
DEFENDERS
Chapter 38
"Sejak awal gue masuk ke SMA 2, sejak gue ketemu lu di kantin hingga sekarang... Rasa cinta gue ke lu gak pernah berubah, kak Rico!" Ucap Tissa yang memegang kedua tangan pria itu
"Ini gak mungkin kan?" Ucap Rico dalam pikirannya seraya melihat wajah Tissa yang tampak serius menatap pria itu sementara Julian yang bercanda dengan Ersya tiba - tiba wajahnya berubah dan langsung berlari keluar dari ruangan itu
"Julian?! Ada apa!!!" Panggil Ersya yang terkejut dan langsung berlari menyusulnya
Kembali ke tempat Rico nampak Ia yang kebingungan menghadapi kondisi seperti itu masih terdiam dan menatap gadis itu disisi lain nampak Tasya masih berdiri mematung dibelakang dan saat itu ia melihat ke depan Rico dan Tissa lalu berteriak
"Rico! Tissa!" Teriak Tasya dan nampak Tissa berteriak kesakitan dan tertarik ke arah pria bertopeng yang menangkap tubuh gadis itu dan membuat Rico terkejut dan menatap pria itu
"Gatenya telah ditemukan," Gumam Pria itu yang membuat Tasya berjalan perlahan dengan tatapan penuh amarah diikuti Rico yang bersiap dengan pedangnya
"Kau mengenalnya?" Tanya Rico ke Tasya yang mengeluarkan pedangnya dan menggenggamnya dengan erat
"Tentu saja... Dialah orang yang membantai squad gue dan membuat gue jadi kaya sekarang, dialah pemimpin dari kelompok Kliwon 8 Bapang!" Jelas Tasya dengan air mata mengalir di kedua matanya dan nampak tatapan Rico berubah dan ia langsung berlari kearah Bapang dan langsung meninju pria itu namun sedetik kemudian ia memuntahkan darah dan terlempar oleh tentakel tentakel tajam di punggungnya
"Lepasin gue! Sakun...!" Teriak Tissa yang pingsan oleh tinju Bapang yang tepat mengenai ulu hatinya dan secara mengejutkan ia menghisap Tissa masuk kedalam tubuhnya
"Tissa!" Teriak Rico yang membuat pria itu geram dan langsung berlari menyerang Bapang yang langsung meninju pria itu tepat diwajahnya dan sebuah pukulan kembali menghempaskan Rico sementara Bapang yang tersenyum puas melirik Tasya yang gak mampu bergerak karena trauma
"Kukira kau sudah jadi mayat, dark walker...," Ucap Bapang pada Tasya yang berteriak dan berlari menyerang pria tersebut walau dapat dihindari dan dibalas tendangan oleh Bapang yang mengenai dada gadis itu dan tanpa ampun ia lempar ke belakang yang langsung ditangkap oleh Rico lalu ia turunkan ke bawah dan langsung menyerang lagi
"Bapang!" Teriak Rico yang langsung menebas dengan pedangnya namun ditahan kembali dengan tangan kanannya dan pria itu segera menurunkan Tissa dan balas meninju Rico yang mundur sekaligus berjaga jarak dengan pria itu
"Heaa!" Tanpa diduga Tasya malah menyerang dengan menebas pria itu secara brutal walau semuanya dapat ditangkis dengan kedua tangannya anehnya tidak ada luka dikedua tangan itu padahal sudah terkena pedang
"Apa - apaan ini? Kenapa dengan kedua tangannya?" Heran Rico yang mengangkat pedangnya keatas
"Tebasan cahaya horizontal!" Teriak Rico seraya menebas pria itu dengan tebasan energi cahaya yang membuat Tasya melompat menjauh namun serangan itu malah ditahan dan dibalikkan pada Rico yang terkena serangan itu karena tidak siap
"Rico!" Teriak Tasya panik namun dari balik ledakan terlihat Rico kembali berlari menyerang
"Keras kepala!" Ucap Bapang yang menciptakan kristal es yang menancap di kedua kaki Rico dari tangan kanannya yang membuat Tasya terkejut
"Rico!"
