Dark Walker

Dark Walker
episode 13


__ADS_3

"Rico?!" Kaget Bella yang baru keluar dari uks dan melihat Rico yang memegang pedang dan masuk ke dalam uks tanpa menggubris panggilan Bella yang terkena serbuk dari Tasya yang masuk ke dalam uks diikuti oleh Tissa.


"Astaga lu kenapa co?!" Panik Tasya yang melihat kondisi Rico yang cukup parah.


"Gak tau ada orang bertopeng aneh selain Prabu asmoro bangun yang bisa mengendalikan tanah," Jawab Rico singkat yang membuat Tissa terkejut mendengar hal itu.


"Jadi dia sudah keluar ya," Gumam Tissa yang membuat Tasya menatapnya tajam seakan berisi banyak pertanyaan yang akan diberikan pada gadis itu.


Namun, pintu uks kembali terbuka dan terlihat Jefri berjalan dan menarik kerah baju Rico lalu mengangkatnya dan menabraknya ke dinding.


"Gue udah muak sama lu!" Kata Jefri marah ke Rico yang terdiam dan menunduk membuat Tasya dan Tissa panik dan bangkit untuk melerai mereka.


"Jefri! Lu apa apaan sih!" Marah Tasya ke Jefri yang gak bergeming dan langsung meninju pipi kiri Rico hingga membuatmu terjerembab ke tanah.


"Gue udah muak sama sikap lu, terlalu pasrah sama keadaan dan tetep nunjukin kalo lu itu lemah di depan mereka!" Marah Jefri ke Rico yang dibantu berdiri oleh Tissa sementara Tasya yang marah langsung menampar Jefri.


"Lu bener bener keterlaluan!" Marah Tasya ke Jefri yang terdiam. Namun, tetap menatap Rico tajam.


"Alasan gue gak nepis atau balas tamparan lu cuma satu, karena gue punya hutang budi sama lu, lu udah pernah nolongin gue, tapi gue gak sudi kalo si brengsek lemah ini yang malah lu lindungi mati-matian dari orang yang bahkan buru lu sendiri!" Kata Jefri yang berjalan pergi keluar dari uks itu dan Edwin segera masuk ke dalam dan melihat Rico yang terluka.


"Rico?!" Kata Edwin panik yang menghampiri Rico yang bangkit dan menenangkan Edwin dan langsung diperban oleh Tissa dan Tasya.


"Jefri," Gumam Tasya dan nampak Ia mengingat sesuatu.


Beberapa tahun yang lalu saat Tasya berusia 15 tahun terlihat ia diikat bersama dengan banyak anak anak lain dan mereka berada di sebuah gua dimana seekor raksasa tengah duduk di singgasananya dan bersiap memakan mereka semua.


Namun, diantara anak-anak yang diculik tadi seorang anak laki berdiri dihadapan raksasa itu dan memukulnya hingga menghasilkan ledakan yang besar dan nampak anak laki itu berdiri di depan Tasya kecil yang ketakutan lalu membantunya berdiri dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya telah putus.


"Bawa anak-anak lain pergi," Kata anak itu ke Tasya kecil, sementara Ia menatap ke raksasa tadi yang nampak jengkel karena sudah terlempar karena pukulan tadi.


"Tapi.." Nampak Tasya akan menolak tapi senyuman anak itu membuat Tasya kecil terdiam lalu berlari bersama anak anak yang lain dan sebuah ledakan terjadi saat itu dan terlihat anak tadi berjalan dengan santai keluar dari gua tadi dan tersenyum ke Tasya kecil yang menghampirinya.


"Lu emang benar benar pria yang sama dengan peristiwa 8 tahun yang lalu," gumam Tasya saat mengingat masa lalu dan tersadar saat Rico berjalan keluar dari pintu uks.


"Rico!" Panggil Tasya yang keluar dari uks. Namun, tidak ada siapa siapa disana.


"Guys! mereka muncul lagi," Kata Reno sembari menunjukan hpnya dan nampak nama Saras yang tertulis disana.


"Waktunya menghentikan ini," Ucap Edwin ke Tissa dan Tasya yang berlari mengikutinya dan nampak sesosok siluman berbentuk gurita muncul disekitar Saras yang sedang membasuh wajahnya dan saat itu nampak wajahnya berubah menjadi bertentakel yang membuatnya terkejut dan terlihat wajah bertentakel keluar dari cermin yang membuat Saras berteriak dan disaat yang tepat Tasya muncul dan mengarahkan tangannya ke depan.


