Dark Walker

Dark Walker
Episode 37


__ADS_3

DARK WALKER


Episode 37


"Tasya!!!" Terlihat Rico berlari masuk ke ruangan tempat Tasya dirawat ditemani Julian dan Ersya sementara Chika hanya mengawasi mereka dari tempat ia duduk


"Dark Walker?" Ersya nampak terkejut melihat Chika yang duduk seraya melirik mereka dan Julian dengan cepat berdiri didepan Ersya berniat melindunginya namun Chika terlihat tidak peduli dengan apa yang ada dihadapannya


"Santai, dia di pihak kita kok," Ucap Tasya menenangkan teman - temannya


"Kak Tasya!" Tissa juga terlihat berada dibelakang mereka seraya memasang ekspresi heran melihat Chika yang duduk disana


"Sebuah kebetulan sekali ya," Ucap Anwar yang juga berada di sana


"Kampret, kok bisa semuanya ngumpul gini?" Kesal Julian melihat semua tokoh penting yang ada disana


"Lu gapapa kan?" Tanya Rico yang memegang kedua pundak Tasya seraya menatap cemas pada gadis itu yang tersenyum padanya lalu menggelengkan kepala


"Gue aman kok, si Jefri tuh yang kasian," Jawab gadis itu ke Rico yang mengangguk dan tersenyum dalam pada gadis itu


"Yang penting lu gak apa," Balas Rico yang membuat Julian kesal


"Drama," Gumamnya sebelum disikut oleh Ersya yang cemberut pada pria itu


"Julian, seperti yang sudah saya janjikan ini surat kepindahan Tissa," Ucap Anwar pada Julian yang menerima surat itu sekaligus mendapat teriakan kaget orang - orang yang ada disana kecuali Chika, Anwar, dan Julian


"Woy, Bekantan! Lu apain anggota gue!" marah Rico pada Julian yang menatap mereka bingung lalu nampak Julian mencoba menenangkan mereka


"Kak, bisa jelasin apa yang terjadi?" Tanya Tissa pada Julian yang mendadak menatap mereka serius


"Ini demi keselamatan Tissa," Ucap Pria itu yang membuat Tissa menitikkan air mata dan berlari pergi dan saat Julian akan mengejar, kerah bajunya ditarik oleh Rico yang langsung menyeretnya keluar dan menabraknya ke dinding rumah sakit


"Brengsek! Apanya yang demi keselamatan Tissa! Atau ini hanya permainan lu yang egois itu hah!" Murka Rico pada Julian yang melepas tarikan itu dan menatapnya tajam


"Tau apa lu soal adek gue!" Ucap Julian yang langsung menerima pukulan telak di pipi kanannya yang membuat pria itu terjatuh


"Gue tau semuanya! Gue tau kalau lu gak mau fokus lu terbagi karena keberadaan adek lu kan?" Geram Rico yang berjalan mendekati Julian yang langsung membalas memukul pipi kirinya hingga terhempas ke belakang


"Asal lu tau, gue juga berat nge biarin adek gue pindah sekolah dan buat dia hidup sendiri tanpa gue, tapi ini demi kebaikan dia!" Balas Julian tak kalah emosi pada Rico yang sudah dibutakan oleh emosi dan langsung berdiri dan saling adu jotos di lorong rumah sakit hingga akhirnya dihentikan oleh Ersya dan Anwar yang berdiri di depan mereka


"Gue kecewa sama kalian! Kenapa sih kalian gak ada dewasa dewasanya?! Lama - lama gue muak sama tingkah kalian!" Marah Ersya yang menatap mereka berdua marah namun Rico hanya menatap pria itu geram dan langsung pergi menyusul Tissa


"Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Tasya pada Anwar yang melirik gadis itu datar


"Tissa adalah salah satu dari gate terakhir sekaligus yang tertangguh di masa ini, jika ia tertangkap maka para anggota Kliwon 8 dapat mengendalikan 2 dunia dengan mudah, maka untuk menghindari hal itu saya mengusulkan pada Julian untuk memindahkan Tissa ke salah satu SMA di kota Jakarta," Ucap Anwar menjelaskan yang membuat Tasya bangun dari tempat tidurnya yang sukses membuat Chika panik dan membantunya berdiri


