
Di tempat lain yaitu di rumah Ditha terlihat sosok asap hitam berjalan masuk ke dalam kamar gadis yang sedang duduk dan menonton drama Korea.
"Udah jam 1 nih," Gumam Ditha sembari mengucek matanya karena mengantuk. Namun, tiba-tiba Ditha mendengar suara ketukan dari pintu dan saat Ditha membuka pintu, Ia tidak menemukan siapa-siapa.
"Aneh... Yaudah tinggal tidur aja," Kata Ditha saat menutup pintu dan berbalik menuju kamar. Namun, dirinya dikejutkan oleh sosok baju putih dengan rambut panjang yang duduk di atas kasurnya.
"Ini... Ini.. Lu!," Gumam Ditha yang terkejut sekaligus pucat akibat ketakutan karena mengetahui sosok yang ada di depannya.
"nina bobo... ooh.... nina bobo.
kalau tidak bobo digigit nyamuk.
nina bobo oo nina bobo kalo tidak bobok di gigit nya..Muk!!" Ucap sosok itu dengan suara yang serak dan menyeramkan lalu menatap Ditha yang berteriak tertahan karena ia menutup mulutnya dan langsung mengambil hp dan memotret sosok itu yang melayang mendekat kearahnya dengan senyumnya yang menyeramkan.
"Kyaa!!" Teriak Ditha lalu lampu kamar Ditha tiba tiba mati
******
"Dewi udah masuk, tapi sekarang si Ditha yang gak masuk," Kata Puput ke Rico yang menatap gadis itu bingung.
"Gak masuk kenapa?" Tanya Wisnu ke Puput dan Bella yang membuka hpnya dan menunjukan sebuah foto.
"Ini foto terakhir yang Ditha bagikan tadi malam jam 1, kita gak tau dia mau kasih jump scare atau apa tapi muka ini lumayan serem juga," Kata Bella ke Rico yang menatap foto itu tajam.
"Mungkin dia iseng aja kali," Jawab Rico ke Bella dan Puput yang mengangguk menyetujui.
"Tapi aneh juga loh co, kenapa gitu Ditha gak kasih kabar selama ini?," Kata Sesha menanggapi pernyataan Rico.
"Setidaknya kalo dia kasih prank pasti langsung kasih react atau komen apa gitu, ini gak sama sekali," Jelas Dewi ke Rico yang berpikir sembari melirik Wisnu.
"Kita kan cemas sama dia," Jawab Jocephine menanggapi kata Sesha dan Dewi.
"Gue juga kangen loh sama dia kan gak ketemu 3 harian karena gue sakit," Tambah Dewi ke Rico yang menatap foto itu layaknya detektif Sherlock Holmes.
"Sok serius lu kaya Sherlock Holmes," Ejek Sigit yang duduk dibelakangnya.
"Konspirasi baru!!" Kata Wisnu ke Rico yang tersenyum sambil menatap Dewi.
"Bisa minta waktunya sebentar gak? Gue gak modus kok cuman mau nanyain beberapa pertanyaan penting," Kata Rico ke Dewi dengan tatapan serius yang membuat Dewi heran dan akhirnya mengangguk.
"Ok.. Tapi dimana?" Tanya Dewi ke Rico yang keluar dari tempat duduknya.
"Sigit, Tasya ikut gue," Kata Rico yang langsung berjalan keluar bersama Sigit, Dewi, dan Tasya.
"Guru masuk co," Kata Edwin yang membuat Rico membatalkan tujuannya tadi dan langsung berjalan kembali menuju tempat duduknya.
"Pokoknya nanti pulang sekolah kita bakal jengukin Ditha," Kata Rico ke Dewi, Tasya, dan Sigit.
"Mereka juga pasti ikut dong?," Kata Dewi sambil menunjuk Bella cs.
"Gue tau tapi khusus kita berempat kumpul dulu di rumah lu wi," Kata Rico sambil membuka hpnya.
"Kok di rumah gue?" Tanya Dewi ke Rico yang langsung menunjukkan gambar Contretti kemarin.
"Gue mau bahas soal ini ke lu," Kata Rico ke Dewi yang membuat Tasya terkejut dan menatap Rico seakan bertanya bahwa yang menyerang si Ditha adalah makhluk itu.
"Besar kemungkinan kasus kalian berkaitan erat," Kata Rico sambil menatap mereka layaknya tatapan seorang detektif yang telah mendapat kesimpulan.
