
"Gagal lagi kan? Sudah kubilang lebih baik kau membiarkanku saja " Ucap Dewi Sekartaji ke Prabu Asmoro Bangun yang kesal dan menatap gadis itu geram.
"Kalian berdua tidak perlu saling bersaing seperti itu," Gumam seseorang yang membuat mereka berdua berbalik dan menunduk memberi hormat.
"Tuan Sabdo palon," Ucap mereka berdua ke Pria bertopeng orang tua itu dan mulai duduk di depan mereka.
"Kali ini biar aku dan Sekartaji yang mengambil peran," Ucap Sabdo Palon ke Prabu Asmoro Bangun yang mengangguk mengerti dan membiarkan mereka berdua mengambil peran untuk meneror orang orang.
*****
"Lu pasti tau sesuatu tentang ini kan?" Tanya Rico ke Tissa yang duduk di sebuah kursi di kantin bersama Edwin dan Tasya.
"Ya, apalagi soal orang bernama Prabu Asmoro bangun itu," Tambah Edwin ke Tissa yang mengangguk dan menatap mereka tajam.
"Lu pasti bertanya-tanya kan? Kenapa sekolah ini selalu terlibat kasus supranatural?" Tebak Tissa yang dibalas anggukan dari mereka bertiga.
"Iya, terlepas dari banyak siswa-siswi yang terlibat hal itu tapi aneh juga kenapa hanya murid di SMA ini yang kena," Ucap Tasya bingung dan Tissa segera memberikan sebuah kliping koran bertuliskan "ditemukan simbol aneh dan misterius," Yang membuat mereka bertiga terkejut.
"Itu kan simbol..," Ucap Tasya yang terpotong oleh ucapan Edwin.
"Ritual pembangkitan baphomet!" Ucap Rico dan Edwin bersamaan yang membuat Tasya dan Tissa menggelengkan kepala heran dengan mereka berdua.
"Kalian tau darimana?" Tanya Tasya bingung ke Rico dan Edwin yang tersenyum bangga.
"Teori konspirasi," Ucap Rico mantap ke mereka berdua.
"Ok dua temen kita aneh semua," Gumam Tissa yang menatap Tasya yang cuma bisa geleng-geleng kepala.
"Guys!" Panggil Sigit yang menghampiri mereka berempat dengan wajah panik yang membuat mereka ikut panik.
"Dara pingsan di depan perpus!" Kata Sigit yang membuat mereka berempat langsung bergegas menuju ke tkp dan melihat Dara sedang dibawa ke ruang uks.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Rico heran ke Sigit yang memegang kepalanya mencoba mengingat yang terjadi.
"Tadi kalo gak salah dia baru keluar dari perpustakaan terus dia teriak dan tiba-tiba pingsan," Jelas Sigit yang membuat Rico bingung dan menatap Tissa dan Tasya.
"Gue gak pernah tau soal masalah ini," Jelas Tasya ke Rico seakan membaca pikiran pria itu.
"Mungkin ini ada kaitannya dengan..." Tissa mencoba mencari penjelasan yang pas untuk kasus ini.
"Nightmare game," Ucap Seorang siswa berkacamata yang bersandar di pintu perpustakaan dan menatap mereka berempat dan menunjukkan sesuatu di layar hpnya.
"Nightmare game?" Tanya Rico dan Edwin ke Siswa tersebut yang mengangguk dan menunjukkannya ke Rico.
"Ini adalah aplikasi yang mengharuskan seseorang mengirim nama orang lain agar bisa dikirim ke dalam dimensi lain dengan perantara hantu," Ucap pria itu menjelaskan ke Rico dan yang lainnya yang mengangguk paham.
"Darimana lu tau soal ini? Dan siapa lu?" Tanya Tissa ke Pria itu yang membenarkan posisi kacamatanya dan menatap mereka.
"Gue Reno, 12 ipa 3 dan gue survivor dari game ini," Ucap Pria itu memperkenalkan dirinya.
"Survivor? Jadi lu udah pernah masuk ke dalam dimensi itu?" Tanya Edwin ke Reno yang mengangguk membenarkan.
"Selama kita gak bawa gadis itu keluar dari dimensi sana, dia bakal tetap pingsan kaya gitu," Ucap Reno ke Rico dan Edwin.