"Tas! Jangan keluar dulu," Nasihat Chika pada sahabatnya yang tersenyum dan menepuk pundak gadis itu


"Gue gak apa kok, cuman keluar bentar buat kelarin satu masalah," Balas Tasya yang berjalan pergi keluar dari kamarnya dirawat dan berjalan menyusul Rico dan Tissa


*************


Di SMA 2 MATARAM terlihat Edwin sedang memutar lagu yang dinyanyikan oleh band serpent berjudul datanglah pada hatiku


"Sejak kapan lu suka sama lagu ini?" Tanya Daniel pada Edwin yang menatap serius ke depan pada teman teman kelasnya yang tersisa yaitu Bella, Rafli, Wanda, Sesha, Endra, Erick, dan Feby


Datanglah cinta...


Jangan biarkan dirimu terpenjara dalam gelapnya hati


Biarkan kini, ku menerangi hatimu


Beri...


Berilah aku kesempatan tuk mengisi jiwamu


Jadi biarkan aku... menerangi hatimu houoo

__ADS_1


Nampak saat Ratih menyanyikan lagu itu dengan tempo mellow perlahan Alfin dan Bella merasakan hal yang aneh pada tubuhnya dan disaat itu tiba - tiba sinar muncul dari tanda ditubuh mereka yang membuat kedua pria itu terkejut dan lagu berubah menjadi dinyanyikan oleh penyanyi lain yaitu Cynthia dan Indah dengan tempo cepat ala rapper serta tempo pelan dan tenang dari Indah


Cinta


Hapuskan kontra ciptakan kedamaian


Kedamaian abadi layaknya jiwa


Jiwa yang terang diliputi kegelapan


Kegelapan abadi membuatmu tersesat


Tersesat dalam jiwa yang gelap


Seperti suara burung burung


Menciptakan damai jiwa yang tenang


Maka biarkan aku ini


Menenangkan jiwamu yang diselimuti oleh kegelapan


Maka keluarlah tunjukanlah dirimu


Hancurkanlah segelmu dan datanglah padaku...


Padaku!!!


Seketika saat itu Bella berteriak dan tiba - tiba seluruh kursi dan meja terangkat keatas hingga membuat Daniel dan Edwin tercengang sekaligus panik sama halnya dengan murid yang masih ada di kelas


"Kalian semua pergi dari sini! Kayaknya si Bella kesurupan!" Edwin menyuruh teman temannya pergi dan terlihat Bella mengarahkan kedua tangannya ke arah Edwin dan Daniel yang langsung menghindar lalu mencoba mengikat gadis itu dengan rantainya


"Bangke! Rantai Api lu?!" Kata Daniel namun ditenangkan oleh Edwin


"Sans gue udah bisa kontrol kok," Jawab Edwin santai seraya mengerahkan rantai rantainya untuk menangkap Bella namun semuanya seakan tertolak begitu mendekati Bella


"Kenapa ini?" Heran Daniel dan Edwin sementara Bella mengarahkan tangannya ke depan dan seketika rantai rantai itu menyerang balik mereka berdua yang langsung terikat dan tidak mampu bergerak


*********


"Ada pergerakan baru dari heredis yang kalian cari," Ucap Joel yang menunjukan sebuah rekaman yang menunjukan sinar aneh dari kelas Edwin dan Daniel


1 jam sebelumnya nampak Joel memberikan sebuah rekaman lagu pada Edwin


"Apa ini?" Tanya Edwin pada Joel yang tersenyum dan menepuk pundaknya


"Ini agar kamu mampu melacak siapa temanmu yang memiliki kemampuan heredis," Jawab Joel pada Edwin yang terdiam dan menatap pria itu mantap


"Thanks ya," Kata Edwin sebelum berlari meninggalkannya yang tersenyum lalu membuka bukunya


**********


"Kerja bagus," Ucap Seorang gadis dengan topeng menyeramkan yang membuat Edwin dan Daniel berbalik dan nampak ia bersiaga namun Raden Wijaya secara tiba - tiba muncul dibelakangnya


