Dark Walker

Dark Walker
Episode 40


__ADS_3

DARK WALKER


Chapter 40


"Pergilah! Selamatkan Tissa!!!" Teriak Ersya yang mengerahkan puluhan bunga sakura yang menghadang semua jerangkong yang mencoba mendekat sementara Tasya nampak berlari menebas seluruh jerangkong yang menghadang mereka berdua dengan sihir bola apinya


"Baiklah! Tissa! Kakakmu datang!" Teriak Julian yang berlari bersama Rico dan nampak kini mereka menendang pintu kastil hingga hancur dan nampak mereka berdua berdiri di depan pintu kastil lalu melihat banyak jerangkong penjaga yang bersiap dengan senjata mereka


"Keroco minggir!!!" Teriak mereka berdua yang menendang dan menebas mereka seraya berlari masuk mencari keberadaan Tissa yang kini terikat dengan rantai dengan pakaian telah berganti dengan gaun kebaya putih namun didalam terlihat Ken Arok sudah berdiri bersama seorang pria dengan anak kecil yang terbakar di belakangnya


"Habisi mereka Kemamang," Ucap Ken Arok memberi perintah dan nampak Kemamang mengubah anak anak tadi menjadi bola api yang mengarah pada Julian dan Rico yang berhasil menghindari dan langsung menyerangnya


"Susul Ken Arok!" Pesan Julian pada Rico yang langsung melompat melewati Kemamang dan langsung menebas Ken Arok yang dengan sigap menendangnya hingga terlempar masuk ke dalam ruangan


"Dia milikmu Cindaku," Nampak didalam sosok humanoid harimau putih berdiri dan tersenyum melihat Rico yang berdiri menatapnya tajam lalu tersenyum dan menguatkan pegangan pedangnya


"Maju lu!" Tantang pria itu pada Cindaku sementara Ken Arok hanya tertawa dan berjalan meninggalkan Julian dan Rico


Sementara diluar nampak Chika dan Dandi berdiri menghadapi Dewi Lanjar, Edwin melawan Nakula dan Daniel melawan Sadewa


"Sisanya kita bergerak masuk menyusul Rico dan Julian kedalam," Ucap Jefri yang berlari masuk ke dalam kastil diikuti Tsabina, Ersya, dan Tasya


"Kita selesaikan pertarungan ini dengan cepat dan segera masuk kedalam!" Ucap Edwin pada Daniel yang mengangguk dan bersiap menyerang dengan katana miliknya


"Tuyul, waktunya menunjukkan sekuat apa kita pada mereka," Ucap Dandi pada Tuyul yang memberi hormat lalu bersiap menyerang Dewi Lanjar yang mengerahkan ular airnya kearah mereka berdua


"Sihir pertahanan cermin pembalik!" Chika merapal mantra dan mengeluarkan cermin yang memantulkan serangan itu kembali ke Dewi Lanjar yang dengan mudah menepisnya


"Tuyul!!!" Teriak Dandi yang melepaskan 3 tembakan kearah Dewi Lanjar yang bersiap menahannya namun secara tiba tiba peluru itu menghilang dan muncul disisi kiri dan kanan serta belakang Dewi Lanjar yang langsung melindungi dirinya dengan air namun salah satu peluru berhasil mengiris bahu kirinya


"Kenapa bisa kena?" Heran Chika yang mendapat senyum dari Dandi


"Karena peluru itu spesial ia dapat meniadakan energi batin jadi walaupun Dewi Lanjar bisa menjadi air namun peluru itu dapat meniadakan kemampuan itu," Jelas Dandi sembari kembali melesatkan tembakan yang menghilang dan muncul di atas kepala jin itu namun ia berhasil berkelit dan bersiap menyerang balik dengan ular airnya yang mengarah pada Dandi namun dengan sigap Chika menebaskan pedangnya yang menghancurkan ular air tadi


"Cambukan ekor t Rex!" Teriak Chika lalu dengan cepat Dandi membidik dan menembak Dewi Lanjar yang langsung melindungi dirinya namun kembali Tuyul meniadakan peluru itu lalu memunculkannya kembali dan langsung menembus pundak kanan Dewi Lanjar yang berteriak kesakitan


"Tuyul gue punya kekuatan untuk meniadakan dan menciptakan kembali sebuah benda di tempat tempat yang tidak terduga," Ucap Dandi pada Chika yang tersenyum mendengar hal itu


"Baguslah, berapa sisa pelurumu?" Tanya Chika pada Dandi yang menghitung dengan tangannya lalu tersenyum


