat.
"Siapa kalian?" Tanya Prabu asmoro bangun ke pria tersebut yang menurunkan Tsabina yang pingsan dan berdiri dihadapan musuh musuh Rico sembari tersenyum.
"Hati hati Julian, mereka adalah Kliwon 8 yang sering dibahas itu," Ucap teman Pria brewok tebal bernama Julian itu yang tersenyum dan langsung berlari bersamaan dengan pria bertopeng Thunderbird yang langsung menebas Julian.
Namun, Ia lebih dulu melompat dan menyemprotkan air ke atas.
"Eisnadel Gefrorene Beine!" Teriak Julian yang menendang air yang berupa menjadi jarum-jarum es yang mengarah ke Pria tadi walau berhasil dihindari dengan mudah dan begitu Julian mendarat Pria itu sudah berada di belakang bersiap menebas Julian yang tersenyum dan ternyata dinding es sudah muncul menahan tebasan itu.
"Polare Eisfüße!" Dinding es terus muncul di tanah tempat Pria itu berpijak dan nampak Julian tersenyum melihat itu sembari membuang air di tanah hingga menciptakan genangan dan disaat Pria itu mulai geram dan menebas dinding es itu tanpa Ia sadari sebuah bola es mengarah padanya.
__ADS_1
"Eisball treten!" Teriak Julian namun Raden wijaya muncul di depan Pria petir tadi.
"Phoenix attack," Ucap Raden Wijaya dan sebuah Phoenix terbang dari tangan kiri Raden Wijaya dan menghancurkan bola es tadi.
"Kau benar kita harus menepati janji, jadi kami pamit," Kata pria itu yang berjalan pergi meninggalkan mereka.
"Syukurlah kalian tidak apa," Ucap Julian ke Rico dan yang lainnya.
*********
Di sisi lain nampak Tasya bertemu dengan Reno yang menunjukkan sebuah foto dari 3 hantu panggilan sekartaji berdiri dibelakang Jeremy, Hugo, serta Ruth.
"Band sekolah yg akan lomba berada dalam bahaya Sya, gue minta tolong ke lu buat jaga mereka, sementara gue mastikan apa kejadian di foto ini benar-benar kejadian asli," Ucap Reno ke Tasya yang mengangguk. Namun, masih tidak percaya dengan hal itu dan terus meyakinkan gadis itu dengan tatapan serius.
"Please Sya, percaya sama gue apa masalah Kalarau kemarin masih belum membuktikan kalau gue bener bener bisa dipercaya?" Tanya Reno ke Tasya yang terdiam dan akhirnya mengangguk.
"Gue percaya sama lu," Kata Tasya ke Reno yang tersenyum ke Tasya lalu Ia segera membisikan sesuatu pada Tasya.
******
"Siapa kalian sebenarnya?" Tanya Rico ke Julian yang tersenyum dan menunjuk Tissa.
"Mungkin teman perempuan kalian bisa memberitahu siapa kami," Kata Julian yang membuat Rico menatap Tissa tajam yang menarik nafas panjang dan menatap Rico.
"Dia kakak gue, Julian agen khusus Ganendra agen khusus polisi yang menangani masalah" Tissa menjelaskan dengan pelan hingga membuat Rico terkejut dan menatap Julian yang tersenyum dan menunjuk Pria disampingnya.
"Dan kami lihat misi kami sedikit berhubungan dengan kalian," Ucap Ade menambahkan seraya menatap Rico yang bingung.
"Apa misi kalian?" Tanya Rico ke Julian dan Ade yang tersenyum mendengar hal itu lalu berjalan mendekati Rico lalu menepuk pundak Pria itu.
"Menangkap sekartaji," Ucap Julian yang menatap Rico yang terdiam lalu menatap mereka berdua.
"Kenapa lu jadi tertarik dengan mereka?" Tanya Tsabina ke Julian dan Ade yang ternyata sudah cukup lama sadar dari pingsannya yang membuat Rico menatap gadis itu.
"Tsabina juga merupakan anggota kita, dan yah ada seseorang yang sedikit demi sedikit mempersiapkan sesuatu untuk membangkitkan ritual pembangkitan iblis molok," Jelas Julian yang membuat Tissa terperanjat.
"Dan menariknya mereka mengumpulkan remaja dengan kekuatan spesial untuk persembahan sekaligus memperkuat sang iblis," Tambah Ade ke mereka bertiga yang terdiam dan menatap mereka berdua.
"Lalu kenapa lu ngumpulin kita bertiga disini?" Tanya Rico ke Julian yang tersenyum dan menatap mereka.