"Sebenarnya apa tujuan dibuatnya aplikasi itu?" Heran Tasya ke Reno.
"Sistemnya hampir sama seperti santet online hanya bedanya jiwa mereka disegel bukan diambil oleh makhluk itu, dan ini juga lebih simpel karena gak butuh biaya seperti sewa dukun yang dulu," Jelas Reno ke Tasya yang menatap pria itu heran.
"Kenapa lu malah kasih tau ke mereka kelebihannya sih?!" Kesal Edwin ke Reno yang dipotong oleh Rico.
__ADS_1
"Bagaimana cara kita menyelamatkan mereka atau setidaknya kita mengagalkan upaya mereka mengirim orang ke alam sana?" Tanya Rico ke Reno yang mengangguk dan mengatur setting di aplikasi itu.
"Karena gue salah satu survivor saat tragedi sebelumnya entah anugrah atau gak mereka kasih gue akses buat tau siapa aja yang bakal jadi target mereka dan nama targetnya udah keluar... Ghea dari 11 ips 1," Ucap Reno yang membuat Rico berlari kencang menuju lokasi kelas orang yang dimaksud Reno diikuti oleh Edwin, Tasya, Tissa, dan Sigit, serta Reno.
"Hei Rico!" Sapa salah satu siswa ke Rico yang berlari dan memegang bahu temannya.
"Lu tau gak Ghea dimana?" Tanya Rico ke Temannya yang berpikir sebentar lalu menunjuk lab.
"Tadi dia cari temennya di lab fisika," Jawab temannya ke Rico yang mengangguk dan kembali berlari turun ke bawah diikuti yang lainnya.
"Tuh orang kenapa sih?" Heran siswa tadi saat melihat tingkah aneh Rico yang segera berlari menuju lab fisika.
*********
Sementara di lab fisika nampak Ghea sedang bertemu dengan temannya dan sedang berbincang. Namun, tiba-tiba salah satu gurunya memanggil teman Ghea untuk keluar sebentar dan saat itu tiba-tiba pintu lab Fisika tertutup sedetik setelah temannya keluar hingga membuat Ghea serta temannya terkejut dan panik dan mencoba membuka pintu dari dua sisi.
Namun, percuma saja, dan tanpa mereka sadari sesosok asap keluar dari sudut ruangan tadi.
"Oliev!" Panggil Rico ke teman Ghea yang berada di luar dan terlihat panik itu.
"Rico?! Ghea!" Ucap Oliev yang terlihat panik, sementara Rico langsung mengetuk pintu dari luar.
"Ghe! Lu denger gue gak?" Tanya Rico yang dijawab ketukan oleh Ghea.
"Iya Co! Tolongin gue!" Kata Ghea ke Rico.
"Lu sekarang menjauh dari pintu, gue bakal coba dobrak pintunya," Ucap Rico memberi arahan ke Ghea yang langsung menjauh dari pintu sementara Rico mencoba menendang pintunya dengan sekuat tenaga, tapi belum berhasil.
"Gak akan bisa, kalian tidak akan bisa mengagalkan kami yang menjemput target client kami," Ucap Sabdoh Palon yang muncul di samping Rico dan Oliev yang mengabaikan dan terus berusaha mendobrak pintu itu.
"Gue bantu!" Kata Edwin yang muncul dari samping dan bersamaan dengan Rico mendobrak pintu dan akhirnya terbuka.
Namun, makhluk tadi langsung mencakar tubuh Rico dan melemparnya hingga keluar kelas.
"Rico!!!" Teriak Tissa, Tasya, Dan Sigit sementara Reno hanya terdiam melihat Rico dan Sabdoh Palon yang menapakkan kakinya di lorong depan lab tadi.
"Bukan Prabu Asmoro Bangun?" Heran Tasya. Namun, tiba-tiba dengan tatapannya orang-orang yang ada di sana pingsan termasuk Tissa dan Tasya menyisakan Rico yang berusaha keras untuk bangkit dan menatap Sabdoh Palon.