**********
Kembali ke sekolah nampak Bella terus menyerang Edwin yang tidak bisa berkutik akibat kekuatan Bella yang sangat besar
"Sial!!! gimana caranya biar bikin si Bella sadar lagi?!" Edwin nampak kebingungan dan mencari cara
Sementara Daniel sudah tidak berkutik dihadapan salah satu dari Datu Banua Lima yang bersiap menyerangnya lagi dengan berjalan mendekat namun Daniel hanya tertawa dan berdiri dan menyeka darah di pelipis kirinya lalu memasang kuda - kuda dan langsung berlari menyerang datu banua lima yang dengan mudah menangkis semua serangan itu dan dengan sekali tebasan pada pundak kiri Daniel akhirnya pria itu terhempas dan terkapar di tanah
"Cuma segini?" Tanya Raden Wijaya yang tersenyum menatap Bintang yang terduduk dengan darah di kepala dan kedua tangannya
"Sepertinya aku harus sedikit lebih serius ya...," Gumam Bintang seraya bangkit berdiri dan mengeluarkan aura biru yang meledak ledak dan membuat ekspresi pria itu berubah
"Dengan satu pukulan ini akan kukalahkan penjahat sepertimu!" Bintang mengumpulkan tenaganya yang tersisa di tangan kanannya dan bersiap menyerang sementara Raden Wijaya nampak tertawa dan berjalan mendekati Bintang
"Maju! Tunjukan padaku kekuatan itu!' Ucap Raden Wijaya yang mendekati Bintang bersiap menghabisinya dan
__ADS_1
"Heaaaa! Tinju komet Halley!!!" Teriak Bintang yang mengeluarkan tinju super kuatnya yang menghasilkan ledakan tepat kearah Raden Wijaya yang membuatnya terhempas dan menabrak dinding sekolah
Kembali ke tempat Daniel nampak Datu banua lima mulai bersiap menusuk perut Daniel yang meringis kesakitan dan mulai menguatkan dirinya untuk duduk dan menatap pria itu tajam
"Hah hah kampret!!! kuat juga," Gumam Daniel sementara Datu Banua Lima hanya tertawa dan bersiap menebasnya dan disaat itu Daniel menguatkan pegangan di pedangnya dan langsung menebas Datu banua lima secepat kilat hingga terbelah menjadi 2 dan tumbang tewas
"Flashpoint 1!" Teriak Daniel seraya menghembuskan nafasnya pelan dan tersenyum dan berteriak penuh kemenangan lalu menguatkan dirinya untuk melompat ke kelasnya
"Suara itu? Daniel!" Gumam Edwin dan terlihat sebuah kilat muncul dibelakang Bella dan akan menangkapnya namun dengan sekali tatapan Daniel langsung terhempas kebelakang
"Win! Bangke cepet matiin lagunya!" Teriak Daniel pada Edwin yang tersadar dan langsung berlari kearah hape miliknya dan langsung mematikan lagu band serpent tadi dan seketika Bella pingsan
"Gak ngotak lu!" Omel Daniel ke Edwin yang membantu Bella bangkit dan terlihat Bintang telah tiba disana dan melihat mereka bertiga
"Kita harus lari dari sini!" Ucap Bintang memperingati Edwin cs dan nampak Alfin keluar dari dalam dinding
"Loh men? Sejak kapan lu?" Tanya Daniel ke Alfin yang mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu
"Lu mau pergi dari orang - orang bertopeng itu kan?" Tanya Alfin ke Edwin cs yang mengangguk dan Alfin segera menempelkan kedua tangannya ke dinding dan nampak ia mulai terserap ke dalam dinding itu bersama dengan Bintang, Bella, Edwin, dan Daniel dan akhirnya hilang dari sana
"Kekuatan yang kuat sekali!" Teriak Raden Wijaya yang keluar dari reruntuhan dengan bajunya yang sobek di sisi kanan
"Sepertinya mereka berhasil kabur," Ucap Calon Arang ke Raden Wijaya dan memberinya kode untuk pergi meninggalkan sekolah itu
"Yah, toh kekuatan pria itu juga sudah kudapatkan," Gumam Raden Wijaya seraya menghilang bersama Calon Arang
***********
Kembali ke tempat Rico nampak ia tidak mampu bergerak setelah kedua kakinya tertancap oleh kristal es yang membentuk tombak
"Sekarang akan kuakhiri hal yang seharusnya berakhir waktu itu!" Ucap Bapang dan dari belakang nampak sosok berwujud raksasa merah yang bersiap memukul Tasya yang terkejut melihat hal itu hingga tak mampu bergerak namun
"Mundurlah," Ucap Julian yang tersenyum dan membuat Tasya tersenyum lalu menangis melihat Julian yang menatap Bapang dengan serius
"Anggota Ganendra termuda, apa kali ini kau akan menghentikan ku lagi?" Tanya Bapang yang membuat Julian tersenyum dan menatapnya tajam
"Balikin adik gue!" Ucap Julian yang membuat Bapang tersenyum dan memasang kuda - kuda
"Coba ambil!" Ucap Bapang yang membuat Julian geram dan langsung berlari menyerangnya yang langsung menangkis serangan itu
"Cakaran harimau langit!"
