
"Yang lu hadapin ini bukan gadis sma biasa, tapi dia adalah seorang Dark Walker," Ucap Tasya yang menatap makhluk itu tajam dan nampak Manguni mulai terbang tinggi dan kembali lagi menyerah Tasya.
"Sihir pertahanan.. Cermin api!" Ucap Tasya yang mengeluarkan sebuah cermin api yang mencoba menahan makhluk itu namun dengan mudah dihancurkan olehnya.
"Memangnya kenapa kalau kau Dark Walker hah?!" Ucap Manguni yang mengembangkan sayapnya lebar namun itu tak membuat gadis itu takut, malahan Ia segera memutar pedangnya.
"Sihir pertahanan el nino, anggrek api!" ucap Tasya yang menahan pedangnya dan akhirnya muncul tornado api yang mengarah ke Manguni yang langsung membalas dengan mengepakkan sayapnya kuat untuk menghancurkan tornado api itu. Namun, saat itu Tasya sudah tidak ada di hadapannya.
"Kemana perginya?" Heran Manguni yang melihat sekitar sementara nampak Tasya berlari di lorong lantai 2 yang tertutupi oleh pohon dan nampak Ia mengarah ke tangannya ke arah makhluk itu.
"Sihir serangan ledakan api!" Ucap Tasya dan sebuah ledakan api mengarah ke Manguni yang terbang sedikit lebih tinggi lalu membalas dengan bulu-bulunya yang tajam dan mengarahkan ke ledakan tadi namun ternyata Tasya sudah berada di belakangnya.
"Gerakanmu sudah kubaca!" Ucap Manguni yang berbalik namun Tasya segera melemparkan sebuah gelang ke arah makhluk itu dan nampak Ia menghilang dari sana dan telah berada di darat tepat dibawah Manguni, sementara kalung mutiara itu lepas dan semua bola mutiara terpencar lalu bercahaya.
"Sihir serangan tali api pengikat!" Ucap Tasya dan nampak bola-bola mutiara tadi mengeluarkan tali api yang mengikat Manguni dan nampak Tasya menggengam bola mutiara terakhir yang Ia lemparkan ketawa Manguni hingga menghasilkan ledakan api yang besar.
"Keren!" Puji Rico yang kagum melihat kemampuan Tasya namun tiba-tiba gadis itu terjatuh dan keringatnya mengalir deras.
"Tasya!" Panik Rico yang berlari menghampiri Tasya sementara dari kepulan asap itu dan terlihat Manguni masih berdiri dengan gagah bersiap menyerang.
"Tenaga gue masih belum pulih," Ucap Tasya, sementara Rico langsung menepuk pundak gadis itu lalu segera berjalan menuju Manguni yang akhirnya mendarat dan berjalan menuju Rico.
"Lawanmu adalah aku!" Ucap Rico yang berlari dan menebas Manguni yang terbang ke belakang namun Rico segera menancapkan pedangnya dan melompat untuk menendang Manguni yang terbang dan langsung mencengkram kaki Rico dan melemparnya.
"Mangsaku adalah kau gadis manis!" Ucap Manguni yang terbang menuju Tasya namun sebuah tendangan mengarah ke Manguni yang langsung terhempas dan terlihat Dandi bangkit dan nampak matanya menyala lalu tersenyum.
"Dandi?!" Ucap Tasya sementara Dandi hanya berjalan menuju Manguni lalu memaksanya berdiri dan memukulnya walau dapat dihindari dan pukulan itu hanya mengenai pilar sekolah.
"Peningkatan kekuatan yang besar," Ucap Rico yang langsung berlari berniat membantu Dandi yang mengamuk dengan memukul perut Manguni dan menahannya yang akan terbang dengan menendangnya.
"Brengsek!" Ucap Manguni yang mengamuk dan langsung menyerang Dandi yang menunduk menghindar hingga membuatnya menabrak dinding sementara Dandi segera menghujaninya dengan tendangan bertubi-tubi hingga membuatnya menabrak dinding.
"Cuma segitu hah!" Ucap Dandi yang menendang Rico yang mencoba membantu lalu berbalik memukulnya.
