
Reno dan Edwin berniat menyelamatkan jiwa teman temannya yang ada di dalam replika rumah yang dimana merupakan perangkat tambahan dari Nightmare Game yang ternyata adalah milik Sabdoh Palon.
"Bersiaplah!" Teriak mereka berdua yang berlari dan langsung menerjang Sabdoh Palon yang memegang tanah di depannya, dan tiba-tiba tanah tersebut mulai mencair menjadi lumpur yang membuat mereka tenggelam dan saat itu Sabdoh Palon segera berlari dan mencekik mereka berdua lalu melempar ke tempat yang berbeda.
"Heaa!" Edwin tanpa basa basi langsung berlari dan menendang Sabdoh Palon dengan kaki kirinya yang nyaris mengenai Pria itu jika Ia tidak mundur selangkah dan saat Ia akan menyerang balik sebuah kayu terlempar ke kepalanya yang dapat Ia tangkap dan langsung menatap Reno tajam.
Namun, pukulan Edwin kembali mengarah ke perutnya yang langsung Ia tangkap dan Ia lemparkan ke arah Reno yang berlari hingga membuat mereka terjatuh dan dengan cepat bangkit lalu kembali bersiap siap.
"Gue bakal ke miniatur rumah itu dan lu alihkan perhatian dia," Kata Reno ke Edwin yang segera bangkit lalu mengangguk.
"Ok!" Ucap Edwin yang langsung berlari ke Sabdoh Palon yang menginjak tanah di depannya dan seketika tanah di depan Pria bertopeng itu mulai naik.
"Tidak akan kubiarkan ritual kalarau gagal kembali!," Ucap Sabdoh Palon ke Edwin yang mencoba menerobos tanah yang naik turun di depannya.
"Hei!" Teriak Reno ke Sabdoh Palon yang menoleh ke arah Pria itu yang mengarahkam tinjunya ke sana dan secara mengejutkan Pria bertopeng itu mundur beberapa langkah lalu terduduk dan tanah kembali ke bentuk semula.
"Sekarang Win!!!" Teriak Reno ke Edwin yang berlari dan langsung menendang Sabdoh Palon yang menangkap kaki Edwin.
"Gak semudah i..," Saat Sabdoh Palon akan melemparnya, sebuah pukulan bersarang di pipi kirinya membuat topeng itu sedikit retak dan membuatnya sempoyongan.
Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Edwin segera melancarkan tendangan berupa ayunan ke kepala Sabdoh Palon yang terhempas jatuh. Namun, saat itu Ia menapak tanah dengan tangannya.
"Tapak tanah!" Teriak Sabdoh Palon dan tiba-tiba muncul telapak tangan yang menghantam tubuh Edwin hingga terlempar cukup jauh karena tidak siap dan darah mengalir di pelipis kirinya.
"Sial! Gimana kita bisa nolongin anak anak kalo gini," Ucap Edwin putus asa. Namun, ternyata Reno sudah memegang replika rumah tadi dan nampak Ia merapal mantra.
"Semua yang fana dapat hancur dan rusak kecuali jiwamu, wahai jiwa yang jahat tunjukan kuasamu tutuplah kegelapan pada dunia dan butakan pandangannya dari jiwa yang suci Edwin Dinata, aku memberikan jiwamu pada Sang Penguasa kegelapan yang menguasai dunia dan memindahkannya pada rumah ini!!!" Ucap Reno dan secara tiba-tiba sebuah angin besar keluar dari rumah dan berhembus ke tubuh Edwin yang langsung terduduk dan pingsan tepat beberapa saat sebelum Jefri dan Tissa datang.
"Edwin!" Teriak Tissa panik, sementara Jefri sudah bersiap menghadapi Sabdoh Palon yang terlihat geram dan langsung menyapu tanah dengan kakinya hingga debu-debu tadi naik.
"Elang debu!" Ucap Sabdoh Palon dan nampak debu tadi terhisap sebelum mengenai kedua pemuda-pemudi itu.
"Kita telat, Edwin udah keburu jadi korban," Ucap Tsabina ke Dandi yang baru tiba dengan memegang sebuah pistol dan mulai berjalan menuju Sabdoh Palon.
"Kalau gitu kita tinggal selamatkan dia saja kan? Dengan mengalahkan pria itu," Kata Dandi mantap sembari tersenyum ke Sabdoh palon yang tertawa lalu menatap ketiga lawannya.
"Maju kalian!" Tantang Sabdoh Palon ke Jefri, Tissa, Dandi, dan Tsabina.
********
"Kali ini gue gak bakal biarin lu ambil temen gue lagi," Kata Tasya mantap ke Sekartaji yang tertawa mendengar kata-kata itu.
"Oh ya? Sepertinya percuma aja bilang gitu karena kehendak Nightmare Game gk akan bisa diubah bahkan oleh Dark Walker kek elu," Ucap Sekartaji ke Tasya yang mengeluarkan pedangnya, sedangkan Bella hanya bisa diam melihat kejadian yang ada di depan matanya.
