Dark Walker

Dark Walker
episode 16


__ADS_3

Episode 16


"Akan ku beritahu pada kalian seberapa lemahnya bangsa manusia itu," Ucap Kalarau dengan suara menggelegar.


"Armor Robo Knight aktif" Ucap suara di chip yang terpasang pada gelang Dandi dan nampak sebuah armor ksatria berwarna putih menutupi tangan, kaki, serta tubuh dan kepalanya.


"Sakunta," Perintah Tissa pada Sakunta yang berdiri di depannya disusul dirinya yang memasang kuda kuda.


"Baiklah! Ayo kita habisi Kalarau!" Ucap Jefri dengan kedua tangan yang berubah satu diselimuti apa dan satu lagi diselimuti besi.


"Dihya Darani!" Seketika tanah disekitar mereka dalam jarak 5 meter mulai memanas dan naik seakan dikendalikan oleh Kalarau.


"Tsabina mundur!" Kata Dandi ke Tsabina yang mundur cukup jauh dari sana agar tidak terkena efek dari jurus yang dikeluarkan oleh Kalarau.


"Serang!" Teriak Dandi yang berlari diikuti Sakunta dan Tissa yang berlari dan langsung menyerang Kalarau dalam tubuh Edwin yang tersenyum dan mengarahkan tangan kanannya ke atas dan tiba-tiba tanah di depan mereka naik.


Namun, Sakunta dengan cepat melompat tinggi melewati tanah itu.


"Pakai wings," Ucap Tsabina melalui alat komunikasi yang terpasang di kepala Dandi yang memasang chip di gelang yang menempel di tangannya dan terbentuklah sebuah sayap pesawat di punggung Dandi yang langsung terbang melewati tanah tadi dan langsung bersiap menyerang dengan pedangnya bersamaan dengan Sakunta yang bersiap menendangnya.


Namun, ditahan dengan mudah oleh iblis itu dengan menendang mereka berdua dengan kakinya hingga membuat mereka berdua terjatuh.


"Serangan topaz ledakan angin!" Teriak Tissa yang melempar batu akik Topaz ke tubuh Kalarau hingga membuatnya terhempas karena tekanan angin yang besar akibat hancurnya batu itu


"Sihh batu akik ya... Menarik!" Teriak Kalarau yang berlari ke arah Tissa yang langsung melempar batuan Topaz tadi namun tanah tanah disekitar makhluk tadi terus naik dan melindungi Kalarau dari serangan batu akik Tissa dan saat sudah dekat Tissa tersenyum dan mengepalkan tangannya di depan makhluk yang merasuki Edwin tersebut


"Kalsedon, kayu pengikat!" Ucap Tissa dan ternyata batu akik Kalsedon telah terpasang di tanah tempatnya berpijak dan keluarga puluhan kayu yang mengikat tubuh pria itu.


"Dihya Kaya!" Teriaknya dan tubuh Kalarau mulai menghasilkan api yang menghancurkan kayu kayu yang mengikatnya dan begitu terlepas dengan cepat Kalarau bergerak menuju Tissa.


Namun, datang Jefri dan Sakunta yang menendang tubuh Kalarau hingga terhempas.


"Baiklah waktunya geng cowok beraksi!" Kata Dandi yang terbang dengan sayap pesawatnya langsung menghujaninya dengan tembakan walau dapat ditahan dengan tanah yang menutupi tubuhnya dari jangkauan tembakan Dandi.


"Heaa!'' Nampak tanah didepan Kalarau dihancurkan oleh Sakunta dan Jefri yang langsung menendang dan menghantam tubuhnya. Namun, ditahan oleh kedua tangannya dan langsung Ia dorong.


"Sepertinya aku harus menggunakan kekuatan anak ini," Ucap Kalarau sembari memegang tubuh Edwin yang ia rasuki dan langsung mengangkat tanganmu keatas.


"Kam die Brachwache!," Ucapnya dan nampak muncul banyak rantai dari tangan Edwin yang langsung Ia arahkan ke Sakunta dan Jefri yang dengan susah payah menghindari serangan rantai itu.


"Darimana ia mendapatkan kekuatan itu?" Heran Jefri yang menatapnya gentar sembari memperkuat energi di kedua tangannya.


"Ini! Heredis neraka!!!" Ucap Sabdoh Palon yang terkejut dengan kekuatan Edwin saat dirasuki oleh Kalarau, membuat Reno terkejut dan segera memasang topengnya.


"Jadi selama ini ia sang heredis neraka itu?!" Heran Prabu Asmoro bangun


"Menyebalkan juga karena kartu as mereka malah dikendalikan oleh musuh, tapi sejauh ini berjalan sesuai alur yang kuinginkan," Ucap Joel yang memperhatikan aksi tersebut dari tempat yang aman dan tersembunyi.


"Tapi semua sesuai dengan rencanamu bukan?" Tanya Reno yang duduk di tempat yang hanya bisa dilihat oleh Sabdoh Palon.

__ADS_1


********


Sementara didalam kesadaran Edwin nampak pria itu terpenjara dalam sel api dan di depannya berdiri Kalarau yang tertawa bangga akan kekuatan besar yang Ia dapatkan.