"Eisschwert!" Julian menyerang dengan membentuk pedang es yang dihancurkan dengan sekali pukul dan sekali lagi sebuah cakaran mengenai tubuh Julian yang hancur menjadi es dan langsung berubah menjadi sebuah tombak yang akan menancap pada tubuhnya
"Polarspeer!" Teriak Julian yang langsung menendang tombak es itu yang mengarah pada Bapang yang tersenyum dan meninju tombak itu hingga hancur
"Tinju kepala kerbau!" Ucap Bapang dan dari belakang nampak sosok raksasa merah menyerang Julian dengan gadanya yang besar
"Shneezone!" Ucap Julian dan tiba tiba seluruh tempat menjadi membeku hingga membuat raksasa itu juga membeku dan hancur sementara Bapang dengan mudahnya menghancurkan lantai es itu
"Kekuatan es ya? Sepertinya kau cukup berkembang," Ucap Bapang yang langsung dijawab tendangan oleh Julian yang dengan mudah ditangkis olehnya
"Jangan banyak bacot dan balikin adik gue! polare Eisfüße!!!" Teriak Julian yang menginjak tanah didepannya dan muncul banyak dinding es yang terus menyerang Bapang yang mengeluarkan kembali raksasa merah yang menghantam dinding dinding yang muncul secara terus menerus menyerang pria itu walau kembali dengan mudah dihancurkan hingga menimbulkan serpihan serpihan es yang terbang ke sekelilingnya
"Bapang!!!" Teriak Julian yang menyerangnya secara terus menerus namun percuma semuanya dihancurkan oleh raksasa merah yang ada dibelakangnya
__ADS_1
"Hagel!" Teriak Julian dan serpihan es tadi membentuk jarum yang menyerang Bapang dari berbagai arah namun seluruh es itu tertahan saat akan mengenai tubuh pria itu dan terhempas keatas mengikuti arah jari Bapang
"Kekuatanmu yang sekarang bukan apa apa bagiku Julian," Ucap Bapang yang membuat Julian tertawa dan kedua tangannya mengeluarkan api yang besar dan langsung berlari menyerang Bapang
"Heaaa!" Melihat perjuangan Julian, Rico tidak mau kalah dan langsung memotong kristal es yang menancap di kedua kakinya dan menguatkan kedua kakinya yang bermandikan darah untuk berlari dan langsung menyerang Bapang yang langsung menangkis pedang itu dan menghindari pukulan Julian dan meninju perut Rico dan beradu pukulan dengan Julian
"Kibasan Garuda api!"
"Sapuan merpati putih!"