"Sihir serangan bola api!" Teriak Tasya yang berlari sembari melempar bola api yang mengarah ke Sekartaji hingga mengeluarkan asap.
Namun, dari balik asap muncul bola api yang sama mengarah ke Tasya yang langsung mencincang bola api itu dan saat asap itu hilang Sekartaji sudah tidak ada.
__ADS_1
"Mencariku?" Tanya Sekartaji yang langsung menendang Tasya yang langsung menebasnya walau dapat Ia hindari dan dibalas pukulan ke wajah Tasya yang menahannya dengan tangan kirinya.
"Dark ball!"
"Sihir serangan bola api!" Kedua serangan itu menciptakan ledakan yang melempar mereka berdua dan saat Tasya bangkit tiba-tiba Ia tertarik ke bawah dan tidak mampu bergerak.
"Dark gravity," Ucap Sekartaji yang tertawa setelah melepas sihirnya dan Ia kembali berjalan mendekati Bella diikuti oleh beberapa orang dengan tangan yang muncul di kepalanya.
Namun, sebuah bola biru bersinar masuk ke dalam cafe tadi dan mendarat di depan Sekartaji yang bingung hingga tidak menyadari sebuah tangan yang meninju perutnya hingga membuatnya mundur dan dari balik sinar muncul seorang pria dengan kain biru menutupi wajahnya.
"Satria semesta bintang, telah tiba," Ucap Bintang yang menatap Sekartaji lalu memasang kuda- kuda.
"Heh, nampaknya kau sudah siap mati ya," Ucap Sekartaji sombong sembari mengeluarkan bola hitam dari tangannya dan langsung Ia lemparkan ke Bintang yang menghindarinya lalu melompat dan menendang Sekartaji yang menangkisnya dan membalas dengan memukul perut Bintang yang menepuk tangan Sekartaji lalu melompat melewati Sekartaji dan begitu mendarat, Ia segera menghantam wajah Sekartaji yang langsung mengarahkam tangannya ke depan tepatnya di perut Bintang.
"Dark gravity," Ucap Sekartaji santai dan tiba-tiba Bintang terhempas ke belakang dan Sekartaji kembali menatap ke depan.
Namun, pesan dari Tasya nyaris mengiris wajahnya jika Ia tidak menunduk dan langsung menyapu kaki hingga Tasya terjatuh.
"Asal kau tahu aja, aku adalah pasukan terkuat yang dimiliki Kliwon 8 karena aku menguasai 3 kemampuan khusus pada manusia," Sombong Sekartaji yang mengarahkan tangannya ke arah Tasya.
"Dark gravity!" Teriak Sekartaji yang melempar Tasya ke arah Bella. Namun, kembali sesuatu nampak menangkap tubuh gadis itu dan mendudukkannya di tanah.
"Rico?!" Panggil Bella sembari menatap Rico yang tersenyum dan mengeluarkan pedangnya.
"Lagi-lagi ada pengganggu, kenapa sih banyak banget yang gak suka kalo gue seneng!" Kesal Sekartaji yang membuat Rico seperti mengenali suara itu. Namun, nampaknya Sekartaji juga menyadari perubahan pada suaranya.
"Majulah!" Ucap Sekartaji dan Sabdoh Palon dan nampak Rico dan Jefri langsung berlari dan menyerang kedua Pria dan Gadis bertopeng itu yang langsung menyerang balik.
"Dark gravity!" Teriak Sekartaji yang menyerang namun Rico segera melompat dan mendarat di belakang Gadis itu lalu berlari memutarinya dan langsung menendang perut Sekartaji hingga terlempar cukup jauh.
"Permainan tanah! Tarian Lumpur!" Teriak Jefri yang menyerah dengan mengubah tanah disekitarnya menjadi lumpur lalu menyerang Jefri yang tanpa pandang bulu menghancurkan tanah itu dengan tangan apinya dan langsung menyerang Sabdoh Palon yang tertawa dan langsung mengumpulkan tanah di tangan kanannya, membentuk tangan raksasa yang digunakan untuk menghantam Jefri yang mengeluarkan api yang besar di tangan kanannya dan langsung menghantam tangan pria bertopeng itu hingga hancur berkeping-keping dan disaat itu muncul Tissa yang mengarahkan cincinnya ke Sabdoh Palon yang tak siap.
"Keluarlah raja Gagak Sakunta!" Teriak Tissa dan cincinnya menyala lalu sebuah tendangan mengenai perut Sabdoh Palon hingga melemparnya cukup jauh dan seorang Pria dengan hoodie hitam berdiri di depan Tissa dan menatap rendah Sabdoh Palon.
"Apa serangga satu ini yang mengganggumu tuan putri?" Tanya Sakunta ke Tissa yang tersenyum dan mengangguk membenarkan.
"Menarik," Ucap Sabdoh Palon yang bangkit dan langsung memasang kuda-kuda.
******
Di dalam rumah nampak Edwin membuka matanya dan melihat Ghea, Dara, Alfin, Saras, dan seorang Pria dengan kemeja berdiri di sudut sebuah simbol pentagram yang ada disana dan di tengah terlihat seekor iblis dengan satu tangan tersenyum menatap Edwin yang mencoba bangkit dan menatap makhluk itu geram.