"Apa apaan ini!" Marah Rico namun Dandi hanya tertawa dan langsung memukul Rico dan menendangnya sementara Manguni segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang. Namun, dengan mudah dihindari oleh Dandi yang menunduk sambil menghantam perut makhluk itu hingga mundur.
"Akan kuakhiri!" Ucap Dandi yang menekan pegangan di tangannya hingga menghasilkan sinar terang yang menjalar ke kakinya dan nampak Dandi segera melompat dan menendang Manguni yang berhasil menghindar dan langsung berniat menusuk Dandi yang tidak siap dengan sayapnya.
"Ini yang kutunggu-tunggu! Tebasan cahaya horizontal!" Teriak Rico dan sebuah tebasan cahaya berbentuk horizontal yang mengenai Manguni dan Dandi hingga menghasilkan ledakan yang besar dan terlihat Dandi terjatuh dengan luka sementara Manguni terbang meninggalkan mereka.
"Dandi!" Panggil mereka berdua yang menghampiri Dandi yang tidak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi?" Tanya Dandi ke Rico dan nampak Tasya merapal mantra dan sekolah yang terlihat hancur tadi berubah kembali menjadi normal dan perlahan orang-orang yang pingsan mulai terbangun.
"Menarik," Gumam Jefri yang mengawasi dari lantai 2 dan berjalan meninggalkan mereka yang membawa Dandi ke ruang uks namun terdengar seorang gadis memanggil mereka dari belakang.
"Cepet ikut gue," Ajak gadis misterius itu ke Rico yang mengangkat Dandi lalu membawanya serta Tasya yang berlari mengejar gadis itu yang membawa mereka menaiki mobil Brio merah yang membawa mereka pergi dari SMA itu.
"Thanks udah bantu bawa Dandi," Ucap gadis itu ke Rico dan Tasya yang mengangguk dan menatap gadis itu tajam.
"Lu siapa?" Tanya Tasya ke gadis itu yang tersenyum dan menunjukkan sebuah kartu nama ke mereka.
"Gue Tsabina dari Special Hero Unit, Dia senior gue Dandi," Jelas gadis itu memperkenalkan dirinya sembari tersenyum dan membuat Rico salah tingkah dan Ia akhirnya berhenti di sebuah rumah besar namun terlihat sangat tua.
"Silahkan masuk," Ajak Tsabina ke Rico yang membopong Dandi dan membawanya masuk diikuti oleh Tasya yang melihat sekitar dengan heran.
"Sekarang gue cuma tinggal berdua doang sih yang lain lagi pergi," Terang Tsabina yang menyambut Rico dan Tasya.
"Btw mau kopi apa teh?" Tanya Tsabina ke Rico yang menurunkan Dandi di sofa dan Tasya yang berdiri sembari melihat sekeliling.
"Te..,"
"Gak usah deh, kita langsung balik aja," Kata Tasya ke Tsabina yang menatap mereka heran sembari membuka jaketnya.
"Cepet banget? Baru juga dateng," Kata Tsabina ke Tasya dan Rico .
__ADS_1
"Gak apa kita juga lagi buru buru nih," Kata Tasya ke Beby yang mengangguk paham.
"Ok, hati hati di jalan," Ucap Tsabina sembari melambaikan tangannya ke Rico dan Tasya yang pamit dan berjalan keluar dari sana sementara Tsabina nampak menyalakan hpnya dan menelfon seseorang.
"Halo, keknya lu harus segera balik kesini deh," Ucap Tsabina ke seseorang yang Ia telpon tadi.
***********
Disisi lain nampak Edwin yang mengendarai motornya berhenti disebuah kuburan dan berjalan menuju salah satu kuburan dengan membawa bunga.
"Pada akhirnya... kita gak bisa ya, nuntasin janji kita," Gumam Edwin yang menaruh bunga di kuburan itu dan terlihat nisan itu bertuliskan Abi Jayadi.
"Kebetulan sekali ya, kalian saling kenal," Ucap Prabu Asmoro bangun pada Manguni yang terdiam dan menatap Edwin lalu kembali ke wujud arwah.
"Aku tidak mau la.. Akh!" Belum selesai Ia bicara nampak Prabu telah menancapkan sebuah bola hijau yang membuat arwah itu berubah dan kembali menjadi sosok Manguni yang mengeluarkan kekuatan angin yang besar dan berteriak hingga membuat Edwin terkejut.