"Sudah ketemu kan? Calon arang," Ucap Raden Wijaya yang mengarahkan tangan kanannya ke depan dan dari bukunya nampak keluar sosok pria yang memegang Mandau dan perisai khas kalimantan


"Datu banua lima! Hancurkan dia," Ucap Raden Wijaya yang bergerak menyerang mereka berdua yang langsung menangkis serangan itu


"Fokus sadarin Bella! Gue bakal nahan makhluk ini!" Ucap Daniel yang menebas Datu banua lima yang menghantam Daniel dengan tamengnya dan langsung menendangnya hingga terhempas keluar dari lantai bawah


"Alfin!" Panggil Edwin pada Alfin yang sedari tadi membeku melihat hal itu


"Biar gue yang hadapin dia," Ucap Calon arang yang mengeluarkan sebuah biola dan memainkannya dan secara mengejutkan rantai yang digunakan Edwin untuk menyerang malah berbalik mengikat dirinya


"Melodi arwah dalam benda!" Gumam Calon arang sementara Edwin menatap mereka berdua dengan tajam


"Tenang saja, kami datang kesini hanya untuk menangkap gadis ini," Ucap Raden Wijaya yang mendekati Bella yang masih terdiam menatap mereka kosong seakan dirasuki oleh sesuatu

__ADS_1


"Bella!!!" Edwin berteriak putus asa melihat Bella yang terdiam dan terus didekati oleh Raden Wijaya namun secara tiba tiba sebuah sinar biru terang membuat mereka semua menutup mata silau dan sebuah pukulan mengenai tubuh Raden Wijaya dan Calon Arang dan melempar mereka keluar dari kelas dan saat sinar itu meredup nampak pria dengan topeng biru muncul di depan Edwin


"Satria bintang tiba! Lu urus temen lu biar mereka berdua gue yang hadapin," Perintah Bintang yang melompat turun meninggalkan Edwin yang bisa melepaskan diri dari rantai miliknya sendiri


"Bella sadar!" panggil Edwin yang mencoba menyadarkan Bella namun kini seluruh kursi bergerak menyerangnya dari berbagai arah walau berhasil ditahan oleh Edwin dengan menutup tubuhnya dengan rantai tadi


"Flash..." Ucapan Daniel terhenti saat terkena hantaman perisai Datu banua lima yang langsung menebas dengan Mandau miliknya namun dapat ditangkis olehnya yang bergerak cepat kebelakang Datu banua lima dan bersiap menebasnya namun dapat ditahan dengan perisai miliknya


"Anj***!!! Susah banget matinya!" Daniel nampak kesal dengan musuhnya dan langsung bergerak cepat mengelilinginya dan mencari celah untuk menyerang


"Percuma aja kalau berharap ada bantuan, temen lu yang berkekuatan petir melawan salah satu pion terkuat gue sang Datu banua lima!" Ucap Raden Wijaya yang membuat Bintang tertawa dan menatap pria itu


"Yang aku lihat dia cuma ngelawan 1 orang, 4 nya kemana? Bukannya Datu banua lima merupakan gelar bagi lima panglima kerajaan tanjung Puri?" Tanya Bintang yang membuat Raden Wijaya terdiam


"Kau tidak lihat 4 orang yang lain?" Tanya Raden Wijaya lagi dan ternyata 4 orang bersenjata sama dengan lawan Daniel mengelilingi Bintang bersiap menghabisinya


"Game over!" Ucap Raden Wijaya sembari memberi kode pada keempat panglima tadi untuk menyerang Bintang yang langsung menghindari serangan - serangan itu dengan sudah payah dan bergerak menyerang Joel yang melepas bukunya dan langsung menangkis serangan itu dan balas menendang Bintang yang mundur beberapa langkah dan terkejut melihat Raden Wijaya yang menyatu dengan 4 jendral tadi dan matanya secara mengejutkan menyala dan mengeluarkan aura ungu