"Selamat datang di tempatku anak muda, sebenarnya aku tidak butuh abdi lagi karena mereka berlima sudah cukup untuk membangkitkanku yah walau tanpa satu lengan," Ucap Kalarau yang tersenyum ke Edwin yang nampak geram.
"Lepasin temen-temen gue!" Teriak Edwin yang mendapat hadiah sebuah injakan dari Kalarau yang tertawa dan mencekik Edwin yang langsung menendang pipi Kalarau dan langsung menghantam perut iblis itu yang tertawa dan langsung membalas mengganti wajah Edwin lalu menendangnya.
"Manusia biasa sepertimu tidak akan bisa menghadapi iblis sepertiku!" Ucap Kalarau sombong sembari terus menyiksa Edwin menendangnya, dan menginjak serta memukulnya.
__ADS_1
"Heaa!" Teriak Edwin yang bangkit dan menendang Kalarau yang dengan mudah menahannya.
"Cuma segini?" Tanya Kalarau yang menendang Edwin hingga terlempar kembali ke atas lalu sebuah bola berwujud matahari terbentuk di tangan kirinya dan langsung Ia lemparkan ke Edwin hingga menghasilkan ledakan yang besar.
"Baiklah mari kita fokus ke tumbal...," Ucapan Kalau terhenti saat sebuah rantai mengikat tubuhnya lalu tiba-tiba membakarnya hingga membuatnya meraung kesakitan.
"Brengsek!" Teriak kalarau yang menatap Edwin yang mendarat dengan kepayahan lalu tersenyum dan membakar Kalarau dengan rantainya.
"Kam die brachwache," Ucap Edwin pelan dan nampak muncul kembali rantai yang mengikat kaki dan lehernya lalu membuat iblis itu berteriak.
"Apa?! Mustahil orang sepertimu...!" Ucap Kalarau panik dan Edwin nampak menarik sang iblis makin mendekat. Namun, saat itu Ia tersenyum.
"Ternyata kau adalah wadah yang bagus," Ucap Kalarau yang tersenyum dan nampak Edwin terkejut dengan ekspresi Kalarau.
***
"Lumayan... Tapi kali ini gak akan bisa kaya tadi," Ucap Sekartaji yang tersenyum melihat Rico yang memasang kuda-kuda diikuti oleh Tasya dan Bintang.
"Sayangnya gak bakal semudah itu," Ucap Rico yang langsung berlari menyerah Sekartaji yang menghindari serangan itu disusul Bintang yang mengeluarkan tinju dengan energi biru yang mengarah ke Sekartaji yang menahan dengan tangan kirinya lalu ia arahkan tangan satunya ke Tasya dan serangan Bintang keluar dari tangan kanannya yang mengarah ke Tasya beruntung serangan tersebut dapat ditahan oleh Rico yang langsung berputar.
"Tebasan cahaya pembalik energi!" Teriak Rico dan tebasan energi itu berbalik kembali menyerah Sekartaji yang langsung menghilang dari hadapan mereka bertiga.
"Bella, lu udah aman," Kata Rico ke Bella yang mengangguk ke Rico lalu tersenyum sebelum pingsan karena menghirup serbuk Tasya.
"Kita ke tempat Edwin segera, gue ngerasa ada sesuatu yg buruk terjadi ke dia," Kata Tasya ke Rico yang terkejut dan mengangguk.
"Kalian berdua pergilah, biar aku yang menjaga gadis ini," Kata Bintang ke Rico dan Tasya yang mengangguk dan segera berlari meninggalkan Bintang yang terdiam dan membuka kain yang menutup wajahnya.
"Yah sepertinya semua sudah aman," Ucap pria itu yang ternyata adalah Rio.
**********
Ledakan besar terjadi dan replika rumah tempat nightmare game mulai hancur dan memperlihatkan Edwin yang tersenyum dengan rambut merah tangan kiri monster serta tangan kanan ditutupi rantai.
"Akhirnya anda terlahir kembali.. Paduka Kalarau," Ucap Sabdoh Palon memberi hormat, sementara Kalarau yang bersemayam di tubuh Edwin hanya tersenyum dan melihat Jefri cs yang memasang kuda-kuda.
"Selamat datang para abdi..," Ucapan Kalarau terhenti karena tawa dari Jefri.
"Ternyata lu ya, sepertinya kali ini lu pingin gak punya tubuh ya," Kata Jefri ke Kalarau yang tertawa dan menatap Jefri penuh dendam.
"Akan kuambil kembali tanganku dari tubuhmu yang busuk itu manusia!" Geram Kalarau ke Jefri yang tersenyum.
"Coba saja ambil," Jawab Jefri santai ke Kalarau dan nampak Tissa, Sakunta, Dandi, dan Tsabina berdiri dibelakang Jefri.
"Akan kuberitahu pada kalian seberapa lemahnya bangsa manusia itu," Ucap Kalarau dengan suara menggelegar.
TO BE CONTINUED
__ADS_1