"Kenapa gue gak pernah tau soal ini..." Gumam Edwin menyesali apa yang terjadi pada dirinya.


Namun, perlahan ingatannya mulai datang ingatan semasa kecil saat Ia tertidur dan mengalami Lucid Dream di masa saat Ia diajak oleh seorang gadis kecil keluar.


Namun, selalu ditahan oleh Pria aneh dengan rantai di tangannya.


"Jangan pernah keluar! Kau adalah penerusku maka keselamatanmu akan selalu kujaga!" Teriak pria itu dan membuat Edwin kecil terjaga.


Hari berganti bulan berganti tahun mimpi yang sama selalu terjadi setiap Ia lolos dari rumahnya dan akan pergi keluar selalu ada yang menariknya masuk kembali hingga perlahan tapi pasti kedua sosok itu menghilang berganti sebuah tanda yang muncul di telapak tangannya.


"Lu pakai tato asli win?" Tanya Rico yang dibalas gelengan oleh Edwin yang tersenyum sombong sembari menatap Daniel yang sibuk main game di hpnya.


"Ini tato pulpen hasil karya gue, Daniel mana bisa," Sombong Edwin yang membuat telinga Daniel panas.


"Oya?! Tunggu aja ya gue bakal kasih liat tato yang jauh lebih bagus dari punya lu," Ucap Daniel yang membuat Rico, Wisnu, dan Edwin tertawa serta sebuah ingatan saat pertarungannya saat menolong Ghea juga muncul dalam ingatannya.


"Semuanya pingsan ya... Baguslah," Ucap Edwin yang menatap makhluk tadi dan mata Pria itu berubah menjadi merah.


"Akan kuambil alih untukmu, Edwin," Ucap Edwin dan tiba-tiba muncul banyak rantai disudut ruangan.


"Kam die Brachwache gerbang 1 Höllenfeld!" Ucap Edwin dan nampak rantai rantai tadi bergerak menuju makhluk tadi dan menusuknya dari berbagai arah.


"Terbakarlah dan nikmati siksaan dunia ini," Ucap Edwin yang dijawab teriakan kesakitan dari makhluk itu yang perlahan hancur menjadi abu.


"Muncul juga yang kutunggu tunggu," Ucap Kalarau yang tertawa melihat orang tersebut.


"Sang pemilik sebenarnya heredis neraka Omades!!!" Ucap Kalarau yang dibarengi keluarnya sayap yang menghancurkan sel Edwin serta semua yang ada disekitar kecuali Edwin dan Kalarau.


********


"Hahaha!!! Kalian makhluk tidak berguna!" Ucap Edwin yang dirasuki Kalarau pada Jefri yang terduduk dengan luka bakar serta Sakunta dan Dandi yang terkapar dengan darah.


"Sakunta mode senjata," Ucap Tissa ke Sakunta yang berubah menjadi pedang hitam yang ditangkap oleh Tissa sementara Jefri berusaha bangkit walau darah mengalir di dahinya serta luka bakar akibat cambukan rantai neraka di dada dan tangan kirinya.


"Satans Schrei!" Ucap Kalarau yang menancapkan seluruh rantai neraka nya ke dalam tanah dan rantai rantai tadi kembali muncul disekitar Jefri dan Tissa yang terus menangkis serangan itu, sementara Ia berlari menuju mereka berdua dan langsung bersiap menghajar dengan tangannya walau dengan cepat Tissa mencoba menebasnya.


Namun, tendangan Kalarau berhasil mengenai perut Tissa yang terlempar lalu dicekik olehnya.


"Rahu's Hand Sun Ball 1!" Teriak Jefri yang melempar bola energi api yang membentuk matahari kearah Kalarau yang dihancurkan oleh Rantai api tadi yang langsung mengikat tubuh Jefri dan membakarnya hingga membuatnya berteriak.


"Heaa!" Nampak Dandi kembali terbang dan menghujaninya dengan tembakan walau tanah tanah api Sakunta kembali naik dan menghantam serta melempar Dandi.


"Belum!" Teriak Dandi yang sempat sempatnya memasukan chip ke gelangnya yang mengeluarkan suara.


"crane on!" dan sebuah miniatur berbentuk derek muncul di tangan kanan Dandi yang langsung Ia lemparkan ke tanah api terdekat dan menariknya menuju Kalarau.

__ADS_1


"Makan nih Dandi kick!" Teriak Dandi ke Kalarau yang menatapnya remeh lalu segera menghindar dan langsung mengarahkan rantai neraka tadi untuk mengikatnya dan disaat yang tepat Tissa menjatuhkan pedangnya yang berubah kembali menjadi Sakunta yang langsung meninju Kalarau hingga cekikannya pada Tissa terlepas dan langsung mundur beberapa langkah.


"Sekarang!" Teriak Tissa ke Dandi dan Sakunta yang akan menyerangnya. Namun, Kalarau hanya tersenyum dan menatap mereka berdua.


"Dhiya gharda!" teriaknya dan sebuah tanah yang membentuk gigi buaya menerkam pinggang mereka berdua yang tertancap dan membuat mereka memuntahkan darah dan tidak mampu bergerak.