"Maaf saja... Tapi aku sudah repot-repot mendapatkan arwah sepertimu jadi tidak semudah itu untukmu berhenti menjadi budakku, sekarang selesaikan tugasmu dan bunuh dia!" Perintah Prabu ke Manguni yang matanya berubah menjadi hijau dan langsung terbang menuju Edwin yang terkejut melihat sosok makhluk aneh yang terbang menuju dirinya.
"Hantu!" Panik Edwin yang berlari menuju motornya dan langsung menyalakannya dan pergi.
"Kenapa kita gak diam aja disana?" Tanya Rico ke Tasya yang menatap Rico dan kembali mengalihkan pandangannya ke jalan.
"Urusan kita masih belum selesai, Manguni itu harus segera kita kalahkan sebelum membahayakan orang-orang," Kata Tasya ke Rico yang mengangguk malas lalu berjalan lagi.
"Gue masih penasaran, tentang siapa mereka," Gumam Rico ke Tasya yang menatap pria itu lagi sebelum kembali mengalihkan pandangannya.
"Kumpulan esper, rata-rata dari mereka adalah orang yang mempunyai indra keenam namun oleh pemerintah dikembangkan lagi hingga membuatnya menguasai kemampuan asli mereka dan terbentuklah mereka yang diberi nama Ganendra, mereka ada 7 orang sebenarnya. Namun, kita baru bertemu 2 dari mereka," Jelas Tasya ke Rico sembari terus berjalan menuju SMA untuk mencari motor Rico dan berjalan pulang. Namun, sebuah suara yang melengking mengejutkan mereka.
"Suara ini?!" Kaget Tasya dan Rico yang melirik ke sekeliling dan Tasya segera mengambil hpnya.
"Gak jauh dari sini," Kata Tasya yang berlari mengikuti arah yang ditujukan hp itu diikuti oleh Rico yang sudah mengeluarkan kalungnya.
Kembali ke kuburan, nampak Edwin mencoba berlari menjauh dari Manguni yang terbang berputar di kuburan lalu mengepakkan sayapnya hingga mengeluarkan tekanan angin yang mengenai Edwin yang baru keluar dan akan naik ke motornya hingga membuatnya terhempas masuk ke kuburan lagi.
"Mati!" Teriak Manguni yang terbang menukik ke arah Edwin yang menutup matanya dan berteriak. Namun, Ia tidak merasakan apa-apa dan saat Ia membuka matanya.
"sihir serangan dasar mantra pendorong!" Ucap Tasya yang melempar Manguni hingga terjatuh ke jurang yang ada diujung kuburan.
"Rico! Tasya! Kalian ngapain disini?" Tanya Edwin ke Rico yang mengangkat pedangnya dan menjulurkan tangan yang satunya ke Edwin.
"Pastinya nolongin lu, dan yah lebih baik lu cepat menjauh dari sini, terlalu bahaya," Ucap Rico ke Edwin yang mengangguk dan menaiki motornya lalu segera pergi dari sana, sementara Rico dan Tasya sudah bersiap menghadapi Manguni yang baru bangkit.
"Gue gak bisa bawa makhluk itu ke dimensi lain," Terang Tasya ke Rico yang tersenyum dan memegang kuat pedangnya.
"Aneh, gue ngerasa pedang ini lebih ringan dari biasanya," Gumam Rico ke Tasya yang tersenyum dan menatap Manguni yang berteriak.
"Kenapa kekuatanku seperti tertarik saat memegang pedang itu?" Heran Manguni yang mencoba bangkit.
"Bagus dong, kalau gitu" Kata Tasya ke Rico yang menatap Manguni yang mulai terbang dan mengepakkan sayapnya hingga mengeluarkan tekanan angin yang kencang hingga mendorong mereka berdua.
"Wanjir!" Umpat Dandi yang baru tersadar dan nampak Beby hanya menatapnya datar lalu melempar sebuah chip.
"Paan nih?!" Tanya Dandi ke Beby yang menyalakan komputernya lalu memasang sebuah headphone.