"Masih banyak, bisa lah buat habisin si jin ini," Ucap Dandi pada Chika yang tersenyum lalu berlari mendekati Dewi Lanjar yang menyerangnya secara terus menerus dengan ular airnya walau selalu dapat dihindari oleh Chika dan sesekali ia hancurkan dengan tebasan pedangnya


"Tarian Dromiceiomimus!" Teriak Chika yang bergerak sangat lincah melewati ular ular air itu dan akhirnya mendekati Dewi Lanjar yang mengeluarkan kepala ular air dari kedua tangannya yang langsung menyerang Chika namun saat tuyul menepuk tangannya gadis itu berubah menjadi peluru yang menembus dada Dewi Lanjar yang langsung tumbang


"Kerja bagus," Ucap Chika yang menepuk punggung Dandi yang tersenyum dan meniup pistolnya namun ternyata itu belum berakhir Dewi Lanjar kini malah bergabung dengan air dan berubah menjadi manusia air yang sangat besar dan menyeramkan lalu menyapu mereka hingga terhempas naik ke atas bukit di sisi lain jalan lalu nampak Dewi Lanjar merangkak mencari mereka di bukit itu


"Sialan ia mengamuk!" Geram Daniel yang melihat Dewi Lanjar namun masih mampu menangkis serangan demi serangan dari Sadewa yang dengan sigap menendang Daniel namun dengan cepat ia bangkit dan bergerak menuju sisi kanan Sadewa lalu menebasnya namun dapat ditangkis oleh pria itu


"Thunderbird slash!" Teriak Daniel yang mengerahkan serangan itu yang langsung menahannya dengan pedang hingga menghasilkan asap yang mengepul dan dengan cepat Sadewa telah berada di dekat Daniel dan menebasnya

__ADS_1


"Sialan!" Daniel mencoba menebasnya namun dengan mudah dihindari Sadewa


Disisi lain nampak Edwin menutupi tangan dan kakinya dengan rantai api lalu berlari menyerang Nakula yang mencoba menebasnya walau dengan mudah ditahan dengan tangannya walau tendangan Nakula berhasil membuat Edwin terhempas namun dengan sigap ia melepaskan rantai di tangan kanannya yang langsung digunakan untuk menyerang Nakula yang dapat menghindar namun kembali Edwin melepaskan Rantai ditangan kirinya yang langsung digunakan untuk mencambuk Nakula lagi


"Cih!" Edwin nampak terus menerus mencambuk rantai - rantainya kearah Nakula yang terus menghindar dan berlari mendekati Edwin yang dengan sigap melindungi tangan kirinya dengan rantai yang menahan tebasan Nakula


"Höllenkette!" Nampak Edwin kembali menyerang dengan rantainya walau dapat dihindari oleh Nakula yang langsung menebas dada Edwin yang dengan sigap menangkis dengan tangan kanannya yang telah dilapisi rantai api


"Cuma segini?" Tantang Edwin pada Nakula yang langsung mengumpulkan energi dan langsung menebas nebas Edwin walau dapat ditangkis dan dibalas dengan pukulan dan tendangan yang berhasil melempar Nakula ke belakang namun ia segera berlari menyerang mendekati Edwin lalu memutarinya hingga menciptakan asap yang menghalangi pandangan lalu muncul dan menebas Edwin hingga terlempar cukup jauh dengan darah yang keluar dari pinggang kiri hingga pundak kanannya


"Edwin ******! Bisa bisanya kalah pas gini!" Omel Daniel yang menangkis tebasan demi tebasan Sadewa yang terus menyerang Daniel namun ia juga tidak mau kalah dan langsung menjauh sebelum kembali beradu tebasan dan dengan sigap Daniel menendang kaki Sadewa yang berhasil melompat dan melempar pedangnya kearah Daniel yang dengan sigap menangkis tebasan itu dan dengan sigap Sadewa mendarat dan bergerak mendekati pedangnya lalu mengambilnya sebelum kembali menyerang Daniel dengan tebasan energi yang nyaris mengenai Daniel jika tidak menghindar dan serangan itu hanya menghasilkan ledakan di tanah dekatnya


"Thunderbird burst!" Teriak Daniel yang mengeluarkan ledakan energi petir yang mengarah ke Sadewa yang kembali mengerahkan tebasan energi yang saling meledak begitu beradu dan kembali mereka mendekati asap tadi dan saling beradu tebasan lalu mereka saling menebas hingga mengenai bahu mereka


"Thunderbird slash!"