"Kalian masih bisa hidup kok, karena gigitan selanjutnya yang akan memotong tubuh kalian!!!" Teriak Kalarau dan gigi buaya yang terbuka tadi segera menutup dan disaat itu sebuah besi panjang berwujud tongkat menghancurkan tanah berbentuk gigi yang mengarah pada Dandi, sementara Sakunta berubah kembali menjadi pedang dan melayang menuju Tissa.


"untung saja.. Te..pat," Ucap Jefri yang keluar dari rantai neraka yang Ia hancurkan. Namun, energinya sudah habis dan akhirnya Ia pun pingsan, sementara Kalarau segera berlari menuju Jefri sembari mengarahkan tangannya ke depan.


"Akan kuambil kembali tanganku dan semuanya berakhir!" Ucap Edwin yang mengarahkan rantai nerakanya menuju Tissa dan Jefri yang langsung terpotong oleh tebasan cahaya dan seorang Pria mendarat dihadapan Edwin yang langsung menebasnya walau dapat dihindari dengan mudah oleh Edwin yang mundur beberapa langkah kebelakang.


"Akhirnya tiba," Ucap Tasya yang menatap Dandi dan Jefri yang terluka parah sementara Rico berdiri memasang kuda-kuda menatap Edwin yang dirasuki oleh Kalarau dengan ekspresi marah.


"Edwin! Gue tau lu masih bisa denger suara gue, gue cuma minta lu lawan makhluk itu dan ambil kembali kesadaran lu," Ucap Rico ke Kalarau yang mulai memegang kepalanya.


Namun, kembali puluhan rantai muncul di sekitar Rico membentuk sangkar yang memutari Rico.


"Dämonenkäfig!" Ucap Kalarau dan rantai rantai yang mengelilingi Rico tadi langsung bergerak kearahnya bermaksud menghancurkannya.


Namun, sebuah ledakan cahaya menghancurkan rantai rantai itu menjadi tak bersisa dan Rico segera berlari dan tanpa ampun Rico menebas Kalarau walau Ia di dalam tubuh Edwin yang melompat menghindar.


"Apa-apaan dengan konsentrasinya itu," Heran Kalarau yang heran melihat Rico yang terus berlari dan terus menebas-nebas dirinya yang terus menghindar.


"Dhiya gharda!" Teriak Kalarau dan banyak tanah berbentuk mulut buaya mencoba menerkam Rico yang terus menjauh dan langsung melempar pedangnya kearah Kalarau yang dengan mudah menghindari serangan pedang itu dan tersenyum sombong.


"Kenapa? Putus asa karena tidak bisa melindungi temanmu?" Kalarau memprovokasi Rico yang tersenyum dan menunjuk ke belakang.


"Tidak mungkin dia tau!" Kata Sabdoh Palon yang membuat Prabu Asmoro bangun menatapnya heran


"Replika rumah yang kau hancurkan memang hanya sekedar replika, karena tempat menyimpan anak anak yang jadi korban nightmare game ada dibelakang sana," Ucap Rico yang membuat Sabdoh palon dan Prabu asmoro bangun terkejut walau sesaat kemudian ia tersenyum walau tak dilihat oleh Sabdoh Palon.


Flashback sehari sebelumnya nampak jiwa-jiwa orang yang menjadi korban masuk ke dalam satu replika rumah yang terpasang di dinding bangunan yang tidak terpakai itu.


"Ini replika yg akan kugunakan untuk memancing kalian datang dan kau pastikan membawa inang yg cocok untuk Kalarau," Ucap Sabdoh Palon pada Reno yang mengangguk dan tersenyum lalu mulai menjalankan rencananya.


Namun tanpa Sabdoh Palon sadari Reno sudah memberi tahukan hal itu ke Rico dan menyusun rencana bersama lalu saling berjabat tangan


"Dengan ini mereka pasti bisa kalian selamatkan," Kata Reno senang ke Rico


*********


"Sayang sekali ya, gue udah selangkah di depan kalian," Ucap Rico yang mengarahkan tanganmu ke depan dan pedangnya kembali lagi pada Rico dan seketika dingin itu hancur dan jiwa-jiwa mereka mulai melayang dan akan kembali.


Namun, secara tiba-tiba semuanya kembali terkumpul dan masuk ke dalam sebuah bola hitam raksasa yang lama lama berubah menjadi sesuatu.


"Sayang sekali tidak semudah itu," Ucap Sekartaji yang muncul di belakang Kalarau dan akhirnya bola tadi membentuk jam pasir yang dilemparkan ke belakangnya dan membentuk jam pasir raksasa.


"Jika ingin mereka selamat maka kau harus menghabisi Kalarau waktunya 10 menit sampai mereka semua tewas," Ucap Sekartaji.

__ADS_1


"Tidak masalah, karena dalam 20 serangan kau akan kukalahkan," Ucap Rico sombong sembari memasang kuda-kuda sama halnya dengan Edwin yang memasang kuda-kuda menghadapi kalarau di dalam pikirannya.


                     TO BE CONTINUED


__ADS_2