"Ok fix lu kebanyakan baca novel Sherlock Holmes," Jawab Bella ke Rico yang nampak tidak peduli dengan pernyataan gadis itu.
"Serius banget... Sebenernya kalian bahas apaan sih?" Tanya Edwin penasaran namun nampak diabaikan oleh mereka yang kembali duduk di kursi masing-masing, sementara Edwin hanya menatap mereka malas.
**********
Sore harinya nampak Rico, Tasya, Dewi, dan Sigit telah datang di rumah Ditha.
__ADS_1
"Kenapa malah kita doang yang pergi kesana?" Tanya Dewi ke Rico yang berjalan dan menatap ke depan.
"Makin dikit yang datang makin bagus," Jawab Rico yang membuat Tasya terkejut dan menatapnya tajam.
"Jangan bilang lu," Kata Tasya yang dibalas anggukan oleh Rico sementara Sigit mulai memainkan kameranya.
"Ditha menghilang sejak teriakan dia tadi malam, ibu sudah mencoba mencarinya dan menelpon polisi, tapi mereka masih belum menemukannya," Jelas ibu Ditha ke mereka berempat yang mengangguk.
"Boleh kami ke kamarnya Ditha? Siapa tau kita bisa dapet petunjuk keberadaannya Ditha," Kata Dewi ke Ibu Ditha yang memperbolehkan mereka masuk.
"Jadi kesimpulan lu apa?" Tanya Dewi ke Rico yang menunjukkan foto yang Ditha kirim tadi malam ke mereka.
"Makhluk inilah yang menculik Ditha," Kata Rico yang membuat Dewi tertawa tidak percaya.
"Lu kira kita lagi syuting film horor pakai acara diculik sama makhluk halus dan sebagainya, gak mungkin ada kali makhluk kek gitu," Jawab Dewi ke Rico yang menunjuk Tasya yang menatapnya bingung.
"Pakai kertas yang kemarin," Kata Rico ke Tasya yang terkejut lalu tersenyum dan melempar beberapa kertas ke sekitar kamar Ditha.
"Sigit nyalakan kamera hp lu... Karena sekarang kita bakal menemukan sesuatu yang menakjubkan...," Kata Rico sambil menunjuk ke dinding di samping lemari Ditha.
"Seal another dimension activated!" Ucap Tasya dan tiba-tiba kamar tadi dikelilingi kabut dan setelah kabut itu hilang nampak sosok makhluk berwujud perempuan berambut panjang nampak mengikat tubuh Ditha.
"Astaga!" Kaget Sigit dan Dewi yang langsung mundur dari sana dan mendekat ke pintu, sementara Rico langsung mengeluarkan kalungnya yang berubah menjadi pedang dan langsung menebas rambut yang mengikat Ditha, lalu dengan cepat menyerang sang monster agar tidak memberi kesempatan untuk bertahan. Namun, sang monster dapat bertahan dan berupaya membalas Rico dengan serangan melalui rambutnya.
"Rank B Kuntilanak! Rico hati-hati!" Teriak Tasya ke Rico yang terikat dan dilempar keluar dari kamar Ditha oleh kuntilanak itu, sementara Tasya segera menarik Ditha dan membawanya keluar dari kamar itu bersama Sigit dan Dewi yang masih menatap kuntilanak yang berjalan menembus dinding dan menghampiri Rico.
"Percuma aja gue yang udah latihan ini pasti bisa kalahin lu dalam 20detik!" Teriak Rico pede, lalu berlari menyerang sang Kuntilanak yang menyerang dengan rambutnya yang terus dipotong oleh Rico sembari berlari mendekat dan langsung menebas makhluk itu namun sebuah tongkat menghalanginya.
"Gak semudah itu!" Teriak pria bertopeng hijau dan memiliki hidung mancung, kumis dan memiliki titik emas diantara alis serta memegang tongkat berwarna hitam.
"Pengganti ya.. Maju kalian," Tantang Rico sombong.
"Sebut saja aku Prabu Asmoro bangun... Tujuanku bukan untuk bertarung namun menjemput makhluk ini, kekuatannya masih belum sempurna makanya dia belum bisa bermain main menuju alam gaib," Ucap pria itu sembari menatap kuntilanak itu yang terdiam.