"Kau tidak cukup kuat untuk melindungi temanmu dan terimalah nasib kalau mereka nantinya akan hidup dalam neraka kegelapan ciptaanku," Ucap Sabdoh Palon ke Rico yang nampak geram dan mengeluarkan pedangnya
"Gak bakal gue biarin!" Teriak Rico yang mengeluarkan tebasan cahaya yang dihindari oleh Sabdoh Palon yang langsung menendang Rico dan menempelkan kedua tangannya ke tanah dan tiba-tiba tanahnya berubah menjadi cair dan membuat Rico tenggelam, sementara Sabdoh Palon mengeraskan tangannya dengan menyatukan beberapa komponen tanah ke tangannya dan dari atas Rico terlihat terjatuh dan mendapat sambutan pukulan telak dari Pria itu hingga membuatnya kembali terlempar.
"Kali ini akan kuselesaikan perintah yang tidak bisa Prabu Asmoro Bangun selesaikan," Ucap Sabdoh Palon yang berjalan menuju Rico yang mencoba bangkit dengan kepayahan.
"Brengsek!" Geram Rico yang berlari dan langsung menebas Sabdoh Palon yang menangkap pedang itu dan Ia kembali menghantam pinggang Rico dengan tangan yang diselimuti tanah hingga membuat pria itu memuntahkan darah.
Sementara di dalam nampak hantu tadi berhadapan dengan Edwin yang mencoba berdiri dan tersenyum melihat makhluk itu.
"Semuanya pingsan ya... Baguslah," Ucap Edwin yang menatap makhluk tadi dan mata pria itu berubah menjadi merah.
"Akan kuambil alih untukmu," Ucap Edwin dan tiba-tiba muncul banyak rantai disudut ruangan.
"Kam die brachwache gerbang 1 Höllenfeld!" Ucap Edwin dan nampak rantai-rantai tadi bergerak menuju makhluk tadi dan menusuknya dari berbagai arah.
"Terbakarlah dan nikmati siksaan dunia ini," Ucap Edwin yang dijawab teriakan kesakitan dari makhluk itu yang perlahan hancur menjadi abu.
"Aku tidak bisa membantunya dengan menunjukkan wujud ini," Gumam Edwin yang berjalan dan menatap Rico yang terus dibantai oleh Sabdoh Palon dan perlahan kesadaran Edwin mulai menghilang dan Ia akhirnya pingsan.
"Manusia rendah sepertimu lebih baik mati saja!" Ucap Sabdoh Palon yang menempelkan tangannya di dinding lalu menyapunya ke depan seketika dinding tadi berubah menjadi sebuah tombak tajam yang muncul di dekat Rico dan nyaris menusuknya jika tidak muncul bola api yang menghancurkan tombak dinding itu.
__ADS_1
"Gini aja udah hampir mati lu," Ejek Jefri ke Rico yang menatapnya datar dan mengeratkan pegangannya.
"Istirahat saja, biar aku yang habisi pecundang i..," Belum selesai Jefri bicara sebuah tangan raksasa keluar dari tanah di kakinya hingga membuatnya terhempas sementara Rico kembali berlari menyerang.
"Tebasan cahaya, tebasan horizontal pembelah gunung!" Teriak Rico yang mengeluarkan tebasan cahaya berukuran cukup luas yang ditahan oleh Sabdoh Palon dan dihancurkan dengan mudah hingga membuat Rico tercengang sementara Sabdoh Palon membentuk gelombang dari tanah yang nyaris ******* Rico yang langsung melompat dan dihancurkan oleh pukulan api Jefri yang berlari dengan tangan kanan berubah menjadi tangan raksasa api yang langsung diarahkan untuk menyerang Sabdoh palon.
"Dinding tanah, kastil kokoh!" Ucap Sabdoh palon dan muncul dinding yang menahan pukulan Jefri yang membuatnya menarik tangannya.
"Rico! Kita serang bersamaan!" Teriak Jefri ke Rico yang tersadar dan langsung mengarahkan tangannya keatas.
"Tebasan horizontal pemotong iblis!" Teriak Rico yang menyerah dengan serangan terkuatnya.
"Rahu's hand pukulan matahari!" Teriak Jefri yang menyerang dengan serangan terkuatnya hingga membuat dinding itu hancur.
Namun, tidak ditemukan keberadaan dari Sabdoh Palon dan semuanya kembali normal.
"Segera pergi ke UKS!" Kata Jefri ke Rico yang berjalan tertatih menuju UKS sebelum orang-orang sadar dan memperhatikannya.