"Heaaa!!!" Nampak kembali Daniel dan Sadewa beradu tebasan hingga ledakannya saling beradu namun serangan Daniel lebih kuat dan mengenai Sadewa hingga hancur melihat hal itu Nakula nampak ingin menyelamatkan adiknya namun ternyata tubuhnya telah diikat oleh rantai api Edwin


"Seelenbrenner!" Teriak Edwin dan tubuh Nakula mulai terbakar dan hancur seiring dengan teriakan kesakitan dan kedua ksatria Pandawa itu akhirnya berhasil dikalahkan


Kembali ke lokasi Chika dan Dandi nampak Dewi Lanjar yang telah berubah menjadi raksasa air secara brutal menyerang dengan menyapu bukit tempat mereka berdua sembunyi menggunakan tangan kanannya


"Sekarang bagaimana?" Tanya Chika yang melirik Dandi yang mencari celah


"Hmm... Bagaimana kalau begini," Dandi nampak mengutarakan rencana dengan kode tangan pada Chika yang nampak bingung melihat apa yang dilakukan oleh pria itu


"Sihir serangan panah kutub!" Teriak Chika yang melepaskan anak panah es yang membeku saat mengenai tangan Dewi Lanjar


"Rencananya gk kaya gitu...tapi Tuyul tahap 2!" Panggil Dandi dan nampak Tuyul memberi hormat dan tiba tiba berpecah menjadi 9 dan ukuran tubuhnya mengecil


"Menyebar ke jalur aman tembakan 1!!!" Teriak Dandi dan nampak kesembilan tuyul tadi menyebar ke jalur aman tembakan yang dikatakan Dandi


"Cambukan t Rex!!!" Teriak Chika yang menghancurkan kedua tangan Dewi Lanjar yang berteriak kesakitan namun ia bersiap memakan Chika yang cukup dekat dengan kepalanya


"Pemelihara Tuyul!" Teriak Chika pada Dandi yang menodongkan pistolnya lalu tersenyum


"Hasta la Vista!" Teriak Dandi yang langsung melepaskan tembakan ke arah Dewi Lanjar yang mencoba menghindar namun dengan cepat tuyul - tuyul yang sudah stand bye di 9 tempat membentuk jalur itu segera menendang peluru tadi menuju sasaran dan saat berada di tuyul ke sembilan mereka segera menyatu menjadi besar lalu memukul peluru tadi hingga melesat menembus kepala Dewi Lanjar yang langsung menghilang perlahan menjadi abu dan musnah sementara Dandi dan Chika menghela nafas lalu berjalan menuju Edwin dan Daniel


*******


Beberapa menit sebelumnya di dalam kastil nampak Jefri, Tasya, Ersya, dan Tsabina telah masuk dan secara tiba - tiba mereka terperosok ke dalam lubang dan disana telah menunggu Banaspati serta Dewi Krasih yang tersenyum dan nampak Tissa terikat di belakang mereka


"Tissa!!!" Teriak Ersya yang membuat Tissa tersadar dan meronta namun Banaspati nampak tersenyum menghalangi pandangan mereka dari Tissa


"Kalau mau menyelamatkannya lewati dulu kami," Tantang Banaspati pada Jefri cs yang menatapnya kesal


"Tasya bareng gue lawan Banaspati, Ersya dan Tsabina hadapi makhluk itu," Ucap Jefri membagi timnya dan terlihat Dewi Krasih tersenyum dan langsung mengeluarkan 2 selendang merah yang ia gunakan untuk menyerang Tsabina dan Ersya yang langsung menghindari serangan itu sementara Banaspati bergerak menuju ruangan yang berbeda dari tempat Dewi Krasih melawan Ersya dan Tsabina


Sementara Julian nampak bertarung sengit melawan Kemamang yang mengeluarkan bola bola api yang terus dihindari oleh Julian yang mencoba membekukan bola api itu namun percuma saja

__ADS_1


"Sudah cukup menyingkir kalian!" Geram Julian yang mengeluarkan api dari kedua tangannya lalu menarik nafas panjang dan menatapnya tajam


"Gefrierzeit!" Bisik Julian dan nampak waktu membeku hingga membuat Kemamang tidak mampu bergerak dan Julian segera berlari mendekati Kemamang lalu meninju perut dan kepala makhluk itu


"Tinju Garuda api! pemusnah jiwa!" Teriak Julian dan waktu kembali normal lalu seketika Kemamang terbakar dan mati disisi lain nampak Rico saling beradu tebasan dengan Cindaku yang berhasil mencakar dada kiri, kedua pundak, serta pipi kanan Rico yang terduduk dan menatap makhluk itu yang tersenyum dan bersiap menyerang Rico


"Jangan kira ini bakal berakhir, karena lu bakal kalah dalam 20 detik!" Teriak Rico yang langsung terhempas ke ujung ruangan akibat serangan Cindaku hingga membuatnya muntah darah