"sihir api bola api!" Teriak Tasya yang mengeluarkan api dari telapak tanganmu namun makhluk itu berhasil menghilang sebelum serangan itu mengenainya.


"Kak Saras! Lu gapapa?" Tanya Tissa yang membawa Saras keluar dari kamar mandi mencoba menenangkan dia.


"Mungkin dia lolos disini tapi dikesempatan yang berikutnya kita gak bisa jamin," Kata Reno ke Tasya cs yang mengangguk paham dan segera berjalan menuju kelas karena bel telah berbunyi, sementara Rico bertemu dengan Jefri di lorong menuju kelas.


"Mau apa lagi lu sekarang?" Tanya Jefri ke Rico yang menatapnya tajam dan berjalan mendekatinya.


"Gue mau nantang lu tanding malam ini," Kata Rico ke Jefri yang tersenyum merendahkan pria itu.


"Gak perlu nanti malam setelah pulang sekolah juga gue kabarin," Ucap Jefri ke Rico yang menatapnya tajam lalu tersenyum hingga membuat Jefri tersenyum senang.


nampak Daniel berada di kelas kosong dengan nafas tersengal dan melihat sekitarnya.

__ADS_1


"Kuat sekali, siapa sebenarnya orang itu?" Heran Daniel sambil melempar Katana miliknya keatas dan sebuah kilat nampak menyambar katana itu dan nampak hilang tanpa jejak dan setelah itu ia segera berjalan keluar dari sana.


"Rencananya benar-benar matang ya," Ucap Sekartaji ke Sabdoh Palon yang tersenyum dan menyimpan hapenya lalu menatap sekartaji.


"3 orang lagi yang diseret ke dunia kegelapan maka rencanaku mulai mendekati kata sukses dan pastinya akan membuat kanda Bapang bangga," Ucap Sabdoh palon yang tertawa senang lalu mendapat tepuk tangan dari Prabu Asmoro Bangun yang muncul dari balik dinding di belakang mereka.


"Kukira kau membenciku karena mengambil alih peranmu," Ucap Sabdoh palon ke Prabu yang tertawa hingga membuat mereka berdua heran.


"Aku sangat mendukung kalian, tapi bisakah aku minta sedikit bantuan padamu tuan Sabdoh Palon?" Tanya Prabu Asmoro Bangun dengan menunduk dan sedikit merendah ke pria itu yang menatapnya heran.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Sabdoh palon ke Prabu asmoro bangun yang berdiri dan mengulurkan tangannya ke pria itu.


"Biarkan aku menguasai dimensi hitam tempat anak anak itu kau kurung? Sebagai keuntungannya kau gak perlu repot repot mengeluarkan siluman siluman itu untuk mengeksekusi mereka yang ada di dalam dimensi hitam?" Ucap Prabu asmoro bangun menawarkan kesepakatan yang sepertinya menarik perhatian Sabdoh palon.


"Sepertinya menarik," Gumam Sekartaji yang langsung memotret Sabdoh palon yang menjabat tangan Prabu Asmoro Bangun dan saat itu juga bel pulang akhirnya berbunyi.


"Co? Kita lindungi Saras sekarang," Kata Edwin ke Rico yang mengambil tasnya dan menatap mereka bertiga dan tersenyum.


"Gue serahin ke kalian dalam waktu sekitar 2 jam setelah itu gue janji bakal bantu kalian," Kata Rico yang membuat Tasya heran.


"Kenapa gitu?" Tanya Tasya ke Rico yang tersenyum dan menepuk pundak gadis itu.


"Ada rapat bentar, gue duluan ya," Kata Rico yang berlari meninggalkan Tasya, Tissa, dan Edwin yang langsung mengikuti Saras yang berniat pulang.


Sedangkan diatas nampak Jefri sedang duduk di kursinya dan melihat kedatangan Rico yang menaruh tasnya ditempat yang cukup jauh dan tiba ditempat Jefri.


"Udah siap?" Tanya Jefri ke Rico yang mengeluarkan kalung yang langsung berubah menjadi pedang, sementara tangan kanan Jefri mulai berubah ke bentuk aslinya yaitu tangan iblis api yang Ia sebut kalarau.


Namun, ia berhasil menjaga keseimbangannya hingga tidak jatuh. Walau, dengan cepat Jefri berada dihadapannya dan langsung menghantam Rico yang berhasil berkelit dan langsung menebas tangan kirinya, namun sesuatu terjadi tangan kiri Jefri mengeras seperti besi hingga membuatnya terkejut.