"Ghea!" Kata Tasya yang tersadar dan langsung menghampiri Ghea yang sudah pingsan dan membawanya ke UKS bersama Jefri dan Tissa serta Edwin yang baru tersadar.
"Sabdoh Palon, dia jauh lebih berbahaya dibandingkan Prabu Asmoro Bangun," Gumam Jefri seraya membawa Ghea ke UKS.
"Rico dan Jefri, jadi mereka berdua juga punya kekuatan yang sama kaya gue," Gumam Daniel seraya menatap mereka berdua dari balik pintu.
"Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu, putra Dark Walker legendaris Martan," Ucap sebuah suara yang membuat Daniel refleks memukul dengan pukulan petir nya yang dengan mudah dihindari oleh pria itu.
"Lu siapa? kenapa bisa tau soal Bokap gue?" Tanya Daniel penuh selidik sementara pria itu hanya tersenyum sembari mencabut pedangnya sementara sebuah kilat tiba - tiba menyambar mereka berdua dan saat kilat itu menghilang tempat sekitar mereka menjadi kosong dan tangan Daniel terlihat memegang sebuah katana.
"Perpindahan dimensi tanpa kertas mantra? sepertinya kau dilatih keras olehnya ya?" Ucap pria itu pada Daniel yang mencabut katana miliknya disertai energi petir yang menyambar namun hal itu tidak membuat Rizky gentar dan ikut mencabut pedangnya.
"Dark Walker rank S peringkat 8 Rizky," Ucap pria itu memperkenalkan dirinya yang membuat Daniel tersenyum.
"Siswa SMANDA Daniel Martan," Balas Daniel yang berlari dan saling beradu tebasan dengan Rizky dan saat mereka mundur nampak sang dark Walker mengarahkan tangan kanannya ke depan.
"sihir serangan ledakan api!" Ucap Rizky dan ledakan api nampak menyerang Daniel yang menarik nafas panjang dan menatap pria itu tajam lalu tersenyum.
"Flashpoint 1!" Ucap Daniel dan nampak ledakan api itu terbelah menjadi 2 dan dari ruang yang terbelah tadi Daniel melompat melewati ledakan itu dan langsung berlari menuju pria itu.
"tebasan api phoenix!"
"Thunderbird slash!" Kedua serangan tadi saling beradu dan menghasilkan ledakan energi yang besar.
"Nightmares online... Sepertinya aplikasi ini bisa menuntunku untuk mencarinya," Ucap Rio yang melihat aplikasi itu dengan tajam.
"Wah.. Lu juga tertarik ya sama aplikasi itu?" Tanya Ersya yang membuat Rio terkejut dan menatap gadis itu yang memfotonya dengan kamera SLR yang selalu Ia bawa.
"E..e.. G..gue.. Cuma.. Penasaran aja," Ucap Rio terbata bata sembari tersenyum ke Ersya yang melihat sekitar.
"Aplikasi yang mirip santet ya... Sebenernya gue juga penasaran sih... Kenapa kita gak cobain aja sekarang?" Tanya Ersya ke Rio yang terkejut mendengar hal itu dan menggaruk kepalanya grogi.
"Ah.. Mungkin le.. Lebih baik kita gak usah lakuin itu deh," Kata Rio yang pamit dan berjalan meninggalkan Ersya yang tersenyum dan kembali mengambil gambar Rio.
"Cowok yang penuh dengan misteri," Gumam Ersya sembari tersenyum melihat Rio.
"Konyol sekali, bagaimana mungkin orang seperti dia bisa percaya takhayul seperti ini," Gimana Rio yang menyimpan hpnya dan berjalan pergi.
"Tapi kalau memang benar terjadi, gue bakal cari tahu siapa dalang dibalik ini semua," Ucap Rio yang mengeluarkan kain biru. Namun, tanpa sengaja Rico lewat agak jauh di depan, membuat Pria itu langsung bersembunyi dan memperhatikan Rico yang berlari terseok-seok menuju UKS.
"Apa yang terjadi? Apa mungkin ada hubungannya dengan ini?" Heran Rio sembari mengawasi Rico yang masuk kedalam UKS.
__ADS_1
TO BE CONTINUED