"15 detik," Ucap Rico yang menghindari tusukan tangan kiri Cindaku lalu menebas perutnya hingga membuat makhluk itu terkejut dan akan menyerang lagi


"10," Ucap Rico yang memotong tangan kirinya membuat Cindaku berteriak kesakitan namun masih tetap kekeh menyerang hingga membuat Rico kembali memotong tangan kananny


"5 detik," Ucap Rico seraya menendang makhluk itu lalu mengangkat pedangnya


"Waktu habis tebasan bulan sabit!" Teriak Rico yang melesatkan tebasan cahaya berbentuk bulan sabit yang memotong tubuh jin itu menjadi 2 lalu seketika ia berubah menjadi debu


"Gitu aja babak belur," Ejek Julian yang menatap Rico yang hanya diam dan berjalan keluar dari ruangan itu dan kembali mengejar Ken Arok


Sementara di luar nampak Raden Wijaya dan Calon Arang yang baru sedang berjaga di sisi lain villa mendadak melihat 2 pria tengah berjalan menuju tempat mereka yang satu menggunakan jaket kulit yang satunya lagi mengenakan rompi dan celana pdl lengkap dengan sarung tangan


"Datang juga ya," Gumam Raden Wijaya yang melirik kedua pria yang baru datang itu dan kini nampak dibelakang mereka berdua sudah berdiri 3 orang lainnya 2 perempuan dan 1 pria


"Rebecca, Irsyad tugas kalian cuma satu back up tim yang ada dalam kastil dan Michelle back up pergerakan saya dalam menghadapi Raden Wijaya," Ucap Anwar membagi tugas mereka seraya bersiap menghadapi kedua anggota Kliwon 8 yang menunggu mereka


"Jadi kau menyuruhku menghadapi Calon Arang?" Tanya Toni pada Anwar yang menatapnya lalu mengangguk


"Tanpa mengurangi rasa hormat sy pada anda Pak Toni," Ucap Anwar pada Toni yang tersenyum dan menatap Calon Arang


"Yah, sudah lama juga saya tidak bertarung," Ungkap Toni yang mengeluarkan busurnya yang terbentuk dari energi api hitamnya


"Sudah lama sekali sejak rekaman pertarungan anda 8 tahun lalu, sebuah kehormatan bisa menyaksikan sendiri dan menjadi lawan dari kemampuan api hitam yang langka itu," Ucap Calon Arang yang menarik nafas panjang lalu memainkan suling dan seketika tanah dan pohon disekitarnya berubah menjadi pasukan ksatria


"Aku kenal dengan orang yang memiliki kemampuan serupa sepertimu namun sepertinya miliknya lebih kuat," Gumam Toni pada Calon Arang yang tersenyum


"Yah terimakasih pada komik anak buahmu Julian aku akhirnya bisa menciptakannya sendiri dan menjadikannya mimpi burukmu giuco piano v.0," Jawab Calon Arang dan nampak ksatria dari tanah dan kayu tadi bersiap menyerang Toni


"Sesuai skenario akhirnya kita bisa bertemu juga ketua Ganen...," Kata - Kata Raden Wijaya terhenti saat tendangan Michelle yang berubah menjadi Garuda mengenai kepala Raden Wijaya yang langsung terlempar dan nyaris menabrak villa itu


"Biar gue yang lawan master!" Ucap Michelle yang kembali terbang menyerang Raden Wijaya yang menciptakan dinding tak terlihat yang membuat Michelle tertabrak dan sebuah bola api mengenai tubuh Michelle


"Nampaknya kau harus turun tangan," Ucap Raden Wijaya pada seorang pria yang mengeluarkan benang benangnya menyerang Michelle yang langsung terbang menghindarinya lalu mendarat di dekat Anwar


"Jurus itu jangan - jangan?! Ade?!" Kaget Michelle saat melihat Ade yang tatapannya kosong tengah bersiap menyerang Anwar dan Michelle yang berhasil menghindar dan Anwar segera melesatkan tembakan tepat ke tubuh Ade yang menepis dengan benangnya, namun ia tidak menyadari itu hanya strategi agar pandangannya teralihkan dan memberi kesempatan Michelle untuk mendekatinya dan langsung menendang Ade menjauh dari Raden Wijaya yang langsung menangkis serangan Michelle


"Bagus datanglah padaku Heredis Garuda!!!" Teriak Raden Wijaya yang langsung mengerahkan pukulan apinya kearah Michelle yang langsung menendang Raden Wijaya lagi


"Riwayatmu berakhir Raden Wijaya!!!"


TO BE CONTINUED

__ADS_1


__ADS_2