"Robo Knight tipe baru buatan gue, lebih berguna dibanding Hopper Robo yang kemarin," Jelas Tsabina ke Dandi yang mengangguk dan menyimpannya sementara gadis itu kembali menatapnya heran.
"Terus? Kenapa masih disini?" Tanya Tsabina ke Dandi yang ikut bingung mendengar pertanyaan itu.
"Emang gue harus ngapain?" Tanya balik Dandi ke Tsabina yang memasang kode tangan seperti menyuruhnya pergi.
"Go! Bantu si Rico lawan Manguni," Jawab Tsabina ke Dandi yang tersadar dan langsung bersiap pergi.
*******
Kembali ke tempat pertarungan nampak Rico mulai melompat dan menebas Manguni yang terbang dan langsung mengepakkan sayapnya hingga mengeluarkan bulu-bulu tajam yang bersiap menusuk Rico.
__ADS_1
"Sihir pertahanan cermin api!" Ucap Tasya yang mengeluarkan cermin api yang melindungi Rico dari serangan itu dan langsung tanpa komando apapun dengan cepat Rico melompat dan menebas Manguni hingga salah satu sayapnya terlepas.
"Sialan!" Teriak Manguni yang mencekik Rico yang menggunakan kesempatan itu dan langsung menancapkan pedangnya ke pundak Manguni yang berteriak dan nampak sebuah energi mengalir di tubuh Rico namun Manguni segera memukul perut Rico hingga terlempar namun pedang itu tetap menancap di pundak Manguni.
"Kali ini akan kuhabisi kau!" Teriak Manguni yang akan menyerang Rico yang tak sadarkan diri. Namun, sebuah tembakan mengenai Manguni hingga membuatnya langsung melompat menjauh dan terlihat Dandi telah berada di atas sembari memegang sebuah chip.
"Dandi?" Kaget Tasya dan nampak Dandi memasang chip itu di sebuah kalung yang terpasang di tangan kanannya.
"Armor Robo Knight aktif" Ucap suara di kalung itu dan nampak sebuah armor ksatria berwarna putih menutupi tangan, kaki, serta tubuh dan kepalanya.
"Ini bener-bener kek satria baju hitam," Gumam Dandi takjub dan sebuah suara terdengar.
"Selamat datang di sistem prototipe Robo Knight sorry aja gue baru ngembangin di tahap awal jadi dalam segi persenjataan masih belum mantap," Jelas suara di dalam armor itu yang sangat dikenal oleh Dandi.
"Tsabina? Lu operatornya?" Tanya Dandi ke suara tersebut. Namun, tidak digubris olehnya yang membuat Dandi kesal.
"Yaudah! Senjata gue apa aja nih?" Tanya Dandi yang melihat sekitar armornya.
"Lu punya knuckle di sebelah kiri kaki lu" Jelas Tsabina ke Dandi yang memegang sebuah knuckle yang tersimpan di kaki kirinya.
"Ini ya? Ok lets fight!" Ucap Dandi yang berlari ke arah Manguni dan langsung memukulnya bertubi-tubi lalu menendangnya namun itu malah membuat Manguni makin geram dan menghantam kepalanya lalu mencekik Pria itu dan melemparnya.
"Sihir api bola-bola api!" Ucap Tasya yang menghujani Manguni dengan bola-bola api yang dihancurkan dengan teriakan yang menghasilkan tekanan angin yang besar hingga menghancurkan bola-bola api itu.
"Gak mempan?!" Kaget Tasya. Namun, Dandi dengan cepat berlari dan menghantam Manguni yang menangkap lengan kirinya lalu melemparnya ke arah Tasya yang berhasil menghindar, sementara Dandi menabrak pohon disana dan terjatuh. Namun, dengan cepat Ia bangkit kembali.
"Kalian semua penggangu akan kumusnahkan!" Marah Manguni yang berteriak keras hingga mengeluarkan tekanan angin yang membuat mereka Dandi dan Tasya terhempas.
"Abi!" Teriak Edwin ke Manguni yang menoleh dan langsung berlari ke arah Edwin yang terdiam dan menatap makhluk itu yang mendekat dan langsung memeluk pria itu.
"Apa yang terjadi?!" Kaget Tasya yang mengeluarkan kalungnya namun Ia urungkan karena apa yang Ia lihat.