"Titip si Ditha, gue bentar lagi balik," Kata Tasya ke Sigit dan Dewi yang mengangguk setuju dan gadis itu segera berlari menyusul Rico yang nampak kewalahan dengan kemampuan Prabu Asmoro.
"Kuberikan 3 pil jiwa ini untukmu, makanlah dan bangkitkan kekuatan tersembunyimu, kuntilanak," Ucap Prabu Asmoro bangun sambil melempar 3 pil berwarna biru yang dimakan oleh kuntilanak dan nampak tubuh kuntilanak itu dialiri energi yang besar dan seketika muncul lebih banyak rambut yang menyerang Rico yang langsung menebas rambut-rambut itu.
"Banyak dan cepat, sial gue gak sanggup lagi," Kata Rico sembari menebas dan bertahan.
"Sihir pertahanan rantai pengikat," Kata Tasya dan dari tangannya muncul rantai yang menyerang kuntilanak tadi dan nampak makhluk itu langsung menghancurkannya dengan mudah dengan rambutnya.
"Kenapa lu kasih tau ke temen lu soal identitas kita?!" Tanya Tasya kesal ke Rico yang menatapnya heran.
"Gue gak ngelakuin apa-apa?" Kata Rico ke Tasya yang geram dan segera berjalan ke arahnya.
"Pokoknya jangan pernah bongkar identitas kita ke publik walaupun itu temen lu, lu gk tau konsekuensinya kalau sampai identitas kita kebongkar" Marah Tasya sembari mengeluarkan pedangnya.
"Ok sorry, tapi sebelumnya gue mau tanya apa lu punya kemampuan khusus? Karena yang gue tau si Dark Walker yang nyerang kita punya kekuatan api," Kata Rico ke Febby yang menghela nafasnya sambil memasang kuda-kuda.
"Gue cuma bisa ngakses dimensi makhluk ini, cuma itu kemampuan khusus gue," Kata Tasya ke Rico yang menatapnya datar lalu kembali fokus.
"Kok kaya gak guna ya.." Gumam Rico sembari memasang kuda-kuda juga, sementara Tasya hanya menatapnya kesal.
"Dia Prabu Asmoro…, Waspada level kita jauh dibawahnya," Ucap Tasya ke Rico yang mengangguk lalu segera berlari menyerangnya.
"Kau tipe manusia yang tidak suka mendengarkan saran orang lain rupanya.." Gumam Prabu Asmoro sembari menangkis tiap serangan Rico dan langsung menghantam pinggang kiri Rico dengan tongkatnya.
"Rico! Sihir serangan bola api!" Teriak Febby sembari melemparkan bola api yang dapat dihancurkan dengan mudah olehnya.
"Kuntilanak!" Perintah Prabu lalu kuntilanak segera melompat dan menyerang Tasya yang terus mundur untuk berjaga jarak.
"Nunduk!" Teriak Rico yang berlari dan menyerang sang kuntilanak lewat belakang Tasya yang menunduk dan langsung menebas Kuntilanak tadi hingga tangan kirinya terpotong namun sebuah tekanan angin melempar mereka berdua yang berniat mengakhiri riwayat makhluk itu.
"Dia tidak semudah itu bisa kalian kalahkan," Gumam Prabu sembari menghentakkan tongkatnya ke tanah dan muncul tekanan angin yang menutup mereka dan saat angin itu hilang mereka juga hilang.
__ADS_1
"Lu gak apa kan?" Tanya Tasya ke Rico yang memegang pinggang kirinya.
"Gak, cuma lebam dikit doang," Jawab Rico sembari kembali menuju rumah Ditha.
"Seal another dimension deactivated," Ucap Tasya merapal mantranya.
"Rico, Tasya kalian gak apa kan?" Tanya Sigit dan Dewi saat melihat mereka berdua yang mengangguk lalu tersenyum.
"Intinya Ditha berhasil kita selamatkan," Kata Sigit ke Rico yang tersenyum dan melirik Tasya yang merapal mantra.
"Kalian keren tadi... Btw bukannya itu ta...," Belum selesai mereka berdua bicara Tasya sudah menghembuskan kapur hitam yang membuat mereka terdiam lalu pingsan.
"Lu kasih mereka narkoba ya?!" Kata Rico Marah ke Tasya yang menepuk kepalanya.
