
"Sayang sekali tidak semudah itu," Ucap Sekartaji yang muncul di belakang Kalarau dan akhirnya bola tadi membentuk jam pasir yang dilemparkan ke belakangnya dan membentuk jam pasir raksasa.
"Jika ingin mereka selamat maka kau harus menghabisi Kalarau waktunya 10 menit sampai mereka semua tewas," Ucap Sekartaji.
"Tidak masalah, karena dalam 20 serangan kau akan kukalahkan," Ucap Rico sombong sembari memasang kuda-kuda sama halnya dengan Edwin yang memasang kuda-kuda menghadapi kalarau di dalam pikirannya.
"Dandi!" Panik Tsabina yang tiba dan melihat rekannya terluka bersama Jefri serta Tissa yang kini diobati oleh Tasya.
"Sorry gue cuma bisa hilangin pendarahan di luka kalian khususnya Dandi," Ucap Tasya meminta maaf sementara Tsabina segera menelfon seseorang.
"Gue tau orang yang ahli dalam hal penyembuhan, semoga dia segera tiba," Ucap Tsabina sembari menyaksikan Rico melawan Kalau yang merasuki tubuh Edwin.
"Kau akan mati!" Teriak Kalarau yang melompat dan menendang Rico yang menangkis serang itu dan langsung menebasnya walau dapat dihindari oleh Kalarau yang melompat dan mengarahkan kedua tangannya ke kepala Rico yang berhasil mundur menghindari serang yang membuat tanah tempat serangan itu mendarat menciptakan retakan yang besar.
"Dhiya darani!" Teriak Kalarau dan dari tanah tempat retakan mengeluarkan tanah berbentuk tali-tali yang mengejar Rico yang menghancurkan serangan itu dengan mudah.
"Tusukan cahaya hujaman penerang gelap!" Ucap Rico yang menusuk-nusukkan pedangnya ke arah Kalarau yang melompat dengan mudah dan melempar rantainya ke arah Rico.
"Teufelsrunde!" Ucap Kalarau yang menciptakan pusaran rantai yang langsung mengarah ke Rico yang mengangkat pedangnya ke atas.
"Tebasan cahaya vertikal!" Teriak Rico yang mengeluarkan tebasan cahaya vertikal yang menghancurkan putaran rantai itu.
Namun, Rico tidak menyadari bahwa Kalarau sudah berada di dekatnya dan langsung menghujani dengan pukulan dan sebuah rantai yang mengikat kaki kirinya, dan langsung Ia putar serta lemparkan kearah atap ruangan itu dan menjatuhkannya lagi.
"Hahaha! Aku menang!" Teriak Kalarau. Namun, dengan cepat Rico memotong ikatan rantai itu dan langsung menghujani dengan tebasan-tebasan energi cahaya yang mengarah ke Kalarau yang tidak siap.
"Sudah 10 serangan itu berarti tinggal 10 serangan dan lu bakal berakhir," Ucap Rico sombong sementara Kalarau segera menyapu debu di dekatnya dan menatap Rico geram.
********
Di dalam pikiran Edwin yang dirasuki Kalarau nampak Ia dan Omades tengah menyerang Kalarau yang terus menangkis dan menahan tiap serangan mereka.
"Aku adalah raksasa terkuat, aku sudah meminum air abadi!" Teriak Kalarau yang menggerakan tanah panas disekitar tempat Edwin dan Omades yang terus menghindari serangan itu.
"Akan kuberikan kau sedikit pengetahuan tentang Heredis neraka kuharap kau segera paham dan gunakan untuk menghancurkan iblis yang ada dihadapan kita," Ucap Omades yang masuk ke dalam tubuh Edwin yang tidak siap hingga membuatnya terduduk dan berteriak kesakitan disusul puluhan rantai yang menyerang Kalarau yang terus menangkis semua rantau rantai itu sekaligus menjaga jarak dari Edwin.
Sementara Edwin yang tersadar nampak berada di depan sebuah gerbang api dan begitu gerbang terbuka keluar banyak iblis yang menyerah Edwin yang mundur karena ketakutan.
Namun, Omades keluar dari sana lalu memasang kuda-kuda.
"Ini adalah gerbang pertama dari kemampuan sejatimu, heredis neraka akan kuajarkan padamu teknik teknik yang ada dan harus kau pelajari," Ucap Omades yang menyerang iblis-iblis itu hingga tidak bersisa dan nampak setelah itu Omades berdiri dan menatap Edwin.