"Aku sudah bertarung dengan banyak makhluk, namun kenapa aura pria ini berbeda dari orang - orang yang pernah gue hadapi," Gumam Bintang yang memasang kuda - kuda dan aura biru meledak dari tubuhnya


"Calon arang segera menuju kelas dan bawa heredis heredis itu," Ucap Joel pada Calon Arang yang berjalan melewati Bintang yang tatapannya sedikit berpaling mencoba menghentikan Calon Arang namun sebuah sikuan menghantam perut Bintang yang terhempas walau posisinya dapat dinormalkan oleh Bintang sementara Raden Wijaya mengadu kedua kepalan tangannya yang mengeluarkan energi api yang mengalir di kedua tangannya


"Heaa!" Nampak Bintang berlari menyerang Joel yang juga melakukan hal yang sama dan menyerang pria itu


*************


"Tissa!" Panggil Rico pada Tissa yang duduk di salah satu kursi rumah sakit


"Please jangan salahin kakak gue," Tissa berbalik menatap Rico dengan air mata yang mengalir dan membasahi pipinya sementara Rico berjalan perlahan mendekati adik kelasnya yang menyeka air mata itu dan tersenyum padanya


"Gue udah duga kalau gue bakal pindah lagi jika masalah ini membesar," Gumam Tissa pada Rico yang duduk di sampingnya


"Maksudnya? Lu udah tau soal semua ini?" Tanya Rico pada Tissa yang mengangguk dan menatap pria itu


"Lu gak apa kan?" Tanya Ersya pada Julian yang tersenyum seraya menyeka darah di bibirnya yang dikompres oleh Ersya di kamarnya


"Sorry kalau tingkah gue sama Rico bikin lu kerepotan," Julian meminta maaf pada Ersya yang tersenyum dan menekan lukanya hingga membuat Julian mengaduh kesakitan sementara gadis itu hanya tertawa


"Yee gimana nih si fakboy, masa sama lebam dikit gini udah kesakitan," Ejek Ersya yang membuat gadis itu tersenyum dan menaruh kain tadi ke air hangat yg ada disana


"Gue sih gak masalah sama kalian, cuma agak kesel aja sama kejadian barusan, bukannya menyelesaikan masalah kalian malah bikin masalah baru lewat ribut kaya gitu," Jawab Ersya yang menatap Julian dan kini ia tersenyum dan melirik gadis itu


"Diantara gue sama si Rico gantengan mana?" Tanya Julian ke Ersya yang terkejut dan tertawa mendengar pertanyaan itu


"Ih apaan sih!" Ucap Ersya yang bangkit dan menaruh baskom kecil berisi air hangat tadi ke tempat lain


"Kalian sama sama nyebelin, gak ada yang ganteng dan tipe gue," Jawab Ersya yang membuat Julian tertunduk lemas


"Gak asik lu," Kesal Julian yang dibalas tawa oleh Ersya...


Kembali ke tempat Rico dan Tissa...


"Masih inget gak sama pertemuan pertama kita?" Tanya Tissa ke Rico yang mengingat kejadian di masa lalu dan mengangguk tanda bahwa ia ingat kejadian itu


"Masalah Laura kan?" Tanya Rico ke Tissa yang mengangguk mengiyakan


"Sebenarnya gue gak ngawasin Laura, tapi lu," Ucap Tissa yang membuat Rico terkejut mendengar hal itu dan tertawa


"Maksudnya gue?" Tanya Rico lagi sembari mengorek telinganya


"Gue cinta sama lu," Ucap Tissa seraya menatap kedua mata Rico yang terkejut mendengar apa yang baru saja ia dengar sementara di belakang nampak Tasya berdiri dan melihat semua kejadian itu namun ia tidak mampu berkata apapun


"Sejak awal gue masuk ke SMA 2, sejak gue ketemu lu di kantin hingga sekarang... Rasa cinta gue ke lu gak pernah berubah, kak Rico!" Ucap Tissa yang memegang kedua tangan pria itu


"Ini gak mungkin kan?" Ucap Rico dalam pikirannya seraya melihat wajah Tissa yang tampak serius menatap pria itu


 

__ADS_1


TO BE CONTINUED


 


__ADS_2