"Tangan ini kudapatkan setelah memakan siluman naga besi Endaru," Ucap Jefri yang membuat Rico terkejut dan terlempar oleh pukulan tangan apinya hingga membuat Rico terlempar ke tanah dan nampak darah mengalir dan lebam di punggungnya.


"Endaru steel staff hand strike!" Ucap Jefri yang mengubah tangannya menjadi tongkat yang memanjang kearah Rico yang langsung mendekat kearahnya dan langsung mengganggu Rico dengan tangan apinya hingga membuat pria itu memuntahkan darah dan pundak kirinya sedikit terbakar.


Kembali ke jalan di samping sekolah nampak Saras yang mengendarai motor terkejut dengan suara ledakan yang berada di dalam sekolah. Namun, tanpa Ia sadari siluman gurita sudah muncul di belakang Saras dan akan menyerangnya walau Tasya lebih dulu menyerang siluman itu yang kembali menghilang dari hadapan mereka.


"Ketemu," Ucap Rizky yang berdiri beberapa meter di belakang Tasya yang terkejut dan menatap pria itu, sementara Edwin dan Tissa langsung berdiri melindungi Tasya dari Rizky yang sudah menghunus pedangnya.


"Bisa gak gue serahin makhluk itu ke kalian?" Tanya Tasya ke Edwin dan Tissa yang terkejut mendengar permintaan Tasya dan menatapnya heran.


"Tapi Tas! Orang ini!" Kata Edwin mencoba menahan namun Tasya hanya tersenyum dan berjalan mundur sembari mengeluarkan pedangnya dan memasang kuda-kuda.


"Sebenarnya jika kau langsung menyerah dan membiarkan dirimu dibawa, aku tidak akan melukaimu, tapi karena situasinya begini ya.. Mau gimana lagi," Kata Rizky yang langsung berlari dan menebas Tasya walau dengan refleks dapat ia tangkis.


"Jefri!!!"


"Rico!!!" Teriak mereka berdua yang saling menyerang.


Namun, sebuah tiang besi panjang menghantam tubuh Rico dan melemparnya ke bawah sekolah hingga membuatnya terbatuk-batuk tapi itu belum selesai dari atas Jefri sudah mengeluarkan bola api berukuran sedang yang Ia pegang dengan tangan kanannya.


"Bola Matahari level 1!" Ucap Jefri yang melempar bola itu ke Rico yang langsung roll ke depan namun Ia tetap terlempar oleh ledakan api tadi.


"Lu gak pantes dapet kekuatan itu! Lu sama sekali gak bisa ngelindungin Tasya," Ucap Jefri yang melompat ke dekat Rico lalu menendangnya hingga terguling-guling cukup jauh dan dengan kepayahan ia bangkit dan tangan kiri Jefri segera berubah menjadi tiang yang langsung memanjang kearah Rico yang menarik nafas panjang lalu melompat menghindari serangan itu dan langsung mendarat di atas tangan Jefri.

__ADS_1


"Tebasan cahaya horizontal!" Teriak Rico yang mengeluarkan tebasan cahaya berbentuk horizontal yang mengarah ke Jefri yang terkejut dan langsung mengembalikan bentuk tangan kirinya seperti semula dan menggunakan tangan itu untuk menahan serangan Rico yang memaksanya mundur beberapa langkah.


"Lu bakal gue habisin!" Ucap Jefri geram dan mengarahkan tangan kanannya ke depan tepat ke arah Rico dan sebuah ledakan api terbentuk dari sana.


"Amukan kalarau!" Teriak Jefri yang mengarah ke Rico dan langsung menebas api itu yang terus membakarnya hingga bajunya mulai terbakar.


"Percuma aja! Lu udah kalah! Lu cuma pecundang yang beruntung mendapat kekuatan dari Tas...," Kata kata Jefri terhenti begitu terlihat ledakan api tadi terhisap ke Rico yang tersenyum saat itu dan tatapannya benar-bener tajam hingga membuat Jefri tercekat. Namun, Ia tidak ingin menyerah begitu saja.


"Api mengandung cahaya, dan kekuatanku adalah menguasai seluruh cahaya yang ada pada dunia, sekarang kita lihat siapa yang pecundang," Ucap Rico yang tersenyum dan matanya nampak bercahaya hingga membuat Jefri terkejut.


Namun, selang beberapa detik Ia tersenyum dan nampak mengeluarkan tekanan energi yang besar.