"Cerna dalam otakmu dan gunakan itu untuk menghabisi Kalarau," Ucap Omades dan nampak Edwin kembali ke tempatnya menghadapi Kalarau yang terkejut melihat Edwin yang menatapnya tajam dan memasang kuda-kuda.
"Apa yang terjadi?" Heran Kalarau ke Edwin yang tertawa dan mengeluarkan rantainya.
"Yang pasti lu harus segera keluar dari badan gue, iblis!" Teriak Edwin seraya langsung menyerang Kalarau yang tertawa dan menerjang Edwin yang terus melompat dan menghujaninya dengan serangan rantainya sama halnya dengan Rico yang terus menebas rantai serta tanah tanah yang membentuk gigi buaya yang mengarah padanya.
"Aku adalah Kalarau! Raksasa terkuat di muka bumi putra dari sang Wipracitti dan sang Singhika! Aku dan bangsaku para raksasa yang berhasil memiliki tirta amerta sumber dari keabadian!" Teriak Kalarau pada Rico dan Edwin yang berada di lokasi yang berbeda.
****
Alkisah Berawal dari pemutaran gunung Mandara Giri oleh para dewa, dan raksasa di lautan Ksirarnawa untuk mendapatkan “Tirtha Amertha” atau Tirtha Kamandalu air suci yang dapat membuat seseorang hidup abadi.
__ADS_1
Dalam pengadukan lautan susu tersebut, Dewa Wisnu menjelma sebagai kura-kura sebagai penyangga gunung Mandara agar gunung tersebut tidak tenggelam.
Naga Basuki membelit gunung tersebut sebagai tali yang kemudian ditarik oleh Para Dewa dan Raksasa.
Ditarik secara beraturan sehingga gunung Mandara mengaduk lautan Ksirarnawa. Dengan semangatnya para dewa, dan raksasa berusaha mengaduk lautan Ksirarnawa dengan memutar gunung Mandara.
Lautan menjadi bergemuruh, Setelah itu keluarlah berbagai dewi, binatang, dan berbagai harta karun bertuah. Akhirnya, keluarlah Dewi Dhanwantari membawa kendi yang berisi Tirta Amerta. Harta Karun pun dibagikan kepada para Dewa dan raksasa.
Raksasa menuntut Tirta Amerta dimiliki oleh mereka. Tirta amerta pun kemudian dikuasai oleh para Raksasa.
Melihat Tirta Amerta berada di tangan raksasa, Dewa Wisnu menjadi khawatir dan memikirkan siasat untuk merebutnya.
Dewa Wisnu pun mengubah wujudnya menjadi seorang dewi cantik bernama Mohini untuk memikat hati para raksasa. Mereka pun akhirnya terpikat oleh kecantikan Mohini dan menyerahkan tirta amerta tersebut kepadanya.
Setelah mendapatkan Tirta Amerta, dewi Mohini pun lari sembari berubah wujud menjadi Dewa Wisnu yang akhirnya membagi bagikan tirta amerta tersebut pada para dewa hingga membuat hidup mereka menjadi abadi.
"Berani beraninya ia mengambil sumber keabadian yang merupakan milik kita," Ucap raksasa Kalarau sembari merubah wujudnya menjadi dewa dan ikut meminum Tirta Amerta di Wisnu Loka tersebut, Namun begitu mendapat giliran meminum tirta amerta tersebut seorang dewi bernama Dewi Ratih menangkap gelagat aneh Dewa tersebut dan memberitahukannya pada dewa Wisnu bahwa dewa itu merupakan penyamaran dari Raksasa Kalarau.
Mengetahui hal itu Dewa Wisnu kemudian melemparkan cakramnya dan memenggal kepala Raksasa Kalarau.
Tetapi pada waktu itu tirta sudah terminum hingga di bagian leher, sehingga Raksasa Kalarau dapat hidup abadi tapi hanya sebatas kepalanya saja. Sisa penggalan berupa potongan tubuh tanpa kepala tersebut jatuh ke Bumi, dan menjadi lesung, kentongan dan batang pohon.
Mengetahui rencana Raksasa Kalarau gagal karena Dewi Ratih Ia merasa dendam kepada Dewi Ratih.
"Aku tidak bisa begini terus! Dewi Ratih harus mati!" ucap Kalarau penuh dendam.
Maka pada suatu waktu di saat sang Dewi berjalan-jalan di angkasa, Raksasa Kalarau mencoba mengejarnya mendekap dengan cara menelannya.