"Gue gak bermaksud... Gue cuma mau minta maaf sama lu atas kejadian waktu itu," Ucap Manguni yang berubah menjadi manusia dan nampak sebuah sinar terang menerangi mereka dan sebuah gambaran kilas balik terlihat saat Edwin dan Abi tengah mengikuti balap liar, saat Abi mencurangi Edwin dengan membuat kedua ban Edwin kempes, serta saat tabrakan maut yang menewaskan Abi.
"Gue yang bersalah saat itu Win, gue curangin lu, sorry karena itu," Ucap Abi meminta maaf ke Edwin yang memeluknya erat.
"Gue udah maafin lu, jauh sebelum lu minta maaf Bi," Ucap Edwin namun tiba-tiba sebuah bayangan hitam mulai terlihat dan mata Abi kembali berwarna hijau lalu Ia kembali berubah menjadi Manguni dan menyerap Edwin.
"Edwin?!" panggil Dandi dan Tasya panik.
"Tekan ujung knuckle 3 kali untuk serangan pamungkas," Jelas Tsabina ke Dandi yang langsung menekan knucklenya 3x hingga mengeluarkan sinar kuning yang berkumpul di knucklenya.
"Baiklah waktunya penghabisan!" Teriak Dandi yang langsung memukul Manguni namun Tasya berteriak mencoba membuat Dandi mengurungkan niatnya.
"Jangan! Edwin masih ada di dalam!" Ucap Tasya yang membuat Dandi berhenti namun itu malah memberi kesempatan untuk Manguni menyerangnya dengan terus menendang-nendang Dandi lalu mencekiknya dan melemparnya ke sisi sungai di bawah kuburan itu dan nampak Manguni berjalan mendekati Dandi yang sudah gak mampu berdiri karena terjadi error pada sistem robotnya.
"Sihir api bola api!" Ucap Tasya yang mengeluarkan bola api yang menghilang sebelum mengenai Manguni.
"Tenaga gue bener-bener habis! Please Rico bangun!" Teriak Tasya dan tiba-tiba pedang yang tertancap dipundak Manguni bereaksi dan bergerak memotong perut Manguni yang berteriak kesakitan dan dari sana keluarlah Edwin yang langsung ditarik oleh Dandi dengan sisa tenaganya sementara Manguni terduduk menahan sakit sedangkan pedang itu kembali ke tangan Rico yang menangkapnya dengan tekanan energi yang meluap.
"Rico?!" Kaget Tasya, Dandi, dan Edwin yang menatap pria itu dengan ekspresi tidak percaya.
"Mati! Mati!" Teriak Manguni yang berteriak. Namun, terlihat arwah Abi mulai memaksa untuk keluar dari tubuh monster itu, sementara Rico mulai memasang kuda-kuda.
"Ikatannya mulai melemah!" Ucap Tasya ke Rico yang mengangkat pedangnya ke atas.
"Tebasan cahaya... Sabetan pembebas jiwa!" Teriak Rico yang langsung menebas tubuh Manguni hingga terbelah menjadi 2 dan hancur jadi abu, sementara arwah Abi nampak berdiri di sana lalu tersenyum ke mereka.
"Terima kasih," Ucap arwah itu sebelum menghilang dari sana meninggalkan Rico, Dandi, Tasya, dan Edwin yang terjatuh lemas karena akhirnya masalah mereka selesai.
*******
Keesokan harinya Edwin ternyata tidak mengingat kejadian sore itu bahkan semua orang di sekolah seakan tidak mengetahui bahwa kemarin ada sesuatu yang terjadi di sekolah.
Semua berjalan normal dan sudah pasti ini karena Tasya, Dandi dan Beby yang kini mengetahui bahwa lawan yang mereka akan hadapi sudah semakin kuat dan bekerja sama. Mereka menciptakan persenjataan baru yang lebih kuat, sementara gue... Gue masih berada di titik di mana kekuatan yang gue punya ini seakan hanya sebuah khayalan belaka, gue merasa ada di dunia mimpi. Namun, semuanya menjadi nyata saat gue menatap Tasya, gadis misteri yang memberi gue kekuatan ini, yah sepertinya masih banyak misteri yang harus gue pecahin sendiri besok.
__ADS_1
TO BE CONTINUED