Di tempat lain terlihat siluman gurita muncul didekat Saras dan langsung mencekiknya. Namun, dengan mudah ditahan dengan tongkat Edwin yang langsung berhenti didepan Saras.


"Jangan harap lu bisa bawa kak Saras," Ucap Tissa yang memasang cincinnya dan mengarahkannya ke siluman gurita.


"Mau ngapain?" Tanya Edwin bingung ke Tissa yang tersenyum dan menatap siluman itu yang mengeluarkan banyak tentakelnya.


"Keluar dan habisi dia Sa..," Ternyata tentakel itu hanya jebakan karena saat itu muncul tinta yang keluar dari lubang-lubang yang ada disana hingga membuat pandangan mereka berdua terganggu dan saat itulah siluman gurita melompat dan menerjang Saras lalu menempelkan kedua tentakelnya ke kepalanya dan akhirnya Saras pun pingsan.


"Saras!!!" Panggil Edwin cemas sementara siluman gurita itu akhirnya melarikan diri dari sana.


"Brengsek!" Geram Jefri yang berlari menerjang Rico namun ia dapat menghindari serangan itu dengan mudah dan langsung menebas perutnya walau dapat ditangkis juga dengan tangan besinya yang langsung digunakan untuk menghantam Rico, beruntung ia dapat berkelit dan menendang Jefri hingga mundur beberapa langkah kebelakang.


"Kecepatan dan kekuatannya menyamaiku!" Kata Jefri heran sembari mengeluarkan bola mataharinya dan langsung ia lemparkan ke Rico yang segera menebasnya dengan arah \ hingga membuat goresan di pundak kanan hingga pinggang kirinya.


"Mustahil! Tapi, gue gak bakalan kalah!" Kata Jefri yang menghantam Rico. Namun, lagi-lagi Ia berhasil berkelit menghindari serangan itu dan sebuah cahaya terlihat dari tangan kirinya yang langsung Ia gunakan untuk menghantam Jefri.


"Pukulan cahaya level 1 pukulan cahaya penekan jiwa!" Teriak Rico saat pukulannya berhasil mengenai perut Jefri dan membuatnya terhempas ke tanah dan menghasilkan ledakan cahaya yang membuat retakan di lapangan tempat jatuhnya Jefri dan dengan cepat Rico mendarat di dekat pria itu.


"Bagai..ma..na bisa?" Ucap Jefri yang mencoba bangkit walau Ia tidak mampu, sementara Rico sudah mengarahkan pedangnya pada Jefri dan menatapnya datar tapi saat itu sebuah pilar api membuat mereka berdua terkejut dan langsung menatap kebelakang.


"Ini..." Ucap Rico panik dan menatap Jefri lalu kembali melihat ke arah pilar itu.


"Tasya?!" Panik Jefri juga dan tanpa aba aba Rico langsung melompat menuju lokasi pilar api itu.


"Kau masih terlalu cepat 100 tahun untuk mengalahkanku," Kata Rizky yang menodongkan pedangnya ke Tasya dan seketika sebuah lingkaran api terlihat di sekitar mereka berdua.


"Kita kembali," Ucap Rizky ke Tasya dan lingkaran api itu mulai membentuk pilar api, sementara Edwin dan Tissa yang melihat itu mulai putus asa karena mereka gak bisa melakukan apapun dan menatap siluman gurita yang tersenyum melihat mereka berdua dan nampaknya akan melakukan sesuatu.


Namun, tiba-tiba siluman itu terpotong dan Rico sudah berada di tengah-tengah mereka.


"Rico?!" Kata Edwin heran melihat Rico yang langsung melesatkan tebasan ke pilar api itu.


"Tebasan cahaya, tebasan vertikal!" Ucap Rico disela tebasan itu dan nampak pilar api hancur, sementara nampak Rizky yang ternyata menangkis serangan itu terkena luka irisan di pipinya.


"Kau lagi...," Ucap Rizky sembari menatap Rico yang tersenyum dan memainkan pedangnya lalu menodongkannya ke pria itu.


"Lepasin Tasya atau lu bakal nerima akibat...," Tanpa diduga pedang Rizky sudah berayun di wajah Rico yang langsung berkelit dan melompat untuk menjauhi Rizky.


"Akibatnya? Kau terlalu cepat 100 tahun untuk mengucapkan itu," Ucap Rizky ke Rico yang tersenyum dan menguatkan pegangan pada pedangnya.


                       TO BE CONTINUED

__ADS_1


__ADS_2