Tebasan cahaya bentuk bulan sabit!" ketiga serangan itu saling beradu dan melempar mereka berdua yang saling jaga jarak
"Kuat sekali?!" Gumam Tasya yang melihat hal itu namun Ersya hanya diam menyaksikan pertarungan itu
"Dia sama sekali gak serius," Jawab Ersya pada Tasya yang membuat gadis itu terkejut dan menatap Ersya gak percaya
"Kalau kekuatannya sebatas itu dia gak mungkin bisa memimpin kita bertujuh," Jawab Ersya menjawab tatapan bingung Tasya tadi sementara Julian dan Rico kembali mendekati Bapang yang menangkis tiap serangan mereka lalu menghantam wajah mereka hingga mundur kebelakang, saling sikut lalu berlari menyerang kembali Bapang yang menendang mereka berdua yang saling berdekatan dan lagi lagi mereka saling dorong
"Minggir kampret! Ganggu Mulu!" Omel Rico yang dibalas dorongan oleh Julian
"Lu yang minggir! Jelas jelas dia lawan gue!" Jawab Julian yang membuat Rico menarik kerah bajunya dan dibalas juga olehnya
"Dia lawan gue!"
"Gue!"
"Gue!"
"Gue!" Keributan nampak terjadi diantara mereka berdua yang membuat Bapang terdiam dan mengeluarkan sebuah tangan es raksasa yang mengarah ke mereka
"Julian! Rico! Please buat sekarang jangan kek anak kecil!" Ucap Ersya yang tidak dihiraukan oleh mereka berdua sementara Bapang hanya terdiam dan langsung melempar tangan es raksasanya pada mereka berdua dan beberapa detik sebelum mengenai mereka berdua
"Sekarang!" Teriak Rico yang memotong tangan es tersebut dan Julian segera bergerak cepat dengan dorongan kekuatan api di kedua tangannya yang bergerak menuju Bapang yang terkejut namun dapat menangkis pukulan dari Julian
"Tinju Garuda!" Teriak Julian yang mengeluarkan energi api yang langsung melempar Bapang beberapa langkah kebelakang namun pria itu hanya tertawa melihat hal itu dan menatap Julian
"Sepertinya Adhisty dan Safira sangat bangga melihat kekuatanmu itu," Bapang nampak mengatakan hal itu yang membuat amarah Julian memuncak dan aura panas membuat tempat itu bertambah panas dan membuat mereka terkejut
"Julian?" Ucap Rico yang nampak terkejut dengan perubahan sifat pria itu
"Jangan pernah sebut nama mereka... Lu gak pantes lagi!" Teriak Julian yang melompat dan langsung menyerang Julian dengan membabi buta walau dengan gampang ditahan olehnya dan Rico kembali bergerak cepat ke dekat Bapang dan langsung menebasnya namun ditangkap dengan mudah oleh Bapang yang tertawa dan mengeluarkan aura merah yang membuat mereka berdua terkejut dan mundur
"Gak pantes ya... Tapi ini semua kulakukan untuk mereka, berbeda denganmu yang tidak perduli dengan mereka," Ucap Bapang yang membuat Julian terdiam dan menatap pria bertopeng itu tajam
"Ketemu kau ketua Kliwon 8!" Ucap Anwar yang berdiri bersama Jefri, Chika, dan yang lainnya
"Sepertinya pertemuan kita cukup sampai disini," Ucap Bapang dan nampak sebuah gerbang merah muncul dibelakangnya lalu bergerak maju menutup tubuhnya
"Gak semudah itu!"
"Balikin adek gue!" Teriak Rico dan Julian yang berlari menyerang namun terlambat gerbang itu sudah tertutup dan Bapang telah menghilang dari sana meninggalkan Rico dan Julian yang terduduk menyesali diri mereka yang tidak mampu menyelamatkan Tissa
Di markas Kliwon 8 nampak Raden Wijaya bertemu dengan Bapang yang duduk di singgasananya dengan Tissa yang terduduk dengan tatapan kosong
"Gatenya sudah kita dapatkan, sisanya tinggal 8 orang terpilih untuk memanggil iblis molokh dan rencana besar kita akan selesai," Ucap Bapang pada Raden Wijaya yang tertawa mendengar hal itu
__ADS_1
"Tepat sekali, ini lah tahap akhir dari skenario yang sudah kita persiapkan jauh hari," Jawab Raden Wijaya yang menutup bukunya dan berdiri menatap keluar memperlihatkan seluruh anggota Kliwon 8 yang menunduk memberi hormat pada Bapang yang tertawa puas mengingat apa yang akan terjadi beberapa hari lagi
TO BE CONTINUED