Manusia di bumi yang mengetahui bahwa badan Raksasa Kalarau yang jatuh ke bumi menjadi kentongan berusaha menolong Dewi Ratih Untuk mengalihkan perhatian Kalarau kejadian tersebut berlangsung selama ratusan tahun hingga suatu waktu Bapang yang melihat hal itu melakukan ritual dengan memohon kepala salah satu iblis dan menggunakannya sebagai ritual khusus untuk mengikat jiwa raksasa Kalarau.
Tahun-tahun kekuasaan Bapang dan Kalarau benar-benar membawa manusia dalam ketakutan hingga akhirnya sekelompok pemuda dan pemudi menghancurkan pasukan Bapang dan Kalarau di masa masa kehancurannya Ia bertarung dengan seorang anak berusia 13 tahun yang melindungi teman-temannya.
"Jangan khawatir, aku Jefri akan melindungi kalian," Ucap Jefri kecil lantang hingga membuat Kalarau tertawa meremehkan. Namun, Ia tidak mengetahui seorang pria berada di belakangnya dan memotong tangan kanan Kalarau saat Ia tidak siap lalu menendangnya ke jurang...
7 tahun berlalu disaat kondisi Kalarau benar benar melemah akhirnya Ia kembali ditemukan oleh Bapang dan para Kliwon 8 dan sekali lagi Ia menawarkan bantuan pada Kalarau.
"Bersemayamlah dalam replika rumah ini dan akan kubawakan tumbal serta tubuh baru agar Anda bisa sekali lagi menjadi yang terkuat dan membalas dendam pada-para dewa," Tawar Bapang pada Kalarau yang sekali lagi menerima Tawaran itu hingga masa sekarang.
********
Joel nampak menutup bukunya sembari menyaksikan pertarungan sengit Rico melawan Kalarau yang benar-benar dilanda kemarahan.
"Tebasan vertikal! Tebasan horizontal! Tebasan vertikal! Tebasan horizontal! Tebasan cahaya vertikal!" serangan serangan tersebut menghancurkan semua tanah-tanah serta rantai yang mendekatinya.
Namun, Rico segera terduduk karena kehabisan tenaga, tapi Rico segera berdiri memaksa tubuhnya bekerja keras sekali lagi untuk mengalahkan makhluk itu serta membebaskan Edwin.
"4 serangan lagi!" Kata Tasya dan Tsabina menyemangati Rico yang mengangkat pedangnya ke atas lalu mengarahkannya ke Kalarau.
"Tebasan horizontal!" Teriak Rico yang menebas Kalarau dengan tebasan horizontal itu. Namun, dihancurkan dengan mudah oleh tangan Kalarau yang berteriak murka dan mengangkat jarinya keatas.
"Gue tiba secepat mungkin," Kata Al setelah menemukan tempat Tsabina dan Tasya lalu melihat Dandi dan Jefri yang terkapar lalu mengambil sesuatu berbentuk alat suntik dan robot berwujud dokter dari kopernya.
"Heal Sistem Activated".
__ADS_1
“Robo Doctor Activated,” Ucap Al yang mengaktifkan kedua alatnya yang langsung bergerak mengobati kedua Pria itu.
"Bhanu agni!" Teriak Kalarau yang mengarahkan tangan kirinya ke depan dan sebuah sinar panas mengarah ke Rico yang mencoba menahannya dengan pedangnya.
Namun, percuma serangan itu terlalu kuat hingga membuat tubuh Rico terbakar dan membuat semuanya panik.
"Rico!!!" Teriak mereka sementara Rico berteriak dan mengeluarkan energi cahaya yang menahan sinar panas itu.
"Heaa! Ledakan cahaya!" Teriak Rico dan akhirnya serangan itu berhasil menghilangkan sinar panas Kalarau namun sebenarnya bukan jurus itu yang menghilangkannya. Namun, sebenarnya karena Kalarau mulai kehilangan kontrol atas tubuhnya akibat Edwin yang berhasil mengalahkan Kalarau.
"Akhirnya!" Ucap Rico yang mengangkat pedangnya ke atas hingga menghasilkan ledakan energi cahaya yang besar, sementara Kalarau berteriak dan memegang kepalanya.
"Tebasan cahaya!!! Tebasan pembelah jiwa!!!" Teriak Rico dan sebuah tebasan cahaya mengenai tubuh Edwin dan mengeluarkan sosok asli Kalarau yang berupa kepala raksasa dengan mulut bercahaya.
"Kerja bagus!" Puji Edwin ke Rico yang tersenyum. Namun, tetap bersiaga akan Kalarau yang murka.