"Gue udah tau soal kelompok kalian yang ngalahin Kalau, jadi gue nawarin kerja sama ke kalian," Ucap Julian sembari mengulurkan tangannya ke Rico yang terdiam beberapa saat sementara Tsabina dan Tissa hanya diam memperhatikan langkah apa yang akan diambil oleh Rico yang menarik nafas panjang lalu menepis uluran tangan Julian lalu berjalan pergi meninggalkan kedua pria itu diikuti oleh Tsabina dan Tissa.
"Gue bisa nyelesaikan mereka sendiri tanpa bantuan aliansi lu," Ucap Rico ke Julian yang tersenyum.
"Blood Moon akan muncul 17 hari lagi dan itu adalah waktu kebangkitan Iblis Molokh fine-fine aja kalau lu lindungin remaja remaja target mereka yang sekarang tapi buat selanjutnya emang lu bisa? Hentikan Tasya membangkitkan potensi kekuatan temen-temen lu?" Tanya Julian yang membuat Rico terdiam dan menatap Pria itu.
"Apa yang lu tau soal Tasya?" Tanya Rico ke Julian yang tersenyum dan menatap Pria itu sinis.
__ADS_1
"Buat apa gue kasih tau lu? Toh lu bukan aliansi ki..," Belum selesai Julian bicara tangan Rico lebih dulu menarik kerah bajunya lalu menabrak Pria itu ke dinding.
"JAWAB!!!" Teriak Rico ke Julian yang terdiam lalu menendang perut Pria itu hingga tersungkur.
"Rico!" Panik Tissa dan Tsabina. Namun, Ia tidak bisa bergerak oleh Ade yang mengarahkan tangannya ke depan.
"Lebih baik jangan melawan dan biarkan mereka," Ade memperingati kedua gadis itu.
"Kau kira Bapang sengaja membiarkan Tasya lolos? Membiarkan ia bertemu denganmu, memberimu kekuatan? Bahkan membuat temen temen lu perlahan bisa merasakan kehadiran makhluk dimensi lain? Itu semua karena Tasya adalah pion rahasia dia!" Jelas Julian ke Rico yang terhenyak dan kini ia yang kerah bajunya ditarik.
"Masih mau angkuh lu sekarang?" Tanya Julian ke Rico yang mendorong Pria itu lalu segera berjalan pergi meninggalkan mereka sama halnya dengan Ade yang melepas kendali pikirannya pada kedua gadis tadi.
"Kita udah terlambat," Ucap Julian yang membuat Ade, Tissa, serta Tsabina terdiam dan menatapnya bingung.
"Tasya dalam bahaya," Ucap Julian yang membuat mereka terkejut.
************
Jefri dan Nichole nampak berdiri didepan sebuah rumah kosong yang terbengkalai.
Namun, masih banyak mereka jumpai sebuah tulisan serta lambang - lambang aneh.
"Tempat ini yang dikatakan oleh bapak tadi?" Tanya Edwin ke Jefri yang mengangguk dan mengecek ruangan demi ruangan dan saat Ia membuka salah satu lemari nampak topeng Prabu Asmoro Bangun yang jatuh.
"Ini tempat persembunyian mereka?" kata Jefri dan seorang Pria terlihat masuk ke dalam rumah tadi.
"Kalian ngapain kesini?" Tanya Pria itu yang membuat mereka berdua terkejut dan langsung siaga membuat Pria tersebut kaget setengah mati.
"Rio?!" Ucap mereka berdua dan sebuah asap hitam perlahan muncul.
"Strategi pemecah belah berhasil, sekarang kita bisa menyingkirkan mereka semua dalam satu langkah bukan?" Tanya Joel yang memakai topeng Raden Wijaya ke Sabdoh Palon dan Sekartaji.
"Hahaha rencana bagus, tidak sia-sia kami merekrutmu," Puji Sabdoh Palon ke Raden Wijaya yang menunduk hormat menerima pujian tersebut.
"Memang keren!" Puji Sekartaji sembari memotret Raden wijaya dengan kamera SLR-nya.
"Semoga saja 2 orang tadi tidak membuat rencana kita gagal," Tambah Raden Wijaya ke Sabdoh Palon yang tertawa.
"Tenang saja sebenarnya mereka berdua sudah masuk dalam jaring perangkap kita," Ucap Sabdoh palon
********
"Tasyaaa!" Teriak Rico yang baru tiba di depan rumahnya dan sebuah kertas muncul di depan gerbang tadi bertuliskan.
"3 hari lagi pada malam jumat kliwon datanglah ke gudang tua dibelakang mall dan selamatkan Tasya atau kegelapan akan menguasai dirinya selama lamanya," Ucap Kertas itu yang perlahan terbakar dan hancur menjadi abu.
"Brengsek! Tunggu aja Prabu Asmoro Bangun!" Geram Rico yang memukul tanah dan menatap marah ke depan.
__ADS_1
TO BE CONTINUED