"Bukan ****! Itu namanya kapur penghilang ingatan, gue udah atur kok mereka cuma lupa ingatan tentang pertarungan kita dan saat mereka masuk dinding dimensi juga," Balas Tasya sambil mengangkat Dewi dan menaruhnya di sofa sementara Rico membiarkan Sigit tidur di lantai.
"Kenapa lu gak angkat dia?" Tanya Tasya ke Rico yang menggelengkan kepalanya menolak.
"Dia berat," Jawab Rico ke Tasya yang menatapnya kesal.
"Yaudah kita balik," Ajak Rico ke Tasya yang menyetujuinya dan langsung berjalan keluar dari rumah dan meninggalkan Ditha dan ibunya yang masih berpelukan.
"Ketemu juga akhirnya..," Kata Jefri yang menyalakan motor ninjanya dan langsung menaikinya. Namun, seorang pria berhenti di depannya dan menghalangi jalannya.
"Lu bukannya Edwin dari kelas IPA 6?" Tanya Jefri ke Edwin yang tersenyum dan berjalan mendekatinya.
"Gue lihat lu ada pada saat kejadian siang itu, saat semua orang tiba-tiba pingsan dan sosok manusia bersayap aneh tiba-tiba datang ke sekolah," Jelas Edwin ke Jefri yang mengangguk lalu turun dari motornya.
"Berarti saat itu lu juga gak pingsan ya? Menarik," Ucap Jefri ke Edwin yang meminta hp Edwin lalu memberikan nomornya.
"Gue bakal kasih tau sebuah rahasia ke lu, dan pastinya hal ini bakal menarik buat orang kaya lu," Ucap Jefri ke Edwin yang mulai tertarik. Namun, Jefri segera pamit dengan mengendarai motornya.
*************
"Gue masih bingung sama makhluk itu," Gumam Tasya yang berlatih pedang dengan Rico.
"At least si Ditha udah selamat dan sehat kan? Itu udah cukup sih buat hari ini," Jawab Rico ke Tasya yang masih diam dengan seribu pertanyaan di benaknya.
"Tapi dia bukan kuntilanak, makhluk itu sama sekali bukan kuntilanak yang pernah gue hadapin," Jelas Tasya lagi sembari menebas Rico yang berhasil menahannya dan langsung menodong Tasya dengan pedang kayu itu.
"Maksudnya?" Tanya Rico yang pedangnya ditangkis oleh Tasya dan balas menodongnya.
"Kuntilanak setau gue dari dulu dia cuma sekedar ganggu orang doang, gak main culik-culikan kek gini," Jelas Tasya ke Rico yang mengangguk dan langsung mengangkat tangannya menyerah.
***********
Malam harinya nampak di sekolah sedang ada beberapa murid selaku anggota osis sedang mengambil sebuah barang di ruang osis.
"Hampir aja kelupaan," Gumam salah satu murid yang mengambil sebuah flashdisk yang ada di meja ruang osis.
"Pikun banget lu," Ejek teman-teman gadis itu namun suara tangisan mengejutkan mereka.
"Suara apa tuh?" Kaget salah satu dari mereka, sementara satunya lagi menemukan sosok perempuan berbaju putih yang berdiri di ujung lorong depan kelas.
"Itu?!" Ucap salah satu dari mereka yang terkejut dan nampak perempuan berbaju putih itu tersenyum ke mereka dan bergerak cepat menuju ke arah mereka yang panik dan langsung berlari turun sembari berteriak ketakutan. Namun, saat mereka turun sang kuntilanak telah berada di hadapan mereka dan tertawa sangat keras hingga membuat mereka juga berteriak ketakutan. Namun, sebuah paku mengenai tubuh kuntilanak itu hingga berteriak kesakitan.
"Kalian cepat pergi dari sini!" Kata Pria itu memperingati siswa dan siswi agar berlari menjauh, sementara pria itu tersenyum ke kuntilanak sembari memasang kuda-kuda.
"Tsabina keknya armor itu bakal gue pake deh," Kata pria itu yang ternyata adalah Dandi.
"Gak bisa, sementara pakai Hopper aja," Jelas Tsabina ke Dandi yang menepuk kepalanya sembari menembaki kuntilanak.
"Semoga aja berhasil," Gumam Dandi yang bersiap dengan senjatanya, sementara sang kuntilanak hanya tertawa cekikikan.
TO BE CONTINUED
__ADS_1