"19," Gumam Tasya ke Tsabina yang tersenyum lalu Ia segera menatap Rico penuh harap dan getaran mulai terjadi.
"Bangunan ini akan rubuh!" Kata Tissa panik sementara Rico dan Edwin nampak saling berjabat tangan lalu berdiri dan menatap makhluk itu tajam.
"Lu bilang serangan ke 20 bakal hancurin dia kan?" Tanya Edwin ke Rico yang mengangguk dan nampak Edwin mengarahkan tangan kanannya ke depan.
"Kam die Brachwache Satan Schrei!" Teriak Edwin dan puluhan rantai yang saling bertabrakan menghasilkan bunyi yang menyakitkan dan nampak rantai rantai itu benar-benar mengikat kepala Kalarau yang membuka mulutnya dan mengeluarkan sinar panas yang mengarah ke mereka berdua.
"Sekarang Co!!!" Teriak Edwin ke Rico yang mengangkat pedangnya ke atas dan berteriak cukup keras.
"Tebasan cahaya tebasan penghancur iblis!" Teriak Rico yang menghempaskan terasa cahaya yang sangat besar ke arah Kalarau yang terus menahan dengan sinar panasnya.
Namun, makin lama serangan Rico akhirnya lebih kuat dari sinar panas Kalarau yang terkejut dan berteriak lalu terkena serangan itu hingga membuatnya terbelah dan hancur berkeping-keping, sementara Rico tersenyum menatap kemenangan besarnya, lalu akhirnya tumbang disisi lain jam pasir tadi hancur dan jiwa-jiwa siswa dan siswi itu mulai kembali ke diri mereka masing-masing.
"Sial! Padahal sedikit lagi!" Geram Sabdoh Palon yang pergi bersama Prabu Asmoro Bangun serta Dewi Sekartaji dengan melompat pergi dari sana meninggalkan geng Rico yang menang telak tadi, sementara Kalarau yang sekarat perlahan melebur.
"Pada akhirnya... Aku yang kalah ya," Gumam Kalarau yang menatap Jefri yang masih dirawat oleh robot dokter Al.
"Kuizinkan kau menggunakan seluruh kekuatanku," Ucap Kalarau ke Jefri sebelum akhirnya hancur menjadi debu sementara Rico dihampiri oleh Tasya dan Tissa yang membantunya berdiri.
"Good job!" Puji Tasya ke Rico yang tersenyum dan menatap Edwin yang juga tersenyum dan memberikan jempol ke Rico yang tertawa dan akhirnya berjalan cepat turun dari bangunan yang akan rubuh tadi bersamaan dengan Al yang membawa Dandi serta Jefri turun bersama Edwin
********
Keesokan harinya nampak Rico berjalan sendiri dengan perban menempel di dahinya dan terlihat Ghea, Alfin, Saras, Dara, dan Bella menyapa Rico sebelum akhirnya kembali berjalan menjauh dan di depan pria itu berdiri Edwin yang tersenyum sama dengan Rico yang di juga tersenyum lalu di belakang Edwin berdiri Tasya, Tissa, Jefri, serta Tsabina.
"Kita dapat tambahan tim yaitu Tsabina dan Jefri," Ucap Edwin yang membuat Rico tersenyum.
"Gue ngerasa lu gak mungkin bisa ngelindungin mereka-mereka ini. Jadi, alangkah baiknya kalau gue ikut serta dalam kelompok ini sebagai yang terkuat," Ucap Jefri ke Rico yang tertawa sementara Tsabina hanya menatap mereka semua datar.
"Ngapain liat gue?" Tanya gadis itu ketus yang membuat semuanya mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Gue disini buat bantuin kalian, karena gue rasa gak ada yg bisa menganalisis musuh musuh yang kalian hadapin, serta gue bakal bantu dalam hal armor serta alat alat canggih," Ucap Tsabina menjelaskan hingga membuat mereka semua tepuk tangan.
"Kenapa pada tepuk tangan? Emang kalian kira gue sirkus apa?" Tanya Tsabina ketus hingga membuat mereka kembali diam dan menatap ke arah lain hingga membuat Tsabina tersenyum.
"Gue cuma bercanda kali," Balas Gadis itu yang tertawa lalu saling berpelukan dengan gadis gadis yang lain namun saat para cowok akan ikut Tasya melarang mereka hingga akhirnya mereka saling memeluk diri sendiri.
__ADS_1
TO BE CONTINUED